Full of inspiration and story

Pagi ini sangat cerah. Sinar matahari menyinari bumi dengan sangat hangat. Bisa terlihat banyak orang dewasa yang bergegas kerja dan anak-anak yang berangkat ke sekolah dengan riang. Begitu pula dengan seorang anak laki-laki berumur 15 tahun yang berkaca mata ini. Penyakit menyengsarakan dan beban yang ditanggungnya tidak membuat ia putus asa. Seragam bewarna putih dan dasi abu-abu yang dikenakannya melambai riang di bawah sinar matahari.

Mata biru safirnya memancarkan aura yang berbeda dari anak lain. Perlahan tapi pasti, ia menggoes sepeda hitamnya yang antik menuju sebuah gedung elite yang adalah sekolahnya sendiri. Maklum, ia sebenarnya adalah anak orang kaya. Namun, karena penyakit ginjal akut yang dideritanya selama ini, ia terpaksa mengubur semua cita-citanya.

Dengan lunglai, ia berjalan kearah kelas. Sesekali teman sebayanya, kakak kelasnya, maupun adik kelasnya di SMP, menyapanya. Ia pun membalasnya dengan senyuman manis. Setelah sampai di kelas, ia duduk di bangku yang sudah lama ditempatinya. “Andrew…!!!” teriak sahabat dari kecilnya. “Kau tau?? Kita kedatangan murid baru lho…! Dia sangat cantik…” kata sahabatnya tak memberi kesempatan pemuda pucat bernama Andrew itu untuk berbicara.

Ia hanya mengangguk paham dan menyetel lagu dari i-pod favoritnya. Tak lama kemudian, bel berbunyi dan guru pun datang seraya membawa seorang perempuan manis bertubuh mungil. Rambutnya lurus dan dipotong sebahu. Matanya bewarna hijau pekat. Perempuan itu memperkenalkan diri sebagai Lucia Anabeth, seorang siswi pindahan sekolah dari kota lain.

Karena hanya kursi Andrew yang kosong, perempuan tadi pun duduk di kursi Andrew. “Permisi… Bolehkah aku duduk di tempat ini?” tanya Lucia dengan ramah. “Tentu saja…!!! Kalau tidak duduk disini mau duduk dimana lagi? Itu hanya pertanyaan bodoh tau…!” kata Andrew ketus tanpa memandang wajah gadis manis itu.

Setelah pelajaran berakhir, bel pulang pun berbunyi. Lucia telah banyak memperoleh teman karena ia adalah gadis yang lucu dan periang. Andrew yang melihat Lucia sedang mengobrol ria hanya bisa menggelengkan kepala. Ia mengambil tasnya dan bergegas turun ke tempat parkir. Tapi, sesuatu terjadi. Penyakitnya kumat secara tiba-tiba dan ia pun mengerang kesakitan. Beruntung, sekolah sudah sepi.

Ia meringis kesakitan seraya duduk di lantai. Ia menekuk kakinya dan hanya bisa pasrah dengan kesakitan yang telah biasa menghampirinya. “Apa yang terjadi padamu…!?!” teriak seseorang yang melihat Andrew sedang menahan sakit yang amat sangat. Andrew pun menoleh ke sumber suara. “Kau…?” kata Andrew seraya menyembunyikan rasa sakitnya.

“Kau sakit?” tanya Lucia seraya mencoba menyentuh wajah Andrew yang penuh keringat dingin. Namun, Andrew menepis tangan Lucia dengan kasar. “Bukan urusanmu…!” kata Andrew seraya berdiri dan membawa tasnya. Lucia hanya bisa pasrah dengan kelakuan Andrew yang sangat ketus dan dingin padanya.

Dengan perlahan, Andrew menggoes sepedanya seraya masih menahan sakit. Sebenarnya, ia tidak tega kepada Lucia yang sangat ramah padanya. Ia hanya tidak ingin semua orang mengetahui penyakitnya dan merasa iba padanya. Ia lebih memilih menyembunyikan ini sendiri, hingga ia wafat nanti. Yang tau tentang penyakitnya hanya orang tuanya, kakaknya, dan sahabatnya yang tadi, Ernett.

#$#$##$#$#$#$#$#$

Hari ini seperti biasa Andrew masuk ke sekolah. Ia melihat Lucia sudah sampai di sekolah dan duduk di bangku sebelahnya. Kemeja sekolahnya ia padukan dengan sweater merah muda dan syal bewarna putih karena udara yang sedang sangat dingin. Andrew sendiri memakai jaket tebal bewarna abu-abu dan sarung tangan bewarna biru.

“Good morning, Andrew…” sapa Lucia tak lupa dengan senyuman manisnya. “Morning…” balas Andrew masih dengan ketus. “Are you okay? Kenapa wajahmu selalu pucat?” tanya Lucia penasaran. Andrew hanya menggeleng pelan. “I’m fine… Jangan khawatir.” jawab Andrew.

Sehabis pulang sekolah, Andrew menggoes sepedanya seperti biasa. Dari kejauhan, ia bisa melihat Lucia sedang berjalan kaki. Tiba-tiba, beberapa anak berandalan datang menganggu Lucia. Lucia hanya bisa menangis menanggapi anak-anak berandalan yang terus menganggunya. Andrew memarkirkan sepedanya dengan asal dan langsung berjalan menuju kumpulan anak berandalan itu.

Ia menonjok semua berandalan itu dan mereka pun kabur. Setelah aman, Andrew mengulurkan tangannya kepada Lucia yang sekarang sedang berjongkok seraya menangis. “Jangan cengeng… Ayo bangun…!” kata Andrew lembut. Lucia pun mengangguk dan membalas uluran Andrew. Lucia langsung memeluk Andrew secara tiba-tiba. Andrew yang kaget hanya bisa menepuk pelan punggung Lucia.

Setelah tenang, mereka memutuskan untuk duduk di taman. “Terima kasih, Andrew…” kata Lucia dengan suara yang masih sendu. “It’s okay… Oh ya, sorry ya kalau selama ini aku selalu jahat sama kamu, Luc.” kata Andrew seraya tersenyum memamerkan lesung pipinya yang terukir dalam. Senyum pertama yang diberikan kepada Lucia. Lucia pun membalas senyuman Andrew.

@#@#@#@#@#@#@#@#@

Setelah kejadian itu, Andrew dan Lucia menjadi dekat. Mereka kerap mengobrol dan jalan berdua. Lucia masih belum mengetahui penyakit Andrew yang sebenarnya. Andrew berusaha menutupi penyakit ginjal akutnya dengan mengatakan ia hanya mengidap maag biasa. Lucia yang memang perempuan polos, percaya dengan perkataan Andrew.

Hari ini adalah hari Sabtu, hari libur bagi pelajar. Andrew mengajak Lucia untuk pergi ke sebuah bukit indah. Dari bukit ini, mereka dapat melihat banyak pemandangan indah. Rencananya, Andrew akan mengajak Lucia untuk berpacaran di bukit ini. “Kau senang?” tanya Andrew lembut. Lucia mengangguk riang. “Pemandangannya sangat indah…” tutur Lucia seraya memandang pemandangan di bawah bukit itu.

Andrew menarik tangan Lucia lembut sehingga pandangan Lucia sekarang tertuju pada Andrew. “A-apa yang mau kau lakukan?” tanya Lucia gugup. Jarak mereka sangat dekat sekarang. Dengan sebuah senyuman, Andrew memberi sebuah bunga mawar indah kepada Lucia. “Would you be my girlfriend, Lucia?” tanya Andrew halus.

Lucia tampak bingung sesaat. Namun, akhirnya ia mengangguk malu. Andrew tersenyum bahagia lalu mencium bibir Lucia lembut. Tapi, sesuatu terjadi padanya. Penyakitnya kambuh seketika. Karena tidak mau Lucia mengetahuinya, Andrew berjalan menjauhi Lucia dan bergegas pergi. Lucia memanggil nama Andrew, namun Andrew masih terus berlari menjauh.

Lucia mengejar Andrew dengan sekuat tenaga. Tapi, usahanya sia-sia. Ia tidak menemukan Andrew sama sekali. Tangisannya mulai menjadi-jadi sekarang. Akhirnya, ia pulang ke rumah. Ia menulis sebuah kalimat di diary-nya.

Andrew, apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku…??

^&^&^&^&^&^&^&^&^&^&

Tiga bulan sudah berlalu sejak hari itu. Sejak hari itu juga, Andrew tidak masuk sekolah. Setiap hari, Lucia selalu mencari Andrew di sekolah, meneleponnya, atau bahkan datang ke rumahnya. Namun, Andrew tidak ada. Menghilang seakan ditelan bumi. Hari ini pun Lucia mengecek ke rumah Andrew. Berharap dapat melihat Andrew dan sekedar mengucapkan ‘aku mencintaimu, Andrew…’. Tapi, seperti biasa tidak ada yang membukakan pintu. Ketika Lucia bergegas pulang, ia mendengar suara seseorang. Lucia pun bersembunyi di balik pohon.

Ternyata, yang ia dengar adalah suara ibu dan ayah Andrew. “Huh~ Apa yang harus kita lakukan?” tanya ibu Andrew seraya menahan tangis. “Kita hanya bisa pasrah dan tabah… Hidupnya benar-benar tidak lama lagi…” jawab ayah Andrew yang membuat dada Lucia terasa sangat sesak. Pikiran aneh mulai masuk ke pikirannya.

“Rumah sakit Derren merupakan rumah sakit terbaik. Kita harus mempercayakan semuanya di tangan dokter-dokter rumah sakit itu… Yang bisa kita lakukan sekarang hanya mendukung Andrew sepenuh hati.” jelas ayah Andrew yang membuat Lucia terpekik tertahan. Air mata mulai mengalir deras dari mata bewarna hijau pekatnya.

Tanpa berpikir apapun, ia langsung berlari kearah rumah sakit Derren. “Sus, dimana kamar Andrew Ferdinand??” tanya Lucia dengan suara yang serak. “Lantai 3. Kamar nomor 21.” jawab suster itu dengan singkat. Tanpa mengucapkan terima kasih, Lucia langsung berlari ke kamar tersebut. Detak jantungnya berdetak tak beraturan. Air mata masih mengalir dari pelupuk matanya. Perkataan ayah Andrew masih berkelebat di pikirannya. Seperti rekaman yang diputar berulang-ulang.

‘Hidupnya benar-benar tidak lama lagi…’

Setelah sampai, ia mendorong pintu perlahan. Terlihat seseorang lelaki sedang terbaring lemah dengan infus yang tertancap di tangan kirinya. Mukanya pucat dan tubuhnya mengurus. Secara perlahan, Lucia menghampirinya. Ia mengelus rambut Andrew lembut. Mata Andrew terbuka dengan perlahan. Seperti menahan sakit yang amat sangat untuk sekedar membuka mata.

“Kau bodoh, Andrew…!!! Bodoh…!” teriak Lucia seraya memukul pelan Andrew dan menangis tersedu-sedu. “Lu-lucia…?? Bagaimana kau…?” tanya Andrew nampak kaget. “Kenapa kau tidak jujur saja padaku…?” tanya Lucia seraya memeluk Andrew. “Aku takut kau akan berlinang air mata dan mengasihani aku seperti sekarang.” jawab Andrew dengan lemah. “BODOH…!!! Aku tidak mengasihanimu, Andrew…! Aku mencintaimu… Sangat mencintaimu…” kata Lucia dengan tegas.

Air mata Andrew jatuh membasahi kasur rumah sakit. Ia langsung memeluk Lucia perlahan. “Thank you, my lovely girlfriend…” bisik Andrew pelan. Lucia pun mengecup bibir Andrew perlahan. “It’s okay, Andrew…” jawab Lucia seraya tersenyum. Andrew menceritakan semua yang terjadi padanya.

Ternyata, tiga bulan yang lalu penyakit Andrew kambuh dan ia pun berlari menjauhi Lucia. Begitu sampai di tengah jalan, Andrew pingsan. Setelah siuman, dokter menjelaskan bahwa ginjalnya semakin rusak dan waktu Andrew tinggal beberapa bulan lagi untuk hidup. Peluang satu-satunya untuk hidup hanya satu. Mendapat donor ginjal dari seseorang.

#$#$#$#$#$#$#$#$

Tepat dua bulan sejak kejadian itu, Lucia dan Andrew menjalani kehidupannya bersama. Hampir tiap hari Lucia menjenguk Andrew di rumah sakit. Hanya sekedar bercerita dan tertawa riang telah membuat Andrew terhibur. Hari ini, seperti biasa Lucia mengampiri Andrew.

“Good afternoon, Andrew…!” teriak Lucia riang seraya memeluk Andrew lembut. “Kau mengagetkanku tau… Bisa-bisa aku meninggal karena sakit jantung, bukan sakit ginjal.” kata Andrew seraya cemberut. Lucia hanya bisa tertawa kecil seraya mencubit pipi Andrew gemas. “Sorry deh adek kecil… Kamu ini manja banget sih…” kata Lucia perlahan. Andrew pun terkekeh pelan. “Kalau begitu, beli aku esklim, kak Lucia…!” teriak Andrew seraya menirukan suara anak kecil. Mereka pun tertawa.

Setelah tertawa, suasana menjadi hening. Angin yang berhembus membuat mereka damai. Nampaknya keduanya sedang berada di pikiran masing-masing. Tak sadar, setetes air mata jatuh dari mata Lucia. Andrew pun dengan lembut mengusap air mata itu. Lucia memandang penuh arti kepada Andrew. Secara tiba-tiba, Lucia memeluk Andrew.

“Entah kapan, kenangan manis ini bisa kita lakukan lagi…” kata Lucia parau. “Berjanjilah untuk tidak sedih dan membuatku khawatir… Berjanjilah untuk selalu mengingatku walaupun kau telah mempunyai pendamping lain… Berjanjilah kau akan selalu memberikan tempat di hatimu untukku… Berjanjilah-” kata Andrew yang dipotong oleh Lucia. “Tidak, Andrew…! Kau yang harus berjanji padaku…! Jangan tinggalkan aku…!!! Kumohon…” isak Lucia yang membuat Andrew tersentak.

Tanpa sepatah kata lagi, Lucia berlari keluar dari kamar Andrew. Perasaannya kacau sekarang. Ia tidak rela melihat Andrew hilang begitu saja dari hidupnya. Semua kebersamaan mereka hanya akan menjadi kenangan nantinya. Kenangan terindah sekaligus kenangan yang paling menyakitkan baginya. Dengan keyakinan hati yang teguh, ia berjalan menuju rumah. Ia akan meminta izin kedua orang tuanya untuk melakukan sesuatu yang telah ia yakini seutuhnya.

@*@*@*@*@*@*@*@*@*

Sudah dua bulan berlalu. Tetapi, Andrew belum melihat Lucia sedikitpun. Semua semangatnya yang dulu berkobar saat Lucia mengisi hidupnya, pudar seketika. Ia merenung memikirkan ini semua. “Apakah mungkin Lucia menyesal menjadi pacarku…?” gumam Andrew dalam hati. Tiba-tiba, sebuah suara pintu terdengar. Andrew langsung melihat kearah pintu. Berharap yang datang adalah Lucia, pujaan hatinya.

Tapi, harapannya pupus seketika. Ternyata, yang datang adalah ibunya sendiri. “Kau selamat, nak…! Kau selamat…!” teriak ibunya dengan senang. “Apa maksud ibu?” tanya Andrew mengerutkan dahi. “Kau mendapat donor ginjal, nak…!!!” teriak ibu Andrew seraya memeluknya. Namun, ia tidak merasa senang. ‘Untuk apa hidupku jika aku tidak bersama Lucia?’

Beberapa hari kemudian, Andrew menjalani operasi. Sesaat sebelum dioperasi, Andrew menemui keluarganya. “Siapa yang mendonorkan ginjalnya untukku?” tanya Andrew penasaran. Kulihat, ekspresi ibuku berubah seketika. “Ibu tidak tau, nak… Jangan pikirkan itu lagi ya?” tanya ibunya lembut. 

Setelah disuruh oleh suster, Andrew memulai operasi. Beberapa hari kemudian, ia telah sadar. Ternyata, operasinya berjalan lancar. Ia perlahan membuka mata. “Lucia… Mana Lucia?” tanyanya pelan. Namun, ibu dan ayahnya tak menjawab. “Kak, mana Lucia…?” tanya Andrew lagi kepada kakaknya. Namun, kakaknya juga tidak menjawab. “Lucia telah mati, Andrew. Ia mengorbankan ginjalnya untukmu… Namun, operasinya tak berhasil. Ini surat terakhirnya untukmu…” jelas kakak perempuanku.

Andrew tak bisa berkata apapun lagi. Yang bisa ia lakukan hanya meratapi kepergian Lucia. Ia langsung melepaskan infusnya dan berlari kearah pemakaman Lucia. Ia tak peduli pada panggilan keluarganya. Andrew masih memakai baju pasien yang tipis. Bekas luka hasil operasinya masih sakit dan nyeri. Namun, ia tak peduli. 

Yang ia pikirkan hanya satu, Lucia. Setelah sampai, ia berlutut di makam Lucia. Tangannya yang masih berbekas infus menyentuh tanah di depannya. Ia membaca surat itu perlahan. Tangannya gemetaran hebat sekarang. Ia menarik nafas dalam.

Andrew…

Mungkin saat kau membaca ini, aku sudah tidak berada di sisimu lagi…

Aku mencintaimu, sangat mencintaimu…

Itulah sebabnya aku melakukan ini…

Jangan membuatku sedih…

Nikmatilah hidupmu…

Buat ginjalku yang tertanam pada tubuhmu bermanfaat…

Aku mencintaimu… Aku benar-benar mencintaimu…

Aku tidak bisa hidup tanpamu…

Jadi, aku lebih memilih mengorbankan hidupku dibandingkan kehilanganmu…

Remember me, always…

Saat angin berhembus, ingatlah bahwa aku sedang bersamamu…

NB: Jangan mencari pendamping hidup yang lebih cantik dariku, ya…

>.<

Your loverz,

Lucia Anabeth

Andrew langsung beruraian air mata. Hatinya hampa. Bagaikan sebuah organ yang diambil seketika dari tubuhnya. Ia menekan ginjalnya dengan erat. Nyeri yang ia rasakan di hatinya jauh lebih sakit dibandingkan nyeri yang ia rasakan di bekas luka operasinya. Angin yang sejuk menembus tubuh Andrew. Membuat perasaannya menjadi damai. “Aku merasakan kehadiranmu, Lucia… Aku akan menggunakan peninggalanmu sebaik-baiknya…” bisiknya lirih.

%THE END@

 

Advertisements

Comments on: "Story : ~My Eternity Love~" (3)

  1. mengharukan bgt. . .

  2. huweeee sad bgt TT.TT
    yg jdi andrew tu sm ja kan ma woonie??
    lucia baik bgt…
    kereeeeeeeen ffnya
    d^^b

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: