Full of inspiration and story

Chapter Two ~A Big Wrong~

Aku membuka mata perlahan. Secercah sinar membuatku silau. Aku menoleh ke kiri. Bisa kulihat kak Jer sedang menyetir dengan muka yang lesu. “Kak Jer tidur aja… Biar aku yang nyetir.” kataku seraya menguap. “Tidak perlu. Kita sudah sampai di Turin…” kata kak Jeremy seraya tersenyum kecil. Aku pun langsung menghadap kedepan. Ini memang sudah di Turin! Bisa kulihat Piazza Carlo Aberto yang memang cukup terkenal di Turin.

Aku hanya bisa membuka lebar mulutku sehingga membulat sempurna. “Jangan bilang ini kunjungan pertamamu ke Turin…!” teriak kak Jer diiringi anggukan kecilku. “Seumur hidupmu, kau tak pernah ke kota Turin?” tanyanya tak percaya. “Bukan hanya Turin yang belum pernah aku kunjungi, kak Jer… Pokoknya, kota yang pernah aku kunjungi hanya Roma dan Perugia.” jelasku yang membuatnya gantian membuka mulutnya dengan lebar.

“Ha-hanya Roma dan Perugia? Oh my god, i think your life is so difficult…” kata kak Jer. Aku pun tertawa pahit. “Sejak kejadian itu, aku tidak pernah keluar rumah, kecuali untuk sekolah.” jawabku sedikit bergetar. Ia mengelus rambut coklat kemerahanku dengan lembut. Wajahnya yang terkena sinar matahari, membuatnya nampak sangat tampan. Aku baru sadar betapa tampannya kak Jeremy sekarang. Mata biru safirnya menatapku penuh keanehan. “Kenapa kau melihatku begitu? Seperti ingin memakanku saja…” katanya dengan ketakutan.

Aku hanya tertawa senang. Ia pun ikut tertawa seraya menyetir. Ia memencet sebuah tombol dan atap mobil pun tertekuk ke belakang. Membuat sinar matahari dengan mudahnya masuk ke dalam area mobil. Aku berdiri dan berteriak dengan riang. Kak Jer hanya tertawa menanggapiku.

Setelah sampai di tempat yang telah diberikan oleh bartender itu, aku dan kak Jer turun. Aku memandang ke sekeliling. Di depanku berdiri sebuah gedung tua. Aku melihat kak Jeremy. Nampaknya, ia juga merasakan hal yang sama denganku. Dengan hati-hati, aku dan kak Jer berjalan masuk ke gedung tua yang katanya adalah tempat tinggal Red Eyes. Kita masuk ke ruangan dan mencoba untuk naik ke atas.

Tangga yang kami gunakan telah rapuh dan menimbulkan suara aneh yang menakutkan setiap kita memijak. Hingga tangga terakhir, aku dan kak Jer menghembuskan nafas lega. Kami mulai membuka ruangan satu persatu. Tapi, tidak ada orang sedikitpun. Hanya ada beberapa barang yang sudah tua seperti lemari, tempat tidur, dll. Setelah mencari seharian dan tidak menemukan apapun, kita memutuskan untuk istirahat.

Aku dan kak Jer memutuskan untuk tidur di satu kamar hotel. Kak Jeremy membanting dirinya ke kasur. Nampaknya, ia sangat lelah. Hal ini terlihat dari kantung matanya yang menebal. Aku menyentuh bahunya pelan. “Sial… Bartender yang ada di Milan itu mau mempermainkan kita ya…?” umpat kak Jeremy dengan muka penuh amarah. “Kak Jer, maaf…” kataku lirih.

“Untuk apa?” tanyanya dengan ekspresi kebingungan. “Aku selalu merepotkanmu…” jawabku dengan kepala tertunduk. Ia tersenyum kecil lalu memelukku layaknya seorang kakak kepada adiknya. “Kau tidak pernah merepotkanku, Hachie…” gumamnya lalu mengacak rambutku pelan. Sekarang, aku baru sadar mengapa kak Jeremy selalu menjadi incaran para wanita. Karena ketampanannya, sorot matanya, pesonanya, serta kelembutannya bisa membuat semua wanita pingsan seketika.

Kita pun memutuskan untuk tidur. Paginya, aku membuka mataku. Dengan mata yang masih mengantuk, aku bangun dan melihat kearah kasur kak Jer. Kosong. Kemana dia pergi? Aku pun mengambil jaket coklatku dan bergegas mencari kak Jeremy. Aku melihatnya sedang berbincang dengan seorang lelaki di cafe hotel. Tak lama kemudian, ia bangun dan menjabat tangan lelaki itu. Ia langsung menghampiriku.

“Come on, Hachie…!” katanya seraya menarikku ke lobby hotel. Ia telah menenteng tasnya. “Mau kemana kita?” tanyaku polos. Ia menepuk kepalaku pelan. “Bodoh…! Tentu saja mencari kakak kembarmu… Kau pikir untuk apa kita pergi selama ini?” jelas kak Jeremy. “Ergg~ Aku mandi dulu ya?” pintaku seraya berlari ke kamar hotel. Kak Jeremy hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Beberapa menit kemudian, aku telah siap dan kita pun melanjutkan perjalanan. “Kita mau kemana, kak Jer?” tanyaku bingung. “Ke Venecia…” jawabnya singkat. “Venecia…? Kenapa kita kesana?” tanyaku tambah bingung. “Sumberku mengatakan, komplotan Red Eyes itu berada di Venecia sekarang. Dan ternyata bartender yang kita temui itu salah satu anggota mereka… Jadi, mereka pasti sudah tau kita mencari mereka…” jelas kak Jeremy dengan mantap. Aku hanya mengangguk paham.

“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang jika mereka sudah mengetahui bahwa kita mencari mereka?” tanyaku lagi. Ya, jujur saja aku sedikit takut dengan ekspedisi ini. Kita hanya dua pemuda remaja yang tidak pernah berkelahi sama sekali seumur hidup kita. Sedangkan mereka? Bahkan, mereka bisa membunuh dan menebas urat nadi seseorang dengan santai. Wajar saja aku takut, kan?

“Kita harus extra carefull… Sedikit kecerobohan saja, maka tamatlah riwayat kita. Kau sadar kan apa yang akan mereka lakukan jika berhasil menemukan kita?” tanya kak Jeremy dengan pandangan berbinar. Entah mengapa, semangatku bagai terisi kembali. “Berjuang…!!!” teriakku seraya mengacungkan dan mengepalkan tanganku. Kak Jeremy pun melakukan hal yang sama.

“Mumpung di Turin, kita jalan-jalan dulu yuk! Besok pagi baru kita lanjutkan perjalanan… Bagaimana?” tanya kak Jeremy. “Ok…!” teriakku senang. Kita pun berjalan-jalan dan mengelilingi kota Turin. Pemberhentian pertama kita di Parco della Pellerina, taman yang terkenal di Italia yang terdapat di Turin. Setelah melihat-lihat, kita memutuskan untuk pergi ke Turin Cathedral. Setelah puas mengelilingi kota Turin, kita kembali ke hotel.

Aku tersenyum kecil melihat kak Jeremy sedang menunjukkan foto-foto kita selama ‘rekreasi sementara’ tadi. “Aku akan mencetaknya nanti dan memajangnya di kamar tidurku…” katanya seraya menyimpan foto-foto itu. Aku terkekeh pelan. “Seharusnya kau memajang fotomu dan pacarmu… Bukannya fotoku…” kataku. “Mau bagaimana lagi, Hachie… Aku kan belum punya pacar.” gumamnya pelan.

“Masa sih kak? Kakak kan sempurna… Aku tak percaya kakak belum punya pacar.” kataku kaget. “Kalau wanita sih sudah mengantri… Tapi, aku belum menemukan yang cocok saja. Yah, biasalah… Siapa sih yang bisa melawan ketampanan seorang Jeremy Haston?” jelasnya yang membuatku mual. Aku pun menjitak kak Jeremy. “Dasar pede…!!! Aku doakan kau tidak akan mempunyai jodoh sampai akhir hayatmu! Weee~~~” kataku seraya menjulurkan lidah. Ia hanya melirikku dengan tatapan pembunuh.

!)@(#*$&%^%^$&#*@(!)

Pagi ini cerah. Setelah menyiapkan segalanya, kita melanjutkan perjalanan. Aku menghembuskan nafas. Petualangan sebenarnya akan dimulai setelah ini. “BERJUANG…!!!!” teriak aku dan kak Jeremy bersamaan. Beberapa orang melihat kita dengan pandangan aneh, namun kita malah terkikik pelan. “Let’s go to Venecia…!!!” teriak kita bersamaan lagi. Gas pun ditekan dan kita berangkat~

%End Of Chapter Two^

Advertisements

Comments on: "Story : ~Find My Twin In Italy~ (chapter two)" (2)

  1. hahahahaha. . . senang amat kyjknya mrk br2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: