Full of inspiration and story

Chapter One ~The Long Journey In Milan~

“Aku pergi dulu ya…!” teriakku kepada ayah dan ibuku. “Jangan kembali sebelum pukul lima sore ya?!” kata ayah dan ibuku bersamaan. Aku pun mengangguk riang dan keluar dari rumahku. Aku mengendarai sepedaku dengan perasaan senang seraya bersiul riang. Mungkin aku akan pergi ke rumah temanku.

Oh ya, namaku Hachie Bresmont. Aku adalah anak laki-laki sederhana yang hari ini tepat berumur 13 tahun. Aku tinggal di Roma, Italy. Kulitku putih pucat dan tinggiku 168 cm, cukup tinggi untuk anak seumuranku memang. Beratku 50 kg dan mataku bewarna abu-abu. Rambutku bewarna coklat kemerahan. Alasan ayah dan ibuku menyuruhku tidak masuk ke rumah sebelum jam lima sore sederhana. Mereka ingin menyiapkan pesta ulang tahun untukku.

Aku menggoes sepedaku hingga ke sebuah rumah yang tak asing bagiku. Ya, ini adalah rumah sahabatku sekaligus kakak kelasku, Jeremy Haston. Ia adalah orang Inggris yang menetap ke Italy. Ayahnya adalah orang terkaya di kota Roma. Itulah sebabnya, Jeremy mempunyai harta yang berlimpah dan rumah yang sangat megah. Berbeda denganku yang hanya mempunyai rumah sederhana.

Aku memarkir sepedaku di bagasi rumahnya dan menenteng tas menuju pintu masuk rumahnya. Aku memencet bel dan beberapa lama kemudian, pintu dibuka. Ternyata, kepala pelayannya yang membuka pintu. “Permisi pak, saya ingin menemui Jeremy…”  kataku sopan. Ia yang sudah mengenalku pun tersenyum kecil seraya menyuruhku mengikutinya.

“Masuk saja, tuan Hachie… Tuan muda Jeremy ada di dalam.” katanya hormat seraya menunjuk sebuah pintu yang terukir indah didepanku. “Grazie… (Terima kasih…)” kataku seraya masuk. “Sei il Benvenuto. (Sama-sama.)” jawabnya ramah. Setelah masuk, aku bisa melihat Jeremy sedang melambaikan tangannya seraya tersenyum. Walaupun sudah cukup sering ke kamarnya, aku selalu terpana dan kagum dengan kamarnya yang sangat luas dan mewah.

“Halo, kak Jeremy…” sapaku seraya tersenyum. “Halo, Hachie…” balasnya seraya mengacak-ngacak rambutku pelan. Kita pun berbincang-bincang dan bermain bersama. Tak sadar waktu telah menunjukan pukul 04.48. Aku pun pamit kepada Jeremy dan menggoes sepedaku pulang. Begitu sampai di rumah, aku melihat jam. 17.01. ‘Ini sudah waktunya masuk…’ batinku seraya tersenyum. Aku menaruh sepedaku di garasi dan berjalan kedalam rumah.

“Aku pul-” kataku terpotong. Tas yang kutenteng jatuh dan membuat isi tasku berantakan. Walaupun laki-laki tak boleh menangis, namun air mataku sudah tak terbendung. Aku melihat darah berceceran dimana-mana. Darah itu keluar dari dua sosok tubuh yang sangat aku kenali. Mereka terlihat berantakan dan disebelah mereka tampak sebuah kue ulang tahun yang telah hancur. 

 “AYAH…!!! IBU…!!!” 

#%#%#%#%#%#%#%#%#%

Setelah kejadian itu, aku tinggal bersama kakekku. Aku berubah menjadi anak yang pendiam. Hampir seluruh hariku aku gunakan untuk membaca buku atau mendengarkan lagu. Rasanya, hidupku sudah tidak berarti lagi. Sifatku yang periang berubah menjadi dingin dan cuek. Hatiku merasakan kesakitan yang luar biasa. Apa yang harus kulakukan sekarang?

Tuhan benar-benar tak adil padaku. Ayah dan ibu yang selalu berada di sampingku sepanjang waktu, yang mengecupku setiap aku ingin tidur, yang mengajarkanku segala arti kasih sayang, yang membuatku tersenyum sepanjang waktu, hilang dalam sekejap. Hilang tepat di ulang tahunku yang ke-13.

Tak sadar hari telah berganti hari, bulan telah berganti bulan, dan tahun telah berganti tahun. Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-17. Tapi, aku tidak peduli akan hal itu lagi. Bagiku sekarang semua hari sama saja. Hampa. Malah hari ulang tahunku sendiri adalah hari paling menyakitkan bagiku. Hari dimana semua kebahagiaanku hilang dari dunia yang dingin ini.

Tok… Tok… Tok… Tok…

Suara ketukan pintu mengagetkanku. Aku pun membuka pintu. “Hachie sayang, temani kakek sebentar ya?” tanya kakek seraya tersenyum. Aku pun mengangguk pelan seraya mengikuti kakek. Kakek duduk di sebuah sofa dan aku pun duduk di hadapan kakek. Pandanganku masih kosong. Perlahan tangan kakek menyentuh wajahku perlahan. Membuatku mulai memandang kakek.

“Lihatlah mukamu, Hachie… Kamu benar-benar tampan sekarang. Tapi sayang, kamu tidak pernah tersenyum. Senyumlah Hachie! Kamu pasti kelihatan lebih tampan. Lupakan kejadian itu…” kata kakek yang membuatku tersentuh. “Aku sudah mencobanya, Kek… Tapi, maaf. Aku belum bisa melupakan kejadian itu. Aku belum sanggup…” jawabku dengan pelan.

Sekarang, air mata telah keluar dari mata indahku. Membasahi semua keringnya hatiku. Kakek pun memelukku dengan erat. Ia memelukku dengan hangat hingga membuatku tersenyum. Senyum yang pertama sejak kejadian itu. Aku baru sadar, aku masih mempunyai kakek yang sangat sayang padaku.

Setelah berpelukan, kakek memberiku sebuah kotak yang telah penuh debu. “Apa ini?” tanyaku bingung. “Ini peninggalan ayah dan ibumu. Mereka menyuruhku memberikan ini saat kau tepat berumur 17 tahun..” jelas kakek. Aku pun mengambil kotak itu dan masuk ke dalam kamar.

Aku duduk di sebuah bangku dan menaruh kotak itu di pangkuanku. Aku menutup mata sejenak. Setelah siap, aku membuka kotak itu. Isinya hanya berbagai macam mainanku sewaktu kecil dan beberapa lembar kertas. Aku pun membacanya.

Hachie, ibu dan ayah pikir, inilah waktunya untuk memberi tahukan ini padamu… Sebenarnya, kamu bukan anak tunggal. Kamu mempunyai kembaran yang 5 menit lebih tua darimu… Tapi, sesuatu terjadi padanya. Saat kalian baru berumur 2 hari, kakak kembarmu yang bernama Hadden, diculik. Walaupun, ini semua bukan salah ayah dan ibu, tapi tetap saja kita yang salah…

Ibu dan ayah adalah agen kepolisian rahasia. Kita bertemu di salah satu misi penting dulu. Setelah mengenal lebih dekat dan pacaran, kita memutuskan untuk mundur dari kepolisian. Namun, penjahat-penjahat yang dulu kita tangkap, menaruh dendam kepada kita. Itulah sebabnya, kakakmu diculik. Carilah dia, Hachie sayang…

Aku menggenggam kertas itu erat-erat. Otakku masih belum dapat mencerna isi kertas itu sepenuhnya. Kakak kembar? Aku punya kakak kembar? Mungkin jika kejadian itu tak ada, aku akan tertawa terbahak-bahak. Dengan gemetar, aku mengambil kertas yang lain. Aku menelan ludah sebelum akhirnya mulai membacanya.

Pencuri kakak kembarmu itu tinggal di kota Milan. Tapi, mungkin ia telah pindah sekarang… Ia adalah anggota perkumpulan Red Eyes. Red eyes adalah perkumpulan terkenal yang dicari polisi hingga sekarang. Kita tak tau persis siapa pencuri kakak kembarmu itu. Namun, kita mempunyai daftar biodata anggota-anggota Red Eyes. Semoga dapat membantu.

Aku mengerutkan dahi tanda kebingungan. Red eyes? Apa lagi ini? Aku menghela nafas kemudian mencari kertas lain. Dan benar. Kertas yang satunya berisi gambar dan biodata orang-orang yang tergabung dalam perkumpulan sesuatu grup yang bernama ‘Red Eyes’. Aku pun memikirkannya matang-matang. Satu jam kemudian, akhirnya aku dapat mengambil keputusan.

Aku mengambil tasku dan memasukan kertas yang berisi biodata perkumpulan Red Eyes, bahan makanan, dan apa saja yang kubutuhkan. Tapi, muncul masalah baru. Katanya, pencuri itu tinggal di Milan. Berarti aku harus pergi ke kota Milan. Tapi, jarak antara kota Roma dan kota Milan kan sangat jauh? Apa yang harus kulakukan?

Sebuah ide menyeruak di kepalaku. Aku pun bergegas mengambil kertas dan menuliskannya sebuah pesan untuk kakekku yang sekarang telah tidur siang. Setelah menggantungkannya di tembok, aku keluar rumah dan pergi ke rumah sahabatku, Jeremy. Aku memencet bel dan kak Jeremy membukanya. Aku menceritakan apa yang terjadi padaku kepada kak Jeremy, dan ia pun mengemas barangnya.

“Apa yang kau lakukan, kak?” tanyaku bingung. “Menemanimu…” jawabnya singkat seraya memasukan perlengkapan ke dalam tasnya. “Menemaniku?” tanyaku namun tak dibalas olehnya. Ia langsung menarikku ke mobilnya dan memberitahu pelayan bahwa ia dan aku akan jalan-jalan untuk beberapa waktu. Ia menekan gas dan kita pun pergi. Setelah beberapa waktu yang sangat lama, kita pun sampai di kota Milan.

Aku dan kak Jeremy memutuskan untuk menginap di Park Hyatt hotel selama sehari karena malam telah menjelang. Esoknya, aku dan kak Jer -panggilan ku untuk Jeremy- meneruskan perjalanan di kota Milan. Kami baru sadar kota Milan bukan kota yang kecil. Maka akan susah mencari Red Eyes. Sekarang telah mulai sore, tapi kami masih belum menemukan petunjuk apa-apa di kota Milan.

Aku dan kak Jer memutuskan untuk pergi ke suatu bar untuk mencari petunjuk. Karena di bar, kemungkinannya lebih besar menemukan perkumpulan Red Eyes itu. Aku dan kak Jer duduk di kursi bar. Seorang bartender melayani kami. “Permisi, kalian mau minum apa?” tanya bartender itu.

“Aku minta dua vodca…” jawab kak Jer mantap. Bartender itu pun mengangguk dan menyiapkan pesanan kak Jer. Aku memandang nanar kearah kak Jeremy. Seakan mengatakan apa-yang-kau-lakukan-dengan-memesan-semua-itu?. Ia tersenyum kecil. “Kita harus berbaur sebelum mencari petunjuk… Just watch me, okay?” jawabnya seakan mengerti jalan pikiranku.

Tak lama, bartender itu memberikan kedua vodca-nya kepada kita dan kak Jer pun memberikan beberapa lembar uang. “Sisanya untukmu…” kata kak Jer seraya tersenyum kecil. “Grazie…” jawab bartender itu. “Oh ya, apakah kau tau perkumpulan ‘Red Eyes’?” tanya kak Jer dengan pesona misterinya. “Red Eyes? Yah, aku tentu saja tau perkumpulan itu.” bisik bartender itu dengan suara sekecil mungkin.

“Lalu dimana mereka berada?” tanyaku terkejut. “Katanya sekarang mereka berada di kota Turin.” jawab bartender itu dengan penuh keyakinan. “Are you sure?” tanya kak Jeremy. Ia mengangguk seraya menyeringai kecil. “Thank you so much…” kata kak Jer seraya menarikku keluar dari bar itu. “Kau brilliant, kak Jer…!” pujiku senang. Ia tersenyum kecil. “Ayo, kita pergi ke Turin…!!!” teriak kita berdua seraya masuk ke mobil. Kak Jer menekan gas dan blusshh~~~ Mobil bergerak ke arah Turin.

-End Of Chapter One-

 

 

 

 

Advertisements

Comments on: "Story : ~Find My Twin In Italy~ (chapter one)" (2)

  1. ouh. . . bakalan action y? keren bgt tu td. i like it!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: