Full of inspiration and story

Aku membuka mata perlahan. Sinar matahari langsung menyeruak masuk ke mataku. Membuatku silau. Aku menguap dan akhirnya bergegas mandi. Setelah mandi, aku langsung berlari ke ruang makan. Nampak, ketiga kakak tersayangku sudah duduk di meja makan. “Selamat pagi, kak….!!!” teriakku seraya duduk di meja makan. “Selamat pagi, Hanvie…!!!” balas ketiga kakakku bersamaan.

Kakak pertamaku bernama Brian Luthen. Tahun ini, ia akan berusia 19 tahun. Ia anak sulung di keluarga ini. Kakakku berkuliah di salah satu universitas terkemuka di negara ini. Ia mengambil jurusan biologi dan sudah semester empat sekarang. Setelah lulus, ia akan menjadi ilmuwan, cita-citanya sejak kecil. Kakakku ini mempunyai wajah tampan dan selalu stylish dalam segala hal. Ia adalah anak yang aktif, cerewet, dan jail. Aku adalah korban utama kejailannya. Tapi, ia adalah orang bisa dibilang jenius dalam bidang pendidikan. Aku sangat sayang kepada kakakku.

Kakak keduaku bernama Dennis Luthen. Ia adalah kakak keduaku yang berumur 18 tahun. Tahun ini, ia akan memulai kuliahnya di universitas yang sama dengan kakak pertamaku. Ia mengambil jurusan seni karena kepiawaiannya memainkan musik, terutama piano dan biola. Sifatnya berbeda jauh dari kakak pertamaku. Ia adalah orang yang pendiam, penyendiri, dan tenang. Sifatnya sangat dewasa, melebihi kedewasaan kakak pertamaku. Ia adalah orang yang selalu membantuku dalam segala hal. Aku sangat menyanyangi kakakku.

Kakak ketigaku bernama Jason Luthen. Beberapa bulan lagi, ia akan berumur 16 tahun. Ia adalah pelajar kelas 2 SMA di sekolah yang sama denganku. Ia bisa menjadi kakak, sahabat, pacar, bahkan adikku sendiri. Saat menjadi kakak, sifatnya akan menjadi dewasa sekali. Saat menjadi sahabat, ia akan menjadi tempat curhatanku saat aku sedih. Dan, saat menjadi adik, ia bisa membuatku tersenyum karena tingkahnya yang lucu dan periang. Ia aktif di klub basket, futsal, bulu tangkis, teater, lukis, vokal, dan musik. Ia juga diberi julukan ‘prince charming’ karena kebaikan dan kemanisannya. Diantara semua kakak-kakakku, dialah yang paling dekat denganku.

Sedangkan aku, adalah adik bungsu keluarga Luthen. Namaku Hanvie. Aku biasa dipanggil Vie oleh ketiga kakakku. Tahun ini, aku berusia 15 tahun. Aku akan masuk ke kelas 1 SMA. Aku adalah anak yang tomboy dan ceroboh. Tanpa bantuan kakak-kakakku, mungkin aku telah ditelan dunia ini karena kecobohanku sering membuat petaka bagiku. Rambutku bewarna coklat, sewarna dengan warna rambut ketiga kakakku. Bola mataku bewarna biru tua yang juga senada dengan bola mata ketiga kakakku. Orang tua kita tinggal di Perancis dan jarang menemui kami. Kita hanya dikirimkan uang bulanan setiap bulan dan hidup di rumah yang seperti istana bertiga.

Kak Brian sedang duduk seraya memakan makanannya dengan cepat. Kak Dennis sedang membaca buku seraya memakan makanannya. Dan kak Jason sedang memainkan game dari psp-nya seraya memakan makanannya. Aku sendiri hanya makan makananku dengan bosan. “Kak Bri…” panggilku kepada kak Brian. “Kak Den…” panggilku kepada kak Dennis. “Kak Jas…” panggilku seraya memandang kak Jason. “Apa…?” tanya mereka serempak.

“Kalian akan mengantarku ke sekolah kan?” tanyaku seraya tersenyum manis. “Tidak bisa, Hanvie-ku sayang… Kakak harus mendaftarkan Dennis masuk universitas…” jawab kak Brian diikuti anggukan kak Dennis. Mataku tertuju kepada kak Jason. Ia sadar akan pandanganku dan langsung memandangku. “Iya… Iya…” jawabnya dengan malas. Aku langsung memeluk kak Jason. “Kau memang kakak paling baik, kak Jas… Tidak seperti dua kakakku itu…” kataku seraya memeletkan lidahku kearah mereka. Mereka pun ikut membalasku dengan memeletkan lidahnya juga.

Setelah perjalanan ke sekolah selesai, supir membuka pintu mobil, dan aku serta kak Jason pun keluar. Kita memasuki sekolah dan pergi ke aula untuk pertemuan awal tahun. Banyak orang menatapku dengan pandangan sinis. Aku dapat mengerti hal itu. Kak Jason adalah idola di sekolahnya. Pasti banyak orang yang tak suka dan menganggap aku pacar kak Jason dengan selalu berpegangan tangan seperti ini. Aku pun melepas pegangan erat kakakku.

“Ada apa, Vie?” tanya kak Jason bingung. “Nampaknya banyak yang gak suka aku berpegangan tangan denganmu, kak Jas…” jawabku jujur. Ia langsung memukul kepalaku pelan. “Bodoh… Kamu kan adikku. Wajar dong kalau aku memegang tanganmu…!” kata kak Jason seraya tersenyum dan kembali memegang tanganku hingga ke aula. Ia pun menyuruhku duduk di sampingnya.

Kita mendengar kata kepala sekolah dan akhirnya dibolehkan masuk ke kelas masing-masing. “Mau aku antar?” tawar kak Jason. Aku pun langsung mengangguk karena aku benar-benar tak tau jalan. Kakakku pun langsung mengantarku ke kelas. “Eh, Jason… Ada apa, nak?” tanya seorang wanita yang nampaknya akan menjadi guruku. “Saya mau mengantar adik saya… Sampai jumpa, Vie…!” jawab kakakku ramah. Dengan malu-malu, aku pun masuk ke kelas.

“Jadi kamu adiknya Jason?” tanya guru itu. Aku pun mengangguk. “Berarti kau juga adiknya Dennis dan Brian??” tanyanya lagi. Aku kembali mengangguk. Memang ketiga kakakku adalah siswa yang cukup terkenal di sekolah. Kak Den dan kak Bri sendiri adalah alumni sekolah ini. “Perkenalkan dirimu…” kata guru itu dengan ramah. “Namaku Hanvie Lutten. Aku biasa dipanggil Vie… Aku berumur 15 tahun. Salam kenal semua…!” kataku seraya menunduk kecil.

Setelah itu pun, aku dipersilahkan duduk dan yang lain pun ikut memperkenalkan diri. Aku duduk di sebelah seorang perempuan yang nampak polos namun cantik. “Halo, Vie… Namaku Alicia. Salam kenal…!” sapa teman sebangkuku itu. “Halo, Cia…!” balasku seraya tersenyum manis. “Kau benar-benar adiknya Jason Luthen?” tanya Alicia dengan pandangan berbinar-binar. Aku mengangguk ramah. “Wow…! Kenalkan aku padanya dong…!!! Aku sangat menyukai kakakmu itu…” teriak Alicia antusias.

“Bagaimana kau tau tentang kak Jason…?” tanyaku penasaran.”Ya ampun… Dia kan sangat terkenal, Vie… Tentu saja aku tau.” kata Alicia dengan riang. Aku hanya tersenyum mendengar hal itu. Setelah pelajaran berlangsung, aku pun keluar kelas. Di depan kelas, telah tampak kak Jason. Saat aku mau menghampiri kak Jason, Alicia memegang lenganku erat seraya membisikkiku untuk mengenalkan kak Jason kepadanya. Dengan terpaksa, aku pun menurutinya.

“Kak Jason, kenalkan ini temanku, Alicia… Alicia ini kakakku, Jason…” kataku dengan uring-uringan. “Aku Alicia…” kata Alicia seraya menunduk malu. “Aku Jason… Jaga adikku baik-baik ya?” balas kakakku seraya tersenyum manis, senyuman ciri khasnya yang selalu membuat semua wanita tergila-gila. Alhasil, Alicia pun tergelojak dan pipinya memerah. Aku hanya bisa bingung melihatnya. Setelah itu, aku dan kak Jason pun pulang.

Di mobil, aku memanggil kakakku. Ia pun memandangku. “Kayaknya Alicia suka kakak, lho…!” ledekku kepada kak Jason. Ia pun tertawa pelan. “Itu sudah biasa tau…” jawab kakakku membanggakan diri. Aku pun memukul tangan kakakku pelan. “Dasar GR…!!!” teriakku disambut kekehannya. Setelah sampai di rumah, aku dan kak Jason masuk ke rumah. Sekarang rumah sangat sepi. Pasti kak Brian dan kak Dennis belum pulang.

Tiba-tiba lampu mati. Aku yang takut akan kegelapan pun memeluk kak Jason erat. “Aku takut, kak…” kataku seraya mempererat pelukanku. Ia menepuk punggungku pelan. “Tenang… Kakak tidak akan meninggalkanmu…” jawab kak Jason secara lembut. Entah mengapa, jantungku berdegap kencang sekarang.  Lampu kembali nyala dan aku pun melepas pelukan kak Jason.

“Kenapa pipimu merah, Vie??” tanya kakakku dengan lembut. Membuat jantungku berdegup lebih kencang. “Tidak apa-apa…” jawabku seraya pergi ke kamar. Aku tak tau ada apa denganku sekarang. Jantungku berdegup 5 kali lebih kencang dari biasanya, pipiku bersemu merah, dan tanganku dingin. Apakah mungkin aku…? Tidak, tidak mungkin…! Aku pasti hanya merasa kecapean. Esoknya di sekolah, saat aku sudah keluar kelas, aku melihat Alicia berlari menemui kakakku.

Ia menyerahkan sebuah amplop bewarna merah muda kepada kak Jason. Dan yang lebih mengagetkan, ia mencium pipi kakakku dengan cepat! Aku pun langsung berlari ke rumah tanpa bersama kak Jason. Begitu aku masuk ke rumah, aku menangis sekencang-kencangnya. Kak Brian yang melihatku menangis, memelukku dan menanyakan penyebab aku menangis.

“Kak Bri, nampaknya aku mencintai kak Jas…” kataku seraya terisak. “Apa…??” tanya kak Brian kaget. “Ya, aku mencintai kak Jas… Kemarin saat aku takut dan memeluk kak Jas, jantungku berdegup sangat kencang. Dan hari ini, saat aku melihat temanku mencium kak Jas, hatiku sangat sakit… Bagaimana ini kak?” jelasku panjang lebar. Kak Brian hanya memelukku dengan lembut. “Aku juga tidak tau… Tapi, kamu tau kan penyebabnya suka bahkan menikah sama saudara kandungmu sendiri?” tanya kak Brian dengan lembut.

Aku mengangguk pelan. Tiba-tiba, kak Jason masuk ke rumah dan langsung memelukku erat. “Kenapa kau pulang sendiri, Vie…?? Aku mencarimu ke semua penjuru sekolah tau…” kata kak Jason seraya memelukku hangat. Aku hanya bisa diam, menikmati pelukan kakakku. Air mata mulai keluar dari pelupuk mataku.

Yang bisa kulakukan hanya menangisi cinta terlarang ini. Ingin rasanya aku mencium kakakku dan mengatakan ‘aku cinta padamu’. Menikah dengannya dan mempunyai anak dengannya. Menjalani hari dengannya sampai titik darah penghabisan. Namun, itu hanya impian indah yang takkan pernah kuraih.”Kenapa kakak peduli sekali denganku…?” tanyaku sinis.

“Karena… Karena aku mencintaimu, Vie… Aku tau aku salah…! Aku hanya mencintaimu… Aku juga tidak tau penyebabnya dan mungkin bagimu kedengarannya konyol. Tapi, aku mencintaimu… Aku mencintaimu sebagai lelaki, bukan sebagai kakak…” jelas kak Jason yang membuatku tersentak. Tangisanku pun makin menjadi-jadi dan aku pun memeluknya dengan erat. “Aku juga mencintaimu, kak Jas… Aku mencintaimu sebagai wanita, bukan sebagai adik…”

@#@#@#@#@#@#@#@#

Sudah 10 tahun sejak hari itu. Kakak pertamaku, kak Brian telah mempunyai istri dan 2 anak. Kakak keduaku, kak Dennis juga sudah mempunyai istri yang sedang mengandung. Kakak ketigaku sekaligus kakak tersayangku, kak Jason telah mempunyai tunangan dan 2 bulan lagi akan menikah dengan model cantik dan manis.

Aku sendiri telah mempunyai pacar, seorang dokter tampan. Ia sangat mencintaiku dan aku pun sangat mencintainya. Perasaanku kepada kak Jason sudah aku kunci rapat-rapat dalam hatiku. Tak bisa kupungkiri, masih ada setetes cinta untuknya. Namun, kita lebih memilih untuk tak melawan hukum alam. Biarkan cinta kita menjadi kenangan terindah yang selamanya takkan kita lupakan…

$The End@

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: