Full of inspiration and story

Aku terduduk dengan air mata yang masih terus mengalir deras. Hatiku benar-benar sakit sekarang. Bayangkan, orang yang kau cintai dan sangat kau rindukan sedang memeluk orang lain di depan matamu sendiri. Rasanya pasti sakit kan? Aku pun berusaha berdiri. Dengan lutut yang masih lemas, aku mencoba meraih tembok di sebelahku untuk membantuku berdiri. Setelah berdiri, aku langsung keluar dari rumahnya.

Bibi yang menyadari kepergianku, memanggilku. “Claudy, kenapa kamu pulang? Gak jadi ketemu Cleo?!?” tanya bibi. “Aku baru ingat kalau aku lagi sibuk, bi… Mungkin lain kali..” jawabku seadanya tanpa memandang bibi. Alasannya sederhana. Karena mataku sembab dan masih basah. Aku berlari ke rumahku dan langsung masuk kamar.

Aku mengunci pintu kamar dan merebahkan tubuhku ke kasur. Jaket tebal dan syal yang kugunakan belum sempat aku lepaskan. Bahkan, sepatu kets yang aku gunakan tadi, aku lepaskan ke sembarang tempat. Perasaanku acak-acakan sekarang. Ternyata, benar dugaanku. Dia benar-benar tidak mengingatku dan tidak mencintaiku.

Selama ini hanya aku yang tergila-gila padanya. Tapi, dia hanya menganggapku sebagai masa lalunya yang kelam. Wanita yang sedang dipeluknya, jauh lebih cantik dan anggun dariku. Perasaan cemburu telah membludak dan meledak dalam diriku. Namun, aku tak boleh menyalahkannya, karena tidak salah jika dia melupakanku. Aku yang terlalu kekanak-kanakan menganggap masa lalu kita sebagai perasaan cinta.

Aku mencoba menutup mataku dan berusaha tidur. Setidaknya, aku dapat melupakan kejadian ini sementara. Tak lama kemudian, aku terlelap. Setelah pagi, aku kembali bangun. Dengan mata yang masih bengkak, aku mulai mandi dan membereskan kasurku. Setelah rapi, aku keluar kamar dan berjalan ke meja makan.

“Claudy, kamu belum ketemu Cleo ya?” tanya ibu memulai percakapan. “Hari ini makan apa bu?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. “Claudy… Jawab dulu pertanyaan ibu…” kata ibu semakin meninggikan suaranya. “Makanan kesukaan Claudy ya bu? Makasih ya bu…” jawabku mengalihkan pembicaraan lagi. Ibu langsung memelukku dari belakang.

“Nak, kalau kau punya masalah, ceritakan kepada ibu, sayang… Jangan disimpan dalam hati.” kata ibu lembut. Air mata yang sudah lama berusaha kutahan pun keluar dengan sendirinya. “Cleo, bu… Claudy melihat Cleo pelukan sama wanita lain di hadapanku. Ibu kan tau aku sangat mencintai Cleo…” jawabku secara tersendat-sendat karena tangisan yang tak hentinya mengalir.

“Kamu sudah tanya Cleo, siapa wanita itu?” tanya ibu. Aku menggelengkan kepala perlahan. “Jangan asal tuduh, Claudy… Lagipula kalau benar, itu juga bukan salah dia… Dia kan belum pernah bilang cinta padamu.” kata ibu menghibur. Aku pun mengangguk menanggapi nasihat ibuku. Setelah makan, aku bergegas pergi ke kampus.

Ya, aku adalah mahasiswa jurusan seni semester empat sekarang. Aku keluar dari pintu gerbang rumahku dan berjalan pelan menuju motor yang biasa kupakai ke kampus. Ketika baru saja menaiki motorku, pintu gerbang di sebelah rumahku terbuka dan seseorang keluar. Seseorang yang sangat kukenali. Dia Cleo.

Wajahnya tidak berbeda jauh dari yang dulu. Ia tetap seorang lelaki manis yang bertubuh jangkung dan kurus. Rambutnya yang bewarna abu-abu kontras dengan warna kulitnya yang putih pucat. Ia mengenakan kaos santai bewarna biru dan rompi hitam. Celananya bewarna hitam panjang yang dipadukan dengan sepatu kets putih.

Tiba-tiba, kedua bola mata coklatnya menatapku dengan pandangan yang dalam dan penuh arti. Dengan perlahan-lahan, kakinya yang panjang melangkah kearahku. Tangannya yang lembut menyentuh bahuku pelan. “Claudy…” panggilnya penuh dengan kehangatan. Tak sadar, setetes air mata keluar dari mataku. Aku pun langsung menyalakan mesin motor dan pergi menjauh darinya.

Aku memutuskan untuk bolos kuliah dan pergi ke sebuah sungai di dekat kampus. Aku memarkirkan motorku ke sembarang tempat dan duduk di pinggir sungai. Tempat ini selalu sepi dan sunyi. Itulah mengapa, sungai ini tempat pilihanku untuk datang di kala sedih. Aku mengambil batu di sekitarku dan melemparkannya kearah sungai yang tenang. Air mataku masih mengalir tak ingin berhenti.

Tiba-tiba, hujan menerpa tubuhku dengan cepat. Makin lama makin lebat. Air mataku yang masih mengalir, bersatu dengan air hujan yang turun. Sekarang, aku mulai kedinginan. Rambut coklat panjangku tergerai tak karuan. Aku pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Ketika melangkah kearah motor, pandanganku menjadi gelap dan kepalaku pening. Aku pun terjatuh.

TBC

Advertisements

Comments on: "Story : ~Ice Cream Is Our Witness Of Love~ (part 2)" (1)

  1. wow? apa yg terjadi? claudy skt y? trs2 crt akhirnya gmn? lanjutin! cepet! aku tk sbr! oh y, death neacklenya jg y. . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: