Full of inspiration and story

Halo semua…! Namaku Hataishi Ayume. Aku adalah orang Jepang asli yang berumur 31 tahun. Sekarang, aku bekerja di salah satu perusahaan asing di Tokyo, ibu kota Jepang, sebagai seorang manager. Aku adalah wanita single yang tinggal bersama ayah dan ibuku. Mungkin kalian bingung kan dengan kata ‘single’? Yah, diumurku yang telah menginjak 31 tahun ini, aku belum menikah.

Ayah dan ibuku telah lama menyuruhku untuk cepat-cepat pacaran bahkan menikah. Tapi, aku selalu menolaknya. Alasannya sederhana. Karena aku membenci laki-laki. Tentu saja, aku bukan penyuka sesama jenis atau yang lebih dikenal dengan lesbian. Aku tidak ingin pacaran atau menikah karena sebuah pengalaman pahit yang pernah kurasakan.

^^^^^^^^^^^^^^^

Aku ingin pergi ke rumah pacarku. Setelah membuka pintu yang ternyata tak dikunci, aku masuk ke rumahnya. Aku bisa mendengar sayup-sayup suara di sebuah ruangan. Karena penasaran, aku pun membukanya. Setelah membuka pintu itu, mataku mulai berair.

Pacarku sedang berciuman dengan seorang wanita yang sangat kukenal. Wanita yang telah aku kenal sejak TK. Sahabatku sendiri. Aku mematung tak percaya. Nampaknya, setelah melakukan ciuman panas itu, mereka sadar akan keberadaanku. “Yume…” kata mereka bersamaan.

“Yume, aku bisa jelaskan semuanya kepadamu. Please, jangan marah dulu ya?” kata pacarku memohon. Namun, aku tak menggrubisnya. Dengan air mata yang masih mengalir, aku menghampiri sahabatku. “Aku tak peduli dengan pacarku, Nami… Mungkin jika pacarku berselingkuh dengan wanita lain, aku takkan sesakit ini. Tapi, ini kau! Betapa teganya kau melakukan ini padaku! Aku benci padamu, Nami. Benci…!” teriakku seraya menamparnya.

“Rasa sakit yang kau alami setelah kutampar, jauh lebih kecil dari sakitnya hatiku… Selamat tinggal, Nami. Terima kasih kau telah bersedia menjadi sahabatku selama ini.” lanjutku lagi seraya pergi dari rumah pacarku. Aku berlari ke tempat yang cukup sepi, dan menangis sepuasnya disitu. Kini, yang bisa kulakukan hanya menangis dan menangis.

^^^^^^^^^^^^^^^

Aku menyiapkan perlengkapanku untuk pergi ke kantor. Setelah selesai, aku pergi ke ruang makan. Aku bisa melihat ayahku sedang membaca koran dan ibuku sedang mengoles roti. “Ohaiyo, otosan… Ohaiyo, okasan… (Selamat pagi, ayah… Selamat pagi, ibu)” sapaku riang seraya duduk dan mulai memakan rotiku. “Sudah punya pacar, Yume?” tanya ayahku yang membuatku tersedak. Aku langsung mengambil susu coklatku dan meminumnya. “Otosan…!?! Bisakah otosan tidak membicarakan itu? Aku bosan dengan pertanyaan otosan tau…” kataku sebal.

“Tapi, otosanmu benar, Ayume…! Kau sudah berumur 31 tahun! Mestinya kau sudah menikah… Kau tidak mau kan jadi perawan tua selamanya?” kata ibu dilanjutkan dengan anggukan setuju ayah. “Huh~ Aku mengerti okasan… Aku pergi dulu ya. Nanti bisa telat. Mata ne, otosan! Mata ne, okasan! (Sampai jumpa, ayah! Sampai jumpa, ibu!)” teriakku seraya mengambil tas dan berangkat ke kantor.

Setelah sampai kantor, aku berjalan ke ruanganku dan mulai bekerja. Tiba-tiba, seseorang mengetok pintu. “Hairu… (Masuk…)” jawabku sopan. Ternyata, yang mengetok pintu adalah direktur perusahaan ini. Aku pun langsung menunduk sopan. “Bisa minta tolong, Ayume…? Keponakanku akan pulang dari Kanada siang ini, tapi aku tidak bisa menjemputnya di bandara. Kamu yang jemput ya?” pinta direktur yang lumayan tampan itu.

“Hai (Iya)… Bagaimana ciri-cirinya?” tanyaku tak bisa menolak. “Namanya Hiroishi Kenkyo. Umurnya 17 tahun. Tingginya sekitar 180 cm. Arigato gosaimasu…” jelas direktur seraya tersenyum riang. Dengan malas-malasan, aku pun mengambil mobilku dan menuju ke bandara. Kalau tidak karena dia adalah direktur, mungkin aku tidak mau menjemput keponakannya. Aku kan benci sama yang namanya laki-laki dan anak-anak. Dan sekarang, aku harus menjemput ‘anak laki-laki’? Huh~

Begitu sampai di bandara, aku mencari-carinya. Setelah lama mencari, akhirnya aku menemukannya. Ia memakai kaca mata hitam dan jaket biru trendi. Celananya bewarna merah tua yang ketat dan sepatunya bewarna putih. Di telinganya terpasang headset yang membuatnya kelihatan keren. Rambutnya bewarna coklat tua dan ia menarik sebuah koper yang bewarna hitam. Penampilannya benar-benar seperti anak muda. Membuatku muak.

“Halo… Apakah kau yang namanya Hiroishi Kenkyo?” tanyaku berusaha sopan. “Who are you?” tanyanya ketus dengan bahasa inggris yang sangat fasih. Aku menarik nafasku dalam-dalam, mencoba berusaha menahan amarah. “Konichiwa… Watashi wa Hataishi Ayume desu (Selamat siang… Namaku Hataishi Ayume). Aku disuruh oleh pamanmu untuk menjemputmu disini…” jelasku masih berusaha sopan.

Tanpa menanggapiku, ia berjalan menuju mobil yang aku tunjuk. Di perjalanan, aku dan dia hanya diam tanpa berbicara sedikit pun. Ia duduk di belakang dan memainkan psp-nya dengan santai. Sedangkan aku duduk di depan dan menyetir dengan serius. “Bibi Ayume…” panggilnya yang membuatku geram. “Apa kau bilang?! Bibi…!!!??? Aku tak setua itu tau…!” teriakku kesal. “Dasar bibi cerewet…! Udah tua masih gak mau ngaku lagi… Bweee~~~” ledeknya seraya memeletkan lidahnya.

“Dasar anak kurang ajar…! Kenapa kau memanggilku, hah…!!??” teriakku tak mau kalah. “Bibi sudah punya anak?” tanyanya polos. “Hah? HAHAHAHA…! Itu tidak mungkin, bocah kecil…” jawabku seraya tertawa. “Kenapa tidak mungkin?” tanyanya lagi. “Aku saja belum punya suami… Bahkan, pacar saja belum…” jawabku jujur. “Hah? Bibi belum punya suami? Pacar juga belum? Bibi perawan tua dong…?!” tanyanya yang setengah meledek.

“APA KATAMU…!? Aku paling tak suka ada yang meledekku ‘PERAWAN TUA’…! Dasar bocah tengik…!!! Mau mati ya…??” teriakku kesal setengah mati. Ia hanya bisa tertawa terbahak-bahak menanggapi teriakanku. Setelah beberapa menit kemudian, kita telah sampai di kantor. Dengan cuek aku melangkah ke ruangan direktur tanpa memandangi anak kurang ajar itu. Ia hanya mengikutiku seraya menengok ke kanan dan kiri.

Aku mengetuk pintu direktur dan langsung dibalas dengan perintahnya untuk membuka pintu. Aku pun membuka pintunya dan masuk ke ruangan. “Ini keponakan anda, Pak Direktur…” kataku dengan lunglai. “Arigato gosaimasu, Ayume…! Bagaimana perjalananmu, Kenkyo…?” kata direktur seraya memeluk Kenkyo. “Er~ Saya pergi dulu ya…” kataku seraya menunduk kecil dan kembali ke ruangan.

Di ruangan, pikiranku melayang. ‘Anak itu walaupun nakal tapi lucu juga…’ batinku seraya tersenyum sendiri. Tapi, aku sadar dan memukul kepalaku sendiri. ‘Apa yang kubilang tadi…!!?? Masa aku mengatakan dia lucu…!!! Ihhhh…..! Kau bodoh, Ayume…! Bodoh!!!’ gumamku sendiri. Setelah hari mulai sore, aku pun pulang ke rumah. Saat sedang berjalan menuju tempat parkir, aku melihat seseorang sedang memandang langit.

Seseorang itu menyender pada bangunan di sebelahnya dengan pandangan terarah pada langit. Aku yang penasaran pun melangkah mendekatinya. “Permisi…” kataku sopan seraya memegang pundaknya halus. Ia pun menengok dan memperlihatkan mukanya. “Kenkyo…!!!???” teriakku kaget. Pandangan matanya sangat sayu sekarang. Matanya sembap seperti habis menangis. Ia hanya memandangku sebentar lalu kembali memandangi langit.

“Kenapa kau menangis?” tanyaku lembut seraya membelai rambutnya halus. “Bibi tau kenapa aku pulang ke Jepang?” tanyanya yang dibalas gelengan dariku. “Orang tuaku meninggal… Otosan meninggal 5 hari yang lalu saat sedang mengendarai mobil ke rumah. Sementara okasan yang mendengar berita menyakitkan itu, mengalami sakit jantung dan meninggal sehari kemudian di rumah sakit.” jelasnya dengan pandangan masih menghadap langit.

Aku pun terlonjak kaget. Jadi ini sebabnya mengapa ia sangat ketus denganku. “Aku hampir ingin bunuh diri saat mengetahui berita ini. Tapi, paman menyuruhku untuk kembali ke Jepang dan tinggal dengannya… Rasanya, sakit… Sangat sakit… Aku yatim piatu sekarang, bi…” lanjutnya setengah berteriak.

Aku pun memeluknya lembut. “Kalau kau ingin menangis, menangislah… Jangan ditahan seperti itu.” kataku seraya tersenyum manis. Ia pun mulai menangis dengan tersedu-sedu. Aku hanya bisa memeluknya dengan hangat. Tak sadar, air mataku juga ikut turun. Meskipun, aku belum pernah kehilangan orang tuaku, tapi rasanya pasti sangat sakit kehilangan orang tua yang biasanya menjadi pelindung kita. Apalagi di umur yang semuda itu.

Setekah tenang, aku mengantarnya pulang ke rumah yang kutau juga rumah direktur perusahaanku. Setelah beberapa lama, akhirnya aku sampai ke rumahnya. “Kenkyo, sudah sam-” kataku yang terpotong. Ternyata, ia telah tertidur. Wajahnya benar-benar polos. Membuatku ingin memandanginya terus-terusan.

Dengan berat hati, aku membangunkannya. Karena dia tidak bangun juga, aku mendekatkan wajahku ke wajahnya dan meneriakinya keras-keras. Ia pun langsung kaget dan bangun. Karena ia bangun dan wajahku yang masih dalam radius dekat dengan wajahnya, bibir kita bersentuhan selama beberapa detik. Setelah sadar, aku pun memalingkan mukaku dengan gugup. Bisa kurasakan pipiku panas merona. Begitupun dengannya. Pipinya merah dan ekspresi mukanya menjadi gugup. Jantungku berdegup sangat keras. Ada apa denganku ya?

TBC~

Advertisements

Comments on: "Story : 31=17 (???) Part 1" (4)

  1. hahaha. . . cinta bersemi nantinya. . . hahaha. . . eh death neacklenya gmn? masih buntu kh? sayang sekali. ayo cpt lanjutin! aku penasaran. hmm. . .bahasa jepangnya lumayan juga. kutunggu cerita selanjutnya.

  2. pedofil =,=

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: