Full of inspiration and story

Pernahkah kalian mencintai seseorang yang tak bisa kalian raih?

Seseorang yang tidak mungkin kalian dapatkan?

Seseorang yang bahkan ‘tidak ada’?

#$%#$%#$%#$%#$%#$%#$%#$%#$%#$%#$%#$%

Aku menunggu disini. Sudah hampir 20 menit menunggu. Namun, ia tak kunjung datang. Ingin rasanya memakinya saat ini. Memukulnya karena membiarkan aku menunggu lama. Namun, apa daya. Bahkan, seulas bayangan pun tak kulihat. Sebuah suara mengagetkanku. Ternyata, suara nada dering ponselku. Kulihat di layarku siapa yang menelepon.

My Honey Calling…

Ternyata dia. Awas saja! “Halo…” sapaku malas-malasan lewat telepon. “Ha-hanna…” balas suara rintihan yang kukenal. Perasaanku merasakan sesuatu yang aneh. “Hendy… Dimana kamu?” tanyaku dengan ketus karena masih kesal. “Hanna, aku mencintaimu… Selamat tinggal.”

Tut-tuut-tuut…

Aku memencet nomor yang sama terus-menerus, namun tidak ada jawaban. Mataku mulai basah. Ya, aku menangis. Aku berlari. Yang aku pikirkan cuma satu. Hendy. Aku berlari hingga ke tikungan. Banyak orang yang mengerumuni sesuatu disitu. Aku berhenti dan berusaha menerobos kerumunan itu. Oh Tuhan, semoga yang kupikirkan ini salah.

Tasku terjatuh hingga barang-barang yang ada di dalamnya berantakan. Namun, aku tak memedulikan itu lagi. Sosok lelaki di depanku sudah cukup memberikanku perhatian yang luar biasa. Lututku mulai lemas dan aku pun terjatuh. Tangisku mulai tak tertahankan. Aku menangis. Menangisi kebodohan yang kulakukan. Menangisi penyesalan yang kubuat.

Yang bisa kulakukan hanya menangis. Ya, ini adalah trade mark wanita. Menangis. Aku memegang tangannya yang mendingin dengan erat. Sangat erat hingga tanganku sendiri merasakan sakit. Namun, sakit yang kurasakan pada tanganku tidak sebanding dengan sakitnya hatiku. Apa yang harus kulakukan sekarang? Tuhan, jawab aku… Tuhan, jawablah aku…!!!

Aku tetap memegang tangannya erat sampai ia dimasukan ke dalam rumah sakit dan diperiksa. Air mata masih bercucuran menuruni wajahku. Pedih… Hatiku sangat pedih. Hingga akhirnya, dokter mengatakan keadaannya tak bisa ditolong. Aku menangis. Ya, aku menangis.

Aku menangisi keramahannya. Aku menangisi kelembutannya. Aku menangisi kebaikannya. Aku rindu… Ya, aku rindu. Aku rindu senyum cerianya. Aku rindu caranya membelai rambutku. Aku rindu kehangatannya. Aku rindu cintanya. Aku rindu semua darinya. Wajahnya kini membeku. Membeku bersama dengan cinta kita. Apa ini? Apakah ini hanya sekedar mimpi buruk belaka?

#$#$#%#%%#%$$#$##$

Aku mengerjapkan mata perlahan. Dengan cepat, aku mengambil ponselku dan menekan nomornya. Namun, tak ada jawaban. Tangisku pun pecah. Ini keseharianku sekarang. Setiap pagi, aku selalu melakukan ini. Aku berharap kematiannya hanya mimpi belaka. Mimpi buruk yang akan segera berakhir. Bahkan, aku tidak datang ke pemakamannya. Aku belum siap. Aku belum siap menerima semua mimpi burukku, ternyata adalah kenyataan. Kenyataan yang mau tak mau harus kujalani.

Aku melangkahkan kakiku ke sebuah meja. Tepat di atas meja itu terdapat sebuah foto. Fotonya yang sedang tersenyum. Senyumnya membuat perasaanku menjadi senang. Tak sadar, aku ikut tersenyum. Aku menikmati senyumnya. Foto tersebut aku tempel ke kepala bonekaku. Setiap aku pergi kemanapun, aku selalu membawanya. Banyak yang bilang aku gila, dan menurutku mereka tak salah. Aku memang telah gila. Cintaku yang membuat aku gila.

Seperti biasa, dengan langkah cepat aku memasuki kantor. Aku menaruh bonekaku ke meja dan mulai bekerja. Sebelum bekerja, aku mengecup foto wajahnya yang sudah tertempel di bonekaku. Saat aku sedang bekerja, aku melihat seorang OB datang dan menuangkan kopi ke cangkirku. Namun, tangannya yang tak hati-hati membuat bonekaku ikut terkena siraman kopi.

Aku pun naik darah. Dengan geram, aku menamparnya. “Dasar bodoh…!!! Apakah kau tidak pernah sekolah…??? Lihat ini, kau telah melukai Hendy! Minta maaf padanya sekarang…!” teriakku sebal. Ia pun terkejut akan perintahku. “Tapi, ini hanya boneka, nona…” jawabnya dengan pelan. Aku pun menjambak rambutnya hingga ia meringis kesakitan. “Apa kau bilang…??!? Dia ini Hendy, calon suamiku…! Jaga kata-katamu ya…!!!” teriakku dengan marah.

“Baik, nona… Aku minta maaf tuan…” jawab OB itu seraya menunduk kearah boneka Hendy. Aku terkekeh pelan. Membuat sebuah seringai yang dalam. Aku benar-benar sudah gila. Aku gila karenamu, Hendy… Karena kehangatanmu membuatku mendingin. Karena senyummu membuatku menangis. Dan, karena cintamu membuatku benci…

%^%^%^%^%^%^%^%^%^

Malam mulai datang. Hitam mulai mendominasi langit. Dengan percaya diri, aku menyetir mobilku ke sebuah rumah. Aku memarkirkan mobilku ke sembarang tempat dan masuk ke rumah itu. Aku memasuki sebuah kamar berisi sepasang suami istri. Aku mengikat tubuh seorang lelaki dan membiarkannya bangun.

“Jangan sakiti istriku…!!!” teriaknya saat aku mulai menjambak rambut panjang istrinya. Aku menyeringai pelan. “Kata itu juga yang seharusnya aku katakan padamu…!!! Jangan sakiti pacarku…! Namun, kau menabraknya kan? Kau membuatnya mati kan???!!!” teriakku tak kalah kencang. Ia pun diam. “Aku tidak sengaja… Maaf, aku benar-benar tidak sengaja…” jawabnya pelan.

“Tak ada gunanya maaf… Maaf darimu tak akan mengubah apapun. Ia tetap mati…!!! Ia tetap pergi…!!!” teriakku seraya mulai menangis. Dengan perlahan, aku menyilet tangan istrinya. Darah mulai bercucuran dari tangannya. Teriakan mulai terdengar dari mulut kedua orang itu. Sebuah teriakan kesakitan dan sebuah teriakan ‘jangan’. Aku mulai terkekeh. Menikmati semua yang kulakukan. Hingga istrinya sudah tak bernyawa lagi. Aku tetap memainkannya. Dengan perlahan, aku menyileti seluruh bagian kulitnya.

Lelaki yang diikat itu menangis. Aku sangat puas melihatnya. Puas melihatnya menangis. Puas melihatnya menderita. Pasti rasanya perih. Seperti aku dulu… “Bunuhlah aku…!” teriaknya dengan lirih. Aku tersenyum menyeringai. “Kau tidak akan kubunuh… Biar kau merasakan rasanya kehilangan. Rasanya ditinggal seseorang yang kau cinta.” jawabku dengan diiringi tawa kemenangan.

Tanpa aba-aba, lelaki itu mengambil pisau yang berada di sebelahnya dan menusuk jantungnya sendiri. “Da-daripada aku melihatnya meninggal, le-lebih ba-baik aku mati… Ma-maafkan aku sekali lagi… Maafkan a-aku…”katanya untuk terakhir kalinya. Aku pun menangis. Tak terhitung berapa kalinya aku menangis. Yang bisa kulakukan hanya menangis. Aku sadar sekarang apa yang telah aku buat. Aku berdosa, Tuhan… AKU BERDOSA…!!! Dengan cepat, aku mencabut pisau yang tertancap pada dada lelaki itu dan menusukan kembali pisau itu ke jantungku.

Selamat tinggal, Hendy…

Aku mencintaimu…

Sangat mencintaimu…

Aku tak sadar dengan perbuatanku ini…

Aku sudah sangat berdosa…

Maafkan aku…

Maafkan aku…

THE END


Advertisements

Comments on: "Story : ~Lost My SoulMate~" (10)

  1. sadis amat u buat crtnya. 1 cinta yg gagal.mm. . .ckp horor. jangan buat crt romantis terus. yg bkn deg2gan donk. . .please. . .Hati2 y kejadian sendiri nantinya. hahahahahahaha(bercanda mode on)wkwkwkwk.Dan crt u ttp krn seperti biasa. wish u all the best. (kalau aq jd cwknya, ndk akn jd gt dh wkwkwkwkwkwk)
    my opini:mesti 2 cwk jgn pts asa. syg amat, jln msh panjang lho…msh bs mulai dr nol. tp yh perasaan pst bisa dimengerti sh. kasian nasibnya. syok dan stresssss bgt. klo u jd dia, u gmn?nanya doang. klo gw k psikiater pst. wkwkwkwkwk

  2. wow sadis amat crtanya…
    mati dgn cara kyk gitu akhirnya….*g disangka2

    crtanya ngena bgt,….
    nice ff
    kereeeeeeeeeeeen

  3. gila…
    ni crita thu bner-bner sadis..
    yg buat kesadisan ny gx d pkir-pkir dlo nihh..
    kasian kn yg jd org thu..
    wkwkwk..

  4. kapan ya chris berhenti ngga sadis? *kabuuuuuuur*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: