Full of inspiration and story

Aku membuka mataku perlahan. Secercah sinar membuat mataku silau. Ini kan di kamarku. Tapi, bukannya aku ada di pinggir sungai itu? Kenapa sekarang aku disini? Aku mengucek mataku dengan pelan. Namun, pandangan mataku terhenti. Seseorang yang amat kukenal tertidur di kursi samping tempat tidurku. Wajahnya yang manis, menjadi sangat polos ketika sedang tertidur.

Tak sadar, aku terus memandanginya dengan lekat. Perlahan-lahan, aku mengelus rambut abu-abunya. Air mata telah menyembul dari pelupuk mataku. Sangat sakit rasanya. Tiba-tiba, ia terbangun. Aku pun langsung pura-pura tidur. Namun, aku mengintip kecil.

Bisa kulihat sosoknya yang jangkung sedang memandangku dalam. Tangannya memegang keningku lembut. “Kau sudah tidak demam lagi rupanya…” gumamnya pelan seraya tersenyum kecil. Wajahnya mendekat kearah wajahku. Semakin lama semakin dekat.

Bibirnya mencium keningku hangat. Ingin rasanya aku mendorongnya, tetapi entah mengapa, aku malah menikmati ciumannya. “I love you, Claudy…” katanya lembut. ‘Apa…?? Cleo mencintaiku? Bohong…!!! Jika dia memang mencintaiku, mana mungkin ia memeluk wanita lain… Ya, dia bohong…!!!’ batinku kesal.

Setelah itu, ia keluar dari kamarku. Kudengar suara percakapannya dengan ibuku. Ternyata, ia ingin pulang sekarang. Tak lama kemudian, ibu masuk ke kamarku. “Kamu sudah sadar, Claudy??” tanya ibuku seraya memegang keningku. “Siapa yang membawaku kesini, bu?” tanyaku yang memang sangat penasaran. “Cleo… Dia melihatmu terjatuh di pinggir sungai. Jadi dia menggendong kamu dalam keadaan basah kuyup…” tanya ibuku lagi.

“Cleo…?? Dia yang membawaku kesini?” tanyaku kaget. Ibuku hanya mengangguk pelan. Aku pun langsung mengambil jaket dan keluar kamarku. Ibu memanggilku dengan keras, namun aku tak menanggapinya. Aku langsung berlari mengejar Cleo yang ternyata masih belum masuk ke rumahnya.

“Cleo…!” panggilku dengan keras. “Claudy…? Kamu sudah sadar? Kamu kan masih sakit, kenapa ada disini?” tanya Cleo dengan lembut. “Cleo, kenapa sih kamu selalu mengkhawatirkanku?” tanyaku dingin. “I-itu karena aku mencintaimu…” jawabnya pelan.

“Mencintaiku? Terus siapa wanita yang  dipelukmu kemarin, hah…!!??!!” teriakku kesal. “Perempuan? Maksudmu Clena? Dia adikku, Claudy…! Ketika aku tinggal di Jerman, ibuku mengandung… Clena itu adikku satu-satunya.” jelasnya yang membuat hatiku mencelos. “Ta-tapi, kenapa kau berpelukan dengannya?” tanyaku mulai gelagapan. “Ia masuk ke universitas yang cukup terkenal disini… Ia terlalu senang, jadi ia memelukku…” jelasnya lagi.

Sekarang, perasaanku tercampur antara lega dan malu. “Benarkah? Maafkan aku, Cleo… Aku benar-benar tak ber-” kataku yang terpotong. Telunjuknya menyentuh bibirku lembut. “Aku paham kok… Tapi kalau kau cemburu, artinya kau cinta padaku juga kan?” tanyanya riang. Pipinya dan pipiku telah berubah merah sekarang.

“Tidak…” jawabku dingin. Seketika ekspresi wajahnya yang riang berubah menjadi pucat. Aku menahan tawaku yang hampir meledak. “Mak-maksudmu?” tanyanya dengan mata berkaca-kaca. “Tidak… Tidak salah lagi…” jawabku seraya menciumnya lembut dan berlari kabur. “Hya~~~ Kau membuatku hampir mati tau…!!! Sini kau…!” teriaknya seraya mengejarku.

Karena kakinya yang jauh lebih panjang dariku, dengan mudahnya ia menangkapku. Ia memegang tanganku dengan keras. “Tapi, aku akan kembali ke Jerman dua minggu lagi…” jelasnya yang membuatku kaget. “Ke Jerman?” tanyaku. Mataku telah berkaca-kaca sekarang. Ia tidak menjawabku, namun ia memelukku lembut.

“Kapan kau akan kembali?” tanyaku menahan tangis. “Mungkin empat atau lima tahun lagi.. Atau tidak akan kembali lagi. Maka, kita sudahi saja semua ini…!” jawabnya tegas. Hatiku terasa diremukkan. Air mata telah turun secara sempurna dari wajahku. Tiba-tiba, ia tertawa terbahak-bahak. “Kau kenapa?” tanyaku bingung. “Skor menjadi 1-0…!!! Kau pikir kau saja yang bisa mengerjaiku…!” katanya seraya masih tertawa. Aku pun memukulnya dengan kesal. Ia hanya menghindari pukulanku seraya masih terus tertawa.

%%%%%%%%%%%%%%%%

(5 tahun kemudian)

“Ibu…!!!” teriak anakku kepadaku. “Ada apa sayang?” tanyaku seraya mengelus rambut anakku lembut. “Ayah pingsan di halaman…!!!” teriak anakku panik. Aku pun kaget dan langsung pergi ke halaman. Mataku mulai mengeluarkan air mata. Aku bisa melihat sesosok laki-laki terbaring di lantai.

“Cleo…! Cleo…!” panggilku seraya menangis tersedu-sedu. “Kau ini… Cengeng sekali sih… Bahkan anak kita saja tak secengeng kau.” katanya seraya bangun dan memelukku lembut. “Kau mengerjaiku lagi ya??!!” teriakku kesal. Ia pun langsung tersenyum jail seraya memeluk anak kita dengan lembut.

Tangannya yang lembut menarik tanganku ke ruang makan. Ternyata, ruang makan telah tersulap menjadi seperti restoran mewah. Aku pun memeluknya lembut. Meja makan telah penuh dengan lilin-lilin yang tertata rapi. “Terima kasih sayangku…” bisikku tepat ke telinganya. Ia pun mencium bibirku lembut. “Ayah… Ibu… Kalian sedang apa??” tanya anakku polos. Aku dan Cleo pun langsung tertawa dan memeluk malaikat kecil kita.

THE END

Advertisements

Comments on: "Story : ~Ice Cream Is Our Witness Of Love~ (part 3) Last Part" (1)

  1. wow! happy ending. keren. lucu bgt crtnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: