Full of inspiration and story

Archive for July, 2010

Story : 31=17 (???) Part 4

Entah kenapa, ia mengingatkanku pada mantan pacarku yang kurang ajar itu. Ia memelukku dengan lembut dan menghapus air mataku. “Jadi bagaimana jawabanmu?” tanyanya tak sabar. Aku pun ingin menjawabnya, namun sesuatu menahanku untuk mengatakannya. Sebuah truk hitam menerjang kearah kita sekarang. Dengan cepat, Kenkyo menarikku dan memelukku erat. Seakan ingin melindungiku. Dan… BRUAKKK…………..!!!

@*@*@*@*@*@*@*

Aku membuka mata perlahan. Badanku terasa sangat sakit sekarang. “Dimana ini? Dimana Kenkyo…?” tanyaku dengan suara masih parau. “Sekarang dia ada di kamar sebelah anda.” kata seorang dokter dengan senyumannya. Aku pun mengelus dada lega. “Bolehkah aku ke kamarnya?” tanyaku dengan muka memelas. Dokter itu pun mengangguk pasrah.

Dengan kursi roda, aku pergi ke kamar disebelahku. Aku bisa melihat seseorang dengan alat bantu pernafasan sedang terbaring kaku. Aku pun menutup mulutku dengan telapak tanganku. Air mataku terjatuh. Ya, aku menangis. Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa ini terjadi disaat dia mengucapkan ‘aku cinta padamu’?

“Kenkyo…” panggilku seraya memegang tangannya. “Aishiteru…” bisikku di telinganya. Yah, aku mencintainya. Aku tidak tau kapan rasa ini tercipta, namun aku mencintainya. Sangat mencintainya. “Apakah kau bisa mendengarku? Aishiteru, Kenkyo…!!! Kau tidak memelukku??” tanyaku seraya menggoncang-goncangkan tubuhnya. Namun, apa daya. Ia tetap diam.

Aku pun menangis. Tak sadar, air mataku terjatuh tepat keatas matanya, sehingga membuatnya nampak menangis. Mata polosnya terbuka dengan pelan namun pasti. Aku langsung menghapus air mataku dan tersenyum penuh kegirangan. “Kau sadar…?” tanyaku seraya memeluknya erat. “Sakit tau, bibi Ayume…!” teriaknya seraya mengerucutkan mulutnya.

“Oh ya, maaf…” kataku salah tingkah seraya melepas pelukannya. “Aku cuma bercanda, bi… Kau itu sensitif banget ya.” gumamnya seraya membelai rambutku lembut. Aku pun menjitak kepalanya dengan keras. “Kau itu yang sensitif…!!!” teriakku dengan kesal. Ia langsung meringis kesakitan. “Oh ya, tadi bibi ngomong apa saat aku tak sadarkan diri?” tanyanya dengan menyelidik. “Tidak… Aku tidak bicara apa-apa.” jawabku berbohong.

“Bohong…” katanya secara tegas. “Aku mendengarnya. Kau mengatakan ‘aishiteru’ kan? Ayo jawab…” ledeknya seraya tersenyum jail. Pipiku berubah merah seketika. “Tuh ya kan…!” teriaknya seraya tersenyum makin lebar. Aku pun malu setengah mati dan pergi meninggalkannya. Namun, ia menarik tanganku hingga wajah kita hanya berjarak 3 cm.

Aku bisa merasakan nafas hangatnya yang mengenai wajahku lembut. Entah mendapat instruksi dari mana, aku menutup mataku. Ia pun menempelkan bibir kecilnya pada bibirku. Lembut. Dan…hangat. Hanya itu yang bisa kudeskripsikan. Aku ingin waktu berhenti berputar sekarang. Berhenti hingga kita bisa melakukan hal ini selamanya. Suara pintu terbuka dan dokter pun masuk.

Secara terpaksa, aku dan Kenkyo pun melepas ciuman kita. Sedikit kesal, tapi mau bagaimana lagi. Dokter pun memeriksa Kenkyo dan setelah selesai, dokter itu pergi dan menyisakan kita berdua. Sekarang, aku dan Kenkyo malah diam dan canggung. “M-mmm, bibi Ayume…” panggil Kenkyo. “Iya, Kyo…?” tanyaku dengan canggung. “Bisa kita lanjutkan yang tadi?” tanyanya ragu-ragu. Aku meneguk ludah perlahan. “Boleh…”

$*$*$*$*$*$*$**$*$*$*

Hari-hari terus berlalu. Hari ini Kenkyo boleh pulang dari rumah sakit. Aku pun menemaninya hingga ke rumah direkturku. “Sampai jumpa, sayangku…” katanya yang membuatku tersentuh. “Sampai jumpa, juga…sayangku.” jawabku dengan canggung. Sudah beberapa tahun lamanya, aku tidak dipanggil ‘sayang’? Dan sekarang, yang memanggilku adalah anak lelaki yang berbeda 14 tahun dariku?

Rasanya sedikit aneh bagiku. Kulihat sosok wajahnya yang polos dan manis tersenyum dan melambai sebelum akhirnya masuk ke rumah. Oh, tidak… Senyuman manisnya semakin membuatku merasa aneh. Tuhan, apakah anak ini pantas untukku? Ia memiliki wajah yang tampan, manis, dan imut. Tubuhnya tinggi dan berat badannya sangat ideal. Ditambah dengan tingkah lakunya yang bagai malaikat. Apakah dia cocok untuk orang sepertiku?

Aku hanya seorang wanita berumur 31 tahun yang bisa dibilang perawan tua. Wajahku bisa dibilang standart dan aku tidak terlalu tinggi. Tidak ada yang bisa dibanggakan dariku. Apakah aku pantas untuknya? Suara ponselku berbunyi dan aku pun melihatnya. Ternyata, pesan singkat dari Kenkyo. Aku pun membukanya.

From : Kenkyo My Love

Besok aku tunggu di depan kantor jam 14.00 ya?
Aishiteru, Ayume-chan~~~

@%$@$@$@$@$@$@$@$

Dengan kemeja putih santai dan celana panjang hitam, aku menunggu di depan kantor. Tak lama kemudian, sebuah mobil bewarna biru gelap datang dan keluarlah seorang pria yang aku tau adalah Kenkyo. Ia memakai kaos, cardigan, celana panjang, dan sepatu putih. Dengan topi yang juga putih dan kaca mata hitam, ia melambai dan menggengam tanganku erat.

Ia memasukanku ke mobil dan mulai menyetir. Parasnya sekarang nampak seperti malaikat yang turun dari surga. Sangat manis dan tampan. Ia memandangku sebentar dan langsung bergegas menyetir. “Kita mau kemana?” tanyaku dengan penasaran. “Just wacth it…” jawabnya dengan seringai yang menambah kemanisannya. Mobil berhenti di sebuah mall besar dan mewah. “Kita ke mall…?” tanyaku dengan bingung.

Ia tidak menjawab, namun ia memegang tanganku erat dan mengajakku masuk ke mall. Banyak orang yang memandang kita dengan pandangan aneh. Ya, aku tidak kaget jika mereka melihat kita dengan pandangan aneh. Seorang pangeran menggengam tangan seorang itik buruk rupa? Pasti sangat aneh kan?

Ia memilih baju dan kemudian memberikannya untukku. “Cobalah ini.” katanya singkat. Aku pun mengangguk dan mulai mengganti bajuku di ruang ganti. Setelah selesai, aku keluar dan memperlihatkannya kepada Kenkyo. “Wow… Kau sangat cantik, Yume-chan.” katanya dengan ekspresi imutnya. Aku melihat bayanganku di kaca. Aku sekarang memakai kaos merah muda dengan rok pendek bewarna putih.

Walaupun, penampilanku sangat trendi sekarang, namun pakaian ini benar-benar tidak cocok untuk bibi-bibi sepertiku. “Kau yakin aku pantas memakai ini?” tanyaku ragu-ragu. Ia langsung tersenyum kecil dan memelukku erat. “Tentu saja… Kau nampak seperti bidadari, Yume-chan.” katanya dibalas dengan pandangan aneh semua pengunjung.

Aku pun langsung melepas pelukannya. “Kenapa, Yume-chan…?” tanyanya tak sadar. “Aku takut kau malu.” jawabku jujur. “Malu? Malu kenapa?” tanyanya dengan senyumannya. “Aku tua dan tidak pantas untukmu, Kyo…!!! Kau terlalu bersinar untukku. Kau terlalu hebat untukku. Kau seperti pangeran berkuda putih…! Sedangkan aku…aku seperti itik buruk rupa…! Kita bagaikan langit dan bumi…!!! Aku tak pantas. Aku tak pantas untukmu…!!!” teriakku seraya pergi meninggalkannya. Mungkin aku memang egois. Tapi, ini jalan terbaik. Aku tidak pantas untuknya. Aku pun menulis pesan singkat untuknya.

To : Kenkyo My Love

Maafkan aku, Kyo…
Aku tidak bisa bersamamu.
Aku tidak pantas untukmu.
Semoga kau mendapat jodoh yang lebih baik dariku.
Jodoh yang lebih pantas untukmu.
Arigato untuk semuanya… ^^

Aku menekan tombol ‘send’ dan menutup ponselku. Biarkan cinta kita menjadi kenangan indah. Kenangan yang selamanya takkan bisa kuwujudkan. Terima kasih untuk kebahagiaan yang setidaknya telah kau berikan untukku… Semoga pasanganmu nanti lebih cantik, lebih baik, dan lebih pantas dariku. Selamat tinggal, Kyo…!

$%$%$%$%$%$%$%$%$%

Aku memegang erat koperku. ‘Perhatian… Perhatian… Bagi semua calon penumpang penerbangan ke Kanada, silahkan masuk ke pesawat sekarang…’ pengumuman penerbangan sudah diumumkan. Aku pun mulai pergi ke pesawat. Sejenak sebelum melangkahkan kaki ke pesawat, aku menengok ke belakang. ‘Selamat tinggal Jepang… Selamat tinggal Kyo… Aishiteru.” gumamku pelan sebelum akhirnya pergi.

TBC ^^

Story : ~Mistery Of Phone~

Malam ini adalah malam yang melelahkan bagiku. Dengan lunglai, aku merebahkan tubuhku ke kasur. Huh, akhirnya aku istirahat juga. Suara telepon membuatku kaget dan aku pun mendengus kesal. Siapa sih yang meneleponku? Aku langsung mengambil ponsel yang aku masukan ke dalam tas pagi ini. Aku melihat siapa yang menelepon.

XXX Calling…

“Halo…” sapaku dengan malas-malasan. Namun, tak ada jawaban. Aku menghela nafasku. “Halo…” ulangku lagi dengan suara yang lebih besar. Namun, tetap tidak ada jawaban. Dengan amarah, aku pun menutup ponselku dan menaruhnya di meja yang terletak tak jauh dari kasur. “Huh, dasar iseng…!” umpatku seraya kembali tidur. Suara telepon kembali terdengar masuk ke telingaku. Aku kembali bangun dan mengambil ponselku. Aku kembali melihat siapa yang menelepon.

XXX Calling…

Aku pun mengangkat teleponnya. “Halo…” sapaku lewat telepon dengan sopan. Namun, seperti tadi, tidak ada yang menjawabnya. Aku yang sudah kesal dengan semua ini langsung membentaknya. “HEI KAU…!!! Sebaiknya jangan meneleponku dan mengangguku lagi ya…!” teriakku seraya menutup ponselku dan menaruhnya dengan kasar kearah meja tadi.

Siapa ya yang meneleponku tadi? Ah, sudahlah. Mungkin hanya anti fans yang sebal denganku. Sudah biasa kan sebagai aktor terkenal sepertiku  mempunyai fans maupun anti fans? Syuting seharian yang kulakukan membuatku sangat lelah hari ini. Sebaiknya, aku kembali tidur. Sedang enak-enaknya tidur, aku langsung terbangun kembali oleh suara ponselku. Aku langsung mengangkatnya dan marah-marah.

“Kau sudah gila ya?? Tak cukupkah bagimu untuk mengangguku…?” tanyaku dengan kasar. “Halo, ini Kyo kan?” tanya sebuah suara yang membuatku terkejut. Aku pun langsung melihat ke layar ponselku siapa yang menelepon. Ternyata, managerku bukan XXX itu! “Maaf, manager… Aku tidak melihat siapa yang menelepon…” jelasku dengan penyesalan.

Esoknya, saat menjelang tengah malam, aku kembali ke rumah mewahku dan masuk ke kamar. Suara ponselku kembali berbunyi. Sial…! Ternyata XXX itu lagi. Sebenarnya apa sih maunya? Dengan amarah yang sudah membuncah, aku mematikan ponselku dan kembali melakukan pekerjaanku untuk menandatangani surat-surat fans. Sebelum suara ponselku berbunyi lagi.

Aneh…! Kan ponselnya sudah aku matikan, tapi kenapa masih berbunyi ya? Pikiranku sudah tak tenang sekarang. Perasaan marah, takut, dan ragu sudah menguasai otakku. Siapa sih sebenarnya dia? Aku langsung membuka batere ponselku dan menggumam pelan. “Semoga cara ini berhasil…” gumamku seraya melempar batere ponselku ke kasur dan memisahkannya dari ponselku.

Suara ponselku kembali berbunyi. Keringat mulai bercucuran dari seluruh tubuhku. Aku langsung membanting ponselku dengan keras kearah lantai. Membuatnya hancur berkeping-keping. Namun, suara ponselku kembali berbunyi. Bahkan, sekarang menjadi jauh lebih nyaring dan besar.

Aku meneguk ludah perlahan. Dengan cepat, aku keluar kamar dan keluar dari rumahku. Aku langsung pergi menaikki mobil Range Rover-ku dan mengemudi ke rumah sahabat terdekatku. Jantungku berdegup keras sekarang. Bulu kudukku sudah merinding sempurna. Suara ponselku kembali berbunyi. Membuatku terkejut setengah mati dan menabrak pohon di depanku.

“Ouch…” ringisku seraya menyentuh darah yang terbentuk di pelipisku. Suara ponsel kembali berbunyi. Membuatku sangat gelisah dan kaget. Tiba-tiba, di sebelah tempat dudukku, aku melihat ponselku kembali menyala dengan utuh. “Bukannya tadi sudah kuhancurkan?” tanyaku seraya berteriak kaget. Dengan cepat, aku berlari keluar dari mobil hingga ke sebuah pondok.

Suara ponselku itu masih berbunyi dengan jelas. Membuatku lebih gelisah. Aku masuk ke dalam pondok itu dan kembali keluar saat tau ponsel itu telah berada di pondok. Apa yang harus kulakukan? Darah masih menetes dari pelipis dan lututku karena beberapa kali terjatuh. Aku berlari hingga ke sebuah sungai. Dengan sekali hentakan, aku membuang ponsel itu ke sungai.

Namun, ponselku malah melayang-layang dengan bunyi khasnya. Aku membulatkan mulutku saat melihatnya. Sebuah ponsel…melayang? Kini ponsel itu membekapku dengan erat sehingga membuatku sesak nafas. Aku pun terjatuh dan meringis kesakitan. Dengan sekuat tenaga, aku melepas ponsel ini dari leherku. Namun, usahaku gagal. Nafas sudah perlahan hilang dari paru-paruku. Dengan sekali hentakan, aku melempar ponsel itu kearah sungai dengan keras. Aku pun bernafas lega dan pingsan di tempat.

$*$*$$**$*$*$*$*$*$*$*

Aku membuka mata perlahan. Sinar kamera membuatku silau. Ternyata, aku berada di rumah sakit sekarang.Wartawan sedang menanyaiku sebabnya aku bisa pingsan di tepi sungai itu.

Managerku membawa para wartawan keluar kamar. Kemudian, ia kembali. “Istirahatlah… Aku akan membelikanmu makanan.” gumam managerku. Aku pun mengangguk. Ah, akhirnya semua ini berakhir.

Tit-lit-tit-lit…

Suara ponsel membuatku tersentak.

“HUAAAAAAAAAA……………………………!!!!”

THE END

Ini pertama kali aku bikin cerita horror, jadi selamat membaca…!
Dan, maaf ceritanya belum seram, itu karena aku sendiri juga takut…!!!

^^


Story : ~Find My Twin In Italy~ (chapter three)

Chapter Three ~At Least I’ve Meet Him~

Perjalanan panjang melewati berbagai kota akhirnya membuahkan hasil. Yah, kita sudah sampai di Venecia, kota cinta. Aku menoleh ke kanan dan kiri. Arsitektur di Venecia memang sangat romantis dan memberikan aura cinta kepada hati setiap orang. Mungkin kalau bukan karena kak Jeremy lelaki, aku sudah memeluk dan menciumnya sekarang. Rasanya iri melihat wisatawan yang biasanya datang berpasangan sedang bermesraan di kota cinta ini.

Aku melihat kearah kak Jeremy. Bola mata biru safirnya menatap lekat seluruh pemandangan yang ada di depannya. “Bisakah jauhkan pandangan matamu itu? Kau membuatku tak bisa konsentrasi menyetir tau…” katanya dengan mata tetap pada arah jalan. “Kita mau kemana, kak…?” tanyaku penasaran karena kita mulai memasuki gang-gang kecil.

Ia tidak menjawab, namun matanya memberi isyarat seperti mengatakan lihat-saja-nanti. Aku pun duduk diam dan kembali ke pikiranku. Tak lama kemudian, mobil berhenti dan aku yang sedang larut dalam pikiranku pun menengok kearah luar jendela mobil. “Dimana ini?” tanyaku bingung. “Perkumpulan Red Eyes kabarnya berpusat di tempat ini…” kata kak Jer seraya mulai keluar dari mobil. Aku pun mengikutinya keluar seraya masih menengok ke kanan dan kiri.

Sejauh pandanganku, hanya kegelapan yang bisa aku lihat. Kak Jer mulai masuk melalui celah gang kecil yang tidak bisa dilalui mobil. Aku pun mengikutinya dalam kesunyian. Setelah cukup lama berjalan, akhirnya aku bisa melihat sesuatu. Sebuah cahaya yang sangat terang. Aku dan kak Jer mengintip lewat cahaya itu. Nampak, beberapa orang yang aku yakin adalah anggota Red Eyes sedang berkumpul di tempat itu.

Diantara orang yang berkumpul itu, aku bisa melihat seseorang dengan bola mata abu-abu dan rambut coklat kemerahannya. Persis seperti aku. Hanya saja penampilannya jauh lebih kusut dariku. “Di-dia…” tunjuk kak Jeremy ke saudara kembarku, Hadden. Aku mengangguk pelan menanggapi kata-katanya. “APA YANG KALIAN LAKUKAN DISANA, HAH…!!!” teriak seseorang dari belakang yang membuat kita kaget dan terjungkang jatuh.

%^%^%^%^%^%^%^%^%^

Ruangan ini sangat gelap dan lembap. Berada disini membuat nafasku sesak. Aku melihat ke sebelahku. Tampak sosok seseorang yang lebih tinggi dan lebih tua setahun dariku sedang tertidur. Tidak, dia tidak tertidur. Dia pingsan. Ya, kak Jeremy pingsan. Aku mengalihkan pandanganku ke orang di depanku. Aku meneguk ludah dengan tercekat. “Hadden…?” panggilku ragu-ragu kepada orang yang tepat didepanku.

Ia menundukkan kepalanya hingga aku bisa melihat wajahnya secara keseluruhan. “Cih, kita benar-benar mirip…” gumamnya seraya melihat wajahku secara seksama. “Hadden… Ayo kita pulang! Kakek sedang menunggumu di rumah.” ajakku seraya berusaha tersenyum. Ia meludah kearah samping. “Dasar tidak berguna…!” umpatnya kasar. “Kau pikir aku mau ikut dengan pecundang sepertimu…!!!” lanjutnya lagi dengan penuh amarah.

“Apa maksudmu? Hachie rela pergi bolak-balik ke banyak kota yang berbeda kau pikir untuk apa??!! Tentu saja untuk mencarimu, menemuimu, dan mengajakmu pulang…! Tapi, apa balasanmu sekarang?? Kau malah meneriakinya seperti itu…!!! Kau tidak punya hati nurani apa??” teriak kak Jeremy yang nampaknya sudah sadar. “Tidak usah ikut campur, bodoh…!” teriak Hadden kepada kak Jer seraya memukul perutnya dengan keras.

Kak Jeremy pun mengaduh kesakitan seraya memegang perutnya. Maklum, ia adalah anak orang kaya dan tak ada seorang pun yang berani menyentuhnya. Dan sekarang, tiba-tiba ia harus dipukul dengan kerasnya. Aku langsung memapah kak Jeremy dan menolongnya. “Kakak tidak apa-apa?” tanyaku khawatir. Ia menggeleng pelan seraya mengelap darah yang ada di sisi mulutnya akibat pukulan tadi.

Aku pun menggeram. “Apa yang kau lakukan padanya??!! Dia tidak ada hubungannya dengan masalah kita tau…!!!” teriakku kepadanya. Entah kenapa, aku mendapat keberanian darimana saat ini. Ia memandangku seakan ingin menelanku hidup-hidup. Tak lama, ia mendekatiku dengan tatapan mautnya. Aku hanya bisa pasrah. Apa yang akan dia lakukan kepadaku?

“Hadden, biarkan mereka sendiri…! Kemarilah, dan jangan buang-buang waktu meladeni mereka…!!!” teriak seseorang dibalas dengan anggukan Hadden. Ia pun keluar dan menyisakan kita berdua di tempat ini. “Maaf kak Jer…” kataku pelan seraya mengelap darahnya. Ia memandangku sejenak. “Untuk apa…?” tanyanya bingung. “Karena aku, kau harus ikut tersiksa disini. Seharusnya, kau berada di Paris atau London sekarang dan menikmati liburanmu dengan nyaman dan aman.” kataku seraya menundukkan kepala.

“Tentu tidak, Hachie… Ini keputusanku kan? Sejak aku melangkahkan kakiku dari rumahku, ini semua tanggung jawabku. Jadi, jangan khawatir, Hachie…” jawabnya seraya membelai rambutku dengan lembut. Aku pun mengangguk paham. “Sekarang kita harus merencanakan untuk kabur dari sini.” kata kak Jeremy mulai serius. “Aku punya ide, kak Jer… Bagaimana jika kita sssssssssssssstttttttttttttt…” bisikku sehingga hanya aku dan kak Jer yang mendengarnya.

Ia pun mengangguk semangat. Aku bangun dan menghampiri sebuah saluran air di bawahku. Dengan susah payah, aku dan kak Jeremy berhasil membukanya. Dengan cepat, kita menahan nafas dan akhirnya masuk ke dalam air. Melewati berbagai rintangan, akhirnya kita sampai di udara terbuka. Dengan pakaian yang basah kuyup, kita mulai mencari mobil kita.

Saat sedang mencapai tempat dimana mobil kita terakhir diparkir, kelompok Red Eyes mengemudikan mobil kita dan pergi menjauh. Kita pun bertatapan tak percaya. “Bagaimana kita akan pergi mengejar mereka?” tanyaku bersamaan. Dengan senyuman yang timbul dari wajah tampannya, ia pun mulai menyetop truk dan menaikkan diri ke truk itu. “Kita mau kemana, kak Jer?” tanyaku bingung.

“Mobil kita sudah aku pasang GPS… Dengan alat ini, aku akan tau dimana mereka pergi dan menetap.” jelas kak Jeremy seraya memperlihatkan sebuah alat dari kantungnya yang masih basah. “You’re brilliant, kak Jer…!” pujiku seraya mengacak rambut kak Jeremy perlahan. “Oh, of course I am…” jawabnya seraya memperlebar senyumannya.

“Let’s go to find my twin in Italy………..!!!”

TBC %%%

Story : ~Is He Really-Really My Destiny?? I think yes!~ (Part 3) Last Part

Aku langsung melepas pelukan Sunghwa dan menghampiri Junki. Namun, ia kabur tanpa membiarkan aku mendekatinya. “PARK JUNKI… AKU BISA JELASKAN SEMUANYA…!” teriakku, namun ia tidak menggubrisku. Aku pun mengejarnya hingga ia masuk ke mobil. Hanya tangisan yang bisa kukeluarkan. Bagaimana ini? Junki salah paham padaku. Apa yang harus kulakukan?

Entah mendapat keberanian dari mana, aku mengejar mobilnya. Aku tak peduli pada tatapan aneh orang-orang yang melihatku. Aku terus mengejar mobilnya seraya meneriaki namanya. Tak lama, mobil itu berhenti. Junki keluar dari mobil dan langsung menyeretku masuk mobil. Aku hanya pasrah dengan mata yang masih mengeluarkan air.

Di mobil, ia memberikkan sapu tangannya kepadaku. Aku pun menerimanya dan langsung mengelap seluruh permukaan wajahku yang sudah penuh dengan air mata. Dalam hati, aku tersenyum senang. Ternyata, Junki masih peduli padaku. “Pabo…! (Bodoh…!) Ingat Yoonhee, kau ini adalah istri sah dari Park Junki, aktor terkenal yang sedang naik daun…!!! Kalau kau ketahuan wartawan dan masuk ke berita, bagaimana pamorku?!” teriaknya marah-marah. Jadi, ia hanya mementingkan pamornya…?

“Mianhaeyo, Junki-ah… (Maaf, Junki…) Tadi, Sunghwa-ssi hanya-” kataku yang terpotong oleh isyaratnya. “Aku tak peduli soal itu… Aku kan menikahimu bukan karena cinta, tetapi hanya karena terpaksa.” katanya dengan menekankan kata-kata ‘cinta’ dan ‘terpaksa’. Hatiku sakit. Sangat sakit. Ia hanya menikahiku karena ‘terpaksa’…? Bukan ‘cinta’?

Meskipun, aku tau itu, tapi mendengar sendiri dari mulutnya membuat hatiku lebih sakit. Aku sudah mulai mencintainya. Tapi, nampaknya ia tidak mencintaiku… Bagaimana ini? Aku hanya bisa menangis dalam hati. Apakah begini rasanya cinta bertepuk sebelah tangan? Sakit. Perih. Hanya ini yang kurasakan? Huh~

Ia mengantarku dalam diam ke rumah. Begitu sampai, aku langsung mandi dan pergi ke meja makan untuk mulai makan. Kulihat ia sedang memakan makanannya. “Junki-ah…” panggilku kepadanya. Namun, ketika ia melihatku mendekat kearahnya, ia langsung bangun dan pergi ke ruang tamu. Hatiku sakit. Kenapa ia sangat berbeda dari dulu? Apakah sebegitu bencinya dia kepadaku? Tapi, apa salahku?

Aku pun makan dengan perlahan tanpa melakukan apapun. Setelah makan, aku bergegas ke kamar. Kamar tidur masih kosong. Mungkin Junki masih ada di ruang tamu. Aku mulai tiduran di kasur. Air mataku tak bisa kutahan lagi dan aku pun menangis. Terdengar suara hentakan kaki dan aku langsung menghapus air mataku serta pura-pura tidur.

Ternyata, Junki yang datang. Ia mengambil bantal dan selimutnya seraya bergegas keluar kamar. Ia ingin tidur di kamar lain? Tapi, kenapa? Tangisanku lebih menjadi-jadi. Esoknya, aku bangun dengan mata sembap. Saat aku bergegas ke meja makan, kulihat semuanya sudah kosong. Hanya tersisa makanan yang aku yakin buatannya. Namun, ia telah pergi.

Setelah siap, aku pergi ke tempat syuting. Saat sore menjelang, aku pun pulang dan Junki mengantarku pulang. Katanya sih agar kita kelihatan mesra didepan orang-orang. “Junki-ah…” panggilku kepadanya. Namun, ia tak menjawabku. “PARK JUNKI…!!!” teriakku tepat di telinganya. “Apa sih?!” tanyanya seraya menggosok-gosok telinganya.

“Sebenarnya, kenapa sih sikapmu berubah tiba-tiba seperti itu? Apakah karena kejadian itu?” tanyaku seraya mendesaknya agar menjawab. “Tak lama kemudian, ia memanggilku. “Yoonhee-ah…” panggilnya. “De…? (Iya…?)” tanyaku. “Ya, kau benar…! Aku memang cemburu pada Sunghwa hyung (kak Sunghwa)…!!! Kenapa kalian pelukan seperti itu??!!” teriaknya seraya memberhentikan mobilnya.

“Dia memang menyatakan cintanya padaku, Junki… Tapi, aku menolaknya. Dan, alasannya karenamu…! Dia memintaku untuk memeluknya untuk terakhir kali. Aku tidak mungkin menolaknya kan??” jelasku dengan pandangan mata tetap ke wajahnya. “Ja-jadi, kau dan Sunghwa hyung tidak ada apa-apa?” tanyanya dengan ekspresi senang. “Tentu saja…” jawabku singkat.

Ia pun memelukku hangat. Jantungku seraya mau keluar sekarang. Apa maksudnya memelukku? Apakah cintaku tidak bertepuk sebelah tangan? Apakah dia juga mencintaiku? “Yoonhee-ah, saranghaeyo. Joengmal saranghaeyo… (Yoonhee, aku cinta padamu… Sangat mencintaimu…) Tadi, aku benar-benar cemburu padamu. Apakah kau juga mencintaiku…?” tanyanya dengan bisikan seraya masih memelukku. Aku pun mengangguk.

“De… Nado saranghaeyo, Junki-ah… (Iya… Aku juga mencintaimu, Junki…)” jawabku secara pelan. Ia pun mempererat pelukannya. “Gomawoyo… (Terima kasih…)” bisiknya pelan. “Untuk apa?” tanyaku bingung. “Untuk menerimaku.” jawabnya singkat. Aku langsung memukul tangannya pelan. “Dasar gombal…!” umpatku dibalas senyuman mautnya.

^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*

Di kamar, aku sudah siap untuk tidur. Aku sudah tiduran sekarang. Tiba-tiba, Junki datang dan langsung memelukku. “Kau sudah siap, jagi…? (sayang…?)” tanyanya dengan liar. “Si-siap…? A-apa maksudmu…?” tanyaku dengan gugup. “Tentu saja malam pertama kita… Meskipun, ini bukan malam pertama lagi, tapi ini tetap malam spesial. Mungkin dulu, kita tidak saling mencintai. Tapi, sekarang kita saling mencintai kan?” tanyanya dengan senyuman liarnya.

Aku meneguk ludah. Apa ini sudah waktunya? Ia perlahan-lahan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Pipiku merasakan panas dan merah yang luar biasa. Ia sudah menempelkan bibirnya ke bibirku. Setelah itu, ia lebih mendekatkan tubuhnya ke tubuhku. Sebelum ia melakukan apa-apa, aku mendorongnya hingga ia jatuh terjengkang. “Kenapa, Yoonhee-ah?” tanyanya kebingungan. “A-aku belum siap…” jawabku seraya mengatupkan mulutku.

“Apa maksudmu? Kita kan sudah menikah.” katanya seraya berdiri dan duduk di kasur. “Tapi, tetap saja kita masih terlalu kecil untuk melakukan ini…” kataku mencoba berkelak. “Terlalu kecil apanya? Kita kan sudah 21 tahun… Banyak orang yang lebih muda dari kita yang sudah melakukan ini kan?” tanyanya seraya membelai rambutku lembut. “Ta-tapi…” kataku masih berusaha mengelak. “Ssssttt…” katanya seraya mendekatkan telunjuknya di mulutnya. “Aku akan melakukan ini perlahan… Tenang saja.”

#^#^#^#^#^#^#^##^#^#^^
(6 tahun kemudian)

Aku berjalan keluar rumah. Banyak reporter dan wartawan yang datang mengerubungiku seperti biasa. Ya, inilah aku, Jung Yoonhee. Sekarang aku bukan hanya suami dari artis terkenal, tapi aku juga sutradara ternama. Dengan penjagaan ketat, aku menjaga anak perempuanku ke mobil. “Omma, appa odigayo…?? (Mama, dimana papa…??)” tanya anakku, Junhee. Aku membelai rambut halusnya perlahan.

“Sebentar lagi appamu juga datang…” kataku seraya melihat suamiku yang sedang berjuang melawan lautan wartawan untuk sampai kesini. “Anyeong…! (Hallo…!)” kata Junki seraya tersenyum dan masuk ke mobil. “Appa…!!!” teriak Junhee seraya memeluk Junki lembut. “Kau mirip omma-mu. Sama-sama manja…” gumam Junki seraya mencubit pipi Junhee pelan.

“Mwoya???!!! (Apa???!!!) Kau bilang aku manja? Bukannya kau yang manja?” teriakku sebal. “Tentu saja tidak…!!!” jawabnya ketus. Junhee hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kita yang memang masih seperti anak kecil. Ya, Junhee adalah gabungan nama antara Junki dan Yoonhee. “Mau kemana kita…?” tanya Junhee pelan. “Ke pantai…” jawab Junki. “Ani…! (Tidak…!) Kita akan ke taman ria…!” jawabku dengan tenang.

“KE PANTAI…………………!!!” teriak Junki.

“KE TAMAN RIA……………….!!!” balasku.

“Ckckckckck……………!!!” gumam Junhee seraya menyeruput jus jeruknya.

FIN ^^

Story : ~Mission X~ (Part 1)

Part 1 -> #The Death#

DORRRRRRR….!!!!

Suara tembakan membuatku kaget. Aku pun mempererat pegangan pistolku. “Awassss….!!!” teriak pria yang kukenal seraya menembak musuh yang ingin menembaku. “Terima kasih…”  kataku dengan pelan. “Sudah seharusnya.” jawabnya seraya mulai memencar ke berbagai arah. Aku pun ikut memencar ke suatu tempat. Suara hentakan kaki membuat langkahku terhenti. Suara itu berasal dari sebuah ruang gelap. Aku pun mengikuti suara itu.

Begitu sampai di ruang itu, sebuah tali mengikatku dan aku pun terjatuh. Lampu menyala dan aku pun mencari siapa yang dibalik semua ini. “Halo, nona Hyunni…” sapa suara yang kukenal. Aku pun menengok dan melihat sebuah sosok lelaki separuh baya berpakaian serba hitam mendekatiku. “Mr.X…???!!!” teriakku kaget.

%*%*%*%*%*%*%*%*%*

“Kak Kyran…!!!” teriakku kepada kakak semata wayangku. “Hyunni…!” balas kakakku seraya memelukku hangat. “Aku rindu padamu, kak…” kataku seraya membalas pelukannya. “Aku tau, adikku yang manis. Siapa sih yang gak rindu sama Kyran…” jawab kakakku percaya diri. “Kakak tidak berubah…! Masih narsis dan kepedean…!!!” teriakku seraya masuk ke mobil. Kakakku hanya bisa memanyunkan bibirnya tanda kesal.

Ya, inilah aku, Hyunni. Kalian pasti bingung kan kenapa aku sangat dekat dengan kakakku? Itu karena, orang tuaku sudah meninggal 3 tahun lalu akibat kebakaran yang menimpa kantor. Sejak kejadian itu, di dunia ini aku hanya mempunyai kakakku. Begitu juga sebaliknya dengan kakakku. Namun, walaupun aku sudah tak mempunyai orang tua, aku adalah gadis yang periang dan murah senyum. Begitu pula dengan kakakku. Ia juga adalah pria yang periang dan murah senyum.

Hari ini tepat 2 tahun aku bersekolah di asrama. Aku memutuskan untuk pulang dan kembali bersekolah biasa agar mempunyai waktu lebih banyak bersama kakakku. Selama pulang, kakakku tidak berubah sama sekali. Hanya satu yang berubah. Ia menjadi lebih sering mendapat panggilan telepon dan sering keluar rumah kapanpun dan dimanapun. Namun, aku tak pernah khawatir atau curiga akan hal itu. Sebab, aku percaya kepada kakakku.

Saat ini seperti biasa aku pulang ke sekolah. Suara klakson mobil mengejutkanku. “Kakak…!” teriakku seraya masuk ke mobil. “Mau jalan-jalan dulu? Ayo…” kata kakakku seraya menyetir. Di perjalanan, kita bermain dan bernyanyi bersama. Sungguh menyenangkan saat-saat seperti ini. Tapi, kenapa firasatku tidak enak ya? Sudahlah, ini pasti cuma perasaanku. Ternyata, kakak mengajakku ke pantai!

Aku pun langsung memeluk badan kakakku. “Sudah lama aku tidak ke pantai…! Terima kasih ya kak…!!!” teriakku senang. Kakakku langsung mengacak rambutku pelan. “Jangan memelukku seperti itu… Nanti orang lain kira kita pacaran lagi…” katanya seraya berbisik. Aku memukul tangan kakakku. “Bodoh…! Kau kira aku sudi punya pacar sepertimu, kak? Jangan harap…!!!” jawabku kesal seraya pergi menjauh.

Kakakku langsung memegang tanganku. “Aku hanya bercanda, Hyunni…! Jangan ngambek dong… Sebagai permintaan maaf dariku, kau akan kuberikan hadiah…” kata kakakku dengan ceria. “Hadiah apa kak?” tanyaku penasaran. “Tuh…” jawab kakakku seraya menunjuk ke langit. Ternyata, sedang ada peristiwa sunset atau matahari tenggelam. “Sangat indah…” gumamku menikmati keindahan ini.

Suara ponsel kakakku yang menghancurkan suasana, tiba-tiba berdering. “Halo…” kata kakakku sopan. Tak lama kemudian, kakakku menutup telepon sebelum mengatakan, “Baik, aku akan segera kesana…”. “Maaf ya Hyunni… Kakak ada panggilan penting. Kamu bisa kan pulang sendiri…?” kata kakakku setengah memohon.

Aku terpaksa mengangguk pelan. “Kau memang adik terbaik, terimut, tercantik, termanis, tersabar, dan segalanya di dunia ini…! Selamat tinggal, Hyunni…!!!” teriak kakakku seraya pergi. Aku mendengus nafas kesal. “Sampai jumpa, kak…!” balasku. Aku pun pulang sendiri dengan naik bis. Apa yang kurasakan ini? Kenapa perasaanku terus tidak enak? Apakah sesuatu yang buruk akan segera terjadi?

^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*

Aku mengerjapkan mata perlahan. Ah, sudah pagi rupanya… Dengan langkah cepat, aku pergi ke kamar kakakku, namun kamar kakakku kosong. “Dimana kakakku? Apakah dia belum pulang?” gumamku pada diri sendiri. Aku mengambil ponselku dan mencoba menghubungi kakak. Namun, ponselnya tak diangkat. Saat sedang bingung, suara bel terdengar. Tanpa pikir panjang, aku membuka pintunya. “Kakak…!” teriakku berharap yang datang adalah kakak.

Namun, aku salah besar. Ternyata, yang datang adalah 2 orang berseragam polisi. “Permisi, apakah kau adik dari Kyran Hems?” tanya seseorang diantara mereka. Aku mengangguk pelan. “Ya, aku Hyunni Hems… Ada apa?” tanyaku penasaran. Biasanya, dalam film yang aku tonton, jika dua polisi berkunjung ke rumah seorang perempuan dan menanyakan kau adik siapa, pasti kakakmu… Namun, aku tak mau memikirkannya!

“Kyran Hems ditemukan tak bernyawa di suatu jalan… Kami turut menyesal akan apa yang terjadi pada kakakmu…” jelas seseorang lagi yang bagaikan petir untukku. Dan biasanya, jika pemeran wanita diinformasikan oleh 2 polisi bahwa kakaknya meninggal, maka dia akan menangis sesenggukan. Namun, entah mengapa, aku tak bisa mengeluarkan air mata. Otakku masih belum bisa mencerna semua yang terjadi.

“Kau harus ikut kami untuk menyelenggarakan penyelidikan…” tambah polisi itu seraya mempersilahkan aku ke mobil polisi. Tanpa berbicara apapun, aku langsung masuk ke mobil. Apa ini? Apa ini, Tuhan? Air mataku masih terlalu kering untuk keluar. Rasanya hatiku pecah berkeping-keping di dalam tubuhku. Berarti sekarang aku tinggal sebatang kara? Berarti sekarang aku sendiri?

Setelah sampai di rumah sakit, aku diantar menuju kamar mayat. Disana terdapat sebuah tubuh yang diselimuti oleh kain putih. Dokter langsung membuka kain itu hingga aku bisa melihat wajah mayat itu. Air mataku mulai turun perlahan. Kak Kyran. Ternyata, ini benar kakak… Wajahnya masih mulus dan tak seperti mayat sama sekali. Aku memeluknya dengan erat. “KAK KYRAN…! KAU JAHAT…!!! KAU BILANG KAU TIDAK AKAN MENINGGALKANKU SENDIRI…!!! TAPI, APA INI???” teriakku seraya menangis tersedu-sedu.

Setelah ditanya berbagai hal, aku berjalan keluar rumah sakit dengan lunglai. Tak sadar seseorang dengan pakaian serba hitam menarikku ke ruangan sepi dan kemudian menutup mulutku dengan sapu tangan yang nampaknya sudah diberi alkohol. Aku pun pingsan dan membuka mata di tempat lain. Tempat ini seperti kamar yang sangat mewah dan kasur yang aku tempati juga sangat empuk.

Seseorang membuka pintu dan datang mendekat padaku. “A-apa yang mau kau lakukan? Apakah kau mau menculikku?” tanyaku takut. Ia tersenyum kecil. “Kau pikir aku mau menculikmu apa?!? Lihat ini…!” katanya seraya memperlihatkan kalung yang tak asing bagiku. “I-ini kalung kak Kyran kan?” tanyaku bingung. “Tentu saja tidak, kalung kakakmu masih ada di leher kakakmu. Ini kalungku… Apakah ia pernah cerita temannya pernah memberikan kalung padanya?” tanyanya dengan penasaran.

“Oh iya… Aku ingat. Jadi kalung itu pemberianmu…?” tanyaku. Ia mengangguk pelan. “Kau dan kakakku berarti satu sekolah…?” tanyaku lagi. Ia kembali mengangguk. “Aku dengar kakakmu meninggal… Aku turut menyesal ya?” katanya seraya tersenyum manis. Aku pun mengangguk. “Kenapa aku dibawa kesini, kak?” tanyaku bingung. “Biar lebih jelas, ayo ikut aku… Aku kenalkan kepada teman-teman kakakmu yang lain.” katanya seraya mulai beranjak keluar kamar. Aku pun mengikutinya.

Saat perjalanan, tak henti-hentinya aku berpikir. Nampaknya, aku kenal lelaki ini… Tapi, dimana ya? Ia berhenti di suatu pintu dan akhirnya membuka pintu tersebut. Begitu masuk, aku langsung disambut seseorang. “Halo, kau adiknya Kyran ya? Salam kenal…” sapanya seraya menundukkan badan. “Kau… Bukannya kau Edward Diew, anak pemilik hotel international itu?!?” teriakku kaget. Ia mengangguk riang. “Aku terkenal ya…!?” tanyanya senang. Aku hanya tertawa kecil mendengarnya.

“Mau kue?” tanya seseorang lagi. “Kau Billy Fieter…? Koki termuda dan ternama di dunia?” tanyaku kaget. Ia mengangguk seraya menengok Edward Diew. “Aku juga terkenal…!” teriaknya riang. Aku lebih tertawa mendengarnya. “Dasar kekanak-kanakkan…!” gumam seseorang dengan kaca mata tebal. “Kau Roger Louise, dokter termuda dalam sejarah??” tanyaku kepadanya. “Lihat kan, aku juga terkenal…” jawabnya pelan.

Edward dan Billy pun menggetok kepala Roger. “Kau juga kekanak-kanakkan…!!!” teriak mereka bersamaan diiringi senyuman polos Roger. “Berisik sekali sih kalian?” tanya seseorang lagi. “James Trowet…!?! Bukannya kau pelukis terkenal itu ya?” tanyaku lagi dengan terkejut. “Baguslah kalau kau tau…” jawabnya singkat.

Orang yang tadi mengantarku ke ruangan ini datang dan memeluk Edward, Billy, Roger, dan James. “Sudah lama ya kak, kita tidak bersama… Sayang sekali Kyran tidak bisa menemani kita lagi.” katanya seraya memanyunkan mulutnya. Persis seperti kakakku yang suka memanyunkan mulutnya ketika sedang sedih dan kesal. Perlahan-lahan, kulihat wajahnya yang nampaknya benar-benar tidak asing bagiku.

“Stephen Bertrand…? Kau aktor terkenal yang sering memerankan peran utama kan?” tanyaku heboh. Jujur saja aku sangat mengidolakan sosok Stephen Bertrand. Ia mengangguk kecil seraya tersenyum. “Panggil saja dia kak Edward karena kalian berbeda 3 tahun. Panggil dia kak Billy dan kak Roger karena kalian berbeda 1 tahun. Dan panggil saja dia kak James karena kalian berbeda 2 tahun…” jelas Stephen ramah.

“Kalau kau?” tanyaku polos. “Panggil saja aku Stephen karena umur kita sama…” jawabnya yang membuat aku tersedak. “Sama…?!” tanyaku memastikan. Tubuhnya yang sangat tinggi benar-benar membuatku berpikir dia adalah yang paling tua. Namun, ternyata dia sama denganku…? “Wajahmu terlalu tua kali Steph… Makanya jangan terlalu sibuk…!” kata kak Edward seraya tertawa dibalas anggukan kak Billy, kak Roger, dan kak James. Stephen hanya dapat mengejar mereka yang sekarang sedang berlari kabur.

“Apakah begini keseharian kalian dengan kakakku?” tanyaku dengan seulas senyum. “Ya, beginilah keseharian kami… Kami adalah anak-anak khusus yang tidak mempunyai teman, oleh sebab itu kita ada disini.” kata kak Roger pelan. “Makanya, kita sangat sedih saat melihat Kyran meninggal.” lanjut kak Billy. “Melihat? A-apa maksud kalian?” tanyaku kaget. “Ya, kita memang sedang bersama kak Kyran saat kejadian itu terjadi…” jawab Stephen seraya berusaha menahan kesedihannya.

“Bagaimana kakakku bisa mati?” tanyaku memecah kesunyian yang sempat tercipta. “Kakakmu ditembak seseorang…” jawab kak James singkat. “Tapi kenapa? Bukannya kakakku adalah pria baik-baik dan dia juga tidak mempunyai musuh…?” tanyaku lagi. Mereka menghela nafas pelan. “Kita tergabung dalam kelompok ‘Hunting X’. Pekerjaan kita adalah mencari dan membunuh Mr. X, seseorang yang telah menghancurkan hidup kita.” jelas kak Edward.

“Adik perempuan kak Edward dibunuh oleh Mr. X. Kakak laki-lakinya kak Billy dibunuh oleh Mr. X. Bibi tercinta kak Roger dibunuh oleh Mr. X. Ibunya kak James dibunuh oleh Mr. X. Begitu juga orang tuaku dan orang tua kak Kyran yang berarti juga orang tuamu dibunuh oleh Mr. X.” jelas Stephen. “Apakah kau bercanda? Orang tuaku kan meninggal karena kebakaran…!” kataku setengah berteriak. “Itu hanya bagian dari rekayasa yang diciptakan Mr. X. Tapi, sebenarnya orang tuamu itu dibunuh oleh Mr. X…” lanjut kak Roger.

“Bagaimana mungkin…?” tanyaku dengan air mata yang mulai keluar. “Ya, inilah pekerjaan kami…” jawab kak James. “Terus apa hubunganku dengan semua ini…? Kenapa kalian menceritakannya kepadaku?” tanyaku bingung. “Karena kematian Kyran, kau harus menggantikannya…” jawab kak Billy tegas.

“A-apa….???!!!??? Aku…………..!!!”

To Be Continue~

Story : ~Lost My SoulMate~

Pernahkah kalian mencintai seseorang yang tak bisa kalian raih?

Seseorang yang tidak mungkin kalian dapatkan?

Seseorang yang bahkan ‘tidak ada’?

#$%#$%#$%#$%#$%#$%#$%#$%#$%#$%#$%#$%

Aku menunggu disini. Sudah hampir 20 menit menunggu. Namun, ia tak kunjung datang. Ingin rasanya memakinya saat ini. Memukulnya karena membiarkan aku menunggu lama. Namun, apa daya. Bahkan, seulas bayangan pun tak kulihat. Sebuah suara mengagetkanku. Ternyata, suara nada dering ponselku. Kulihat di layarku siapa yang menelepon.

My Honey Calling…

Ternyata dia. Awas saja! “Halo…” sapaku malas-malasan lewat telepon. “Ha-hanna…” balas suara rintihan yang kukenal. Perasaanku merasakan sesuatu yang aneh. “Hendy… Dimana kamu?” tanyaku dengan ketus karena masih kesal. “Hanna, aku mencintaimu… Selamat tinggal.”

Tut-tuut-tuut…

Aku memencet nomor yang sama terus-menerus, namun tidak ada jawaban. Mataku mulai basah. Ya, aku menangis. Aku berlari. Yang aku pikirkan cuma satu. Hendy. Aku berlari hingga ke tikungan. Banyak orang yang mengerumuni sesuatu disitu. Aku berhenti dan berusaha menerobos kerumunan itu. Oh Tuhan, semoga yang kupikirkan ini salah.

Tasku terjatuh hingga barang-barang yang ada di dalamnya berantakan. Namun, aku tak memedulikan itu lagi. Sosok lelaki di depanku sudah cukup memberikanku perhatian yang luar biasa. Lututku mulai lemas dan aku pun terjatuh. Tangisku mulai tak tertahankan. Aku menangis. Menangisi kebodohan yang kulakukan. Menangisi penyesalan yang kubuat.

Yang bisa kulakukan hanya menangis. Ya, ini adalah trade mark wanita. Menangis. Aku memegang tangannya yang mendingin dengan erat. Sangat erat hingga tanganku sendiri merasakan sakit. Namun, sakit yang kurasakan pada tanganku tidak sebanding dengan sakitnya hatiku. Apa yang harus kulakukan sekarang? Tuhan, jawab aku… Tuhan, jawablah aku…!!!

Aku tetap memegang tangannya erat sampai ia dimasukan ke dalam rumah sakit dan diperiksa. Air mata masih bercucuran menuruni wajahku. Pedih… Hatiku sangat pedih. Hingga akhirnya, dokter mengatakan keadaannya tak bisa ditolong. Aku menangis. Ya, aku menangis.

Aku menangisi keramahannya. Aku menangisi kelembutannya. Aku menangisi kebaikannya. Aku rindu… Ya, aku rindu. Aku rindu senyum cerianya. Aku rindu caranya membelai rambutku. Aku rindu kehangatannya. Aku rindu cintanya. Aku rindu semua darinya. Wajahnya kini membeku. Membeku bersama dengan cinta kita. Apa ini? Apakah ini hanya sekedar mimpi buruk belaka?

#$#$#%#%%#%$$#$##$

Aku mengerjapkan mata perlahan. Dengan cepat, aku mengambil ponselku dan menekan nomornya. Namun, tak ada jawaban. Tangisku pun pecah. Ini keseharianku sekarang. Setiap pagi, aku selalu melakukan ini. Aku berharap kematiannya hanya mimpi belaka. Mimpi buruk yang akan segera berakhir. Bahkan, aku tidak datang ke pemakamannya. Aku belum siap. Aku belum siap menerima semua mimpi burukku, ternyata adalah kenyataan. Kenyataan yang mau tak mau harus kujalani.

Aku melangkahkan kakiku ke sebuah meja. Tepat di atas meja itu terdapat sebuah foto. Fotonya yang sedang tersenyum. Senyumnya membuat perasaanku menjadi senang. Tak sadar, aku ikut tersenyum. Aku menikmati senyumnya. Foto tersebut aku tempel ke kepala bonekaku. Setiap aku pergi kemanapun, aku selalu membawanya. Banyak yang bilang aku gila, dan menurutku mereka tak salah. Aku memang telah gila. Cintaku yang membuat aku gila.

Seperti biasa, dengan langkah cepat aku memasuki kantor. Aku menaruh bonekaku ke meja dan mulai bekerja. Sebelum bekerja, aku mengecup foto wajahnya yang sudah tertempel di bonekaku. Saat aku sedang bekerja, aku melihat seorang OB datang dan menuangkan kopi ke cangkirku. Namun, tangannya yang tak hati-hati membuat bonekaku ikut terkena siraman kopi.

Aku pun naik darah. Dengan geram, aku menamparnya. “Dasar bodoh…!!! Apakah kau tidak pernah sekolah…??? Lihat ini, kau telah melukai Hendy! Minta maaf padanya sekarang…!” teriakku sebal. Ia pun terkejut akan perintahku. “Tapi, ini hanya boneka, nona…” jawabnya dengan pelan. Aku pun menjambak rambutnya hingga ia meringis kesakitan. “Apa kau bilang…??!? Dia ini Hendy, calon suamiku…! Jaga kata-katamu ya…!!!” teriakku dengan marah.

“Baik, nona… Aku minta maaf tuan…” jawab OB itu seraya menunduk kearah boneka Hendy. Aku terkekeh pelan. Membuat sebuah seringai yang dalam. Aku benar-benar sudah gila. Aku gila karenamu, Hendy… Karena kehangatanmu membuatku mendingin. Karena senyummu membuatku menangis. Dan, karena cintamu membuatku benci…

%^%^%^%^%^%^%^%^%^

Malam mulai datang. Hitam mulai mendominasi langit. Dengan percaya diri, aku menyetir mobilku ke sebuah rumah. Aku memarkirkan mobilku ke sembarang tempat dan masuk ke rumah itu. Aku memasuki sebuah kamar berisi sepasang suami istri. Aku mengikat tubuh seorang lelaki dan membiarkannya bangun.

“Jangan sakiti istriku…!!!” teriaknya saat aku mulai menjambak rambut panjang istrinya. Aku menyeringai pelan. “Kata itu juga yang seharusnya aku katakan padamu…!!! Jangan sakiti pacarku…! Namun, kau menabraknya kan? Kau membuatnya mati kan???!!!” teriakku tak kalah kencang. Ia pun diam. “Aku tidak sengaja… Maaf, aku benar-benar tidak sengaja…” jawabnya pelan.

“Tak ada gunanya maaf… Maaf darimu tak akan mengubah apapun. Ia tetap mati…!!! Ia tetap pergi…!!!” teriakku seraya mulai menangis. Dengan perlahan, aku menyilet tangan istrinya. Darah mulai bercucuran dari tangannya. Teriakan mulai terdengar dari mulut kedua orang itu. Sebuah teriakan kesakitan dan sebuah teriakan ‘jangan’. Aku mulai terkekeh. Menikmati semua yang kulakukan. Hingga istrinya sudah tak bernyawa lagi. Aku tetap memainkannya. Dengan perlahan, aku menyileti seluruh bagian kulitnya.

Lelaki yang diikat itu menangis. Aku sangat puas melihatnya. Puas melihatnya menangis. Puas melihatnya menderita. Pasti rasanya perih. Seperti aku dulu… “Bunuhlah aku…!” teriaknya dengan lirih. Aku tersenyum menyeringai. “Kau tidak akan kubunuh… Biar kau merasakan rasanya kehilangan. Rasanya ditinggal seseorang yang kau cinta.” jawabku dengan diiringi tawa kemenangan.

Tanpa aba-aba, lelaki itu mengambil pisau yang berada di sebelahnya dan menusuk jantungnya sendiri. “Da-daripada aku melihatnya meninggal, le-lebih ba-baik aku mati… Ma-maafkan aku sekali lagi… Maafkan a-aku…”katanya untuk terakhir kalinya. Aku pun menangis. Tak terhitung berapa kalinya aku menangis. Yang bisa kulakukan hanya menangis. Aku sadar sekarang apa yang telah aku buat. Aku berdosa, Tuhan… AKU BERDOSA…!!! Dengan cepat, aku mencabut pisau yang tertancap pada dada lelaki itu dan menusukan kembali pisau itu ke jantungku.

Selamat tinggal, Hendy…

Aku mencintaimu…

Sangat mencintaimu…

Aku tak sadar dengan perbuatanku ini…

Aku sudah sangat berdosa…

Maafkan aku…

Maafkan aku…

THE END


Story : 31=17 (???) Part 3

Sebuah suara aneh yang keras tiba-tiba terdengar. Membuat kita kaget setengah mati. Lampu lift pun mati dan lift berhenti bergerak. Aku mulai berpikiran aneh. Seketika wajah kita berpandangan dan menimbulkan reaksi yang sama. ”KITA TERJEBAK DISINI…!!!!”

^*^**^*^*^**^*^*^*^*^*^*

“Bagaimana ini?” tanyaku seraya berjalan mondar-mandir. Ia hanya mengangkat bahunya tanda tidak tau. Keringat mulai berjatuhan dari sekujur tubuhku. Sudah 5 menit kita terjebak di lift ini. Kuedarkan pandanganku kearahnya. Ia hanya duduk dan diam. Sepertinya ada yang aneh dengannya. Kenapa wajahnya pucat?

Secara perlahan-lahan, aku mendekatinya. Aku menyentuh jidatnya pelan. Panas…! “Kau sakit?” tanyaku seraya memandang wajahnya. Ia hanya diam tak menjawab panggilanku. Namun, pandangannya oleng dan ia pun pingsan. Aku yang terkejut pun memapah tubuhnya hingga posisi kami seperti orang berpelukan. Jantungku berdegup kencang. Aku berteriak meminta tolong, namun tak ada orang yang menjawabnya.

Rasa pening mulai menjalar ke kepalaku. Ruang lift ini sangat rapat dan oksigen mulai tidak ada. Aku merasakan sesak nafas yang amat sangat. Tuhan~ Aku belum mau mati sekarang…!!! Perlahan pandanganku kabur dan aku tidak tau lagi apa yang terjadi. Yang aku tau aku pingsan saat memeluk Kenkyo.

Aku membuka mata perlahan. Sebuah tempat yang didominasi warna putih bisa kulihat dengan jelas. Dengan kepala yang masih pening, aku mulai bangun. “Jangan bangun dulu, nona… Anda belum sehat.” kata seorang suster padaku. “Dimana laki-laki yang bersamaku tadi?” tanyaku tanpa memedulikan perkataan suster itu. “Ia dirawat di sebelah kamar anda…” jawab suster itu. Aku pun langsung pergi ke kamarnya.

Bisa kulihat ia sedang terbaring dengan infus di tangan kirinya. Aku memegang keningnya perlahan. Sudah tak panas lagi. Aku mengelus poninya pelan. Wajahnya yang polos benar-benar membuatku ingin mencubit pipinya. Namun, niat itu kuurungkan karena kasihan dengan kondisinya. Seorang dokter masuk ke kamarnya. “Dia kenapa, dok?” tanyaku penasaran.

“Ia tidak kenapa-napa. Hanya asmanya kumat karena kekurangan oksigen tadi… Anda ibunya?” tanya dokter yang membuatku tersentak. “I-ibu…? Tentu saja bukan, dok…!!!” jawabku kesal. Bagaimana bisa aku dikira ibu-ibu? Apakah mukaku setua itu? >_<

Tiba-tiba, Kenkyo mengerjapkan matanya. Aku langsung memandangnya. “Sudah sadar?” tanyaku lembut. “Ini dimana? Bukannya ini rumah sakit? Bibi gak kenapa-napa kan?” tanyanya bertubi-tubi. “Ya, ini rumah sakit… Aku gak kenapa-napa kok… Lihat kan, aku sehat bugar…!” jawabku seraya memperlihatkan otot-otot yang sebenarnya tak ada. Ia pun tertawa kecil.

“Aku boleh pulang kan, dok?” tanya Kenkyo dengan pandangan angelic-nya. “Tentu saja…” jawab dokter itu diiringi sorakan Kenkyo. Kita pun memutuskan untuk pulang. Di perjalanan, seperti biasa kita hanya diam. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulut kita. “Bibi…” panggilnya pelan namun terdengar. “Kenapa?” tanyaku. “A-aku… A-aku…” jawabnya terpotong-potong.

“Apa sih?” tanyaku sedikit sebal dengan tingkah lakunya. “Aishiteru, Ayume…!!! (Aku cinta padamu, Ayume…!!!)” katanya yang membuatku tersentak. Aku pun langsung memberhentikan mobilku di tepi jalan. “Tadi kau bilang apa? Aku pasti salah dengar.” kataku dengan pelan. “AISHITERU, AYUME………………..!!!!!!!!!!!!!” teriaknya dengan lantang dan kencang.

Membuatku merasakan gejolak pada jantungku. Aku sangat suka caranya mengucapkan ‘aishiteru’ dan ‘ayume’ tanpa embel-embel ‘bibi’. Aku memandangnya dengan dalam. Bisa kurasakan ketulusan dari matanya saat memandangku. Air mataku pun jatuh seketika.

Entah kenapa, ia mengingatkanku pada mantan pacarku yang kurang ajar itu. Ia memelukku dengan lembut dan menghapus air mataku. “Jadi bagaimana jawabanmu?” tanyanya tak sabar. Aku pun ingin menjawabnya, namun sesuatu menahanku untuk mengatakannya. Sebuah truk hitam menerjang kearah kita sekarang. Dengan cepat, Kenkyo menarikku dan memelukku erat. Seakan ingin melindungiku. Dan… BRUAKKK…………..!!!