Full of inspiration and story

Mentari yang bersinar terik mengawali pagi yang indah. Aku bangun dari tempat tidur dan langsung pergi ke dapur untuk membuat kopi. Setelah minum kopi, aku bergegas mandi. Selesai mandi, aku mengikat rambut panjangku agar tidak mengganggu kegiatanku.
Aku mulai membereskan semua pakaian dan perlengkapanku. Hari ini, aku ingin pindah dari apartemen lamaku. Pacarku mengajakku untuk tinggal di apartemennya. Kita tentu tidak akan melakukan hal-hal ‘aneh’. Kita memutuskan untuk tinggal di apartemen yang sama agar hubungan kita semakin dekat.
 
Setelah beberapa jam berlalu, hampir semua barang telah aku rapikan. Tinggal satu ruangan yang belum aku rapikan, yaitu gudang. Aku masuk ke gudang dengan perasaan gugup. Sudah lebih dari satu tahun, aku tidak membuka gudangku. Setelah aku masuk, aku kaget dengan sarang laba-laba yang sudah berada dimana-mana. Aku pun mengambil kemoceng dan membersihkan sarang laba-laba dan debu setiap sudut ruangan. Setelah bersih, aku mulai memilah-milah barang yang akan aku bawa ke apartemen pacarku.
 
Pandanganku tertuju pada sebuah kotak yang sangat familiar. Aku pun mengambil kotak itu dan membawanya ke ruang tamu seraya duduk di sofa. Kotak itu berwarna merah muda dan bertuliskan namaku. Aku mulai membukanya. Setelah membukanya, pikiranku mulai melayang. Aku melihat sebuah buku yang nampaknya album foto. Di cover album foto itu, aku bisa melihat beberapa kata yang ditulis oleh seseorang yang istimewa bagiku. Tulisannya :
 
‘Me and My Love’
  
Aku perlahan-lahan membukanya. Puluhan foto membuatku bernostalgia tentang masa lalu indahku. Di foto itu, aku terlihat sangat bahagia bersama ‘nya’. Semua fotoku menunjukan bahwa hidupku indah ketika bersama ‘nya’. Setelah melihat semua foto, aku menutup album fotoku dan beralih kepada benda-benda yang lain di kotak itu. Aku melihat puluhan surat beramplop merah muda yang aku tau adalah surat cinta ‘nya’ padaku.
 
Setelah membuka beberapa surat itu, tangis dan tawa pecah bersamaan. Tawa karena banyak momen bahagia terjadi saat ‘dia’ memberikan surat itu padaku. Dan tangis karena aku tau bahwa momen bahagia itu tidak akan terulang kembali.
Kemudian, aku melihat suatu benda yang membuatku menangis lagi. Sebuah liontin yang sangat indah. Aku membuka liontin itu. Terlihat foto kita berdua sedang melipat tangan hingga membuat tanda love. Di atasnya tercetak huruf ‘AA’ yang sangat indah. Aku menggenggam erat liontin itu untuk menghilangkan rasa sakit yang terbentuk di hatiku.
 
Saat sedang menangis seraya memegang liontin tersebut, suara bel terdengar. Aku pun dengan cepat menghapus air mata yang masih mengalir dan mengantongi liontin yang sedang aku pegang. Aku bergegas membuka pintu. Ternyata pacarku yang datang. Ia tersenyum dan kemudian memelukku erat.
 
“Sayang, kau sudah bersiap-siap?” tanya pacarku dengan riang. “Yap… Aku sudah bersiap-siap…” kataku masih dengan suara sendu. “Apakah kau habis menangis, yang? Kenapa matamu merah seperti itu?” tanya pacarku lagi dengan penuh perhatian. “Tidak… Mungkin karena aku terlalu lelah..” jawabku berbohong. Ia pun duduk dan menyuruhku tiduran di pangkuannya.
“Jangan terlalu memaksakan dirimu ya, sayang… Aku akan sangat sedih kalau kau jatuh sakit…” kata pacarku dengan lembut seraya mengusap pelan rambutku. Aku pun tersenyum. ‘Aku harus melupakan masa laluku. Sekarang, aku telah mempunyai seorang malaikat yang sangat mencintaiku.’ janjiku kepada diri sendiri.
 
“Oh ya, sayang… Setelah kita membereskan barang-barang ke apartemen kita, temani aku menjemput sahabat baikku dari SMA yang baru datang dari Jerman ya… Orangnya sangat baik dan selalu membantuku.. Semasa SMA, dia selalu jadi pujaan di sekolah. Ia akan menginap disini… Tidak apa-apa kan?” katanya panjang lebar. “Tentu saja… Aku juga mau tau, sebaik apa dia hingga membuatmu memujinya seperti itu…” jawabku sambil tersenyum.
 
Setelah itu, kita membereskan barang-barangku ke apartemennya dan kemudian pergi menjemput sahabatnya itu. Selama perjalanan ke bandara, kita bermain dan bercanda bersama. Kita bersenandung bersama dengan riang. Aku sangat bersyukur mempunyai pacar sebaik dia.
Setelah sampai, dia menjemput sahabatnya dari bandara sendirian. Aku memutuskan untuk tinggal di mobil. Saat sedang menunggunya, aku mengambil liontin itu dari kantongku. Aku memegang liontin itu erat dan kemudian bersiap-siap melemparnya ke jalan. Aku tidak boleh mengingat ‘nya’ saat aku sudah mempunyai pacar yang sangat baik dan mencintaiku apa adanya.
 
Saat ingin melemparnya, pacarku datang. Aku pun mengurungkan niatku dan menaruh kembali liontin itu ke dalam kantongku. “Sayang, kenalkan ini sahabatku…” kata pacarku dengan ramah sambil menunjuk seseorang. “Halo…! Namaku And-“. Perkataannya terputus saat melihatku. Aku pun yang tadinya tersenyum menjadi sangat terkejut. Selama beberapa detik, kita berpandangan kaget. Tetapi, ia kemudian dapat mengendalikan suasana lagi. “Halo… Namaku Andrew… Kau pacarnya Harry, ya?” sapanya lagi dengan senyum yang terlihat dipaksakan. “Oh… Oh iya… Halo, namaku Alicia…” balasku masih dengan ekspresi terkejut.
 
“Ayo masuk…” kata Harry, pacarku dengan ramah. Ia pun mengangguk dan masuk ke mobil. Di perjalanan, mereka terus berbicara tentang pengalaman mereka saat duduk di bangku SMA. Aku merasa perasaanku tercampur aduk sekarang. Di lain sisi, aku sangat senang dan rindu dengannya. Tapi, di sisi yang lain, aku ingin melupakannya.
Setelah perjalanan yang bagiku sangat lama itu selesai, aku membereskan semua barangku ke kamar di apartemennya. Seminggu seterusnya, ia menginap di apartemen kita. Aku dan Andrew masih belum berbicara apa-apa. Kita hanya berbicara dengan singkat agar Harry tidak curiga.
 
“Alicia sayang, ajak Andrew keliling-keliling ya? Aku ada jadwal kuliah hari ini… Kamu pakai mobilku aja… Gak apa-apa kan?” pinta Harry seraya mencium keningku lembut. Dengan berat hati, aku pun mengangguk. Setelah itu, ia pun pergi kuliah hingga menyisakan aku dan Andrew berdua di apartemennya. Dengan perasaan ragu, aku mengetuk pintu kamarnya.
 
Setelah beberapa lama, ia pun membukanya. Ia nampak kaget ketika melihatku. “Aku disuruh Harry untuk mengajakmu jalan-jalan..” kataku dengan dingin. Masih dengan pandangan kaget, ia mengiyakanku. Ia mengganti pakaiannya dengan kaos abu-abu dan celana panjang. Ia juga memakai jaket tebal dan syal karena udara yang memang sedang dingin. Di perjalanan, ia menyetir mobil tanpa berbicara sepatah katapun padaku.
 
Aku pun hanya memandanginya. Ia belum berubah. Masih tampan dan manis seperti dulu. Hanya saja wajahnya yang segar dan ceria berubah menjadi pucat. Badannya yang segar, menjadi lebih kurusan. Apa yang terjadi padanya, ya? Tapi, buat apa aku mempersalahkan itu? Aku kan bukan siapa-siapanya lagi. Siapa suruh dia memutuskanku dan pergi begitu saja?
 
Tiba-tiba, ia mengerem. Setelah itu, ia membuka pintunya dan keluar. Aku yang bingung pun ikut keluar. Ternyata, aku baru tau ia membawaku kemana. Ke tempat yang biasanya selalu kita kunjungi. Ya, tempat ini adalah pantai yang bersejarah bagi kita. Ia menarik tanganku hingga ke pinggir pantai. Kemudian, ia duduk dan memberi sinyal kepadaku untuk ikut duduk. Aku pun menurutinya. Selama lebih dari 5 menit, kita hanya termenung. Lalu, ia memulai pembicaraan.
 
“Al…” panggilnya. Al adalah panggilan sayangnya padaku. Saat ia mengucapkan namaku, hatiku sangat sakit. “Iya And?” tanyaku. And adalah panggilan sayangku padanya. “Aku sangat merindukanmu…” lanjutnya lagi seraya memandangku halus. “Ya, aku juga sangat merindukanmu…” jawabku jujur. Ya, aku memang masih merindukannya. Bahkan, sangat merindukannya. Ia pun memelukku. Hangat, kata itulah yang bisa menggambarkan pelukannya padaku.
 
Perlahan-lahan, bulir-bulir air keluar dari mataku. Tapi, aku sadar.. Aku sadar bahwa aku sudah memiliki dan dimiliki pria lain. Pria yang membuatku lupa akan keterpurukan saat kekasihku meninggalkanku. Pria yang sepenuh hati merawatku saat aku sakit. Pria yang sangat baik padaku. Pria yang menyayangiku sepenuh hatinya. Saat aku ingin melepaskan pelukanku, ia melepas pelukannya duluan. “Tapi aku sadar, Al… Kau sudah dimiliki oleh Harry, sahabatku satu-satunya. Aku tidak sanggup mengambilmu darinya… Walaupun aku tau, ia yang duluan mengambilmu dariku..” katanya perih. Tangisku pun pecah.
 
“Tapi, kenapa kau memutuskanku dan meninggalkanku, jika kau mencintaiku?” tanyaku padanya. “Aku terpaksa, Al.. Keadaan yang membuatku terpaksa pergi ke Jerman.. Aku nggak tau kapan aku pulang. Jadi, aku nggak mau buat kamu sedih dan selalu menunggu aku…” jawabnya. “Benarkah…? Mestinya, kau tidak usah mengkhawatirkanku. Justru perasaanku lebih terluka saat kau memutuskanku…” kataku seraya memandangnya halus. 
“Oh ya, besok aku akan pulang ke Jerman…” katanya. “Kenapa? Kenapa secepat itu?” tanyaku. “Aku kesini untuk mencari belahan jiwaku.. Tapi, ternyata dia sudah dijaga oleh pria yang aku yakin lebih baik dariku.. Aku sudah tenang sekarang..” katanya seraya tersenyum. Aku pun memeluknya lagi.
 
Setelah itu, kita pun pulang. Harry telah menunggu di ruang tamu. “Bagaimana jalan-jalannya?” tanyanya dengan ramah. “Baik.. Oh ya, aku akan kembali ke Jerman besok..” kata Andrew. “Benarkah..? Kenapa secepat itu?” tanyanya kaget. “Masih banyak pekerjaan yang aku tinggalkan disana..” jawabnya yang aku yakin bohong. “Yah, padahal aku masih sangat rindu padamu…” kata Harry cemberut. “Kau ini…” kata Andrew seraya memeluknya. “Aku mau ke kamar dulu ya… Mau beres-beres…” kata Andrew lagi seraya tersenyum.
 
Esoknya, aku dan Harry mengantar Andrew pulang. Setelah berada di bandara, ia mengucapkan salam perpisahan. “Selamat tinggal, Harry… Jaga pacarmu baik-baik ya…!” katanya seraya memeluk Harry. Kata-katanya membuat hatiku sakit. Setelah mereka berpelukan, mata Andrew menatapku lekat. Ia menjulurkan tangannya kepadaku.
Aku tau sebenarnya ia ingin memelukku. Dengan senyum pahit, aku pun membalas uluran tangannya. Saat kita bersalaman, ia memberikan sebuah benda padaku. Sebelum aku menanyakannya, ia sudah bergegas pergi. Sekilas ia melambaikan tangannya dan memandangku lembut.
 
Di perjalanan ke apartemen, aku berusaha menahan perasaanku untuk tak menangis. Jujur, aku masih sangat menyayanginya. Namun, aku tak bisa menyakiti perasaan Harry. Ia adalah pria yang sangat baik dan rela berkorban untukku. Aku benar-benar tak sanggup menyakiti perasaannya yang seputih salju. Aku melihat kearahnya yang sedang menyetir. Ia yang sadar akan pandanganku kearahnya, tersenyum riang. “Ada apa, sayang?” tanyanya. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku.
 
Begitu sampai di apartemen, aku langsung masuk ke kamar. Sekarang aku benar-benar tak bisa menyembunyikan perasaanku. Perasaan yang telah kutahan sejak lama dalam hatiku telah meluber keluar. Sekarang yang bisa kulakukan hanya menangis. Menangisi keputusan yang aku buat. Menangisi pria yang mengisi relung hatiku untuk sekian lama. Aku memandangi benda yang ia berikan padaku sesaat sebelum ia pergi. Sebuah liontin yang sama seperti punyaku. Aku mengambil liontinku dan menyatukannya dengan liontin kepunyaannya. Setelah disatukan, liontin tersebut menjadi berbentuk hati.
 
Aku membuka liontin kepunyaannya. Aku dapat melihat foto kita berdua dan tulisan ‘AA’ yang diukir indah. Yah, ‘AA’ adalah singkatan nama kita, ‘Alicia-Andrew’. Di dalam liontinnya, aku melihat secarik kertas yang terlipat. Aku pun membuka lipatannya. Tampak tulisannya yang sangat aku kenali. Aku pun menarik napas dalam dan kemudian membacanya.
 
Al,
Aku sadar kadang cinta tidak harus selalu memiliki…
Cinta bukan sesuatu yang dapat dipaksakan…
Dan, aku sadar kita tidak akan bisa bersatu hanya karena cinta…
But, my love to you will never change…
Berbahagialah dengan Harry,
I’m sure that he’s a good person for you…
Love him ’till the eternity…
‘Cause I will love you ’till the eternity too…

Thank you for at least give me a chance to love you…
Thank you for your love that always make me warm…
And thank you for the day that you have spend for me…
Promise me that you have to be a strong girl…
^__^

  
Setelah membacanya, air mataku keluar lebih deras dari yang sebelumnya. Aku menekan kuat-kuat kertas yang sedang aku pegang. Hatiku sekarang bagaikan ditusuk parang yang sangat tajam. Mengiris-ngiris hatiku yang sedang terluka secara perlahan. Aku melihat foto kita berdua di liontin itu. ‘And, aku akan memegang janjiku. Aku akan menjadi perempuan yang kuat.’ batinku seraya berusaha tersenyum.
 
$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$
(2 tahun kemudian)
  
Aku berjalan perlahan-lahan diiringi oleh kakakku menuju altar. Aku bisa melihat seorang pria sedang tersenyum menungguku. Setelah tiba tepat di depannya, aku berdiri di sebelahnya. Aku mengikuti semua acara pernikahan dengan seksama. Untungnya pernikahanku dan Harry berlangsung lancar. Saat akhir acara, pastur yang berada di depanku menyuruh Harry untuk menciumku.
Tiba-tiba kurasakan pipi kami memerah. Ia perlahan-lahan mendekatkan wajahnya kearahku. Hingga akhirnya, bibirnya menyentuh bibirku lembut. Terdengar teriakan riuh dari arah penonton. Aku menutup mataku perlahan. ‘And, aku telah menepati janjiku… Sekarang aku dan Harry telah berbahagia… Semoga kau juga berbahagia di alam sana…’ batinku dalam hati.
 
THE END
Advertisements

Comments on: "Story : ~Love Without Love~" (12)

  1. Ceritanya memberikan inspirasi yang sangat baik.. Blog yang keren abisss 🙂

  2. NICE…………………………………………………^_^b

  3. keren…

  4. huahhh keren bgt crtanya…
    brkhir dgn mngahrukan T_T skaligus mmbahagiakan 🙂
    good ff…
    d^^b

  5. enk kli ya pny co kek gtu..
    heheh..

  6. judulnya aja ngga konsisten =,=
    *dilempar massa gara2 komen gaje*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: