Full of inspiration and story

“Huaaaa…….!!!! Jangan dekati aku…!” teriakku keras seraya loncat dari kasur. Ia menatapku dengan kebingungan. “Kau pikir aku mau menyentuhmu? Jangan harap…!” katanya seraya tidur dan membelakangiku. Aku hanya diam. Entah kenapa, kata-katanya membuatku sedih. Jadi, ia juga tidak menginginkanku? Seharusnya aku senang kan? Tapi, kenapa aku malah sedih? Aku kembali ke kasur dan ikut  membelakanginya. Aku pun tertidur.

Malam telah berlalu. Pagi ini, aku bangun dengan lebih awal. Di sebelahku, aku bisa melihat sesosok lelaki manis dan imut sedang tertidur dengan wajah polos. Ya, dialah Junki. Tanpa sadar, aku menyentuh dan membelai rambutnya lembut. Merasakan kehalusan rambut coklat tuanya yang berantakan. Mata indahnya seketika membuka. Aku pun mengangkat tanganku dan berlaku seakan tidak terjadi apa-apa. Ia bangun dan keluar kamar.

Setelah mandi dan bersiap-siap, aku beranjak ke meja makan. Sudah tersedia berbagai macam makanan di atas meja makan. Kulihat Junki sedang makan dengan lahap. Aku pun duduk dan mulai mengambil makanan. “Ini buatanmu?” tanyaku tak percaya seraya memakan makanannya. “Rasanya enak…!” lanjutku. “Gomapta… (Terima kasih…) Itu memang buatanku.” jawabnya seraya melanjutkan makannya. “OMO~~ (Ya ampun~) Kau hebat…!!!” pujiku dibalas senyuman mautnya.

Setelah makan, ia pergi untuk melaksanakan pemotretan. Aku sendiri harus menyutradarai drama terbaruku. Di drama ini, aku akan menjadi asisten sutradara. Dan tebak sutradaranya, pangeran hatiku, Sunghwa. Dengan lemas aku melangkah ke tempat syuting. Tampak Sunghwa sedang memberi penjelasan kepada para artis. Sudah tampak ramai disana. Aku menengok jam. Sial, aku memang telat.

“Mian Sunghwa-ssi, aku telat…” kataku merasa bersalah. “Gwenchana (Tidak apa-apa),  Yoonhee-ssi… Bagaimana malam pertamamu? Apakah Junki ganas? Hahahaha….” kata Sunghwa yang membuat perasaanku sakit. Aku tak bisa menjawabnya. Karena memang, aku tidak melakukan apa-apa dengan Junki malam itu. Tak sadar aku telah berada di tempat itu sampai sore menjelang. Sebuah mobil sport bewarna hitam melesat di depanku. Kaca mobil dibuka dan kepala Junki pun menyembul keluar.

Tanpa berkata apa pun, ia keluar dan mendorongku ke mobilnya. Ia kembali menjalankan mobilnya dan membawaku ke suatu tempat. Aku hanya dapat diam dan memandangnya. Di wajahnya yang mulus masih terdapat sisa make-up. Pasti dia baru saja selesai syuting. “Eh~ Kita mau kemana?” tanyaku canggung. Namun ia tak menjawabku. Aku pun kembali ke lautan pikiranku.

Ia memberhentikan mobilnya di suatu butik. Ia menarikku keluar dan berjalan memasuki butik itu. Ia memilihkan sebuah gaun mini merah muda yang sangat cantik untukku. Ia menyuruhku memakainya. Begitu aku mengganti baju, aku melihatnya juga telah berganti baju. Ia memakai kemeja putih santai dan dasi biru yang dipadukan dengan jas hitam. Menambah ketampanan dan kemanisannya.

Setelah selesai, ia kembali menyuruhku masuk ke mobil dan membawaku ke salon. Aku pun didandani. Aku memandang wajahku sendiri di kaca. Hanya satu kata yang dapat kugambarkan. Perfect. Bukannya aku sombong atau apa, namun dandanan salon ini patut diacungi jempol. Ia pun membawaku ke sebuah gedung. “Dimana ini?” tanyaku bingung.

Ia hanya keluar dari mobil dan menjemputku dari sisi lainnya. Alhasil, seluruh kamera menatap kita. “Jangan gugup… Senyum saja.” bisiknya tepat ke telingaku. Ia menggandeng tanganku lembut dan tersenyum menanggapi lautan kamera di sekeliling kita. Ternyata, ia membawaku ke gedung perkawinan sahabatnya yang juga artis. Aku terpana melihat kemewahan gedung perkawinan ini. Semuanya nyaris sempurna.

“Chukae-yo… (Selamat ya…)” kata Junki ramah seraya memeluk sahabatnya. “Gomawo, Junki-ah… Neo yeojachingu? (Terima kasih, Junki… Ini pacarmu?)” tanya sahabatnya seraya melihatku. “Aniyo… (Bukan…) Ini istriku…” jawabnya. Kata-katanya membuat hatiku terasa mau meledak. “Annyeonghaseyo… Jung Yoonhee imnida.” sapaku seraya memamerkan senyum manisku.

“Mwo…?? (Apa…??) Junki-ah, kau benar-benar sahabat yang parah… Masa kau tidak mengatakannya sama sekali padaku? Bahkan, aku tak diundang ke perkawinanmu…” kata sahabatnya cemberut. Ya, memang waktu itu kita hanya mengundang keluarga besar kita saja. “Perkawinannya memang sedikit mendadak. Yang penting kan sekarang aku mengatakannya…” jawabnya santai.

Setelah acara perkawinan selesai, kita pun pulang dan kembali ke mobil. Wartawan dengan kamera-kameranya terus menanyakan pertanyaan yang sama. “Apa hubunganmu dengan wanita itu, Junki? Bukannya wanita itu yang terlibat skandal tidur denganmu?”. Hingga akhirnya, sebelum masuk ke mobil, Junki berhenti sebentar dan mengatakan: “Wanita ini istriku yang dulu sempat menyutradarai drama ‘Hot Spring’, yang juga aku bintangi. Namanya Jung Yoonhee.” jawabnya santai namun memberikan kesan tegas.

Pipiku memerah sempurna saat ia mengatakannya. Aku langsung masuk ke mobil dan diikuti juga olehnya. Kita pun kembali ke rumah. Begitu sampai, kita langsung tiduran. Kulihat dirinya yang sedang berbaring di sebelahku. Aku tau ia belum tidur. Ia hanya memejamkan matanya. “Yoonhee-ah…” panggilnya kepadaku. “De…? (Iya…?)” tanyaku. “Walaupun kita menikah bukan atas dasar cinta, aku akan selalu berusaha membahagiakanmu…” katanya seraya mulai tidur. Perlu waktu lama bagiku untuk mencerna kata-katanya. Aku pun tersenyum kecil dan tidur.

Pagi ini, aku membuka mataku. Aku memandang ke sebelahku. Sudah kosong. Kemana dia? Dengan langkah malas-malasan, aku bangun dari tempat tidur dan bergegas turun ke meja makan. Kulihat Junki dengan pakaian rapinya sedang duduk dan makan. “Ini buatanmu juga?” tanyaku seraya mencicipi makanannya. Tapi, tangannya menahanku. “Dasar jorok…! Sikat gigi dulu sana!” teriak Junki. Aku pun terkekeh pelan.

Aku pun sikat gigi dan turun lagi. “Aku sudah selesai! Sekarang boleh makan kan?” kataku seraya mulai mengambil makanan. “Biar aku uji dulu sudah wangi atau belum…” katanya seraya menciumku lembut. Aku pun membeku dan terkejut akan tingkah lakunya. “Sudah wangi…! Ayo makan…” jawabnya dengan canggung. Aku pun langsung makan.

Setelah siap-siap, aku keluar rumah dan bergegas berjalan ke halte. Namun, tangannya menahanku. “Biar aku antar…” katanya hangat seraya menyeretku ke mobil. Kita bercanda dan tertawa bersama saat di perjalanan. Ternyata, ia tidak seburuk yang kubayangkan. Aku malah sekarang merasa sangat beruntung dapat menjadi istrinya. Begitu sampai, ia memelukku tanpa memperdulikan orang-orang yang memandang takjub kearah kita berdua.

Aku pun masuk ke lokasi syuting dengan perasaan riang. “Annyeong, Sunghwa-ssi…” sapaku. Entah mengapa, aku tak merasakan perasaan apapun saat bertemu Sunghwa sekarang. “Yoonhee-ssi… Aku mau bicara padamu sore ini.” katanya seraya pergi meninggalkanku. Sorenya, ia telah menungguku di depan gedung lokasi syuting.

“Apa yang mau kau bicarakan?” tanyaku ramah. “Saranghaeyo, Yoonhee-ssi… Joengmal saranghaeyo…! (Aku mencintaimu, Yoonhee… Sangat mencintaimu…!)” katanya lirih. Aku pun menamparnya keras-keras. Entah mengapa, aku ingin melakukannya. Air mata mulai keluar dari mataku.

“Kau telat, Sunghwa-ssi…!!!! Kau telat…! Kau tau betapa sakitnya aku menunggumu mengatakan ini sejak lama…??!! Menunggumu dari kelas 1 SMA. Ya, aku sudah menyukaimu sejak kelas 1 SMA… Tapi, sekarang terlambat…! Aku sudah menikah. Dan aku percaya Junki lebih baik darimu…!!!” teriakku kesal. Emosi yang kupendam, kukeluarkan secara langsung. Ia ikut menangis. “Mianhaeyo… Mianhaeyo… (Maaf… Maaf…)” hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutnya.

“Bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kalinya, Yoonhee-ssi?” tanyanya lirih. Aku mengangguk tanda setuju. Ia pun memelukku dengan hangat. Tapi, aku merasakan keanehan. Seperti seseorang sedang memperhatikan kami. Aku pun menoleh. Kulihat Junki sedang memandang kita dengan perih.

Aku langsung melepas pelukan Sunghwa dan menghampiri Junki. Namun, ia kabur tanpa membiarkan aku mendekatinya. “PARK JUNKI… AKU BISA JELASKAN SEMUANYA…!” teriakku, namun ia tidak menggubrisku. Aku pun mengejarnya hingga ia masuk ke mobil. Hanya tangisan yang bisa kukeluarkan. Bagaimana ini? Junki salah paham padaku. Apa yang harus kulakukan?

TBC

:”:”:”:”:”:”:”:”:”:”:”:”:”:”:”:”:”:”:”:”)

Advertisements

Comments on: "Story : ~Is He Really-Really My Destiny? I think yes!~ (Part 2)" (5)

  1. part 3? gmn? lanjutin!

  2. cpetan lnjutinny jgan lma” bkin org nunggu klmaan aj yh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: