Full of inspiration and story

Jadi, semua cerita menyentuh itu, hanya bualannya? Dengan langkah yang masih terseok-seok karena sakit yang masih menjalar, aku berusaha berjalan kearah pesta kemenangan rakyat White Castle. Setelah melewati perjalanan menyakitkan, akhirnya aku bisa keluar dari bangunan tua itu dan masuk ke kerajaanku. Semua orang melihatku dengan pandangan terkejut.

“Baginda raja… Apa yang terjadi pada anda?” tanya semua rakyat. Tanpa menjawab pertanyaan mereka, aku berjalan tertatih-tatih ke depan panggung. Darahku yang menetes keluar dari pipi dan kaki kananku masih menetes membentuk jejak di lantai yang aku langkahi. Begitu sampai di depan panggung, aku mulai bicara.

“Bersiaplah untuk perang…! Pamanku belum mati. Dia ingin menghancurkan kerajaan ini sebentar lagi…!!!” teriakku lantang dengan nafas yang masih ngos-ngosan. Semua penjaga kerajaan dan rakyat mulai bubar untuk menyiapkan perang. Aku sendiri pun mengambil pedang dan panahku. “Anda harus diobati dulu, baginda…” kata seorang penasihat kerajaan.

“Tidak bisa, paman… Jangan khawatirkan aku. Aku harus memprioritaskan keselamatan kerajaan ini dulu!” jawabku tegas. Ia pun menunduk patuh. Entah mengapa, semua lukaku tidak merasakan sakit lagi. Mungkin semua rasa sakitku telah terselimuti oleh rasa semangat untuk menyelamatkan kerajaan yang susah payah dibangun oleh leluhurku.

Dengan percaya diri aku memulai pencarianku. Aku masih bingung dengan kekuatan ‘The Death Necklace’ itu. Jika ayah mengatakan bahwa kekuatan The Death Necklace itu lebih dari yang kubayangkan, apa yang terjadi jika paman mempunyai kalung itu sekarang?

JEDOOOORRR…!!!!

Suara yang sangat keras membuatku terkejut. Aku pun menoleh ke sumber suara. Ternyata, sebuah meteor telah jatuh menimpa beberapa rumah rakyat. Dengan sigap, aku langsung berlari kearah meteor itu. “Apakah ada yang terluka?!” tanyaku dengan setengah berteriak. “Tidak ada yang terluka, baginda…!” jawab seorang wanita. Aku pun bernafas lega dan kembali melanjutkan pencarianku.

Aku berlari hingga ke sebuah bukit. Diatas bukit itu, terlihat seseorang sedang berdiri tepat di puncak bukit itu. Namun, nampaknya ia tidak melihatku. Aku pun mendaki bukit itu. Beberapa lama kemudian, aku telah sampai di puncak bukit itu. Untungnya, ia masih belum melihatku. Dengan perlahan-lahan, aku mendekatinya. Di lehernya, tersemat sesuatu yang tidak asing bagiku. Ternyata, dengan kalung itulah, ia mendatangkan meteor besar itu.

Ya, di leher pamanku tersemat kalung The Death Necklace yang sekarang telah bercahaya. Dengan hati-hati, aku berusaha mencabut kalung itu dari leher pamanku. Tapi, tiba-tiba tangan pamanku memegang tanganku dengan keras. Aku berusaha melepasnya, namun genggaman pamanku lebih kencang dariku.

“Nampaknya memang aku harus membunuhmu dulu…!!! Kau selalu mencampuri urusanku…!” teriak pamanku seraya menyeringai kecil. Perlahan-lahan, ia mengambil pisau dari jubahnya dan bersiap-siap untuk menggoresnya tepat di leherku. Tapi, aku menendang kaki pamanku yang ada di sebelahku. Ia pun meringis kesakitan dan menjatuhkan pisaunya. Dengan sigap, aku mengambil kalung itu dan berlari menuruni bukit.

Paman yang mengetahui apa yang kulakukan, mengambil pisau itu lagi dan mengejarku dari belakang. Karena kaki pamanku yang jauh lebih panjang dari kakiku, ia pun mulai mendekat kearahku. Aku memakai kalung The Death Necklace yang ada di genggamanku. Berharap setelah memakainya, suatu muzijat akan datang dan menyelamatkanku.

Sekarang, tangannya telah berhasil menyentuh bahuku. Ia menarikku hingga membuatku terjatuh dan terseret. Di sebuah batang pohon, ia mengikatku dengan tali yang berada di jubahnya. Ia kembali menyeringai seram padaku. “Kau dan ayahmu sama, Kent… Kalian benar-benar membuatku kesusahan. Tapi, aku berhasil membunuh ayahmu… Dan, sekarang pun aku berhasil membunuhmu… Hahahaha…!” katanya senang.

“Ada permintaan terakhir…??” tanya pamanku dengan sorotan mata tajam. “Bebaskan aku…!” teriakku. Ia terkekeh pelan. “Maaf, permintaanmu tak bisa dipenuhi…” jawabnya seraya mengangkat pisau itu. Dalam hati aku terus mengucapkan mantra apa saja untuk membuat kalung The Death Necklace itu berfungsi dan bisa menyelamatkanku.

“La collana di morte, a me vedere il proprio potere…” gumamku pelan. Entah mengapa, aku ingin mengucapkan bahasa Italy itu yang artinya ‘Kalung kematian, tunjukan padaku kekuatanmu…’ Tapi, sesuatu terjadi. Tiba-tiba, paman yang hampir menusuk leherku, terjengkang ke belakang. Aku memekik kegirangan. Dengan cepat, aku menghampiri pamanku. Ternyata, ia pingsan! Aku langsung menyeretnya dan membawanya ke dalam kerajaan. Aku menaruhnya di sebuah sel yang berada di bawah tanah.

Aku menghampiri tubuhnya yang masih tak bergerak. Aku mengambil pisau yang ada di tangannya dan memandanginya. Pisau inilah yang telah beberapa kali membuat nyawaku terancam. Seketika, pikiranku penuh dengan amarah yang membuncah.

Orang di depanku ini adalah orang yang telah membuat ayah kesayanganku meninggal…

Membuatku terus tersiksa…

Membuat semua rakyatku tidak damai selama berpuluh-puluh tahun… 

Membuat kerajaanku hancur berkeping-keping…

Bunuhlah dia… Bunuhlah saja dia… Maka, semuanya akan kembali damai…

Aku pun memegang erat pisau tersebut dan mengarahkannya tepat ke jantung pamanku yang masih pingsan. Keringat mulai bercucuran dari setiap lekuk tubuhku. Detak nafasku memburu dan bersatu dengan suara detak jam dinding. Aku menutup mataku perlahan. Namun, sebuah suara dari hatiku membuatku lemas. Pisau yang kupegang terlepas dari genggamanku.

Suara itu memintaku tidak membunuh paman. Ya, suara itu adalah suara ayahku sendiri. Aku pun terduduk lemas. Air mata mulai jatuh ke pipiku. Membuat lukaku menimbulkan kenyerian yang menyesakkan. Namun, aku tak peduli akan hal itu. Aku menggenggam erat kalung The Death Necklace yang ada dileherku.

TBC

^%^%^%^%^%^%^%^%^%^%^%

I’m back……..!!!!!!!!!!!!!!!!!!

 

 

Advertisements

Comments on: "Story : ~The Death Necklace~ (part 4)" (2)

  1. wow, keren!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: