Full of inspiration and story

Malam ini adalah malam yang melelahkan bagiku. Dengan lunglai, aku merebahkan tubuhku ke kasur. Huh, akhirnya aku istirahat juga. Suara telepon membuatku kaget dan aku pun mendengus kesal. Siapa sih yang meneleponku? Aku langsung mengambil ponsel yang aku masukan ke dalam tas pagi ini. Aku melihat siapa yang menelepon.

XXX Calling…

“Halo…” sapaku dengan malas-malasan. Namun, tak ada jawaban. Aku menghela nafasku. “Halo…” ulangku lagi dengan suara yang lebih besar. Namun, tetap tidak ada jawaban. Dengan amarah, aku pun menutup ponselku dan menaruhnya di meja yang terletak tak jauh dari kasur. “Huh, dasar iseng…!” umpatku seraya kembali tidur. Suara telepon kembali terdengar masuk ke telingaku. Aku kembali bangun dan mengambil ponselku. Aku kembali melihat siapa yang menelepon.

XXX Calling…

Aku pun mengangkat teleponnya. “Halo…” sapaku lewat telepon dengan sopan. Namun, seperti tadi, tidak ada yang menjawabnya. Aku yang sudah kesal dengan semua ini langsung membentaknya. “HEI KAU…!!! Sebaiknya jangan meneleponku dan mengangguku lagi ya…!” teriakku seraya menutup ponselku dan menaruhnya dengan kasar kearah meja tadi.

Siapa ya yang meneleponku tadi? Ah, sudahlah. Mungkin hanya anti fans yang sebal denganku. Sudah biasa kan sebagai aktor terkenal sepertiku  mempunyai fans maupun anti fans? Syuting seharian yang kulakukan membuatku sangat lelah hari ini. Sebaiknya, aku kembali tidur. Sedang enak-enaknya tidur, aku langsung terbangun kembali oleh suara ponselku. Aku langsung mengangkatnya dan marah-marah.

“Kau sudah gila ya?? Tak cukupkah bagimu untuk mengangguku…?” tanyaku dengan kasar. “Halo, ini Kyo kan?” tanya sebuah suara yang membuatku terkejut. Aku pun langsung melihat ke layar ponselku siapa yang menelepon. Ternyata, managerku bukan XXX itu! “Maaf, manager… Aku tidak melihat siapa yang menelepon…” jelasku dengan penyesalan.

Esoknya, saat menjelang tengah malam, aku kembali ke rumah mewahku dan masuk ke kamar. Suara ponselku kembali berbunyi. Sial…! Ternyata XXX itu lagi. Sebenarnya apa sih maunya? Dengan amarah yang sudah membuncah, aku mematikan ponselku dan kembali melakukan pekerjaanku untuk menandatangani surat-surat fans. Sebelum suara ponselku berbunyi lagi.

Aneh…! Kan ponselnya sudah aku matikan, tapi kenapa masih berbunyi ya? Pikiranku sudah tak tenang sekarang. Perasaan marah, takut, dan ragu sudah menguasai otakku. Siapa sih sebenarnya dia? Aku langsung membuka batere ponselku dan menggumam pelan. “Semoga cara ini berhasil…” gumamku seraya melempar batere ponselku ke kasur dan memisahkannya dari ponselku.

Suara ponselku kembali berbunyi. Keringat mulai bercucuran dari seluruh tubuhku. Aku langsung membanting ponselku dengan keras kearah lantai. Membuatnya hancur berkeping-keping. Namun, suara ponselku kembali berbunyi. Bahkan, sekarang menjadi jauh lebih nyaring dan besar.

Aku meneguk ludah perlahan. Dengan cepat, aku keluar kamar dan keluar dari rumahku. Aku langsung pergi menaikki mobil Range Rover-ku dan mengemudi ke rumah sahabat terdekatku. Jantungku berdegup keras sekarang. Bulu kudukku sudah merinding sempurna. Suara ponselku kembali berbunyi. Membuatku terkejut setengah mati dan menabrak pohon di depanku.

“Ouch…” ringisku seraya menyentuh darah yang terbentuk di pelipisku. Suara ponsel kembali berbunyi. Membuatku sangat gelisah dan kaget. Tiba-tiba, di sebelah tempat dudukku, aku melihat ponselku kembali menyala dengan utuh. “Bukannya tadi sudah kuhancurkan?” tanyaku seraya berteriak kaget. Dengan cepat, aku berlari keluar dari mobil hingga ke sebuah pondok.

Suara ponselku itu masih berbunyi dengan jelas. Membuatku lebih gelisah. Aku masuk ke dalam pondok itu dan kembali keluar saat tau ponsel itu telah berada di pondok. Apa yang harus kulakukan? Darah masih menetes dari pelipis dan lututku karena beberapa kali terjatuh. Aku berlari hingga ke sebuah sungai. Dengan sekali hentakan, aku membuang ponsel itu ke sungai.

Namun, ponselku malah melayang-layang dengan bunyi khasnya. Aku membulatkan mulutku saat melihatnya. Sebuah ponsel…melayang? Kini ponsel itu membekapku dengan erat sehingga membuatku sesak nafas. Aku pun terjatuh dan meringis kesakitan. Dengan sekuat tenaga, aku melepas ponsel ini dari leherku. Namun, usahaku gagal. Nafas sudah perlahan hilang dari paru-paruku. Dengan sekali hentakan, aku melempar ponsel itu kearah sungai dengan keras. Aku pun bernafas lega dan pingsan di tempat.

$*$*$$**$*$*$*$*$*$*$*

Aku membuka mata perlahan. Sinar kamera membuatku silau. Ternyata, aku berada di rumah sakit sekarang.Wartawan sedang menanyaiku sebabnya aku bisa pingsan di tepi sungai itu.

Managerku membawa para wartawan keluar kamar. Kemudian, ia kembali. “Istirahatlah… Aku akan membelikanmu makanan.” gumam managerku. Aku pun mengangguk. Ah, akhirnya semua ini berakhir.

Tit-lit-tit-lit…

Suara ponsel membuatku tersentak.

“HUAAAAAAAAAA……………………………!!!!”

THE END

Ini pertama kali aku bikin cerita horror, jadi selamat membaca…!
Dan, maaf ceritanya belum seram, itu karena aku sendiri juga takut…!!!

^^


Advertisements

Comments on: "Story : ~Mistery Of Phone~" (7)

  1. wahhhh crita mistery yah skg…
    emg trlihat horor tpi msterynya lebih ngena *just opinion
    tpi i like it
    good ff…

  2. huaaaaahahahaha. wkwkwk. ngakak. lucu ama crt u?!
    kupikir 1 wh udh serem nh. eh mlh kyk gt. kocak abiss.
    klo gua jd tu aktor, udh gua bakar2 2 ponsel. trs gua injek2. ples ketawa kyk orgil. ponsel bin ajaib.
    2 ponsel msk museum!

  3. ngakak baca nb kamu, saeng

  4. Lucu bner ? Btw tuh ponsel bunyi ny ap ? Lgu ayu ting ting ya ? Pantesan kaget, wkaka.. Melayang lgi ! Ajib, wkaka..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: