Full of inspiration and story

Dengan berat hati, aku membangunkannya. Karena dia tidak bangun juga, aku mendekatkan wajahku ke wajahnya dan meneriakinya keras-keras. Ia pun langsung kaget dan bangun. Karena ia bangun dan wajahku yang masih dalam radius dekat dengan wajahnya, bibir kita bersentuhan selama beberapa detik. Setelah sadar, aku pun memalingkan mukaku dengan gugup. Bisa kurasakan pipiku panas merona. Begitupun dengannya. Pipinya merah dan ekspresi mukanya menjadi gugup. Jantungku berdegup sangat keras. Ada apa denganku ya?

“A-aku ketiduran ya bi? Arigato sudah mau mengantarku. Sam-sampai jumpa…!” katanya dengan gugup. Aku yang masih merasakan sengatan listrik yang berada di hatiku hanya dapat mengangguk pelan. Ia pun keluar dari mobil dan berjalan masuk ke rumah yang juga rumah direkturku. Dengan gemetaran, aku mengendarai mobilku ke rumah. Tanpa menjawab panggilan otosan dan okasan, aku langsung masuk ke kamar.

Aku merebahkan tubuhku ke kamar seraya menutup mataku. Tangan kananku memegang dadaku dengan pelan. Merasakan detak jantung yang masih berdetak kencang. “Tidaakkk…!!! Ini tidak boleh terjadi! Aku tidak jatuh cinta padanya kan?? Ingat, Ayume…! Kau ini terlalu tua untuk anak 17 tahun sepertinya. Kau bahkan lebih pantas jadi ibunya…” gumamku seraya memukul-mukul jantungku.

Esoknya, dengan langkah gontai, aku menuju kantor. Saat aku memasuki ruanganku, aku melihat direktur sedang menunggu bersama Kenkyo. “Ohaiyo…” sapaku seraya menunduk pelan. “Ohaiyo, Ayume-chan…” jawab direktur dan Kenkyo bersamaan. “Sumimasen… (Maaf…), aku mengganggumu lagi… Tapi, Kenkyo akan ikut bekerja dengan kita disini… Cuma part time kok karena ia tetap akan sekolah. Bimbing dia ya, Ayume…” kata direktur dengan ramah.

“Hai… (Iya…)” kataku dengan yakin. Entah mengapa, kata-kata direktur membuatku merasa senang. “Aku tinggal dulu ya…? Arigato ya, Ayume-chan… Aku akan menaikkan gajimu kok…!” kata direktur seraya pergi. Tak sadar, aku menjadi tersenyum bahagia dan melonjak kegirangan. “Senang banget sih dapat kenaikan gaji aja…” komentar Kenkyo sinis.

“Bicara apa? Sekarang aku adalah atasanmu… Pertama, kau harus merubah style bajumu. Di kantor, seharusnya kau memakai jas, bukan cardigan santai seperti itu… Cepat ganti…!!!” perintahku dan ia pun mengangguk pasrah. Aku hanya bisa terkikik sendiri melihatnya. Tak lama kemudian, ia kembali dengan pakaian formalnya. “Bagaimana penampilanku??” tanya Kenkyo seraya memutar-mutar badannya.

Ia benar-benar tampan sekarang. Penampilannya menjadi lebih dewasa dengan kemeja hitam, jas putih, dan celana abu-abunya. Ia memakai sepatu kets bewarna putih dan dasi bewarna biru tua sehingga tak meninggalkan kesan mudanya. Rambutnya tersisir rapi dan matanya memakai kacamata ber-frame hitam tipis. “Tampan…” gumamku sendiri. “Motto hakkiri itte kudasai…! (Katakan lagi dengan lebih jelas…!)” katanya berusaha meledekku.

Aku memalingkan mukaku karena pipiku yang memerah. Ia perlahan-lahan mendekatiku dari belakang. Langkahnya perlahan menuju padaku yang hanya bisa diam. Lebih dekat, hingga aku dapat merasakan hembusan nafasnya yang hangat. Ia membalikkan tubuhku dengan cepat sehingga dengan wajah kita sangat berdekatan sekarang. Aku bisa memandang wajahnya dengan nyaman sekarang. Tiba-tiba, ia tertawa terpingkal-pingkal dan menjauh dariku.

“Ada apa denganmu?” tanyaku bingung. “Wajahmu itu merah seperti kepiting rebus tau…!” katanya seraya tertawa. Aku menelan ludah perlahan. Ia benar-benar membuatku malu sekarang. Aku pun diam dan menunduk. Kurasakan tawanya terhenti dan ia mendekat kearahku. Ia menundukkan kepalanya sehingga dapat melihat wajahku seutuhnya. “Bibi… Kau marah ya? Aku kan cuma bercanda…” katanya polos. Aku masih menundukan kepalaku dan berusaha menjauh darinya.

“Bibi, kau benar-benar marah ya? Gomen nasai… (Maaf…)” katanya seraya berglayutan manja di tanganku. Aku menepis tangannya. “Bibi~ Nanti aku traktir makan aja deh… Bibi bisa makan sepuasnya kok…!” janjinya yang membuatku menegakan kepalaku. “Benar…??” tanyaku seraya tersenyum riang. “Hua~~~ Aku pikir bibi marah sama aku… Aku ketipu dehh…!” teriaknya menyesal. “Makanya jangan bercanda denganku…” jawabku senang. Ia hanya memandangku dengan pandangan kesal.

Setelah kerja, aku menuntut janji Kenkyo dan ia pun dengan terpaksa mengiyakanku. “Irasshaimase…! (Selamat datang…!)” sapa pelayan restoran saat kita masuk. Kemudian, kita pun duduk dan mulai memesan makanan. “Mau pesan apa?” tanya pelayan dengan ramah. “Pesan steak, spagethi, dan minumnya cappuchino…” kataku kepada pelayan itu. Kulihat wajahnya memasang muka apa-yang-kau-pesan-itu-hah? Aku pun membalasnya dengan memasang tampang biarin-aja-bweee…!!

“Mau pesan apa tuan?” tanya pelayan itu kearah Kenkyo. “Kentang goreng dan coca-cola saja…” jawabnya dengan suara datar. Membuatku tertawa pelan. Setelah makan, aku dan Ken pun pergi ke tempat parkir untuk mengambil mobil. Di lift, kita tak berbicara apa-apa. Hanya larut dalam pikiran masing-masing. Sebuah suara aneh yang keras tiba-tiba terdengar. Membuat kita kaget setengah mati. Lampu lift pun mati dan lift berhenti bergerak. Aku mulai berpikiran aneh. Seketika wajah kita berpandangan dan menimbulkan reaksi yang sama. “KITA TERJEBAK DISINI…!!!!”

&TBC^

Advertisements

Comments on: "Story : 31=17 (???) Part 2" (1)

  1. wuaahhh. . . mulai tegang nh crt.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: