Full of inspiration and story

Apakah kau percaya pada dongeng yang menceritakan tentang kehidupan seorang putri dan pangeran? Seorang putri yang akan hidup bahagia selamanya bersama seorang pangeran yang dicintainya? Atau, apakah kau percaya akan ‘happy ending’ yang berada di sinetron-sinetron? Yang pada akhir cerita akan menceritakan tentang senyuman bahagia sebuah  pasangan?

Aku duduk di depan meja riasku. Sebuah gaun bewarna merah muda telah tersemat indah di tubuhku. Wajahku penuh dengan make-up yang tebal. Aku memandangi sebuah surat yang ada di genggamanku. Sebuah surat cinta yang ditulis pacarku. Hari ini adalah tahun kedua aku dan lelaki yang sangat aku cintai berpacaran. Ia menyuruhku berdandan dan memakai gaun serta higheels yang menyusahkan.

Tin… Tin… Tin…

Sebuah suara klakson mobil membuyarkan lamunanku. Dengan senyuman yang merekah pada bibir mungilku, aku pun menuju pintu rumah. Aku bisa melihat sebuah mobil sport bewarna biru tua diparkir tepat di depan rumahku. Seseorang lelaki muda tampak bersandar di mobil itu. Wajahnya yang tampan, memperlihatkan secercah senyuman yang sangat manis untukku.

Rambutnya yang bewarna coklat tua dibiarkan acak-acakan. Posturnya yang tinggi, membuat penampilannya terlihat memukau bagiku. Ia memakai kemeja hitam, jas putih, dan celana serta sepatu yang juga putih. Di kemejanya, tersemat dasi kupu-kupu bewarna biru yang senada dengan warna mobilnya. Ia perlahan-lahan menghampiriku yang masih memaku.

Tangan hangatnya menggandeng tanganku lembut dan membawaku ke mobilnya. Setelah itu, ia pun ikut masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankan kemudi setir. Aku ingin menanyakan kemana kita akan pergi, namun telunjuknya menyentuh bibirku hangat. Memberi isyarat kepadaku untuk diam.

Mobilnya berhenti di sebuah restoran yang mewah. Ia menyuruhku masuk ke dalam restoran itu dan duduk di salah satu kursi yang telah dipesan sebelumnya. Ia pun memandangku hangat dan mulai melangkah kearah panggung. Ia duduk di hadapan sebuah piano besar yang bewarna putih susu.

“Lagu ini kupersembahkan untuk seorang perempuan spesial yang telah menempati sebuah ruang di hatiku…” katanya seraya memandangku dalam. Seketika, pipiku menjadi panas dan merona. Jemari lentiknya mulai menekan tuts-tuts pada piano.

Menghasilkan suara indah yang membuatku makin terpana. Setelah memainkan intronya, ia mulai bernyanyi. Lagu yang ia nyanyikan adalah lagu kesukaanku. Lagu romantis yang kuharap akan dinyanyikan oleh orang yang kucintai. Dan, harapanku terkabul. Ia menyanyikannya untukku.

Air mata mulai berjatuhan dari pelupuk mataku. Namun, bukan tangis kesedihan yang kurasakan. Melainkan, tangis kebahagiaan dan keterharuan yang kurasakan. Setelah selesai melantunkan bait terakhir lagu itu, ia mulai berdiri. Perlahan, ia menghampiriku. Tangannya menghapus air mataku lembut. Ia mulai memegang tanganku. Setelah itu, ia berlutut tepat di hadapanku.

“A-apa yang kau lakukan?” tanyaku gugup. “Aku mencintaimu, Chris… Maukah kau menikah denganku?” tanyanya dengan pandangan penuh arti. Air mata yang turun dari mataku, mengalir semakin deras. Aku tak sanggup untuk menjawabnya. Yang bisa kulakukan hanya mengangguk. Ia pun tersenyum bahagia. Tubuhnya yang hangat memelukku dengan riang.

“Terima kasih, sayangku…” jawabnya seraya mempererat pelukannya. Aku pun ikut memeluknya erat. Semua orang yang ikut menonton, bertepuk tangan secara meriah. “Christy…” panggilnya penuh kasih sayang. “Iya, Vin?” tanyaku. “Aku akan mencintaimu selamanya…” katanya seraya tersenyum. Tapi, sesuatu terjadi. Pelukannya mengendur. Tubuhnya bersandar di tubuhku. “Vino…?? Vino…?? Vino…!!!!” teriakku seraya menangis.

##################

(Di Rumah Sakit)

“Christy…” panggilnya sangat pelan. “Iya, Vin…??” tanyaku seraya menghapus air mataku. “Aku cinta padamu…” jawabnya lirih seraya berusaha tersenyum semanis mungkin. Tapi, itu adalah senyuman terakhirnya. Bola matanya yang bewarna biru safir, mulai menghilang. Matanya telah menutup secara sempurna.

Aku terus menangis dengan kerasnya. Hatiku sangat sakit. Orang yang sangat aku cintai, diam tak bergerak di hadapanku. Ternyata, sudah sejak lama ia menderita kanker yang menggerogoti seluruh bagian tubuhnya. Rasanya, hidupku menjadi hampa sekarang.

Aku mulai memandangi surat di genggamanku. Di hadapanku, terdapat sebuah gundukan tanah dan batu nisan. Aku pun mulai membukanya.

Maaf, Christy…

Aku takkan bisa menghapus air matamu lagi…

Aku takkan bisa menyanyikan lagu kesukaanmu lagi…

Aku takkan bisa menjadi sandaranmu saat kau sedih lagi…

Aku takkan bisa menemanimu di setiap harimu lagi…

Namun, aku telah menepati janjimu…

Janji kita untuk saling mencintai selamanya…

Carilah seseorang yang lebih bisa membahagiakanmu…

Seseorang yang bisa menghapus air matamu, menyanyikan lagu kesukaanmu, menjadi sandaranmu, menemanimu selalu, dan takkan meninggalkanmu untuk selamanya…

Aku tau sekarang kau pasti sedang menangis. Jangan menangis ya…

Ketika kau merindukanku, tutuplah matamu, maka kau akan menemukanku, karena aku akan selalu berada di hatimu…

-Vino-

Aku pun menghapus air mataku. Aku mulai menutup mataku perlahan. Setelah beberapa waktu, aku membuka mataku kembali. Aku tersenyum riang. “Aku akan menepati janjiku, Vino…!!!” teriakku kepadanya.

THE END

Advertisements

Comments on: "Story : ~My Endless Love~" (1)

  1. hiks. . . hiks. . .hiks. . . mengharukan skl. cinta sejati. amazing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: