Full of inspiration and story

Aku memandang bayanganku sendiri di cermin. Cantik dan anggun. Dua kata itulah yang bisa kugambarkan sekarang. Aku mengenakan sebuah gaun pengantin bewarna putih susu dan higheels yang juga bewarna putih. Rambutku yang bewarna hitam legam disanggul rapi. Sempurna. Hanya satu yang kurang. Kebahagiaan. Aku benar-benar tidak bahagia.

Mataku perlahan mengeluarkan air bening. Ya, ini air mata. Tapi, bukan air mata bahagia yang kurasakan, melainkan air mata penyesalan. Aku memukul-mukul sendiri kepalaku dengan kepalan tanganku yang sudah dilapisi sarung tangan putih. “Yoonhee pabo…!!! Yoonhee joengmal pabo…!!! (Yoonhee bodoh…!!! Yoonhee benar-benar bodoh…!!!)” gumamku seraya terus memukul kepalaku.

Ya, aku benar-benar bodoh. Kalau saja kejadian itu tak terjadi. Mungkin sekarang aku akan dikenal sebagai seorang sutradara korea terkenal yang bernama Jung Yoonhee. Bukan, seorang calon istri dari artis terkenal Park Junki. Dalam pikiranku masih terngiang-ngiang kejadian di malam itu. Malam yang membuat semua masa depanku hancur seketika.

(Dua bulan yang lalu)

Aku yang memakai kemeja santai biru muda, rok mini hitam, dan sepatu sandal bewarna putih, berjalan perlahan ke sebuah restoran seraya menenteng tas kulit. Hari ini adalah perayaan besar-besaran yang patut dirayakan. Aku, Jung Yoonhee, akhirnya menjadi sutradara sukses. Ya, drama yang berisi 18 episode yang aku sutradarai, laku keras.

Ratingnya benar-benar bagus, 38.5. Rasanya, aku mau meledak sekarang. Sekarang, aku dan semua kru beserta beberapa aktris dan aktor merayakannya di sebuah restoran bernuansa gelap. Aku berjalan mendekati pintu masuk restoran dan langsung dilayani menuju sebuah ruangan yang telah dipesan. Di dalam ruangan itu, nampak semua orang telah datang.

“Sutradara Jung sudah datang? Ayo duduk.” kata seorang kru kamera ramah. Aku pun tersenyum lalu menunduk kecil. “Mian (Maaf), ya aku telat…” kataku seraya duduk di salah satu bangku. “Ayo kita mulai saja pestanya…!!!” teriak produser dengan riang disambut seruan setuju semua orang.

Kita makan banyak makanan disana. Setelah makan, restoran yang juga tempat karaoke itu kami gunakan untuk berpesta ria dan bernyanyi bersama. Saat aku ingin pulang, seorang wakil sutradara yang adalah asistenku menahanku. Ia menyuruhku minum soju yang adalah arak korea. Aku menolaknya. Namun, ia tetap memaksa.

Akhirnya, dengan terpaksa aku meminumnya. Kepalaku langsung berputar hebat dan aku mual. Aku pun mabuk hingga setengah sadar. Ternyata, aku dibawa pulang oleh aktor pemeran utama di dramaku sekaligus penyanyi terkenal, Park Junki. Ia mengantarku ke rumah   dengan berbekal alamatku yang tertera pada Id Card-ku.

Karena kondisiku yang mabuk dan kondisinya yang juga sedang mabuk, ia membaringkanku di kasur dan tanpa sadar, ia juga tidur di sebelahku. Cleaning service yang rutin datang ke kamarku pada pagi hari pun, melihatku sedang ‘tidur’ dengan Junki. Ia kaget dan berita pun menyebar dengan cepat. Karena pamornya sebagai aktor dan penyanyi terkenal tidak rusak, kita terpaksa menikah.

Dan, beginilah takdirku sekarang. Terkurung dalam cinta. Padahal, aku sudah mempunyai seseorang yang sangat aku cintai. Dia adalah salah satu sutradara yang telah banyak menyutradarai drama-drama terkenal. Ia benar-benar seperti seorang pangeran bagiku. Berbeda jauh dengan Junki.

Junki adalah seseorang yang menyebalkan dan manja. Dia juga sangat cuek dan tidak cocok sama sekali denganku. Sedangkan pangeran hatiku, sangat dewasa dan menyenangkan. Senyumannya selalu membuatku damai. Membuat jantungku ingin keluar setiapku melihat senyumannya. Tapi, buat apa membicarakannya lagi? Hidupku dan masa depanku sudah hancur sekarang. Oh Tuhan, apakah kau sedang menyiksaku??

Pintu terbuka dan masuklah kakak semata wayangku. “Omona~ Nae dongsaeng neomu kyopta…! Yoonhee-ah…” (Ya Tuhan, adikku benar-benar manis…! Yoonhee…)” teriak kakakku seraya memelukku riang. “Waeyo, noona…?? (Kenapa, kak…??)” tanyaku malas-malasan. “Kau disuruh keluar… Pernikahannya akan dilaksanakan sebentar lagi. Kajja! (Ayo!)” kata kakakku seraya menarikku keluar.

Dengan lunglai, aku mengambil sebuket bunga dan merapikan penampilanku. Dengan genggaman tangan ayahku, aku berjalan perlahan kearah pastur dan calon pengantinku yang menyebalkan, Junki. Setelah melakukan berbagai upacara, akhirnya aku dan Junki resmi menikah. Ingin menangis rasanya… Apalagi pernikahanku ini disaksikan oleh pangeran hatiku yang juga sahabat baik Junki, my lovely Sunghwa.

Saat acara terakhir, air mata yang berusaha kutahan akhirnya keluar secara terus-terusan. “Apakah sebegitu bahagianya kah dirimu menikah denganku?” tanyanya dengan berbisik kecil. “Aku tidak menangis bahagia, bodoh…! Aku menangis karena sedih…!” teriakku dengan bisikan juga.

Ia pun tertawa kecil agar tak ketahuan pastur yang sedang asyik berdoa. “Menangis kenapa? Seharusnya aku yang menangis karena menikah denganmu…!” katanya santai. Aku langsung memasang muka membunuh seraya menginjak sepatunya dengan sepatu higheels-ku. Ia meringis kecil. Aku hanya mengeluarkan evil smile-ku seraya bertampang se-innocent mungkin.

“Sekarang, saudara Park Junki, silahkan mencium istrimu…” kata pastur yang membuat aku dan Junki kaget dan membuka mata dan mulut lebar-lebar. “MWO…!!! (APA…!!!)” teriak kami berdua. “Kalian kan sudah menikah… Ayo!”  kata pastur itu disertai sorakan para penonton. Tanpa aku sadari, pipiku berubah merah. Wajahnya perlahan-lahan mendekatiku dan bibir kita pun bersentuhan hangat.

Oh Tuhan~~~ Ia merebut ciuman pertamaku…!!!!

Setelah selesai berciuman, aku memegang bibirku seraya menahan tangisanku yang ingin keluar. Sakit rasanya. Kurasakan matanya sipitnya memandangku iba. Seakan merasakan sakit yang kurasakan. Sekarang, tibalah saatnya untuk pergi ke hotel. Jangan tanya padaku untuk apa kita ke hotel. Karena itu akan membuatku menangis lebih kencang.

Saat sedang bersalaman dengan semua penonton, pangeran hatiku yang sekarang mungkin tidak akan kuraih lagi, tersenyum seraya memberikan uluran tangannya padaku. Aku menerima uluran tangannya dengan tabah. “Chukae-yo…! (Selamat ya…!)” katanya seraya tersenyum riang.

Aku tak sanggup lagi memandang wajahnya. Apakah ia benar-benar tidak tau, bahwa aku sangat tersiksa sekarang? Ingin rasanya pernikahanku dilangsungkan dengan pria tampan yang berada di depanku ini. Tapi karena kejadian laknat itu, impianku buyar seketika dan sekarang pria yang aku harapkan menjadi calon pengantinku malah menyelamati pernikahanku. Ironis sekali bukan?

Setelah selesai, kami perlahan menuju mobil yang telah dihias indah. Selama perjalanan, aku hanya diam tanpa memandang Junki sama sekali. Ia juga hanya bengong tanpa memandangku. “Yoonhee-ah…” panggil Junki tiba-tiba. Mataku pun memandangnya seakan mengatakan ‘ada apa??’

Wajahnya berubah sayu dan bola matanya yang bewarna coklat tua memandangku lekat-lekat. Tangannya perlahan memegang tanganku. “Mianhae, Yoonhee-ah… Joengmal mianhae… (Maaf, Yoonhee… Aku benar-benar minta maaf…) Ini semua salahku. Kalau saja aku ti-” katanya lembut yang terpotong oleh telunjukku yang sekarang menyentuh bibirnya lembut.

“Ini bukan salahmu, Junki… Jangan meminta maaf padaku. Ini semua hanya ketidaksengajaan belaka.” kataku seraya tersenyum semanis mungkin. Senyum yang pertama sejak hari itu. Setelah sampai di hotel, kita berjalan menuju kamar yang telah dipesan. Aku langsung melepas sarung tangan dan ikatan rambutku yang membuatku gerah. Kulihat ia juga sedang membuka jasnya yang nampaknya sempit.

Aku masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti bajuku yang sudah kusiapkan. Setelah selesai, aku merebahkan tubuhku ke kasur yang kelihatannya sangat empuk. Beberapa menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi dan melangkah ke arah sofa di sebelahku. Kita berpandangan beberapa detik dan akhirnya, “KYAAAA…..!!!!!!!”

Aku melihatnya memakai kaus bewarna biru dan boxer bewarna putih. Sebelumnya, aku tidak pernah melihat pria yang bukan keluargaku sendiri memakai boxer…! Ia pun nampaknya terkejut denganku yang hanya memakai gaun tipis bewarna merah muda. Dengan pipi yang masih merona, ia merebahkan tubuhnya ke kasur. Aku bergedik ngeri memandangnya. Ia pria dan aku wanita. Kita tidur bersama di satu kasur yang berukuran kingsize.

Bagaimana kalau sesuatu terjadi padaku…??

TIDAAAKKKKKKKKKK………!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

TBC~

Advertisements

Comments on: "Story : ~Is He Really-Really My Destiny?? I think yes!~ (part 1)" (2)

  1. haaaaiiyaahhhh. . . . . !! jd ini to cerite lu yg lu katakan padaku waku itu? wah, crtnya lumayan seru nh. . . keren! rajin amat u buat crtnya. aq aja udh buntu dr awal. semuanya . . . ok. eh lu pki korea y. . . kemarin jepang, lalu ad itali.keren amat u. kok bisa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: