Full of inspiration and story

“Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanyaku dengan sedikit canggung. “Apa?!?” tanyanya keras namun terlihat guratan kasih sayang di wajahnya. “Apakah paman menyayangi ayah??” tanyaku dengan pelan tetapi yakin. “A-apa maksudmu, hah?!? Untuk apa kau menanyakan itu?” tanyanya gelagapan. Aku memandanginya dengan dalam, seakan mengatakan ‘aku-mohon-paman’.

Ia pun mendengus kesal. Ia mengambil kursi dan duduk di hadapanku. Aku yang masih belum sanggup bangun hanya dapat duduk dengan lemas diatas tanah. “Tentu saja paman menyayangi ayah…” jawabnya pelan seraya menundukkan kepalanya. Hatiku mencelos saat mendengar pengakuan pamanku. “Lalu, kenapa paman menyerang ayah?” tanyaku polos.

Ia kembali menarik nafas panjang. “Paman… Paman memang sayang pada ayahmu. Tapi…” jawabnya menggantung. Kulihat sebuah pemandangan yang mengilukan hati. Paman menangis! Paman yang biasanya dingin dan tak pernah peduli pada orang, kini menangis di hadapanku. “Tapi aku hanya iri… Aku benci saat ayahmu selalu mendapat kasih sayang berlebih. Sedangkan aku… Aku hanya anak selir yang tidak pernah diperhatikan.” katanya dengan serak.

“Ayahmu adalah anak pertama kakekmu. Ia lahir dari permaisuri. Ia akan menjadi putra mahkota… Itulah sebabnya, semua orang memerhatikan ayahmu.. Tapi, aku berbeda… Aku adalah anak selir. Semua orang benci denganku. Bahkan di kehidupanku, kakekmu tak pernah sekalipun menggendongku…” lanjutnya lagi. Sekarang tangisannya lebih menjadi-jadi.

Aku mencoba bangun sekuat tenaga dan menepuk pundak pamanku perlahan. Pandangannya masih ke bawah. Dadaku sesak. Aku benar-benar sakit mendengar hal ini. Aku tidak pernah tau akan kenyataan ini. Aku tidak pernah tau sebelumnya, betapa sakitnya perasaan pamanku. “Bahkan, saat kakekmu meninggal, ia tidak memberikan sepeser pun hartanya. Ia tidak mengakuiku sebagai anaknya. Ia malah mengusirku keluar istana…” lanjutnya lagi yang membuatku lebih sakit.

“Sedangkan ayahmu… Ia mendapat segala-galanya. Kasih sayang, kehormatan, harta, kerajaan, dan semuanya. Saat aku datang, padahal aku hanya menanyakan ‘benda’ peninggalan kakekmu yang aku yakin ada di tangan ayahmu dulu… Namun, ayahmu malah mengusirku.” kata paman dengan sedih.

“Tunggu, paman bilang ‘benda’?? Maksudnya, kalung peninggalan ayahku?” tanyaku bingung. “Iya… Itu benar. Kalung itu memiliki kekuatan magis yang tidak kamu bayangkan sebelumnya… Kalung itu bisa sangat berbahaya bagi orang yang menyimpannya.” jelas pamanku. Aku pun memutar otakku. ‘Kenapa hal yang dikatakan ayah dan paman sama? Sebenarnya kekuatan magis apa yang dimiliki kalung itu?’ batinku bingung.

“Sebenarnya kekuatan magis apa yang dimiliki kalung itu, paman?” tanyaku penasaran. “Kalung itu disebut ‘The Death Necklace’. Kalung itu memang dapat membuat seseorang menjadi kuat dan memiliki segalanya. Namun, kalung itu juga bisa berakibat fatal. Orang yang memakainya bisa mati…” jelas paman dengan pandangan lurus ke depan.

“Lalu, kenapa paman ingin mengambil kalung itu, kalau memang berbahaya?” tanyaku lagi. “Justru awalnya paman ingin melarang ayahmu memakainya… Namun, ayahmu malah marah dan mengadakan perang denganku… Makanya, setelah ayahmu mati, aku yakin ia akan memberikan kalung itu padamu. Aku takut kau memakainya dan akan bernasib sama seperti ayahmu… Untuk itulah, aku berusaha mengambil kalung itu. Kalung itu akan aku musnahkan untuk selamanya…” jelas pamanku panjang lebar.

Aku pun mengangguk tanda paham. Lalu, aku membuka kancing jubahku dan mengambil sebuah kantong. Aku membuka kantong itu. Yah, isinya adalah kalung kematian. Aku mengamati kalung yang sangat indah itu dan memberikannya kepada pamanku. Setelah memberikannya, paman memegang erat kalung itu dan langsung menyeringai secara tiba-tiba.

“Cihhh… Ternyata ayahmu dan dirimu sama saja. Terlalu baik dan mudah mempercayai orang… Kau percaya dengan cerita bualanku itu?? Hahahaha…. Selamat tinggal, bocah bodoh…! Kerajaan akan dihancurkan sebentar lagi… Hahahahaha…!!!” teriaknya seraya berlari jauh. Aku hanya bisa melongo mendengarnya. Jadi, semua cerita menyentuh itu, hanya bualannya?

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: