Full of inspiration and story

Archive for August, 2010

Story : ~I’m Sorry, My Brother~

Apakah penyesalan selalu datang terlambat?

Apakah aku tak akan bisa membahagiakanmu?

Apakah aku adik yang jahat bagimu?

I’m sorry, my brother…

***

Pasukan hujan sedang turun dengan derasnya. Angin malam berhembus kencang, membuat semua orang yang merasakan itu menderita sakit tulang yang luar biasa. Tapi, hal itu tak dipedulikan seseorang lelaki. Dengan sweater dan jaket tipis, ia menggengam payung dan berdiri di depan sebuah bangunan. Matanya terus memandangi pintu keluar bangunan itu. Menunggu seseorang yang sangat ia cemaskan keluar.

Tak lama, orang yang ditunggu keluar. Dengan sigap, lelaki itu menadahkan payung yang dinggenggamnya sedari tadi kepada orang itu. Tanpa berkata apapun, orang itu hanya melangkah keluar dan berjalan pulang. Ia tak memedulikan kakaknya yang berusaha menyamakan langkahnya untuk sekedar menadahkan payung padanya. Bahkan, kakaknya sendiri tidak kedapatan payung dan basah kuyup.

Ia masuk ke sebuah rumah yang bisa dibilang kecil. Ia melempar barang-barangnya ke sembarang tempat, duduk dan langsung menyetel televisi. Kakaknya yang basah kuyup, hanya bisa memungut tas, sepatu, kaus kaki, dan barang-barang yang dilemparkan adik kesayangannya tadi dengan sabar. Orang tua mereka telah meninggal dunia. Mungkin saat adiknya berusia 15 tahun.

Ia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kematian orang tuanya. Saat itu, keadaan sedang hujan deras. Tiba-tiba, ia sakit dan orang tuanya pun pergi ke apotik untuk membelikan obat. Orang tuanya menyuruh adiknya untuk menjaganya saat mereka membeli obat. Beberapa jam kemudian, telepon berbunyi dan ia pun mengangkatnya. Ternyata, yang menelepon adalah pihak kepolisian. Polisi itu mengatakan bahwa orang tuanya mengalami kecelakaan mobil saat sedang membeli obat untuknya.

Awalnya, adiknya itu adalah anak laki-laki yang baik, sopan, ramah, dan sangat sayang pada kakaknya. Namun, setelah peristiwa kematian orang tuanya, ia menjadi sangat membenci kakaknya. Kakaknya tak bisa menyalahkan adiknya. Karena peristiwa kematian itu memang adalah sebabnya. Coba ia tidak sakit hari itu, mungkin sekarang ia dan adiknya merasakan hangatnya kebahagiaan keluarga sepenuhnya.

“Kak Carrel…! Aku lapar nih. Buatkan aku makanan…!!!” teriak Josh, adik Carrel saat sedang asyik menonton televisi. Carrel yang sedang melamun memikirkan masa lalunya pun langsung bergegas memasak makanan untuk adiknya. Sejak orang tuanya meninggal, Carrel yang tadinya adalah siswa kelas 3 SMA, berhenti sekolah dan memutuskan untuk bekerja untuk masa depan adiknya. Sejak itu pula, ia merawat dan menjaga adiknya. Walaupun, kata yang paling tepat adalah ‘melayani’ adiknya.

Setelah siap, ia menyuguhkannya ke ruang makan yang sekaligus ruang tamu mereka. “Kenapa selalu mie, kak? Aku bosan makan ini terus…” protes Josh dengan muka cemberut. Carrel tersenyum perih seraya mengelus rambut adiknya. “Hanya ini yang bisa kakak beli, Joshy… Maafkan kakak.” jawab Carrel dengan tenang. Josh menatap kakaknya tajam. “Apa yang dikerjakan kakak selama ini? Hanya kelayapan kah? Huh…!” teriak Josh sembari masuk ke kamarnya tanpa menyentuh makanan yang susah payah dibuat kakaknya.

Carrel menitikan air mata. Hatinya sangat perih sekarang. Sekitar jam 5 pagi, ia harus segera pergi dan mengantar koran. Setelah mengantar koran, ia akan bekerja menjadi pelayan di cafe. Dan, malamnya, ia akan menjadi bartender di sebuah bar. Kadang badannya seperti mau rontok. Ini semua dilakukan hanya demi menyekolahkan Josh agar berhasil dan sukses di masa depan. Dan adiknya dengan mudah mengatakan ia hanya kelayapan?

Paginya, seperti biasa jam 4 pagi, ia bangun dan memasak untuk sarapan adiknya. Setelah memasak, ia akan mandi, membangunkan adiknya untuk ke sekolah, lalu mulai mengantar koran dengan sepeda motor bekasnya. “Mau aku antar, Josh?” tanya Carrel lembut. “Dengan diantar motor bekasmu? Tidak, terima kasih…” katanya dengan dingin seraya langsung keluar dari rumah. Carrel menarik nafas panjang. Mencoba menenangkan diri.

Setelah mengantar koran, ia seperti biasa bekerja di cafe. “Selamat pagi, kak…!” sapa Carrel kepada Nathan, pemilik cafe yang sudah Carrel anggap sebagai kakak sendiri. “Halo, Carrel…” balas Nathan sembari tersenyum. Carrel pun mulai melayani makanan dan minuman yang dipesan. Hingga tiba-tiba… Prang! “Suara apa it-? Ya Tuhan, apakah kau baik-baik saja, Carrel?” tanya Nathan saat melihat Carrel sedang terjatuh dengan gelas yang ikut pecah.

“Maafkan aku, kak… Maafkan aku… Aku akan menggantinya, aku janji. Maafkan aku, kak…” gumamnya terus menerus. “Tidak usah pikirkan itu, Carrel… Pikirkan dulu tanganmu yang terkena pecahan beling itu.” kata Nathan sembari mengangkat Carrel dan mendudukannya di suatu kursi. Ia mengambil P3K dan mulai mengobati tangan Carrel yang berdarah. Hanya Nathan-lah tempat dimana Carrel bisa bersandar. Nathan juga satu-satunya orang yang tau bagaimana keadaan Carrel dan adiknya.

“Sebaiknya kamu pulang dulu hari ini, Rell… Tanganmu tak memungkinkan untuk bekerja. Tenanglah, aku tidak akan memotong gajimu. Sudah sana!” kata Nathan dengan senyuman. “Tapi ini tidak adil, kak… Potong saja gajiku. Aku sudah memecahkan gelas dan pulang sebelum waktunya.” jawab Carrel. “Lalu bagaimana caramu menyekolahkan Josh jika aku memotong gajimu? Sudahlah, pulang sana… Aku kan sudah menganggapmu adikku sendiri.” kata Nathan. Carrel pun memeluk Nathan dengan erat. “Terima kasih kak.” jawab Carrel.

Karena hari ini bukan jadwalnya menjadi bartender, ia pun langsung pulang dan mendapati adiknya telah pulang. Tas, sepatu, dan semua barang tergeletak di mana-mana. Carrel menggeleng kecil seraya membereskan ini semua. Saat sedang membereskan, Josh keluar kamar dan kaget melihat kakaknya sudah pulang. “Kakak sudah pulang…? Bukannya kakak biasanya masih kerja?” tanyanya kebingungan. “Kakak pulang karena tadi kakak terkena pecahan beling di tempat kerja…” jawab Carrel dengan senyuman.

“Hanya kena pecahan beling saja pulang ke rumah. Kelihatan sekali kakak memang tidak niat kerja…” kata Josh seraya kembali masuk kamar. Carrel kembali menangis. Hatinya bagai diiris kecil-kecil dengan pisau belati. Adiknya mengatakan itu tanpa memerhatikan perasaannya sama sekali. Ingin sekali ia berteriak dan membentak adiknya: ‘Kau pikir selama ini kakak berhenti sekolah untuk apa!?’. Carrel memang adalah siswa terpandai di sekolah. Mungkin dia akan dibeasiswa ke luar negeri sekarang jika bukan karena putus sekolah.

Pagi ini sangat cerah. Tapi, cerahnya pagi ini sama sekali tidak cocok dengan keadaan dua kakak beradik ini. Saat Carrel sedang mempersiapkan makanan, kepala sekolah menelepon dan menyuruh Carrel datang ke sekolah karena Josh kembali berulah. Sudah hampir lima kali lebih ia dipanggil karena ulah adiknya. Ia pun meminta izin untuk datang telat kepada Nathan dan akhirnya ke sekolah.

“Adikmu kembali bertingkah, Carrel… Kali ini ia bertengkar dengan temannya hingga temannya itu babak belur. Saya sudah tak tau lagi mau bagaimana…” lapor kepala sekolah yang sudah mengenalku dengan baik karena seringnya kita bertemu. “Maafkan adik saya, pak… Saya akan memarahinya nanti.” kata Carrel seraya menunduk. “Saya heran kepada dunia ini. Otakmu begitu pintar, namun kau ditakdirkan bekerja. Sedangkan, adikmu yang kau biayai malah menyia-nyiakan semua pengorbanan yang sudah kau berikan…” kata kepala sekolah dibalas senyuman getir dari Carrel.

Di rumah, Carrel berdiri saat melihat adik berandalnya pulang. “Kudengar kau berbuat macam-macam lagi ya kemarin?” tanya Carrel dengan serius maupun tetap santai. “Huh, jadi kakek tua itu sudah mengadu padamu?” tanya Josh balik. “Dia adalah kepala sekolah yang telah memberikanmu potongan harga agar kau bisa sekolah, Josh! Jangan memanggilnya ‘kakek tua’…!” bentak Carrel kesal.

“Apa urusanmu dengannya sih kak? Kenapa kau yang marah…?! Aku benci punya kakak sepertimu!!!” teriak Josh sembari masuk kamar. Tik! Suara air tumpah mengejutkan Carrel. Ia melihat ke lantai. Ternyata, setetes darah jatuh dari hidungnya. Ia langsung membersihkan lantai itu dan membersihkan hidungnya. Pasti karena terlalu capek bekerja dan kesal, batin Carrel menenangkan diri.

Di cafe, ia seperti biasa bekerja. Sekarang, ia sedang mencuci piring. Tiba-tiba, kepalanya terasa sangat pening. Ia pun memutuskan untuk duduk. Entah darimana, perasaan enek merasuki dirinya dan ia langsung berlari ke kamar mandi. Di wastafel, ia memuntahkan banyak darah. Banyak sekali hingga ia tak tau sudah berapa gelas yang ia muntahkan. Selesai muntah, ia membuka keran agar jejak darahnya hilang.

“Carrel…!” panggil Nathan. “Aku kesana…!” teriak Carrel sembari berlari menuju Nathan untuk kembali bekerja. Sepulang kerja, ia membersihkan rumah sebelum akhirnya tidur. Pikirannya masih penuh dengan kejadian itu. Kenapa tiba-tiba ia memuntahkan darah dan mengeluarkan darah dari hidung kemarin? Apakah ia tak apa-apa? Tapi, ia memutuskan untuk tidur dan tidak memikirkan itu.

Di cafe, ia kembali bekerja sebelum ia kembali merasakan perasaan enek. Ia langsung berlari ke kamar mandi dan kembali memuntahkan banyak darah. Kali ini lebih banyak. Nathan yang kebetulan melihat Carrel berlari langsung mengikuti Carrel ke kamar mandi. “Oh Tuhan, Carrel…!” teriak Nathan yang dapat melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan Carrel. Carrel kembali merasakan pening dan ia pun jatuh.

Ia bangun di suatu kasur empuk. Ia membuka mata. Nathan nampak sedang sangat khawatir. “Kau sudah sadar?” tanya Nathan cemas. Dokter datang ke ruangan dan ingin mengajak Nathan membicarakan apa yang diderita Carrel, namun Carrel menolak dan ingin ikut mendengarkan. “Tuan Carrel menderita kanker darah dan dipastikan…hidupnya takkan lama lagi. Kanker ini sudah parah dan terlambat untuk menyembuhkannya.” jelas dokter itu.

“Ini…ti-tidak mungkin, kan?” tanya Carrel tak percaya. Dibalik semangat dan semua kedewasaannya, ia tetap anak berumur 19 tahun yang tak pantas mendapat cobaan begini beratnya. Ia sedih bukan karena hidupnya tak lama lagi, melainkan karena ia bingung bagaimana adiknya bersekolah dan menjalani hidup tanpanya. Apakah Josh bisa bertahan tanpanya? Nathan memeluk Carrel untuk menenangkan dirinya.

“Jangan katakan ini pada adikku ya?” pinta Carrel dengan lirih. “Bagaimana bisa aku tak memberitahunya, Carrel… Dia kan adikmu. Justru, aku ingin memberitahunya betapa besar pengorbananmu sampai dia seperti ini dan aku ingin menyuruhnya agar tidak menyiksamu lagi.” kata Nathan naik darah. “Jangan, kak…! Please~ Aku tidak mau membuatnya tertekan.” jawab Carrel seraya memohon.

“Baiklah… Huh~ Kenapa kakak sebaik dan sesabar dirimu harus selalu disiksa adikmu sendiri? Dia mestinya bersyukur mempunyaimu di dunia ini.” kata Nathan disambut senyuman manis dari Carrel. Ia pulang setelah memohon kepada pihak rumah sakit agar memperbolehkannya pulang. Kertas pemeriksaan yang mengatakan bahwa ia sakit, ia sembunyikan di laci kamarnya. Tak lama, adiknya pulang.

Adiknya penuh dengan luka dan seragamnya sangat kotor. “Kau berkelahi lagi?” tanya Carrel dengan penuh selidik. “Jangan urusi aku… Urusi saja pekerjaanmu.” kata Josh dengan cuek. “Kau juga urusanku, Josh! Orang tua kita menitipkanmu padaku…! Kau juga urusanku!” teriak Carrel kesal. Matanya mulai mengeluarkan air mata. Hatinya sedang sangat sedih sekarang. Ia sangat tertekan memikirkan bagaimana adiknya hidup tanpanya. “Apa sih masalahmu, kak? Huh~” tanya Josh sembari masuk ke kamarnya.

Musim semi telah datang. Carrel dan Josh masih sering bertengkar seperti biasa. Hanya saja penyakit yang diderita Carrel seakan menggerogoti pelan-pelan tubuh Carrel. Matanya makin sayu, wajahnya makin pucat, dan tubuhnya semakin mengurus. Josh masih tak mengetahui hal ini. Ia masih berlaku biasa kepada kakaknya. Memang Josh merasa aneh kepada kakaknya yang nampak lebih kurus dan pucat. Kakaknya juga sering berlari ke kamar mandi tiba-tiba. Namun, ia tak terlalu memperhatikannya.

Malam ini, seperti biasa Carrel pulang larut malam. Saat pulang, ia melihat Josh sedang duduk menonton televisi. “Kau belum tidur?” tanya Carrel seraya tersenyum dan mengacak rambut Josh pelan. “Aku lapar kak… Bisa belikan aku makanan?” kata Josh dengan pandangan memohon. “Baiklah… Kakak pergi dulu. Jaga dirimu ya.” jawab Carrel seraya pergi. Josh yang bosan, mematikan televisi yang ia tonton. Ia ingin masuk ke kamarnya untuk membaca majalah, sebelum ia melihat ruangan kakaknya masih terbuka.

Ia mau menutupnya, namun hawa penasaran merasukinya. Ia pun masuk dan mulai melihat ke sekitar. Banyak sekali foto dimana mereka berdua bersama. Di lantai, tergeletak pulpen kakaknya. Ia mengambilnya dan menaruhnya di meja. Sebuah laci mengalihkan pandangannya. Ia membukanya dan melihat sebuah kertas dengan tulisan rumah sakit. Ia membacanya dan kertas yang dipegangnya pun terjatuh.

Air matanya tumpah. Jadi, selama ini kakaknya menyimpan rahasia bahwa ia sakit Leukimia? Bukannya Leukimia itu kanker darah? Dan itu sebabnya belakangan ini kakaknya menyuruhnya mandiri? Dalam hati ia berjanji akan membahagiakan kakaknya hingga akhir hidup kakaknya. Ia akan meminta maaf atas segala perbuatan yang telah ia lakukan. Ia sadar bahwa selama ini kakaknya begitu baik kepadanya, namun dengan mudahnya ia cuek dan tak pernah memikirkan kakaknya.

Di tempat yang berbeda…

Carrel mengangkat kantong makanan yang baru saja ia beli seraya tersenyum. Ia melangkah ke rumah mereka sebelum pening kembali memasuki otaknya. Dengan keras, ia terjatuh dan makanan yang ia bawa pun jatuh berantakan. Namun, ia masih belum mau mengalah pada penyakitnya. Ia mencoba bangun dengan sekuat tenaga. Tetapi, ia terlalu lemah untuk bangun. Darah segar mulai melesat keluar melalui hidung dan mulutnya. Ia pun pingsan.

Carrel membuka mata dan bisa melihat semuanya gelap. Ia bangun dan mencoba berlari, namun sejauh pandangannya yang gelap, sama sekali tak terlihat jalan keluar. Karena lelah, ia pun duduk. Terdengar suara adiknya sedang menangis sesenggukan. Ia berteriak memanggil nama adiknya berkali-kali, namun semuanya sia-sia. Tak ada yang meresponnya. Adiknya masih tetap menangis seakan tak mendengar panggilan kakaknya.

Carrel menoleh ke segala arah. Beusaha mencari keberadaan adiknya. Namun, nihil. Tak ada sosok Josh sama sekali. “Kak Carrel, maafkan aku… Aku benar-benar minta maaf atas semua perlakuanku padamu… Aku sadar semuanya ini salah. Maafkan aku, kak Carrel. Aku berjanji… Aku berjanji akan menjadi yang lebih baik dan bersekolah dengan benar. Aku janji, kak…” kata Josh dengan tangis yang masih terdengar. Carrel tersenyum. Ia sudah tenang sekarang. Ia pun kembali menutup matanya dan cahaya putih menerjangnya. Ia bisa merasakan sentuhan hangat orang tuanya menariknya ke atas.

Tit………….

Suara alat kedokteran membuat semuanya jelas. Josh menangis dengan keras sembari memeluk kakaknya yang sudah terbaring tak bernyawa. Ia sangat menyesal sekarang. Menyesal atas apa yang telah ia perbuat. Nathan memeluknya dan menenangkannya. Ia terus menangis tanpa tau arah. Mungkin hal yang bisa membuatnya melupakan penyesalannya hanya dengan menangis.

***

Ia duduk di ruang tamunya. Perlahan ia memperhatikan surat yang ditemukan di dalam laci kakaknya. Surat terakhir yang khusus diberikan kakaknya untuknya. Ia menatap surat itu. Hatinya dilema. Apakah ia akan membacanya atau tidak? Tapi, dia memutuskan untuk membacanya.

Halo, adikku yang manis… ^^

Kakak tau pasti kau sangat menderita saat orang tua kita meninggal. Dan kakak tau semua itu gara-gara kakak. Untuk itu kakak tak pernah marah atau kesal saat kau membentak kakak, menyuruh-nyuruh kakak, atau pun menyakiti hati kakak. Maafkan kakak ya… Kakak juga sangat merasa bersalah dan kesal dengan diri kakak sendiri.

Dan, maafkan kakak juga jika kakak harus meninggalkanmu lebih cepat. Kakak tidak mau memberitahumu agar kau tidak tertekan dan tetap melakukan pekerjaanmu seperti biasa. Kuharap dengan kematianku ini, kau bisa sadar akan semua kesalahanmu dan akan bersekolah dengan baik hingga lulus nanti. Ah, untuk uang sekolahmu, tenang saja… Aku sudah menabung sejak lama untuk menyekolahkanmu. Tabungannya ada di bawah kasurku. ^^

Sampai jumpa, Joshy…

-Carrel-

Ia langsung meraih bawah kolong kasur Carrel. Ternyata, memang ada sebuah kotak. Ia membuka kotaknya dan terkejut setengah mati. Uang setumpukan terlihat di dalamnya. Josh pun menangis seraya memeluk kotak itu. Kakaknya telah mengumpulkan uang untuk masa depannya selama ini? Terima kasih kak… Terima kasih… Aku tidak akan menyia-nyiakan pemberianmu.

***

5 tahun sudah berlalu sejak hari itu. Sekarang, Josh bukan lagi anak SMA berandalan. Namun, ia adalah direktur perusahaan international. Dan, ini semua berkat uang peninggalan kakaknya yang sudah kakaknya cari dengan keringat, darah, maupun seluruh tubuhnya. Josh memandang foto mereka berdua. Air mata mulai kembali terjatuh. Ia membisikan sesuatu ke foto kakaknya itu.

“I’m sorry, my brother…”

FIN


Story : ~Find My Twin In Italy~ (Part 5)

Chapter Five ~Death Or…?~

Perjalanan menuju kota Bologna tak memakan waktu cukup lama. Siang ini di Bologna, kita memutuskan untuk makan siang dulu di salah satu restoran. Aku dan Kak Jeremy diberikan menu dan aku pun melihatnya satu persatu. Sangat mahal dan ada beberapa makanan yang tidak aku ketahui sama sekali! Aku pun menunggu pesanan Kak Jer saja. “Kau mau pesan apa, Hachie?” tanyanya dengan lembut.

“Aku mengikutimu saja, kak Jer…” jawabku seraya menunduk. “Ok… Kalau begitu mortadella-nya 2 ya.” pesan kak Jer dibalas anggukan waiter. Ia pun mengangguk dan melenggang pergi. “Mortadella? Apa itu ya?” gumamku dalam hati. Tapi, aku terlalu malu untuk mengatakan aku tidak tau makanan itu. Sekarang aku menjadi berpikir, sebenarnya aku ini orang Italy atau bukan sih?

Setelah menunggu lama, akhirnya pesanan kami datang. Aku terkejut melihat apa sebenarnya mortadella itu. Ternyata, mortadella adalah sosis super besar khas Bologna! Aku mengambil pisau dan garpu di meja. Melihat sosis super besar ini saja sudah membuatku kenyang. “Tidak makan, Chie?” tanya kak Jeremy sembari memakan makanannya dengan lahap. Seperti tak pernah makan selama satu tahun.

“Makan kok…” kataku seraya mulai memotong kecil sebuah dagingnya dan menusuknya dengan garpu yang aku pegang. Aku pun memakannya. Mmm… Lumayan enak! Aku langsung melanjutkan makanku dengan lahap. Pantesan kak Jer begitu bersemangat, ternyata mortadella memang sangat enak. Setelah selesai makan, aku dan kak Jer memutuskan kembali menaiki motor dan pergi ke tempat dimana Red Eyes kembali berpijak.

Dari informan terpercaya, Bologna adalah markas mereka. Kak Jeremy terus menjalankan motornya dengan cepat. Hingga akhirnya ia memberhentikan motornya di suatu garasi besar. Aku melangkah pelan melihat sekitar. Namun, sudah kuputuskan untuk tetap diam di tempat. Dari pengalaman, sudah dua kali aku memergoki tempat mereka dan berakhir tertangkap oleh kelompoknya.

Aku tidak mau lagi kali ini. Untuk itulah, aku hanya diam melihat kak Jer yang sedang menelepon salah satu informannya. Tak lama, ia menutup telepon genggamnya dan berjalan perlahan kedepan. Tanpa banyak bicara, aku ikut melangkah di belakangnya. Ia mulai memasuki sebuah ruangan gelap yang sangat lembap. Setelah aku teliti lagi, ini adalah saluran air! Sungguh ajaib…

Aku menghentikan langkahku saat mendengar suara pembicaraan orang. Arah suaranya berada diatas. Apakah kelompok Red Eyes sedang berbicara  tepat diatas saluran air yang aku dan kak Jer langkahi? Kak Jeremy mendekat keatas untuk mempertajam pendengarannya. Begitu pula denganku. Aku mendengar beberapa orang sedang bicara dengan sengit-sengitnya.

“Sial…! Anak itu lepas lagi.” umpat seseorang dari mereka. Aku sangat yakin mereka sedang membicarakanku sekarang. “Siapa sih dia sebenarnya? Apakah benar, ia adalah adik kandung Hadden?” tanya seorang lagi dengan suara serak khas. “Kelihatannya sih begitu… Muka mereka sangat mirip.” kata orang yang pertama. “Setahuku sih memang Hadden punya kembaran… Saat aku disuruh menculik Hadden, aku memilih salah satu dari dua anak yang bermuka sama persis.” jawab seorang yang mempunyai suara serak khas tadi.

Aku meradang mendengarnya. Jadi, orang bersuara khas itu yang telah menculik Hadden, kakak kembarku sendiri? Dan jika saja waktu itu pilihannya tertuju padaku, mungkin aku akan menjadi Hadden sekarang dan Hadden akan menjadi aku. “Hadden awalnya tak mau bergabung di kelompok kita kan? Lalu, apa penyebabnya ia tetap di kelompok kita dan sangat setia? Bukannya dulu ia mencoba berkali-kali kabur untuk kembali ke keluarganya?” tanya orang pertama.

“Yah… Memang, tapi pemimpin kita sudah menaruh sebuah alat cuci otak di otak Hadden. Jadi, selama tombol diaktifkan, ia akan terus setia dan takkan berpaling dari kita…” jawab orang yang tampaknya baru datang. “Really?! Dimana tombol itu?” tanya orang pertama. “Di markas kita ini. Tepatnya di gudang bawah tanah…” jawab orang bersuara serak itu. Kalau saja tidak mengingat aku sedang bersembunyi, mungkin aku sudah memekik terkejut.

Aku dan kak Jeremy bertatapan dengan raut wajah seperti mengatakan ‘APA…!?’. Tanpa basa-basi, kita berdua berlari mencari ruang bawah tanah itu. Hatiku nampak mencelos sedikit, setidaknya Hadden tidak membenci atau menolakku. Hanya saja ia berada di pengaruh Red Eyes. Kita berdua berlari secepat mungkin mencari ruang bawah tanah. Di sebuah jalan bercabang, aku dan Kak Jeremy memutuskan untuk berpisah dan mencari dijalan bercabang yang berbeda.

Aku mempercapat lariku. Aku terus berlari tanpa tau arah yang aku masuki. Yang ada di pikiranku hanya satu, bagaimana menemukan ruang bawah tanah itu. Aku menerobos beberapa pintu dan akhirnya aku keluar dari saluran air yang sangat pengap ini. Aku mulai melangkah pelan-pelan mencari dimana ruang bawah tanah berada. Aku tidak boleh terlihat oleh yang lain sekarang.

Aku terus berjalan dan beberapa kali membuka semua pintu. Hingga akhirnya, aku menemukannya! Aku melihat sebuah pintu dengan tulisan ‘Storage Room’ di depannya. Secercah senyuman menghiasi wajahku. Ceklek! Aku memutar gagangnya, namun nihil. Ruangan ini tak bisa terbuka. Aku mendengus kesal. Apa lagi ini! Apakah begitu susahnya hanya untuk membawa pulang kakak kembar yang sudah lama hilang? Aku pun melangkah ke tempat lain.

Tap… Tap… Tap…

Suara langkah kaki mengejutkanku. Aku langsung bersembunyi sebisa mungkin di pojok. Ia tampaknya juga adalah salah satu kelompok Red Eyes. Aku bisa melihat sebuah benda silau yang berada di kantung celananya. Ya, itu adalah kunci! Dan berarti pasti diantara semua kunci itu, akan ada kunci untuk membuka ruang bawah tanah tersebut. Tak tau mendapat keberanian darimana, aku mengambil kayu yang berada tak jauh dari tempatku dan memukul kepalanya dengan keras. Ia pun pingsan seketika.

Aku mengambil kuncinya dan memekik riang. Begitu sampai di ruang bawah tanah itu, aku mulai mencocokan kuncinya dan memasukan satu-satu kunci itu ke pintu. Berharap salah satu dari kunci itu adalah kunci ruang bawah tanah. Dan…Klek! Pintunya terbuka. Sempurna! Aku langsung masuk ke ruangan dan melihat semuanya gelap. Aku mengambil senter dari kantungku. Senter ini memang sudah kak Jeremy persiapkan sebelumnya.

“Hei kau…!” teriak seseorang dengan suara seraknya. Aku menoleh. Tepat di belakangku sudah ada seseorang dengan usia separuh baya dan tubuh yang masih tegap. Aku meneguk ludah pelan. Bagaimana ini? “Ah… Menarik! Coba kita hitung beberapa kali kau datang diam-diam kesini dan berhasil kabur setelah ditangkap. Dua? Bukan, ini ketiga kalinya. Dan, kupastikan setelah ketiga kalinya, kau tidak akan bisa kabur lagi…!” katanya dengan seringai tajam.

Aku terpaku mendengarnya. Perasaan resah, cemas, takut, dan apapun itu bercampur dalam pikiranku. Apa yang harus kulakukan sekarang? Apakah menyelamatkan kakak kembarku hal yang salah? Aku tak bisa memungkiri aku hanya anak 17 tahun yang tak pernah belajar bela diri atau yang lainnya. Separuh hidupku hanya aku gunakan untuk belajar. Tapi, nampaknya Fisika atau Kimia yang sering aku pelajari tak berguna sekarang.

Sial! Aku merutuki diriku sendiri. Coba aku ikut ekstrakurikuler bela diri, pasti kejadiannya takkan jadi seperti ini. Ia mulai mendekatiku. Yang bisa kulakukan hanya mundur agar menjauh darinya. Doa sudah aku lantunkan dalam pikiranku, berharap suatu keajaiban datang dan sebuah batu akan jatuh tiba-tiba mengenai kepala orang itu dengan sekali hentakan. Namun, tak ada yang terjadi.

Aku memekik pelan saat melihat dengan jelas ia mengeluarkan sebilah pisau dari kantung jaketnya. “Ma-mau apa kau?” tanyaku gelagapan. “Jangan takut! Ini tidak akan lama. Hanya membuat kau merasa sakit sedikit.” kata orang itu dengan seringai dan tatapan tajam. Aku menarik nafas. Keringat sudah mulai menjalar dari seluruh tubuhku.

Makin lama ia semakin mendekat padaku dan mengacungkan pisaunya tepat di hadapanku. Aku tidak bisa mundur lagi karena aku sudah meraih tembok pojok. Semakin lama semakin dekat dan…

JLEB………..!

End Of Chapter Five~


Story : ~Forbidden Love~ (Part 2)

“SOPHIA HERENY, MENJAUH DARINYA…!!!!!!!!!!!!!”

Aku dan Hassey yang kaget langsung menengok ke sumber suara. Dan aku langsung merasakan jantungku berdegup sangat kencang. “Ayah…” panggilku pada orang yang ada di depanku. Tingginya juga hampir sama denganku, bahkan lebih tinggi 20 cm dariku. “Sudah kubilang untuk tidak mendekati seorang manusia, Sophia…! Apa kau tidak belajar dari kesalahan ayah dulu?” tanya ayahnya seraya menyeretku menjauh dari Hassey.

“Tapi, Hassey tidak jahat, ayah…! Lagipula ia tidak sepenuhnya manusia. Ia juga adalah setengah hely…” jawabku tak terima. “Pertama aku juga berpikir mantan sahabatku itu tidak jahat… Tapi akhirnya? Walaupun ia adalah setengah hely, ia juga memiliki darah manusia kan di dalam tubuhnya? Ayo pergi, Phia…!” teriak ayah sembari menarik tanganku. Aku menoleh pelan kearah Hassey. Ia memandangku dengan pilu.

“Tenang saja, Hassey… Aku akan segera kembali padamu.” bisikku kepada Hassey lewat kejauhan tanpa diketahui oleh ayah. Di kastil tempat tinggalku, ayah mengunciku ke kamar dengan penjagaan ketat. Aku bahkan tak boleh keluar kamar sama sekali. Makan dan minum harus tetap aku lakukan di dalam kamar. Aku beberapa kali memohon agar ayah segera melepasku, namun ayah tak pernah mendengarnya.

Hari ini tepat acara kemerdekaan bagi sang manusia. Aku benci mengatakan ini, tapi aku sempat mendengar ayah dan yang lainnya sedang merencanakan untuk membunuh dan membantai habis manusia pada hari bersajarahnya ini. Aku berkonsentrasi untuk menggunakan telepatiku kepada Jamet dan Yeremy. “Bagaimana keadaan diluar?” tanyaku lewat telepati.

“Bagi para elf, baik-baik saja, tapi bagi manusia, keadaannya sungguh tak aman. Pembantaian sedang dilakukan dimana-mana. Dan…” kata Jamet dengan terpotong-potong. “Dan…apa?” tanyaku lagi. “Dan Hassey ikut dibantai oleh para pengawal. Sekarang ia sedang bertarung dengan para pengawal. Kami ingin membantu, tapi kau tau kan kita tak boleh ikut campur?” jelas Yeremy. “Ok… Tunggu aku disana.” jawabku sembari mematikan telepatiku.

Aku mengambil seprai dan mengikatnya menjadi satu. Aku menjulurkannya ke bawah balkon kamarku dan kemudian mengikatnya kuat-kuat ke salah satu tiang penyangga. Setelah yakin, aku pun turun dengan hati-hati. Bak! Aku sudah memijak tanah sekarang. Aku memanggil kuda kesayanganku dan kemudian menaikkinya. Aku sudah menyamar menjadi lelaki sekarang. Jadi tidak akan ada yang mengenaliku sebagai putri pemimpin para elf.

Aku mengatur kudaku hingga akhirnya sampai di arena pertarungan. Aku tersenyum kecil pada Jamet dan Yeremy. Nampaknya, mereka berdua mulai mengenaliku sekarang. Aku mulai mengambil panahku dan berusaha melawan para pengawal yang juga elf. Entah kenapa, aku sangat benci kepada keputusan ayahku saat ini. Untuk apa ia menyerang manusia tak berdosa?

Samar-samar, bisa kulihat Hassey sedang melawan berbagai lawannya dengan pedang dan panah. Saat ia hampir tertusuk pedang lawan, aku menangkisnya. Hassey pun mengucapkan ‘terima kasih’ padaku. Nampaknya, ia masih belum menyadari bahwa aku adalah Sophia bukan seorang lelaki. Sekarang, aku bisa melihat Jamet dan Yeremy ikut melawan para pengawal.

Mereka sangat semangat membantas para lawan yang seharusnya menjadi kawan mereka sendiri. Aku sangat terharu melihatnya. Ternyata, aku tak salah memilih teman selama ini. Tak terasa, para elf mulai kesulitan melawan para manusia yang kesal dengan kelakuan elf sekarang. Ayahku pun ikut melawan para manusia. Aku memantapkan penyamaranku. Tidak mau terlihat oleh ayah.

Hingga akhirnya, ayahku berduel dengan Hassey sekarang. Aku masih bisa mendengar perkataan mereka seraya bertarung sengit. “Jadi, kau adalah lelaki setengah manusia setengah hely itu kan? Yang waktu itu kutemui sedang bersama Sophia…!?” tanya ayah dengan seringai tajamnya. “Ingatanmu tidak tumpul juga, tapi ya, memang aku yang waktu itu bersama Sophia…” jawab Hassey penuh rasa percaya diri.

“Dimana kau menyimpannya?” tanya Hassey lagi. Ayahku menyeringai lebih tajam. “Ia aman bersamaku… Tapi, mungkin saat ini ia tidak tau aku akan menghabiskanmu sekarang juga.” kata ayah sembari melawan Hassey dengan lebih ganas. Tak disangka, Hassey ikut menyeringai. “Kau salah, tuan… Mestinya kau mengatakan: ‘Tapi, mungkin saat ini ia tidak tau kau akan menghabiskanku sekarang juga.'” balas Hassey.

Aku yang terlalu lama mendengarkan pembicaraan mereka berdua pun, diserang dan jatuh tersungkur dari kuda. Semua penyamaranku lepas seketika. Ayah dan Hassey sontak melirik kearahku. “Sophia…!?” teriak mereka berdua hampir bersamaan. “Apa yang kau lakukan disini?” tanya Hassey dengan pandangan tajam. “Menolongmu…” jawabku singkat.

“Ta-tapi, kau kan juga seorang elf, Phia…” kata ayah yang tak percaya. “Aku tau, ayah…! Tapi kau sudah kelewatan. Manusia yang telah kalian bunuh kan tidak bersalah, ayah…!!! Aku tau sahabatmu itu mengkhianatimu. Dan ia salah bukan karena ia adalah manusia, tapi memang karena ia mempunyai pikiran jahat padamu… Tidak sedikit juga kan elf yang berperilaku jahat? Bukan begini caranya…!” kataku panjang lebar.

“Aku tak percaya putriku telah mengkhianatiku…” kata ayah sembari mundur beberapa langkah. “Ayah…! Siapa yang telah mengkhianatimu? Bukannya kau sendiri yang mengurungku dalam kamar dan mengajarku secara tak langsung bahwa kau salah?” kataku dengan nada kecewa. “Sekarang pilihanmu hanya dua, Phia…! Pilih ayah atau lelaki ini…!!!” teriak ayah dengan sangat marah.

“Tapi, aku tak bisa memilih antara kalian berdua… Kalian berdua sama pentingnya bagiku.” kataku dengan lirih. “Pilih…!” teriak ayahku. “Hassey. Aku memilih Hassey… Maafkan aku, ayah… Bukannya aku tak mau memilihmu, tapi aku tak sanggup membiarkan kau berbuat jahat.” jawabku lantang.

“Baiklah, jangan pernah akui aku sebagai ayahmu lagi…” kata ayahku seraya pergi. Namun, sebelum ayah pergi, ia menancapkan panah tepat kearah jantung Hassey. Aku memekik tak percaya. Kemana ayahku yang dulu? Kenapa ia menjadi tak berkeprikemanusiaan seperti ini? Darah mulai merembes lewat seluruh tubuhnya. Aku pun mendekatinya.

“So-sophia…” panggilnya lemah. “Jangan banyak bergerak, Hassey.” kataku sembari menggendongnya dan berlari menjauhi arena. Aku berjalan melewati pepohonan hingga menuju ke sebuah goa. Aku memutuskan untuk berhenti disitu. “Sophia… A-aku” katanya lagi. “Please, Hassey… Jangan bicara lagi. Aku tak mau mendengarkanmu bicara. Aku takut kau akan mengucapkan permintaan terakhirmu…” potongku.

“Aku mencintaimu, Phia… Selamanya.” gumamnya sebelum menutup mata. Aku memekik kaget. Air mata sudah membuat pipiku banjir. Apakah kisah cintaku hanya berakhir sampai disini? Aku baru sadar aku juga merasakan yang sama dengannya. Aku mencintainya. Tapi, kenapa ia harus pergi secepat ini? Apa yang harus kulakukan sekarang?

TBC~

N.B: Maaf ya kalo pendek dan lama banget… Kayaknya next part bakal jadi yang part terakhir. Love u, all~

Story : ~Curse Angel~ (Chapter I)

CA

Chapter One %%% ^Introduction^

Angin yang sangat dingin berhembus tanpa arah diiringi hujan besar. Petir menyambar dimana-mana. Menyambar siapa atau apa saja sesukanya. Suara bising yang disebabkan oleh gemercik air dan hembusan angin lebat bergeming di seluruh penjuru kota malam ini. Di suatu daerah sepi berupa hamparan rumput hijau, langit menampakan sedikit cahayanya. Dan turunlah suatu mahluk asing yang didominasi putih keperakan.

Bukan, dia bukan suatu mahluk asing. Dia adalah seorang angel dengan sayap putih keperakan yang bersinar serta nampak sangat besar dan kokoh. Pakaiannya yang berupa kemeja dan celana panjang bewarna putih melambai indah terkena angin lebat. Entah kenapa, ia tak basah sama sekali walaupun hujan sedang turun dengan lebatnya. Jika dideskripsikan, mahluk ini hanya mempunyai suatu kata. Sempurna.

Wajahnya yang berparas asia sangat manis dan putih bersih tanpa noda sedikitpun. Matanya bewarna biru murni, memberi kesan kedamaian bagi semua yang melihatnya. Hidungnya sangat runcing dengan bibir yang mungil. Tubuhnya juga sangat langsing dan jangkung, mungkin sekitar 190 cm. Saat kaki panjangnya berpijak tanah, sayapnya pun hilang dan kembali masuk ke punggungnya. Herannya, kemejanya tidak sobek sama sekali. Seakan memberi gambaran bahwa sayap itu hanya ilusi.

Dengan langkah tegap bak jalannya seorang model, ia melangkah pasti menuju suatu rumah. Ia menekan bel kecil yang lembap akibat hujan yang menerpa. Tak lama, seseorang pria dengan usia kurang lebih 45 tahun membuka pintu dan mempersilahkan mahluk itu masuk. Tanpa basa-basi, ia melangkah masuk dan berdiri menghadap jendela besar.

“Bagaimana keadaan ayahmu, Cello? Apakah dia baik-baik saja?” tanya pria itu seraya duduk di salah satu sofa bewarna ungu muda. Lelaki yang diajak bicara menoleh sebentar kearah pria itu dan kemudian kembali memandang jendela. “Baik, paman Johnny… Hanya saja, ia sangat sibuk dengan pekerjaannya sebagai Angel Leader sekarang.” jawab Cello dengan dingin.

“Pasti enak ya tinggal diatas sana… Jika saja kejadian berpuluh-puluh tahun lalu tidak terjadi, mungkin aku tidak perlu ada di dunia aneh ini.” gumam pria itu sembari mengatur letak kacamatanya. Cello tidak menjawab, hanya sebuah dengusan yang keluar dari mulutnya. “Mari aku kenalkan kau dengan anakku, Henna.” kata pria itu seraya memberi isyarat agar Cello mengikutinya.

Dengan terpaksa dan uring-uringan, Cello pun mengangguk dan mengikuti pria yang dipanggilnya paman itu menuju suatu ruangan. Yah, pria itu memang adalah kakak kandung ayah Cello. Dan, seharusnya pria itu juga yang menggantikan kakek Cello untuk memimpin para angel dan menjadi angel leader, namun karena suatu kejadian, akhirnya pria itu dihukum dan ditempatkan di dunia bawah, yang kita kenal dengan sebutan ‘bumi’. Ayah Cello pun dijadikan pengganti kakeknya sebagai angel leader.

Setelah melewati lorong-lorong yang cukup panjang, mereka pun sampai. Pria itu mengetok pintu kayu yang terdapat diujung lorong. “Siapa?” tanya suara perempuan dari dalam. “Ayah…!” teriak pria itu. Tak lama, pintu pun dibuka dan munculah paras seorang perempuan cantik dengan wajah yang bisa dibilang sempurna juga. Parasnya tak berbeda jauh dengan Cello dan pria itu. Hanya warna bola matanya bukan bewarna biru, melainkan bewarna hijau tua.

“Kenalkan ini Cello, keponakan ayah yang berarti juga sepupu kandungmu… Cello, ini Henna, sepupumu. Dialah yang akan kau ajarkan.” kata pria itu saling memperkenalkan. Henna tampak mengamati Cello dengan sangat seksama. Tapi, nampaknya Cello tak tertarik sama sekali untuk memandang Henna. “Kalian akan aku tinggal disini ya. Berbincanglah lebih jauh… Dan ingat Cello, jangan menarik perhatian orang-orang!” kata pria itu sembari berjalan keluar dan menutup pintu kamar.

Cello mengamati ruang tidur Henna. Warnannya didominasi oleh merah muda. Banyak setumpukan buku di rak dan ruangannya cukup luas. Ia memilih duduk di salah satu sofa yang tampak nyaman. Henna pun mengikutinya untuk duduk di sofa yang berada tepat dihadapan Cello. “Jadi…kau seorang angel?” tanya Henna sembari kembali mengamati seluruh tubuh Cello dengan cermat, seakan sedang mengamati hewan langka yang sudah punah beribu-ribu tahun yang lalu.

Cello sedikit risih dengan pandangan Henna, namun yang bisa dia lakukan sekarang hanya mengikuti semua permintaannya. “Mau bukti?” tawar Cello diikuti anggukan riang dari Henna. Cello pun mengayunkan jarinya dan tirai di jendela Henna langsung tertutup dengan sendirinya. Belum sempat Henna kagum akan hal itu, Cello berdiri dan melangkah ke tempat yang sepi. Dengan sekali hentakan, sayap putih yang indah keluar dari punggungnya.

Henna membuka mulutnya lebar-lebar. Seumur hidupnya, ia belum pernah melihat sayap seindah ini. Ayahnya tak pernah memperbolehkan Henna untuk melihat sayapnya. Dan Henna sendiri belum tau cara mengeluarkan sayap dari punggungnya. Henna mendekat kearah Cello dan mulai menyentuh sayapnya. Lembut. Rasanya sama seperti sedang menyentuh permen kapas. Matanya nampak sangat bersinar melihat keajaiban ini.

Cello terkekeh pelan. “Baru pertama kali aku melihat seorang angel sangat kagum saat melihat sayap angel lain…” sindir Cello sembari memasukan lagi sayap besar itu ke punggungnya. Henna mendengus kesal mendengar kata-kata Cello barusan. Dengan dingin, ia membuka pintu kamarnya. “Ayo aku antar ke kamarmu…!” perintahnya dengan kasar. Cello pun mengikuti Henna sembari tersenyum kecil.

“Ini kamarmu mulai sekarang. Baju-bajumu juga sudah disiapkan oleh ayah di lemari. Karena usiamu di bumi masih 16 tahun, kau harus sekolah mulai besok. Seragam dan buku-buku pelajaranmu juga sudah ada disini. Kau tau kata ‘sekolah’ kan?” jelas Henna seraya langsung menutup pintu dan pergi kabur. “Dia mau ikut meledekku ternyata. Tapi, aku sudah tau tuh yang namanya ‘sekolah’. Dasar aneh…!” umpat Cello seraya tersenyum.

Ia bergegas mandi dan mengganti bajunya dengan baju tidur. Untung saja ayahnya sudah mengajarkannya kegiatan biasa yang dilakukan oleh manusia. Setelah selesai, ia membaca buku-buku pelajarannya. “Ini terlalu mudah untukku…” gumamnya setelah membaca sekilas dalam hitungan detik. Ia pun tertidur di kamarnya yang didominasi warna biru.

Esok paginya, saat Cello pergi ke ruang makan, sudah nampak Henna dan ayahnya. “Pagi, paman… Pagi, Henna…” sapa Cello seraya duduk di salah satu kursi dengan pelan. “Pagi, Cello…!” sapa Henna dan ayahnya, Johnny. “Makanlah. Itu namanya sandwich…” kata Johnny kepada Cello yang nampak kebingungan saat melihat makanan di piringnya. “Memang di dunia atas itu, angel tidak pernah makan ya, yah?” tanya Henna sembari memakan sandwich-nya.

“Tidak, Henna… Angel tidak pernah makan di dunia atas sana. Makanya, kamu harus menyertai Cello nanti. Masih banyak hal di dunia ini yang belum Cello ketahui…” kata Johnny dengan tegas. Henna mengangguk paham, sedangkan Cello mulai mencoba menggigit sandwich-nya. “Not bad…” gumamnya sembari memakan sandwich-nya lagi.

Setelah diantar oleh Johnny dengan menggunakan mobil, Cello dan Henna pun menuju kelas mereka. Kebetulan mereka berada di kelas yang sama. Saat bel berbunyi, guru pun meminta Cello untuk memperkenalkan diri. “Namaku Cello Aquantris. Aku sepupunya Henna. Mohon bantuannya semua…” kata Cello seraya tersenyum sangat manis. Membuat anak-anak yang lain langsung terpesona. Apalagi saat melihat kedua bola mata biru murninya.

Ia duduk di sebelah Henna. Dan pelajaran pun dimulai. Biasanya yang paling pintar di kelas adalah Henna. Namun, sekarang Cello lebih unggul. Angel memang memiliki kekuatan daya pikir yang memiliki perbandingan 10:1 dibandingkan manusia biasa. Dan karena Henna adalah Half Angel yang berarti setengah manusia setengah angel, ia masih kalah dengan Cello karena ia adalah Pure Angel yang adalah angel murni.

Kemampuan yang dimiliki pure angel dengan half angel memang sama, hanya kekuatannya yang berbeda. Pure angel mempunyai kekuatan yang lebih besar dibandingkan half angel. Belum apa-apa, Cello sudah digandrungi banyak teman dan disukai oleh para wanita. Selesai sekolah, eskul basket yang wajib diikuti tiap siswa pun dimulai. Hanya dengan satu kali melihat, Cello sudah sangat mengerti dengan permainan basket itu.

Ia me-shoot bola basket ke ring selama lebih dari 10x sehingga kelompoknya pun menang. Saat sedang menonton pertandingan, teman-teman Henna yang lain ikut menonton. “Hyaaa~~~ Prince Cello hebat banget sihh…!” teriak teman-temannya yang lain. “What? Prince…?!” tanya Henna tak percaya dengan apa yang disebutkan teman-temannya. ‘Cello? Pangeran? Apakah teman-temanku sudah gila?’ batinnya kesal.

“Iya, dia itu tampan, manis, tinggi, pintar, dan hebat lagi…! Dia itu sangat cocok jadi prince. Kau sangat beruntung bisa menjadi sepupunya, Henn…!” jawab seorang temannya yang lain. Henna hanya bisa menggelengkan kepalanya. Setelah selesai, akhirnya mereka berdua pulang ke rumah. Mereka pulang dengan berjalan kaki karena Johnny sudah pergi ke kantor dari pagi. Henna terus berjalan dengan cepat, sedangkan Cello mengikutinya dengan ogah-ogahan.

“Henna…! Berhenti dulu, aku sangat lelah tau.” panggil Cello seraya duduk di suatu bangku umum di pinggir jalan dan memijit-mijit kakinya. “Untuk apa kaki panjangmu itu jika tidak untuk berjalan…? Jarak dari sekolah ke rumah kan sangat dekat, Cello.” kata Henna sembari duduk di sebelah Cello. “Di atas sana kan biasanya aku terbang, Henna, bukannya berjalan…” kata Cello sedikit berbisik. Henna pun terkekeh setelah mendengar perkataan Cello barusan.

Setelah istirahat, mereka pun meneruskan perjalanan dan akhirnya sampai ke rumah. Mereka berganti baju menjadi pakaian biasa dan mulai berlatih di halaman belakang rumah Henna yang cukup luas. “Sekarang kau akan belajar bagaimana mengeluarkan sayap…! Rasakan otot-otot dan urat-urat di punggungmu dan berikan perintah lewat otak untuk mengeluarkan sayapnya…” kata Cello.

Henna pun menutup mata dan mencoba mengontrol semua ototnya. Ia mengeluarkan perintah dari otaknya sekuat tenaga hingga akhirnya secercah sinar memasuki pandangannya. “Kau berhasil, Henna…!” teriak Cello dengan senang. Henna menoleh ke belakang. Sebuah sayap putih keperakan yang tak jauh berbeda dengan kepunyaan Cello berada di punggungnya. Ia memekik. Senang sekaligus kaget.

Karena rasa penasarannya yang berlebihan, ia mencoba memerintahkan sayapnya untuk terbang. Dan…berhasil! Perlahan tubuh kecil mungilnya terangkat keatas. Ia pun tertawa penuh kemenangan. Namun, apa daya. Karena terlalu girang, sayapnya tak bisa ia kontrol dan ia pun terjatuh. Cello dengan sigap mengeluarkan sayapnya dan mengangkat tubuh Henna sebelum terjatuh.

“Dasar ceroboh…!” kata Cello seraya menepuk pelan kepala Henna. “Aku kan tidak seperti kau, yang dari lahir sudah diajarkan bagaimana terbang dan dikenalkan dunia angel… Aku hanya dilahirkan sebagai manusia biasa tanpa tau bahkan ada dunia yang lain diatas. Baru beberapa tahun ini, ayah menceritakannya padaku…!” jawab Henna tak terima. “Ok… Ok… Tapi, kau hebat lho bisa belajar hanya dalam waktu 1 hari.” puji Cello seraya tersenyum manis. Membuat Henna terbius sesaat.

“Oh ya, aku ingin bertanya, kenapa ayahku tinggal di dunia ini, sedangkan kau dan ayahmu tinggal di dunia angel?” tanya Henna sembari menyeruput jus jeruknya. “Kau belum pernah diceritakan oleh ayahmu tentang ini?” tanya Cello tak percaya. Henna mengangguk kecil. “Ayahmu itu jatuh cinta pada seorang manusia saat sedang melakukan training disini. Kau tau kan pada masa seumurku angel disuruh melakukan training ke bumi?” jelas Cello diiringi anggukan dari Henna.

“Nah, kebetulan pada saat itu, ayahmu jatuh cinta pada teman sekelasnya. Kakek sangat marah akan hal itu, karena baginya hal ini sudah melanggar hukum angel. Tapi karena kakek tidak ingin membuat ayahmu sedih, ia memperbolehkan ayahmu bersama wanita yang dicintainya asal ia tinggal di bumi dan tidak pernah membocorkan identitasnya sebagai angel. Jadilah kau sekarang…” lanjut Cello lagi. Henna mengangguk paham. “Dan alasanmu datang kesini juga karena ingin training?” tanya Henna lagi.

“Yap, kau benar… Tapi, kakek menyuruhku untuk sekalian mengajarimu bagaimana menjadi angel, karena dia yakin jiwa angel masih ada dalam tubuhmu… Dan ternyata kakek benar. Kau memang memiliki jiwa angel.” jawab Cello dengan pelan. Henna pun tersentuh mendengar penjelasan Cello. “Yasudah, aku akan mengerjakan PR-ku dulu. Sampai jumpa, Cello…!” pamit Henna sembari berlalu ke kamarnya.

Di kamar, ia tersenyum ceria. Ternyata, Cello tidak sedingin dan sesombong yang ia kira. Begitu juga dengan pikiran Cello. Ternyata, Henna adalah wanita yang periang dan menarik. Pagi ini seperti biasa, Cello berangkat ke sekolah dengan Henna. Saat sedang keluar dari kamar untuk makan, Cello berjalan tepat didepan Henna. “Err… Selamat pagi, Cello.” sapa Henna berusaha ramah. “Selamat pagi, Henna…” jawab Cello. Mereka berdua nampak menjadi salah tingkah dan akhirnya menundukan kepalanya. Mereka pun berjalan ke ruang makan dengan wajah merona.

Johnny merasa sedikit aneh dengan kelakuan mereka berdua, namun ia lebih memilih diam dan tak mempersalahkannya. Setelah sampai ke kelas, Cello langsung diberikan coklat, bunga, atau hadiah apapun itu. Cello yang tidak pernah berinteraksi dengan manusia sebelumnya, hanya bisa tersenyum seraya menerima hadiahnya. Setelah duduk dan bel berbunyi, pelajaran pun dimulai. Di sela-sela pelajaran, banyak wanita yang mencoba menggoda Cello. Lagi-lagi Cello hanya bisa tersenyum.

“Jangan menerima hadiah ataupun tersenyum terlalu banyak, Cello… Itu artinya kau merespon mereka. Dan mereka akan menggodamu lebih parah.” bisik Henna di tengah pelajaran. Entah kenapa, hawa panas memasuki tubuh Henna sekarang. Terlebih saat melihat teman-teman wanitanya menggoda Cello. “Tidak apa-apa, Henna. Semakin banyak tersenyum itu lebih baik kan?” jawab Cello sembari mengeluarkan senyumnya lagi.

“Tapi, itu bisa…”

“Henna…!!! Shut up, please…!” teriak guru. Henna pun menunduk dan mulai kembali menjalankan kegiatan belajarnya. Saat pelajaran sudah selesai, Cello baru ingin mengajak Henna untuk pulang bersama, karena memang ia masih takut pulang sendiri di dunia yang-menurut pendapatnya- masih asing. Tapi, Henna tiba-tiba ditarik seorang lelaki keluar kelas. Henna sedikit memberontak, namun lelaki itu lebih kuat dan akhirnya memaksa Henna keluar kelas.

Cello yang penasaran sekaligus khawatir, pun mengikuti mereka berdua. Hingga mereka berdua-Henna dan lelaki asing-berhenti di lantai atas dimana sangat sepi dan kosong. “Aku dengar ada anak baru ya dikelasmu, Nana?” tanya lelaki itu. “Ya dan jangan panggil aku Nana… Namaku Henna, bukan Nana…!” jawab Henna dingin. “Tapi kan Nana adalah nama panggilanku kepadamu… Dan, kelihatannya kau dekat ya sama anak baru itu?” tanya lelaki itu lagi.

It’s none of your business…! Jadi pergilah dan jangan ganggu aku… Kau kan bukan siapa-siapaku…!!!” teriak Henna sedikit keras. “Tentu saja ada hubungannya denganku, Nana honey…” katanya seraya mencoba mencium Henna. “Hya~ Apa yang mau kau lakukan?! Pergi kau…!” pekik Henna sembari mendorong lelaki itu. Namun, ia malah semakin menambah kekuatannya dan mendekati bibir Henna untuk menciumnya. Henna sudah mulai menangis. Cello yang sadar bahwa hal yang mereka lakukan bukan umum, pun menghampiri mereka dan menonjok wajah lelaki itu. Ia langsung menarik tangan Henna untuk menjauh.

Henna masih menangis, namun ia tak menolak tarikan Cello. Mereka keluar sekolah dan menuju ke rumah. Di tengah jalan, Henna menangis tersedu-sedu. “Katanya kalau seseorang mengeluarkan air mata, itu artinya menangis. Dan jika menangis, berarti sedang sedih. Kenapa kau sedih, Henna? Apakah karenaku?” tanya Cello dengan tampang polosnya. Ia tampak seperti anak umur 5 tahun yang belum tau apa-apa.

Henna mengangguk. “Bukan salahmu, Cello… Tapi karena lelaki tadi mau menciumku.” jawab Henna dengan  suara serak. “Jadi menempelkan bibir ke bibir itu dinamakan ‘mencium’ ya? Apakah seperti ini?” tanya Cello lagi seraya mempraktikan hal yang baru saja dipelajarinya. Yah, dia mencium bibir Henna lembut. Henna sangat terkejut, hingga tangisannya berhenti. Namun, ia tak menolak dan malah menikmatinya.  ‘Perasaan apa ini? Apakah aku mencintainya?’ batinnya dalam hati.

“Kenapa kau terkejut seperti itu, Henna? Apakah hal yang aku lakukan tadi salah?” tanya Cello dengan pandangan penasaran. “Tidak salah, tapi usahakan jangan lakukan lagi pada sembarangan orang. Orang yang kau ‘cium’ harus benar-benar sudah kau cintai…” kata Henna menjelaskan. “Apa itu cinta?” tanya Cello lagi. Henna risih akan semua perasaan yang dilontarkan Cello. Ia pun meneruskan perjalanannya dengan diekori Cello di belakang.

“Cinta itu sesuatu yang susah dijelaskan, Cello. Tapi, yang pasti cinta itu berarti kita sudah sangat nyaman kepada seseorang dan kamu sangat merasakan kegugupan saat melihatnya. Pada saat itulah kau mengajaknya pacaran bahkan menikah, baru kau boleh menciumnya.” terang Henna. Cello mengangguk paham. “Berarti, aku tidak salah jika menciummu. Kan aku sudah mencintaimu…” jawab Cello dengan polos sembari langsung pergi ke kamar begitu sampai rumah. Seketika pipi Henna berubah merona. Nampaknya, ia juga sudah mencintai Cello.

((()))

Pagi ini saat Henna baru bangun tidur, ia dikejutkan dengan penampakan seorang lelaki tinggi berwajah tampan yang berada tepat dihadapannya. “Cello…!? Untuk apa kau disini?” tanya Henna seraya mengucek-ngucek matanya. “Aku sudah mencari semuanya di internet, katanya kalau sudah saling mencintai kan, sang lelaki harus menyatakan perasaannya kepada sang perempuan. Jadi aku mau menyatakan perasaanku padamu.” jelas Cello sembari tersenyum manis. “Hah?!” teriak Henna yang masih belum sepenuhnya sadar akibat baru tidur.

“Jadi, aku sangat mencintaimu, Henna… Maukah kau menjadi pacarku?” tanya Cello dengan romantis sembari memberikan sebuket bunga mawar. Henna membulatkan matanya tak percaya. Seumur hidupnya, ia tak pernah membayangkan akan dilamar oleh seorang lelaki tampan di kamarnya sendiri dengan keadaan baru bangun tidur. Ia langsung keluar kamar dan setelah beberapa menit, ia kembali datang. “Untung ayah sedang tidak ada…” gumamnya. “Aku juga sangat mencintaimu, Cello. Tapi, saudara kan tidak boleh saling mengikat hubungan. Kita kan sepupuan. Dan darah kita berasal dari satu kubu yang sama…” jawab Henna dengan selembut-lembutnya.

“Tapi, di dunia angel, hal itu tak dilarang… Aku yakin paman Johnny juga takkan mempersalahkannya. Jadi maukan?” tanya Cello sekali lagi. “Ba-baiklah…” jawab Henna secara tak sadar. Otaknya memang melarang ini, tapi hatinya berkata lain. Apakah ini yang disebut ‘kekuatan cinta’? Cello tersenyum riang dan langsung menarik tangan Henna menuju keluar rumah. “Apa yang kau lakukan? Biarkan aku bersiap-siap dulu…” kata Henna. Cello pun mengangguk kecil.

Setelah selesai bersiap-siap, Henna langsung disuguhkan sebuah hadiah oleh Cello. “Apa ini?” tanyanya. “Buka saja…” jawab Cello singkat. “Sebuah gaun merah muda…!? Darimana kau tau aku suka warna merah muda?” tanya Henna dengan senang. “Aku melihat ruanganmu dipenuhi warna merah muda, jadi kupikir itu adalah warna favoritmu. Sekarang pakailah dan ikut aku.” jawab Cello diikuti anggukan Henna.

Setelah Henna keluar kamar, Cello terpaku memandang Henna. “Sangat cantik…” gumam Cello yang sedang memandang Henna dengan gaun pendeknya yang indah. Henna juga memerhatikan Cello. “Kau juga sangat tampan dengan kemeja dan tuxedo putih ini, Cello…!” puji Henna seraya tersenyum. Mereka pun pergi ke suatu tempat. “Kau bisa menyetir? Dan, kita mau kemana, Cello?” tanya Henna saat melihat Cello sedang menyetir. “It’s a secret…” jawab Cello sembari tersenyum sangat manis. Tak sadar, dari tadi ada seseorang mengamati mereka.

“Dua incaran berkumpul menjadi satu… Menarik…!” gumamnya misterius.

~To Be Continue~

Story : ~Her Sad Journey~

Seorang perempuan tampak sedang berlatih menari di suatu studio. Pakaiannya sudah penuh dengan keringat, namun ia sama sekali tak memerhatikan itu. Yang ia perhatikan hanya satu, penampilan sempurna di panggung nanti. Gerakannya benar-benar sangat indah dan gemulai. Tariannya bisa membuat orang terkagum-kagum hingga membuka mulutnya lebar-lebar. Dialah Yuri. Penari balet termuda dan terkenal di seluruh dunia.

“Hari ini sekian dulu, Yuri… Ini minumanmu.” kata seorang pria seraya memberikan minuman kepada Yuri. “Ok… Terima kasih.” jawab Yuri dengan senang hati. Hanya pada pria inilah Yuri menurut dan patuh. Pria ini bernama Michi, sahabat baik Yuri sekaligus aktor, model, dan penyanyi terkenal. Yuri adalah gadis yang cantik, berbakat, lahir dari keluarga kaya, dan baik hati. Ia adalah manusia yang hampir sempurna.

Setiap orang pasti iri akan kesempurnaannya. Michi juga merupakan pria idaman setiap orang. Ketampanan dan kemanisannya membuat semua orang tergila-gila padanya. Ia juga lahir dari keluarga kaya dan sangat baik. Banyak yang bilang mereka berdua -Yuri dan Michi- adalah pasangan tersempurna. Padahal, mereka berdua hanya sahabat, tak lebih dari itu. Meskipun, Michi dan Yuri memang diam-diam saling mencintai.

“Kau punya jadwal minggu ini, Yuri?” tanya Michi yang sedang duduk bersamanya di bangku dekat taman. “Selain konserku, tidak ada. Memang kenapa?” tanya Yuri. “Maukah kau pergi bersamaku besok?” pinta Michi dengan wajah merah merona. “Boleh…” jawab Yuri seraya pergi meninggalkan Michi, karena wajahnya juga sudah ikut memerah. Michi tersenyum sangat ceria hingga kedua lesung pipinya terukir sangat dalam.

Di mobil, Michi menunggu dengan jantung yang sudah ingin melompat setiap saat. Seluruh tubuhnya berkeringat padahal berada di mobil Full AC. “Halo, Michi…! Maaf ya, aku telat…” kata Yuri seraya masuk ke mobil. “Loh, kenapa kau keringatan begitu? Kau sakit? Atau mau kita batalkan saja janji kita?” tanya Yuri seraya menaruh tangan di dahi Michi. “Ti-tidak, Yuri. A-aku tidak apa-apa… Ayo kita jalan!” ajak Michi dengan suara yang sangat tegang. Ia pun mulai menekan gas.

Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah pantai. Yuri berlari dan berteriak dengan riang disana, persis seperti anak umur 5 tahun. Michi pun ikut berlari-lari bersama Yuri. Untungnya, pantainya sepi. Jika tidak, mungkin Michi dan Yuri sudah habis dikejar-kejar fans mereka. “Kenapa pantai ini sepi ya? Pantai ini kan sangat indah…” tanya Yuri yang sekarang sedang duduk menghadap pantai. “Pantai ini sengaja aku pesan untuk kita berdua saja…” jawab Michi sembari tersenyum sangat manis.

“Wahh, kau sangat romantis, Michi…!” puji Yuri seraya mencubit pipi Michi. “Sakit tau…” kata Michi seraya mengejar Yuri. Mereka pun akhirnya berkejar-kejaran. Hingga tiba-tiba Yuri terjatuh. “Ouch…!” desis Yuri. “Kau tidak apa-apa? Makanya hati-hati dong. Sini, aku obati…!” kata Michi sembari mengobati kaki Yuri yang terluka. Yuri pun hanya tersenyum. Entah kenapa, lukanya tak terasa sama sekali saat ia melihat senyuman dan tatapan khawatir dari raut wajah Michi.

“Kau sudah baikan, Yuri?” tanya Michi di mobil saat mereka ingin pulang. “Ehm… Tenang saja, Michi, ini hanya luka kecil.” kata Yuri seraya tersenyum manis. Pipi Michi pun merona. Begitu pula dengan Yuri. “Sudah sampai… Sampai jumpa, Yuri.” kata Michi sembari melambaikan tangannya. “Sampai jumpa. Jangan lupa nonton konserku besok ya?” jawab Yuri. “Pasti…!” teriak Michi dengan pandangan patuh. Yuri tertawa kecil sebelum akhirnya masuk ke rumah.

Esoknya, Michi sudah berpakaian rapi dan melangkah ke tempat penonton. Ia mengambil kursi paling depan, tepat di depan panggung. Setelah mulai, ia kembali terkesima melihat kelenturan dan kegemulaian Yuri. Namun, di akhir acara, Yuri terjatuh. Michi terkejut dan ingin menolong Yuri, tapi Yuri menolak dan mengatakan bahwa ia tak apa. Ia memilih meneruskan acaranya. Setelah selesai, Michi mengajak Yuri makan di salah satu restoran mewah.

“Kau sangat hebat, Yuri…” puji Michi seraya mengelus rambut Yuri lembut. Yuri pun merona. “Kau bisa saja, Michi.” elak Yuri sembari menundukan kepalanya malu. “Tapi, tadi kau baik-baik saja kan?” tanya Michi seraya mengecek kaki Yuri. “Tidak apa-apa, hanya kesalahan kecil…” jawab Yuri. “Apa karena terjatuh di pantai kemarin? Maaf ya, Yuri…” kata Michi dengan nada menyesal. “Tidak kok… Lagipula di pantai itu kan bukan kesalahanmu, tapi kesalahanku yang kurang hati-hati. Aku juga sudah sering terjatuh sebelum kejadian di pantai.” jawab Yuri sembari tersenyum.

“Sudah sering terjatuh? Kalau begitu, ayo kita pergi…” kata Michi seraya menarik tangan Yuri. “Kemana, Michi…?” tanyanya kebingungan. “Periksa ke dokter. Aku takut ada apa-apa denganmu, Yuri…” jelas Michi. “Aku kan sudah bilang aku tidak kenapa-napa, Michi…” kata Yuri dengan nada marah. “Aku mengkhawatirkanmu, Yuri…! Aku takut kau kenapa-napa, jadi please dengar aku.” kata Michi sembari menaikan Yuri ke mobil dan pergi ke rumah sakit.

Di rumah sakit, Yuri memeriksa hampir seluruh tubuhnya. “Kami belum bisa mengatakan secara jelas. Tapi, Nona Yuri perlu pemeriksaan lebih lanjut…” jelas dokter. Michi menatap Yuri dengan pandangan kesedihan. Ia benar-benar takut Yuri kenapa-napa. Ia sangat menyanyangi Yuri, sebagai sahabat dan…orang yang sangat ia cintai. “Jangan khawatir, Michi… Aku takkan kenapa-napa.” hibur Yuri saat perjalanan pulang. Padahal dirinya sendiri sedang gusar.

Minggu kedepan, Michi dan Yuri kembali pergi ke dokter untuk melakukan pemeriksaan dan akhirnya mereka menunggu di ruangan dokter untuk dijelaskan hasil pemeriksaan. Tak lama kemudian, dokter datang. “Nona Yuri mengalami gangguan syaraf. Mungkin sebentar lagi semua syaraf Nona Yuri akan rusak dan Nona Yuri tak akan bisa menggerakan semua syaraf Nona… Kami selaku pihak rumah sakit turut berduka akan berita buruk ini, Nona.” jelas dokter itu.

Michi sangat terkejut dengan hal ini. Begitu pula dengan Yuri. “Dokter, jangan beritahukan hal ini pada siapa-siapa, apalagi pada wartawan atau pers.” kata Yuri dengan dingin. Hal ini lebih membuat Michi cemas. “Saya mengerti, nona…” jawab dokter itu seraya memberi laporan hasil pemeriksaan Yuri. Yuri mengangguk dan mengambil laporan itu. Ia pun pergi ke mobil. Michi yang sangat cemas hanya bisa mengikuti Yuri dari belakang.

Di mobil, Yuri hanya terdiam, seperti larut dalam pikirannya sendiri. Tak ada kegelisahan, tangisan, atau kesedihan dari wajahnya. Hanya aura dingin. “Yu-yuri…?” panggil Michi sembari menyetir. “Mmm??” tanya Yuri masih dengan wajah dinginnya. “Kau tak bersedih atau menangis karena hal ini?” tanya Michi ragu-ragu. Yuri tersenyum walaupun masih berekspresi dingin. “Nanti malam, pertunjukanku akan tampil di TV lho, Chi… Nonton ya?” kata Yuri mengalihkan pembicaraan.

Mendengar pengalihan pembicaraan itu, Michi meminggirkan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan. “Apa-apaan kau ini, Michi?” tanya Yuri terkejut. “Mestinya aku yang tanya, Yuri…! Apa-apaan kau ini, sok kuat…!!! Kalau mau menangis, menangis saja!” teriak Michi. Yuri pun menangis sangat keras. Semua perasaannya serasa dikeluarkan begitu saja. Michi memeluk Yuri dengan erat, menenangkannya yang sedang terkena ombak besar.

“Bagaimana ini, Michi…? Apakah karirku akan kandas begitu saja karena penyakit ini? Bagaimana ini? Pertunjukanku sudah menjadi sangat terkenal dan aku belum bisa melepaskannya. A-aku… Aku…” kata Yuri disela-sela tangisannya. “Sabar, Yuri… Sabar… Tenangkan dulu pikiranmu.” jawab Michi menenangkan Yuri. Yuri menangis begitu lama dan Michi terus memeluknya. Hingga akhirnya, Yuri tertidur di pelukan Michi.

Michi tersenyum melihat betapa polosnya wajah Yuri saat tertidur. Dengan perlahan, ia menyenderkan bahu Yuri kebahunya dan kembali menyetir ke rumah Yuri. Ia menggendong Yuri ke kamar dan menyelimutinya dengan lembut. Pandangan matanya terus memandang Yuri. Perlahan, ia mendekati wajah Yuri dan mencium keningnya. Setelah itu, ia beranjak pergi untuk pulang ke rumah.

Masih terngiang-ngiang perkataan dokter yang menjelaskan tentang penyakit Yuri. Entah mengepa, Michi turut merasakan sakit yang luar biasa pada hatinya. Terlebih, saat melihat Yuri menangis sesenggukan. Di dalam hatinya, ia telah berjanji akan menyembuhkan Yuri dan kembali membuat Yuri senang kembali.

###

Yuri membuka matanya perlahan. Air mata yang sudah mengering masih terukir jelas di wajah Yuri. Ia memandang kesekelilingnya. Terakhir yang ia ingat, ia tertidur di pelukan Michi. Apakah Michi yang menggendongnya kesini? Pikiran itu terus berkecambuk di dalam pikiran Yuri. Ia turun dari kasur dan mulai pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Setelah siap, ia memindahkannya ke meja makan. Namun, saat sedang membawa makanan, Yuri merasakan syaraf kakinya seperti tak bisa digerakan dan ia pun jatuh.

Untungnya, tangannya masih dapat menahan makanan yang ia pegang sehingga tak terjatuh. Dengan hati-hati, ia pun mencoba bangun dan duduk di meja makan. Perasaan sedih terus berkecambuk dalam hatinya. Cita-citanya yang ingin menjadi penari international kandaslah sudah. Padahal, seumur hidupnya ia tak pernah membayangkan diusianya yang masih termasuk belia, ia harus terus-terusan tiduran dikasur tanpa bisa bergerak.

Kisah hidupnya terasa bagai sinetron-sinetron yang ada di TV. Namun, perasaannya tidak tersentuh seperti yang ia rasakan saat menonton sinetron tersebut. Hanya rasa sakit dan kesedihan tak terhingga yang seakan menusuk-nusuk hatinya. Ia menyantap makanannya dengan cepat. Air mata masih terus merembes lewat matanya yang sudah membengkak. Hari ini, ia akan seharian di rumah tanpa berlatih. Pikirnya percuma berlatih, semua sudah terlambat sekarang.

Setelah makan dan mandi, ia memutuskan untuk duduk di sofa ruang tamunya. Ia menyalakan DVD dan kembali memutar kaset-kaset dimana ia sedang menari dengan sangat indah dan gemulai. Perasaannya saat itu terukir jelas di wajahnya saat menari. Riang dan ceria. Tanpa ada beban sama sekali. Air matanya kembali menetes. Biarkanlah orang-orang menyangka dia adalah perempuan yang cengeng.

“Yuri…!” panggil seseorang dengan suara yang amat terasa tak asing. “Michi?” balas Yuri terkejut saat Michi datang dan langsung memeluknya. “Kenapa kau tidak berlatih hari ini, Yuri?” tanya Michi pelan. “Kau tau darimana aku tidak berlatih hari ini?” tanya Yuri membalik pertanyaan. “Tadi aku mengunjungi tempat latihanmu, dan orang disana bilang kau tidak datang hari ini. Kenapa kau tak datang, Yuri? Biasanya kan kamu tak pernah tak datang?” jelas Michi.

“Untuk apa aku berlatih, Michi? Masa depanku sudah kandas mulai sekarang. Aku tidak akan bisa memuwujudkan mimpiku untuk menjadi penari international.” jawab Yuri dengan sinis. “Tidak, Yuri…! Tidak… Kau tetap harus memuwujudkan mimpimu itu! Justru sekarang sebelum semuanya terlambat, kau harus bisa…!!!” teriak Michi menyengamati. “Tapi, ini sudah terlambat, Michi…!” kata Yuri dengan lirih.

“Mana Yuri yang aku kenal dulu…!? Yuri yang selalu bersemangat dan pantang menyerah…! Yuri yang tak pernah mau diam walaupun sedang sakit…! Yuri yang selalu tersenyum dan takkan pernah bersedih…! Yuri yang akan terus bangkit walaupun berpuluh-puluh kali terjatuh…! Mana Yuri yang kukenal?” teriak Michi seraya menggoyang-goyangkan badan Yuri. Yuri pun terdiam. Air mata mulai terjatuh lagi dari matanya.

“Kau benar, Michi… Terima kasih! Aku akan kembali menjadi Yuri yang dulu…” jawab Yuri sembari tersenyum. Senyum yang akhirnya mengkhiasi kembali paras cantiknya. Setelah peristiwa itu, Yuri kembali berlatih sekuat tenaga. Meskipun tariannya tak sehebat dulu, ia tetap berjuang sepenuh hati. Ia telah kembali menjadi Yuri yang Michi kenal dan cintai. Sosok Yuri yang menjadi teladan bagi setiap orang.

2 tahun kemudian, akhirnya semua mimpi Yuri terwujud. Ia telah menjadi penari international kelas dunia. Panggung yang terakhir ia pijak adalah panggung dimana presiden-presiden dari seluruh dunia menonton. Perjuangan Yuri bahkan dibukukan menjadi novel terlaris di seluruh dunia. Michi selalu menjadi penyemangat Yuri dan selalu setia menemani Yuri.

###

(5 tahun kemudian)

Tampak seorang perempuan dengan wajah pucat namun masih nampak cantik sedang berbaring di kasur rumah sakit. Ia sudah dirawat selama seminggu dirumah sakit ini. Ia terjatuh dan tak sadarkan diri saat sedang berlatih untuk acara yang sangat penting. Dan selama seminggu ini juga, seorang pria berwajah tampan dengan senyumannya setia menunggu perempuan tersebut. Membantunya makan, minum, pergi ke kamar kecil, dll.

“Mi-Michi…” panggil perempuan itu dengan lirih. Suaranya serak, hampir hilang. Pria yang dipanggil berusaha menahan perasaan sedihnya yang terus bergejolak. “Iya, Yuri?” tanyanya seraya mengelus rambut Yuri pelan. “Terima kasih, Michi… Tanpamu, mungkin aku masih terbaring di rumah tanpa melakukan apa-apa. Kau adalah orang terpenting dalam hidupku.” kata Yuri sembari berusaha tersenyum, walaupun nampaknya seunyil senyuman saja sangat susah dinampakan.

“A-aku… Nampaknya, aku sudah tak kuat lagi.” lanjut Yuri dengan lirih. Michi pun tak bisa menahan lagi, air matanya mulai terjatuh. Menitik ke seprai rumah sakit. “Jangan berbicara seperti itu, Yuri… Kau akan baik-baik saja.” hibur Michi seraya menggenggam tangan Yuri erat-erat. “Aku mencintaimu, Michi… Sangat mencintaimu. Selamat tinggal…” kata Yuri lirih sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Michi menangis sesenggukan sembari memeluk Yuri dengan sangat erat.

###

Berita kematian Yuri sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia. 18 Oktober menjadi hari berduka untuk mengenang perjuangan Yuri untuk melawan penyakitnya dan berusaha hingga akhirnya ia menjadi penari international. Banyak orang dari seluruh penjuru dunia yang datang ke pemakamannya. Namun, Michi tak memedulikan ini. Mata dan pikirannya masih tak lepas dari Yuri. Semoga Yuri bisa menjadi teladan bagi setiap orang untuk tetap bangkit walaupun jutaan ombak menerjang.

FIN

Story : ~You And Dream~

Aku melihatnya! Aku melihat wanita yang sangat aku cintai sedang tersenyum padaku. Rambutnya yang terurai indah nampak beterbangan ke segala arah. Mata cantiknya sedang menatapku penuh perasaan. Hidung yang menjulang bak gunung everest dan bibir mungil yang merah menggoda, tergambar sempurna. Aku terpaku. Aku ingin mendekatinya, memeluknya, dan menjaganya sepenuh hatiku, namun entah kenapa syaraf-syarafku seperti mati. Tidak mau merespon apa yang diperintahkan otakku.

Ia mendekatiku. Di wajahnya yang putih mulus tak bernoda masih tampak senyuman manis yang ia tujukkan untukku. Tangannya yang hangat dan halus menjelajahi setiap lekuk wajahku. Membuatku merasakan kenyamanan. “Aku mencintaimu…” bisiknya tepat di telingaku. Saat itu, perasaanku seperti mau meledak. Tapi, sesuatu terjadi. Ia perlahan menghilang. Aku ingin meneriaki namanya berkali-kali, aku ingin menangis, aku ingin menarik tangannya dan melarangnya pergi, namun lagi-lagi aku tak bisa bergerak.

***

Aku bangun dari tidurku. Keringat sudah membasahi tubuhku. Aku mencari ke segala arah. Namun, ia tak ada. Apakah hal indah tadi juga mimpi? Sudah 2 tahun, aku memimpikan hal yang sama. Ironis memang, namun aku berharap aku tak pernah bangun dari mimpiku. Aku ingin bersamanya selamanya. Menemani setiap kehidupannya. Melihatnya tertawa dan menangis. Melihatnya tidur dan bangun.

Bantal yang aku tiduri sudah basah akan air mata. Apakah ia juga mengalami yang sama denganku? Aku pergi ke kampus dan disana aku melihatnya. Dialah putri mimpiku. Wanita yang selalu aku mimpikan. Aku ingin memeluknya, namun aku sadar ia telah mempunyai seseorang. Seseorang yang jauh lebih sempurna dariku. Mungkin dia hanya ditakdirkan untuk menjadi putri mimpiku.

Aku ingin bergegas pulang, sebelum aku melihat pemandangan yang paling buruk yang pernah kulihat seumur hidupku. Aku melihatnya sedang berciuman mesra dengan lelaki lain. Hatiku terasa sangat sakit. Namun, air mata tak mampu keluar dari mataku. Yang bisa kulakukan hanya berdoa, semoga ini hanya salah satu dari mimpiku. Tapi, kenyataan ini terlalu nyata untuk menjadi mimpi. Aku pun pergi dengan tertatih-tatih tanpa arah.

Aku melewati jalan raya dengan pikiran kosong. Di depanku sedang ada mobil yang berjalan dengan ngebut, namun aku tak memikirkan itu. Aku hanya menutup mataku seraya menyebut namanya berkali-kali di pikiranku. Walaupun aku merasakan tubuhku terhempas jauh dan mengenai aspal hangat dengan keras. Walaupun aku merasakan darah segar sedang mengalir dengan deras dari tubuhku. Walaupun aku merasakan tubuhku diangkut dan dibawa ke rumah sakit.

Dan walaupun aku merasakan keluargaku sedang menangis kencang di sekelilingku. Yang aku pikirkan hanya satu. Yaitu dia. Aku merasakan nafasku mulai sesak. Aku merasakan jiwaku seakan ditarik keluar dari badanku. Hingga aku mendengar suara lengkingan alat kedokteran yang menyatakan aku sudah mati. Aku masih memikirkannya. Memikirkannya sepenuh hatiku.

Selamat tinggal dunia… Selamat tinggal putri mimpiku… Aku sudah berhasil menjadikan mimpi ini abadi… Aku sudah memenuhi janjiku untuk tak pernah bangun dari mimpiku… Semoga ia bahagia bersama orang yang dicintainya disana…

***

Dia datang padaku…
Tangannya yang sudah sangat aku rindukan, menyentuh tanganku
Matanya yang indah melihatku…
Suaranya yang sangat ingin aku dengar,
tiba-tiba mengatakan padaku agar tak menangis

Aku memegang tanganmu…

dan kau menghilang…

Air mata berjatuhan dan bantalku menjadi basah…
Akhirnya aku bangun dari mimpiku…
Setiap pagi selalu seperti itu…

Aku harap aku bisa tertidur selamanya…
Aku bangun dan kau hadir…
walaupun aku tak ingin bermimpi tentangmu lagi,
Bayanganmu selalu datang ke mimpiku…
Kau tersenyum…
Sudah sangat lama bagiku tak melihatmu seperti itu…
Aku sangat rindu ekspersi itu…
Apakah kau wanitaku?
Dia pergi menjauh…
Menyinari pria lain…
Dadaku seakan hancur karena diberi beban yang sangat berat…
Ini adalah mimpi juga, kan?
Keringat dinginku menjalari seluruh tubuh…
Sangat sakit bagiku untuk memimpikan sesuatu yang bahkan tidak ada,

Aku benci untuk mengingat…
Aku tak bisa melakukan apapun tanpamu…
Kita telah melalui banyak waktu bersama, bukan…?

Aku harap aku bisa tertidur selamanya…
Aku bangun dan kau hadir…
Seandainya aku bisa melihatmu lagi…
Seandainya aku bisa melakukan itu lagi…
Jika kamu benar-benar kembali padaku…

Seandainya kau bersamaku sekali lagi…
Jika kau datang kembali ke mimpiku,
Aku tidak pernah ingin bangun dari mimpi indahku…
FIN
***

Maaf ya klo ceritaku kali ini pendek banget…

Cerita ini terinspirasi dari lagu “In My Dream”-nya SuJu…

THANKS~~~







Story : ~True Soulmate…?!~

Apakah kau pernah mencintai lelaki yang tidak mencintaimu?

Apakah kau pernah dicintai lelaki yang tidak kau cintai?

Jika itu terjadi, mana yang kau pilih?

Lelaki yang mencintaimu sepenuh hati…

Atau, lelaki yang kau cintai sepenuh hati?

***

Aku memandang lelaki di sampingku. Tampan, cool, pintar, dan lahir dari keluarga yang bisa dibilang lebih dari kaya. Dialah, Park Minhwa. Idola semua wanita di sekolah. Tak terkecuali, diriku sendiri. Aku, Shin Hyerim, adalah bisa dibilang sebagai wanita yang sangat mencintainya. Melihatnya duduk, berdiri, berjalan, makan, menguap, atau apapun itu saja sudah membuat jantungku berparade.

Namun, aku tak bisa menyatakan cintaku padanya. Ah, aku salah, bukan ‘tak bisa’, tapi ‘tak pantas’. Aku terlalu biasa untuknya. Aku lahir dari keluarga sederhana, dan aku juga tidak cantik; tidak seperti dirinya yang lahir dari keluarga pemilik perusahaan international dan sangat tampan. Wajahku biasa-biasa saja. Tidak hancur sekali, tapi juga tidak cantik. Tubuhku tak tinggi; tak sepertinya yang sangat tinggi bagai pohon kelapa yang menjulang.

Parahnya lagi, di tahun ketigaku menjalani SMA, aku harus sekelas dengannya, bahkan satu meja dengannya! Bukannya aku tak mau, tapi ujian kelulusanku nanti bisa hancur berantakan karena selalu memikirkannya. Hari ini adalah hari pertamaku di kelas tiga. Aku sengaja datang lebih pagi untuk menunggu Minhwa datang. Ternyata, setelah menunggu cukup lama, ia akhirnya datang dan duduk di sebelahku semenit sebelum bel.

Aku berusaha tersenyum semanis mungkin padanya. Namun, ia tak bereaksi lebih, hanya diam dan mengangguk pelan. Tak lama, guru datang dan meminta mengeluarkan pekerjaan rumah yang minggu kemarin diberikan. Karena aku termasuk siswi yang pintar, aku pun mengeluarkan pekerjaan rumahku yang sudah ditulis secara rapi. Aku menengok kearahnya, ia nampak sedang kebingungan sembari mengeluarkan semua isi tasnya. Apakah dia lupa membawa pr-nya?

Aku pun memberikannya pekerjaan rumahku. Ia nampak kaget atas apa yang kulakukan, namun guru langsung datang kearah kami. Guru itu -yang kebetulan melihat pr-ku ada ditangan Minhwa- mengira pr itu punyanya, dan mengeceknya satu-persatu. “Excelent, Mr. Park…” kata guru itu seraya mengembalikan buku -yang dikira bukunya- ke tangan Minhwa. “Where is your homework, Ms. Shin?” tanyanya dengan inggris yang lancar karena sekolah kami memang adalah sekolah international.

“I’m sorry, Sir… Saya lupa membawa pr.” jawabku seraya menunduk. “What? Sejak kapan seorang ‘SHIN HYERIM’ tidak membawa pr? Now, keluar dari kelas saya…!?” perintahnya setengah berteriak. Aku pun mengangguk dan keluar dari pintu. Secara singkat, aku melihat muka Minhwa yang penuh dengan rasa bersalah. Ini adalah kali pertama aku dihukum, tapi tak apalah. Aku senang Minhwa tak jadi dihukum. Lebih baik, aku mendengarkan lagu dari head-set ku.

“Kakak sedang dihukum ya?” tanya seorang lelaki seraya duduk disampingku. Wajahnya sangat manis dan lucu, membuatku ingin selalu mencubit pipinya yang putih dan mulus. Ia juga sangat tinggi, bahkan tingginya melebihi tinggiku. Nampaknya, ia mirip dengan seseorang, tapi siapa ya? Aku pun mengangguk lesu. “Kau sendiri sedang apa disini? Dihukum juga?” tanyaku balik bertanya. Ia menggeleng. “Aku hanya malas belajar… Kalau begitu jalan-jalan yuk, kak!” ajaknya seraya menarik tanganku tanpa berkata apapun.

“Hei, mau mengajakku kemana?” tanyaku yang masih ditarik olehnya. Ia hanya tersenyum sangat manis seraya memperkencang kecepatan larinya. Ia berhenti di sebuah taman bermain yang kebetulan tak jauh dari sekolah. “Ayo…!” teriaknya seraya mengajakku mencoba segala jenis permainan. Setelah asyik bermain, kita pun duduk di bangku sembari memakan gulali.

“Namamu siapa?” tanyaku kepadanya. Ia nampak sangat senang dengan pertanyaanku barusan. “Kenalkan, namaku Park Ryeojin. Aku kelas 2.1 SMA.” jawabnya dengan ceria dan kembali memamerkan senyuman yang tak pernah hilang dari wajahnya. “Halo, Ryeojin… Namaku Shin Hyerim. Aku kelas 3.1 SMA.” jawabku seraya ikut tersenyum. “Aku tau itu kok, kak…” gumamnya seraya menatapku. “Bagaimana bisa kau tau?” tanyaku kaget.

Pipinya berubah merah merona dan ia pun menepuk mulutnya sendiri, seperti mengatakan bahwa ia telah keceplosan. “Ayo pulang, kak… Ini sudah sore, nanti orang tua kakak cemas lagi.” ajaknya sembari langsung berjalan kembali ke sekolah untuk mengambil tas. Aku tersenyum kecil, sekarang ia sedang mengalihkan pembicaraannya. “Mau aku antar?” tanyanya saat sedang membawa motor sport-nya keluar pagar.

“Ehhh…” pikirku kebingungan. Tanpa basa-basi, Ryeojin pun menarikku untuk duduk di boncengan dan menjalankan laju motornya. “Pegangan yang erat, kak Hyerim…” bisiknya sebelum motor melaju dengan sangat kencang. Aku pun memegang pinggangnya dengan erat. Rambutku yang panjang melambai-lambai terkena angin. Aku bisa merasakan kehangatan yang tak pasti saat bersamanya.

“Sudah sampai…” katanya seraya berhenti tepat dirumahku. “Terima kasih… Tapi, tunggu! Bagaimana kau bisa tau dimana rumahku? Aku kan belum mengatakannya?” tanyaku penasaran. Ia kembali merona malu seraya menundukkan kepalanya. “Sampai jumpa, kak…” pamitnya tanpa mengatakan apa-apa lagi. Aku pun tersenyum kecil. Setelah sampai kamar, aku memutuskan untuk berbaring di kasurku. “Ryeojin… Ryeojin…” kataku seraya menggelengkan kepalaku.

“Lho, kenapa aku malah memikirkan Ryeojin? Come on, Shin Hyerim. Kau kan harusnya memikirkan Minhwa.” gumamku kepada diri sendiri. Esoknya di sekolah, aku kembali datang pagi dan duduk di kursi biasa. Lebih cepat dari biasanya, Minhwa datang dan duduk di sebelahku. “Hyerim-ssi…” panggilnya padaku. Membuat jantungku kembali berpesta. “Iya, Minhwa-ssi…?” balasku kepadanya.

“Aku mau berterima kasih atas bantuanmu kemarin… Tanpamu, mungkin aku yang dihukum.” katanya dengan pelan. “It’s okay, Minhwa-ssi…” kataku seraya tersenyum manis. Ia pun membalas senyumannya. Tuhan, aku bisa gila jika terus-terusan memandangnya…! Aku pun memutuskan untuk menatap hp-ku. “Ehm… Hyerim-ah, untuk membalas jasamu kemarin, maukan datang ke pesta ulang tahunku nanti malam?” tanyanya dengan pandangan memohon.

Ingin rasanya mengatakan: “tentu saja aku mau, Minhwa… SANGAT mau…!”, tapi karena memikirkan harga diriku, aku pun mengurungkan niatku. “Tentu saja, Minhwa-ah…” jawabku dibalas dengan anggukan kecil darinya. Ia pun memberikanku undangan. Saat malam tiba, aku pun langsung menuju rumah Minhwa yang adalah tempat pestanya. Aku mengenakan dress pendek bewarna biru safir dan mendandani wajah dan rambutku.

“Kau sangat cantik, Hyerim-ah…!” puji Minhwa yang ada di belakangku. “Kau bisa saja, Minhwa… Selamat ulang tahun, ya.” kataku seraya menyalaminya. “Terima kasih… Ayo, aku kenalkan kepada keluargaku.” jawabnya sembari menarikku dengan lembut. Aku terkejut dalam hati, dia mau mengenalkanku kepada keluarganya?! What a beautifull day…!

“Ayah, ibu, ini teman sebangkuku…” kata Minhwa memperkenalkan diriku. “Selamat malam… Saya Shin Hyerim.” kataku seraya menunduk kecil. “Wah, kau sangat cantik, Hyerim…” puji ibu Minhwa. “Ah, anda terlalu banyak memuji…” kataku seraya tersenyum malu. “Oh ya, ini adikku satu-satunya… Dia juga sekolah di sekolah kita, lho. Ia kelas 2 sekarang.” kenal Minhwa kepada seseorang. Begitu aku melihat mukanya, aku dan dia terkejut.

“Ryeojin…!” teriakku seraya menunjuknya. “Kak Hyerim…!” teriaknya ikut menunjukku. “Kalian sudah saling kenal?” tanya Minhwa dan orang tuanya. “Ya…” jawabku, namun ia malah menjawab, “Tidak…”. “Jadi mana yang benar?” tanya ayah Minhwa semakin bingung. “Kita hanya pernah bertemu secara tak sengaja. Iya kan, kak?” tanyanya kepadaku. Aku pun mengangguk.

Setelah acara selesai, aku, Minhwa, dan Ryeojin memutuskan untuk duduk di dekat kolam renang. “Aku mau membantu ayah dulu… Ryeo, kau temani Hyerim ya?” kata Minhwa seraya pergi sehingga menyisakan kita berdua. “Maafkan aku, kak… Bukannya aku tidak mengakuimu, aku hanya takut orang tuaku akan bertanya yang tidak-tidak jika aku bilang kau-”

“Aku mengerti, Ryeojin-ah…” potongku. “Jadi, kau adalah pacar kakakku?” tanyanya penuh kekecewaan. “Tidak… Aku bukan pacarnya. Mana mungkin ia menjadikan aku pacarnya? Aku kan tidak cantik maupun menarik.” jawabku seraya menunduk sedih. “Kau memang tidak secantik ataupun semenarik siswi-siswi di sekolah, kak Hyerim. Namun, berada di dekatmu entah mengapa membuatku merasa nyaman.” jawabnya seraya tersenyum tulus.

Aku pun menunduk malu mendengarnya. “Andaikan Minhwa juga berpikiran yang sama denganmu…” gumamku seraya memandang Minhwa dari kejauhan yang sedang membantu ayahnya mengurus berbagai file. “Kau mencintai kak Minhwa kan?” tanyanya tepat mengenai hatiku. “Ehmm… Maksudmu?” tanyaku berusaha menyembunyikannya. “Jangan berpura-pura, kak… Aku tau kok kau mencintai kak Minhwa.” kata Ryeojin pelan.

“Darimana kau tau?” tanyaku menyelidik. “Dari tatapanmu saat memandangnya, dari gerak-gerikmu saat berada di dekatnya, dari meronanya pipimu saat ia menatapmu… Itu semua terukir jelas di mukamu, kak Hyerim.” jawabnya dengan memaksa senyumannya. “Yah, tapi cintaku tidak akan terbalas, Ryeo.” kataku lirih. Setelah bercakap-cakap, aku pun pulang dan istirahat.

***

Beberapa minggu terus berlalu. Aku, Minhwa, dan Ryeojin semakin dekat sejak peristiwa itu. Perasaanku masih sama terhadap Minhwa. Aku sangat mencintainya. Tapi, entah kenapa, berada di dekat Ryeojin selalu membuatku nyaman dan hangat. Hari ini aku bergegas pulang dari sekolah sebelum seseorang memanggilku. Aku berbalik, dan ternyata itu Minhwa.

“Ada apa, Min?” tanyaku padanya. “Aku sudah mempunyai pacar, Hye…! Dia adik kelas kita, kelas satu!!! Mau aku kenalkan padanya…?” jelasnya dengan sangat riang. Air mata tanpa berkompromi jatuh membasahi pipiku. “Kenapa denganmu, Hye?” tanyanya masih tak sadar. “Maaf, Min… Aku harus pergi, sampai jumpa dan selamat atas pacaranmu.” jawabku dingin seraya berlari menjauh darinya. Setetes air mata dariku menunjukkan betapa sakitnya hatiku saat ini.

Aku terus berlari hingga aku ditarik seseorang ke kantin sekolah yang sedang sepi. Aku tak bisa melihat siapa itu karena kaburnya pandanganku akibat air mata yang terus menggenang. Ia memberikan sapu tangannya padaku. Setelah lama mengamati, akhirnya aku sadar siapa yang telah mengajakku kesini. “Ryeo?” tanyaku memastikan.

“Menangislah dan lampiaskanlah semua kesakitanmu, kak Hye. Aku tau kau pasti sangat sedih sekarang ini…” katanya seraya memelukku lembut. Aku pun menangis tersedu-sedu di pelukannya. “Apa yang harus kulakukan, Ryeo? Aku benar-benar mencintainya…” kataku seraya terus menangis. “Sabarlah, kak Hye. Hadapilah kenyataan ini…” jawab Ryeojin secara lembut.

***

Aku tersenyum kecil pada orang yang ada di hadapanku. “Jangan bermain terlalu lama, Hyejin…!” teriakku kepada anak berumur 6 tahun yang sedang bermain dengan sepupunya, Minjoon. “Ok, mom…” katanya dengan manis. Persis seperti ayahnya. “Halo, Hye… Sudah lama tak bertemu.” kata Minhwa dengan istrinya yang tersenyum. Yah, dialah anak kelas satu yang Min sukai dari dulu, Han Rinjoon. “Halo, Min…” balasku dengan senyuman.

“Kak Minhwa…! Rinjoon…!” teriak suamiku, Ryeojin, seraya memeluk mereka berdua seperti anak kecil. “Berhenti bersikap kekanak-kanakan, Ryeo. Kau ini sudah mempunyai anak…!” perintahku seraya menjewer kupingnya pelan. “Hye…!” teriaknya tak terima. Minhwa dan Rinjoon hanya bisa terkekeh melihat kelakuan kami. “Terima kasih ya sudah datang ke ulang tahun Hye kecil…” katanya dengan lebih dewasa kepada Min dan Rin.

“Kak Hye, aku mengucapkan selamat ya atas anak kalian…” kata Rinjoon seraya tersenyum kecil. Yah, dia adalah wanita yang sudah merebut Minhwa dariku. Aku masih mencintai Minhwa. Sangat malah. Namun, karena Minhwa mencintai wanita lain dan aku tau bahwa sebenarnya Ryeojin mencintaiku, aku pun menerimanya.

***

Jawabannya sudah ditetapkan…

Aku akan lebih memilih,

orang yang mencintaiku setulus hati,

daripada orang yang dicintaiku setulus hati…

Terima kasih Minhwa…

Kau sudah membuatku mencintaimu selama ini…

Dan, terima kasih Ryeojin…

Kau sudah selalu mencintaiku selama ini…

FIN~