Full of inspiration and story

Aku langsung melepas pelukan Sunghwa dan menghampiri Junki. Namun, ia kabur tanpa membiarkan aku mendekatinya. “PARK JUNKI… AKU BISA JELASKAN SEMUANYA…!” teriakku, namun ia tidak menggubrisku. Aku pun mengejarnya hingga ia masuk ke mobil. Hanya tangisan yang bisa kukeluarkan. Bagaimana ini? Junki salah paham padaku. Apa yang harus kulakukan?

Entah mendapat keberanian dari mana, aku mengejar mobilnya. Aku tak peduli pada tatapan aneh orang-orang yang melihatku. Aku terus mengejar mobilnya seraya meneriaki namanya. Tak lama, mobil itu berhenti. Junki keluar dari mobil dan langsung menyeretku masuk mobil. Aku hanya pasrah dengan mata yang masih mengeluarkan air.

Di mobil, ia memberikkan sapu tangannya kepadaku. Aku pun menerimanya dan langsung mengelap seluruh permukaan wajahku yang sudah penuh dengan air mata. Dalam hati, aku tersenyum senang. Ternyata, Junki masih peduli padaku. “Pabo…! (Bodoh…!) Ingat Yoonhee, kau ini adalah istri sah dari Park Junki, aktor terkenal yang sedang naik daun…!!! Kalau kau ketahuan wartawan dan masuk ke berita, bagaimana pamorku?!” teriaknya marah-marah. Jadi, ia hanya mementingkan pamornya…?

“Mianhaeyo, Junki-ah… (Maaf, Junki…) Tadi, Sunghwa-ssi hanya-” kataku yang terpotong oleh isyaratnya. “Aku tak peduli soal itu… Aku kan menikahimu bukan karena cinta, tetapi hanya karena terpaksa.” katanya dengan menekankan kata-kata ‘cinta’ dan ‘terpaksa’. Hatiku sakit. Sangat sakit. Ia hanya menikahiku karena ‘terpaksa’…? Bukan ‘cinta’?

Meskipun, aku tau itu, tapi mendengar sendiri dari mulutnya membuat hatiku lebih sakit. Aku sudah mulai mencintainya. Tapi, nampaknya ia tidak mencintaiku… Bagaimana ini? Aku hanya bisa menangis dalam hati. Apakah begini rasanya cinta bertepuk sebelah tangan? Sakit. Perih. Hanya ini yang kurasakan? Huh~

Ia mengantarku dalam diam ke rumah. Begitu sampai, aku langsung mandi dan pergi ke meja makan untuk mulai makan. Kulihat ia sedang memakan makanannya. “Junki-ah…” panggilku kepadanya. Namun, ketika ia melihatku mendekat kearahnya, ia langsung bangun dan pergi ke ruang tamu. Hatiku sakit. Kenapa ia sangat berbeda dari dulu? Apakah sebegitu bencinya dia kepadaku? Tapi, apa salahku?

Aku pun makan dengan perlahan tanpa melakukan apapun. Setelah makan, aku bergegas ke kamar. Kamar tidur masih kosong. Mungkin Junki masih ada di ruang tamu. Aku mulai tiduran di kasur. Air mataku tak bisa kutahan lagi dan aku pun menangis. Terdengar suara hentakan kaki dan aku langsung menghapus air mataku serta pura-pura tidur.

Ternyata, Junki yang datang. Ia mengambil bantal dan selimutnya seraya bergegas keluar kamar. Ia ingin tidur di kamar lain? Tapi, kenapa? Tangisanku lebih menjadi-jadi. Esoknya, aku bangun dengan mata sembap. Saat aku bergegas ke meja makan, kulihat semuanya sudah kosong. Hanya tersisa makanan yang aku yakin buatannya. Namun, ia telah pergi.

Setelah siap, aku pergi ke tempat syuting. Saat sore menjelang, aku pun pulang dan Junki mengantarku pulang. Katanya sih agar kita kelihatan mesra didepan orang-orang. “Junki-ah…” panggilku kepadanya. Namun, ia tak menjawabku. “PARK JUNKI…!!!” teriakku tepat di telinganya. “Apa sih?!” tanyanya seraya menggosok-gosok telinganya.

“Sebenarnya, kenapa sih sikapmu berubah tiba-tiba seperti itu? Apakah karena kejadian itu?” tanyaku seraya mendesaknya agar menjawab. “Tak lama kemudian, ia memanggilku. “Yoonhee-ah…” panggilnya. “De…? (Iya…?)” tanyaku. “Ya, kau benar…! Aku memang cemburu pada Sunghwa hyung (kak Sunghwa)…!!! Kenapa kalian pelukan seperti itu??!!” teriaknya seraya memberhentikan mobilnya.

“Dia memang menyatakan cintanya padaku, Junki… Tapi, aku menolaknya. Dan, alasannya karenamu…! Dia memintaku untuk memeluknya untuk terakhir kali. Aku tidak mungkin menolaknya kan??” jelasku dengan pandangan mata tetap ke wajahnya. “Ja-jadi, kau dan Sunghwa hyung tidak ada apa-apa?” tanyanya dengan ekspresi senang. “Tentu saja…” jawabku singkat.

Ia pun memelukku hangat. Jantungku seraya mau keluar sekarang. Apa maksudnya memelukku? Apakah cintaku tidak bertepuk sebelah tangan? Apakah dia juga mencintaiku? “Yoonhee-ah, saranghaeyo. Joengmal saranghaeyo… (Yoonhee, aku cinta padamu… Sangat mencintaimu…) Tadi, aku benar-benar cemburu padamu. Apakah kau juga mencintaiku…?” tanyanya dengan bisikan seraya masih memelukku. Aku pun mengangguk.

“De… Nado saranghaeyo, Junki-ah… (Iya… Aku juga mencintaimu, Junki…)” jawabku secara pelan. Ia pun mempererat pelukannya. “Gomawoyo… (Terima kasih…)” bisiknya pelan. “Untuk apa?” tanyaku bingung. “Untuk menerimaku.” jawabnya singkat. Aku langsung memukul tangannya pelan. “Dasar gombal…!” umpatku dibalas senyuman mautnya.

^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*

Di kamar, aku sudah siap untuk tidur. Aku sudah tiduran sekarang. Tiba-tiba, Junki datang dan langsung memelukku. “Kau sudah siap, jagi…? (sayang…?)” tanyanya dengan liar. “Si-siap…? A-apa maksudmu…?” tanyaku dengan gugup. “Tentu saja malam pertama kita… Meskipun, ini bukan malam pertama lagi, tapi ini tetap malam spesial. Mungkin dulu, kita tidak saling mencintai. Tapi, sekarang kita saling mencintai kan?” tanyanya dengan senyuman liarnya.

Aku meneguk ludah. Apa ini sudah waktunya? Ia perlahan-lahan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Pipiku merasakan panas dan merah yang luar biasa. Ia sudah menempelkan bibirnya ke bibirku. Setelah itu, ia lebih mendekatkan tubuhnya ke tubuhku. Sebelum ia melakukan apa-apa, aku mendorongnya hingga ia jatuh terjengkang. “Kenapa, Yoonhee-ah?” tanyanya kebingungan. “A-aku belum siap…” jawabku seraya mengatupkan mulutku.

“Apa maksudmu? Kita kan sudah menikah.” katanya seraya berdiri dan duduk di kasur. “Tapi, tetap saja kita masih terlalu kecil untuk melakukan ini…” kataku mencoba berkelak. “Terlalu kecil apanya? Kita kan sudah 21 tahun… Banyak orang yang lebih muda dari kita yang sudah melakukan ini kan?” tanyanya seraya membelai rambutku lembut. “Ta-tapi…” kataku masih berusaha mengelak. “Ssssttt…” katanya seraya mendekatkan telunjuknya di mulutnya. “Aku akan melakukan ini perlahan… Tenang saja.”

#^#^#^#^#^#^#^##^#^#^^
(6 tahun kemudian)

Aku berjalan keluar rumah. Banyak reporter dan wartawan yang datang mengerubungiku seperti biasa. Ya, inilah aku, Jung Yoonhee. Sekarang aku bukan hanya suami dari artis terkenal, tapi aku juga sutradara ternama. Dengan penjagaan ketat, aku menjaga anak perempuanku ke mobil. “Omma, appa odigayo…?? (Mama, dimana papa…??)” tanya anakku, Junhee. Aku membelai rambut halusnya perlahan.

“Sebentar lagi appamu juga datang…” kataku seraya melihat suamiku yang sedang berjuang melawan lautan wartawan untuk sampai kesini. “Anyeong…! (Hallo…!)” kata Junki seraya tersenyum dan masuk ke mobil. “Appa…!!!” teriak Junhee seraya memeluk Junki lembut. “Kau mirip omma-mu. Sama-sama manja…” gumam Junki seraya mencubit pipi Junhee pelan.

“Mwoya???!!! (Apa???!!!) Kau bilang aku manja? Bukannya kau yang manja?” teriakku sebal. “Tentu saja tidak…!!!” jawabnya ketus. Junhee hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kita yang memang masih seperti anak kecil. Ya, Junhee adalah gabungan nama antara Junki dan Yoonhee. “Mau kemana kita…?” tanya Junhee pelan. “Ke pantai…” jawab Junki. “Ani…! (Tidak…!) Kita akan ke taman ria…!” jawabku dengan tenang.

“KE PANTAI…………………!!!” teriak Junki.

“KE TAMAN RIA……………….!!!” balasku.

“Ckckckckck……………!!!” gumam Junhee seraya menyeruput jus jeruknya.

FIN ^^

Advertisements

Comments on: "Story : ~Is He Really-Really My Destiny?? I think yes!~ (Part 3) Last Part" (4)

  1. hahahahaha. lanjutin mission x dong. . .

  2. bgus2..
    bkin agy yh..
    gwa pgen bca agy nihh..

  3. huahhh seru…
    nice ff
    lanjut yah chingu^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: