Full of inspiration and story

Part 1 -> #The Death#

DORRRRRRR….!!!!

Suara tembakan membuatku kaget. Aku pun mempererat pegangan pistolku. “Awassss….!!!” teriak pria yang kukenal seraya menembak musuh yang ingin menembaku. “Terima kasih…”  kataku dengan pelan. “Sudah seharusnya.” jawabnya seraya mulai memencar ke berbagai arah. Aku pun ikut memencar ke suatu tempat. Suara hentakan kaki membuat langkahku terhenti. Suara itu berasal dari sebuah ruang gelap. Aku pun mengikuti suara itu.

Begitu sampai di ruang itu, sebuah tali mengikatku dan aku pun terjatuh. Lampu menyala dan aku pun mencari siapa yang dibalik semua ini. “Halo, nona Hyunni…” sapa suara yang kukenal. Aku pun menengok dan melihat sebuah sosok lelaki separuh baya berpakaian serba hitam mendekatiku. “Mr.X…???!!!” teriakku kaget.

%*%*%*%*%*%*%*%*%*

“Kak Kyran…!!!” teriakku kepada kakak semata wayangku. “Hyunni…!” balas kakakku seraya memelukku hangat. “Aku rindu padamu, kak…” kataku seraya membalas pelukannya. “Aku tau, adikku yang manis. Siapa sih yang gak rindu sama Kyran…” jawab kakakku percaya diri. “Kakak tidak berubah…! Masih narsis dan kepedean…!!!” teriakku seraya masuk ke mobil. Kakakku hanya bisa memanyunkan bibirnya tanda kesal.

Ya, inilah aku, Hyunni. Kalian pasti bingung kan kenapa aku sangat dekat dengan kakakku? Itu karena, orang tuaku sudah meninggal 3 tahun lalu akibat kebakaran yang menimpa kantor. Sejak kejadian itu, di dunia ini aku hanya mempunyai kakakku. Begitu juga sebaliknya dengan kakakku. Namun, walaupun aku sudah tak mempunyai orang tua, aku adalah gadis yang periang dan murah senyum. Begitu pula dengan kakakku. Ia juga adalah pria yang periang dan murah senyum.

Hari ini tepat 2 tahun aku bersekolah di asrama. Aku memutuskan untuk pulang dan kembali bersekolah biasa agar mempunyai waktu lebih banyak bersama kakakku. Selama pulang, kakakku tidak berubah sama sekali. Hanya satu yang berubah. Ia menjadi lebih sering mendapat panggilan telepon dan sering keluar rumah kapanpun dan dimanapun. Namun, aku tak pernah khawatir atau curiga akan hal itu. Sebab, aku percaya kepada kakakku.

Saat ini seperti biasa aku pulang ke sekolah. Suara klakson mobil mengejutkanku. “Kakak…!” teriakku seraya masuk ke mobil. “Mau jalan-jalan dulu? Ayo…” kata kakakku seraya menyetir. Di perjalanan, kita bermain dan bernyanyi bersama. Sungguh menyenangkan saat-saat seperti ini. Tapi, kenapa firasatku tidak enak ya? Sudahlah, ini pasti cuma perasaanku. Ternyata, kakak mengajakku ke pantai!

Aku pun langsung memeluk badan kakakku. “Sudah lama aku tidak ke pantai…! Terima kasih ya kak…!!!” teriakku senang. Kakakku langsung mengacak rambutku pelan. “Jangan memelukku seperti itu… Nanti orang lain kira kita pacaran lagi…” katanya seraya berbisik. Aku memukul tangan kakakku. “Bodoh…! Kau kira aku sudi punya pacar sepertimu, kak? Jangan harap…!!!” jawabku kesal seraya pergi menjauh.

Kakakku langsung memegang tanganku. “Aku hanya bercanda, Hyunni…! Jangan ngambek dong… Sebagai permintaan maaf dariku, kau akan kuberikan hadiah…” kata kakakku dengan ceria. “Hadiah apa kak?” tanyaku penasaran. “Tuh…” jawab kakakku seraya menunjuk ke langit. Ternyata, sedang ada peristiwa sunset atau matahari tenggelam. “Sangat indah…” gumamku menikmati keindahan ini.

Suara ponsel kakakku yang menghancurkan suasana, tiba-tiba berdering. “Halo…” kata kakakku sopan. Tak lama kemudian, kakakku menutup telepon sebelum mengatakan, “Baik, aku akan segera kesana…”. “Maaf ya Hyunni… Kakak ada panggilan penting. Kamu bisa kan pulang sendiri…?” kata kakakku setengah memohon.

Aku terpaksa mengangguk pelan. “Kau memang adik terbaik, terimut, tercantik, termanis, tersabar, dan segalanya di dunia ini…! Selamat tinggal, Hyunni…!!!” teriak kakakku seraya pergi. Aku mendengus nafas kesal. “Sampai jumpa, kak…!” balasku. Aku pun pulang sendiri dengan naik bis. Apa yang kurasakan ini? Kenapa perasaanku terus tidak enak? Apakah sesuatu yang buruk akan segera terjadi?

^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*

Aku mengerjapkan mata perlahan. Ah, sudah pagi rupanya… Dengan langkah cepat, aku pergi ke kamar kakakku, namun kamar kakakku kosong. “Dimana kakakku? Apakah dia belum pulang?” gumamku pada diri sendiri. Aku mengambil ponselku dan mencoba menghubungi kakak. Namun, ponselnya tak diangkat. Saat sedang bingung, suara bel terdengar. Tanpa pikir panjang, aku membuka pintunya. “Kakak…!” teriakku berharap yang datang adalah kakak.

Namun, aku salah besar. Ternyata, yang datang adalah 2 orang berseragam polisi. “Permisi, apakah kau adik dari Kyran Hems?” tanya seseorang diantara mereka. Aku mengangguk pelan. “Ya, aku Hyunni Hems… Ada apa?” tanyaku penasaran. Biasanya, dalam film yang aku tonton, jika dua polisi berkunjung ke rumah seorang perempuan dan menanyakan kau adik siapa, pasti kakakmu… Namun, aku tak mau memikirkannya!

“Kyran Hems ditemukan tak bernyawa di suatu jalan… Kami turut menyesal akan apa yang terjadi pada kakakmu…” jelas seseorang lagi yang bagaikan petir untukku. Dan biasanya, jika pemeran wanita diinformasikan oleh 2 polisi bahwa kakaknya meninggal, maka dia akan menangis sesenggukan. Namun, entah mengapa, aku tak bisa mengeluarkan air mata. Otakku masih belum bisa mencerna semua yang terjadi.

“Kau harus ikut kami untuk menyelenggarakan penyelidikan…” tambah polisi itu seraya mempersilahkan aku ke mobil polisi. Tanpa berbicara apapun, aku langsung masuk ke mobil. Apa ini? Apa ini, Tuhan? Air mataku masih terlalu kering untuk keluar. Rasanya hatiku pecah berkeping-keping di dalam tubuhku. Berarti sekarang aku tinggal sebatang kara? Berarti sekarang aku sendiri?

Setelah sampai di rumah sakit, aku diantar menuju kamar mayat. Disana terdapat sebuah tubuh yang diselimuti oleh kain putih. Dokter langsung membuka kain itu hingga aku bisa melihat wajah mayat itu. Air mataku mulai turun perlahan. Kak Kyran. Ternyata, ini benar kakak… Wajahnya masih mulus dan tak seperti mayat sama sekali. Aku memeluknya dengan erat. “KAK KYRAN…! KAU JAHAT…!!! KAU BILANG KAU TIDAK AKAN MENINGGALKANKU SENDIRI…!!! TAPI, APA INI???” teriakku seraya menangis tersedu-sedu.

Setelah ditanya berbagai hal, aku berjalan keluar rumah sakit dengan lunglai. Tak sadar seseorang dengan pakaian serba hitam menarikku ke ruangan sepi dan kemudian menutup mulutku dengan sapu tangan yang nampaknya sudah diberi alkohol. Aku pun pingsan dan membuka mata di tempat lain. Tempat ini seperti kamar yang sangat mewah dan kasur yang aku tempati juga sangat empuk.

Seseorang membuka pintu dan datang mendekat padaku. “A-apa yang mau kau lakukan? Apakah kau mau menculikku?” tanyaku takut. Ia tersenyum kecil. “Kau pikir aku mau menculikmu apa?!? Lihat ini…!” katanya seraya memperlihatkan kalung yang tak asing bagiku. “I-ini kalung kak Kyran kan?” tanyaku bingung. “Tentu saja tidak, kalung kakakmu masih ada di leher kakakmu. Ini kalungku… Apakah ia pernah cerita temannya pernah memberikan kalung padanya?” tanyanya dengan penasaran.

“Oh iya… Aku ingat. Jadi kalung itu pemberianmu…?” tanyaku. Ia mengangguk pelan. “Kau dan kakakku berarti satu sekolah…?” tanyaku lagi. Ia kembali mengangguk. “Aku dengar kakakmu meninggal… Aku turut menyesal ya?” katanya seraya tersenyum manis. Aku pun mengangguk. “Kenapa aku dibawa kesini, kak?” tanyaku bingung. “Biar lebih jelas, ayo ikut aku… Aku kenalkan kepada teman-teman kakakmu yang lain.” katanya seraya mulai beranjak keluar kamar. Aku pun mengikutinya.

Saat perjalanan, tak henti-hentinya aku berpikir. Nampaknya, aku kenal lelaki ini… Tapi, dimana ya? Ia berhenti di suatu pintu dan akhirnya membuka pintu tersebut. Begitu masuk, aku langsung disambut seseorang. “Halo, kau adiknya Kyran ya? Salam kenal…” sapanya seraya menundukkan badan. “Kau… Bukannya kau Edward Diew, anak pemilik hotel international itu?!?” teriakku kaget. Ia mengangguk riang. “Aku terkenal ya…!?” tanyanya senang. Aku hanya tertawa kecil mendengarnya.

“Mau kue?” tanya seseorang lagi. “Kau Billy Fieter…? Koki termuda dan ternama di dunia?” tanyaku kaget. Ia mengangguk seraya menengok Edward Diew. “Aku juga terkenal…!” teriaknya riang. Aku lebih tertawa mendengarnya. “Dasar kekanak-kanakkan…!” gumam seseorang dengan kaca mata tebal. “Kau Roger Louise, dokter termuda dalam sejarah??” tanyaku kepadanya. “Lihat kan, aku juga terkenal…” jawabnya pelan.

Edward dan Billy pun menggetok kepala Roger. “Kau juga kekanak-kanakkan…!!!” teriak mereka bersamaan diiringi senyuman polos Roger. “Berisik sekali sih kalian?” tanya seseorang lagi. “James Trowet…!?! Bukannya kau pelukis terkenal itu ya?” tanyaku lagi dengan terkejut. “Baguslah kalau kau tau…” jawabnya singkat.

Orang yang tadi mengantarku ke ruangan ini datang dan memeluk Edward, Billy, Roger, dan James. “Sudah lama ya kak, kita tidak bersama… Sayang sekali Kyran tidak bisa menemani kita lagi.” katanya seraya memanyunkan mulutnya. Persis seperti kakakku yang suka memanyunkan mulutnya ketika sedang sedih dan kesal. Perlahan-lahan, kulihat wajahnya yang nampaknya benar-benar tidak asing bagiku.

“Stephen Bertrand…? Kau aktor terkenal yang sering memerankan peran utama kan?” tanyaku heboh. Jujur saja aku sangat mengidolakan sosok Stephen Bertrand. Ia mengangguk kecil seraya tersenyum. “Panggil saja dia kak Edward karena kalian berbeda 3 tahun. Panggil dia kak Billy dan kak Roger karena kalian berbeda 1 tahun. Dan panggil saja dia kak James karena kalian berbeda 2 tahun…” jelas Stephen ramah.

“Kalau kau?” tanyaku polos. “Panggil saja aku Stephen karena umur kita sama…” jawabnya yang membuat aku tersedak. “Sama…?!” tanyaku memastikan. Tubuhnya yang sangat tinggi benar-benar membuatku berpikir dia adalah yang paling tua. Namun, ternyata dia sama denganku…? “Wajahmu terlalu tua kali Steph… Makanya jangan terlalu sibuk…!” kata kak Edward seraya tertawa dibalas anggukan kak Billy, kak Roger, dan kak James. Stephen hanya dapat mengejar mereka yang sekarang sedang berlari kabur.

“Apakah begini keseharian kalian dengan kakakku?” tanyaku dengan seulas senyum. “Ya, beginilah keseharian kami… Kami adalah anak-anak khusus yang tidak mempunyai teman, oleh sebab itu kita ada disini.” kata kak Roger pelan. “Makanya, kita sangat sedih saat melihat Kyran meninggal.” lanjut kak Billy. “Melihat? A-apa maksud kalian?” tanyaku kaget. “Ya, kita memang sedang bersama kak Kyran saat kejadian itu terjadi…” jawab Stephen seraya berusaha menahan kesedihannya.

“Bagaimana kakakku bisa mati?” tanyaku memecah kesunyian yang sempat tercipta. “Kakakmu ditembak seseorang…” jawab kak James singkat. “Tapi kenapa? Bukannya kakakku adalah pria baik-baik dan dia juga tidak mempunyai musuh…?” tanyaku lagi. Mereka menghela nafas pelan. “Kita tergabung dalam kelompok ‘Hunting X’. Pekerjaan kita adalah mencari dan membunuh Mr. X, seseorang yang telah menghancurkan hidup kita.” jelas kak Edward.

“Adik perempuan kak Edward dibunuh oleh Mr. X. Kakak laki-lakinya kak Billy dibunuh oleh Mr. X. Bibi tercinta kak Roger dibunuh oleh Mr. X. Ibunya kak James dibunuh oleh Mr. X. Begitu juga orang tuaku dan orang tua kak Kyran yang berarti juga orang tuamu dibunuh oleh Mr. X.” jelas Stephen. “Apakah kau bercanda? Orang tuaku kan meninggal karena kebakaran…!” kataku setengah berteriak. “Itu hanya bagian dari rekayasa yang diciptakan Mr. X. Tapi, sebenarnya orang tuamu itu dibunuh oleh Mr. X…” lanjut kak Roger.

“Bagaimana mungkin…?” tanyaku dengan air mata yang mulai keluar. “Ya, inilah pekerjaan kami…” jawab kak James. “Terus apa hubunganku dengan semua ini…? Kenapa kalian menceritakannya kepadaku?” tanyaku bingung. “Karena kematian Kyran, kau harus menggantikannya…” jawab kak Billy tegas.

“A-apa….???!!!??? Aku…………..!!!”

To Be Continue~

Advertisements

Comments on: "Story : ~Mission X~ (Part 1)" (4)

  1. oi..
    cpet d lnjut’in dong gx sbar nihh tnggu klnjutnny.,
    hehewhe.,

  2. wuahhh seru sangat
    lanjutkan…
    ga sabar ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: