Full of inspiration and story

(Flashback)

Namaku Kent Tracker. Aku adalah putra mahkota kerajaan ‘White Castle’. Ayahku adalah raja dari White Castle. Namanya Grogery Tracker. Kehidupan di daerah kekuasaan ayahku sangat damai dan tentram. Setidaknya, sebelum kejadian naas yang menimpa kerajaan kami terjadi.

Yah, kejadian ini bermula dari kedatangan pamanku. Pamanku adalah adik tiri dari ayahku, yang tinggal di luar kerajaan. Aku pikir, ia hanya datang untuk mengunjungi ayahku. Namun, ternyata salah. Ia datang untuk merebut kerajaan ini. Perang mulai terjadi setelah peristiwa itu. Aku yang masih berusia 10 tahun, hanya bisa melihat dari dalam kerajaan. Rakyat kerajaan White Castle mulai merasa tidak tenang. Banyak rakyat dan pengawal kerajaan yang dihabisi nyawanya oleh bawahan pamanku.

Setelah keadaan kerajaan yang hancur lebur, muncul petaka baru bagiku dan kerajaan. Ayahku meninggal dalam peperangan yang kejam itu. Ia mengorbankan dirinya untuk menutup segel kerajaan untuk sementara. Sebelum meninggal, ayahku memberikan sebuah kalung.

“Kent…” panggil ayahku lirih. “Iya, ayah??” tanyaku masih menahan tangis. “Ayah sudah tak kuat lagi…” kata ayah dengan sekuat tenaga. “Apa maksud ayah? Jangan tinggalkan aku… Kumohon!” kataku memohon. Tangisan yang kubendung telah meluber keluar sekarang. “Jangan khawatir, nak.. Ayah telah berhasil menyegel mereka untuk sementara. Sekarang, tibalah tugasmu untuk menggantikan ayah mengurus kerajaan. Ini, ambilah…” kata ayah panjang lebar.

“Apa ini??” tanyaku penasaran seraya memegang benda yang telah berada di tanganku. “Jaga baik-baik kalung ini… Kalung ini adalah kalung yang dimiliki oleh semua raja terdahulu. Jangan sampai jatuh ke tangan orang jahat… Kalung ini memiliki kekuatan magis yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya. Sampai jumpa, anakku. A-ayah menyayangimu se-selamanya…” kata ayah seraya mengelus pelan rambutku. Lalu matanya menutup dan tangan halusnya berhenti mengelusku. Aku pun menangisi kepergian ayahku seraya masih memegang erat kalung pemberiannya.

Sejak itu, aku adalah penerus ayahku. Aku adalah raja dari White Castle. Meskipun aku sempat dicela karena umurku yang masih sangat belia, aku tetap tak menyerah. Aku tidak akan mengecewakan ayahku. Aku masih menyimpan kalung itu dengan sangat hati-hati. Aku juga memerintah dan mengendalikan kerajaan dengan bijaksana. Beberapa tahun kemudian, kerajaan White Castle perlahan-lahan kembali menjadi kerajaan yang damai dan tentram.

Di suatu sore yang cerah, aku memutuskan untuk pergi ke taman dekat kerajaan. Aku duduk di sebuah bangku seraya menatap lekat kalung itu. Kalung itu berwarna biru safir dengan ukiran yang sangat indah. Terngiang-ngiang perkataan ayahku saat itu. Tak terasa pipiku basah. Aku kembali merasakan kesepian yang menyesakkan dada. Sejak ayahku tiada, aku sendiri. Tidak ada yang mendukungku. Menghiburku saat aku sedih. Merawatku saat aku sakit. Menggendongku saat aku merasa lelah.

Suara dentuman keras membuatku terkejut. Aku pun berlari ke kerajaan. Dengan nafas yang masih berlomba-lomba, aku mengintip dari tirai. Sebuah ledakan telah mengenai kerajaan. Aku kaget dan ingin lari. Namun, aku mengurungkan niatku. Banyak rakyat yang membutuhkanku. Membutuhkan seorang raja yang dapat membelanya. Aku pun berjalan dengan yakin dan menghilangkan rasa takutku.

Sebuah panah yang tersemat di bahuku, kupakai untuk membunuh orang-orang yang telah merenggut kepunyaanku. Ayahku, rakyatku, kerajaanku, dan kehormatanku. Aku dan rakyat bersatu untuk mengalahkan mereka yang menghancurkan kedamaian tempat tinggal kami. Perang ini membuahkan hasil yang baik. Walaupun pamanku belum mati, semua bawahannya telah habis.

Di saat semua sedang berpesta dan merayakan hari bahagia ini, aku diseret ke sebuah bangunan tua. Ternyata yang menyeretku adalah pamanku sendiri. Aku berusaha melepaskan diri. Namun, pamanku lebih kuat. Ia terus menyiksaku dan menanyakan dimana ‘benda’ itu berada. Tapi, aku menolaknya. Aku telah berjanji kepada ayahku untuk selalu menyimpan benda ini. Hingga akhirnya ia memukul kepalaku dengan tongkat. Aku pun pingsan.

 (End Of Flashback)

Aku membuka mataku perlahan. Pamanku telah mengacungkan pisau tajamnya dan menggerakannya ke arahku. Saat jarak antara pisau dan dadaku tinggal 5 cm, aku menggerakan badanku ke samping. Pisau itu telah menancap di tanah bekas posisiku semula. Melihat rencananya untuk membunuhku gagal, ia menggeram. Wajahnya kembali menyeringai.

“Jadi kau benar-benar ingin bermain, hah??!!??” teriaknya kesal. Aku hanya bisa diam melihatnya. Aku melihatnya lekat-lekat. Di wajahnya yang kejam dan menua, bisa kulihat bayangan ayahku. Mereka memang sangat mirip. Meskipun dari ibu yang berbeda, dulunya mereka sangat kompak. Tak sadar, air mataku mengalir mengikuti alur wajahku. Kerinduan dan kelaparan akan kasih sayang telah membuncah keluar.

“Apa yang kau tangisi bocah kecil…!!!” teriaknya. Nampaknya, ia bingung pada keadaanku. Aku tak sanggup menjawabnya. Tenggorokanku terlalu sakit untuk mengatakannya. “Apakah kau takut padaku…??” tanyanya lagi. Aku yang masih menangis hanya bisa menggeleng pelan. “Lalu apa??” tanyanya mulai kelabakan. Sekarang aku dapat merasakan. Meskipun ia jahat padaku, ia tak bisa menutupi ikatan darah antara kita berdua.

“Paman…” panggilku dengan suara serak. Ia tidak menjawab, namun matanya terarah padaku. “Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanyaku dengan sedikit canggung. “Apa?!?” tanyanya keras namun terlihat guratan kasih sayang di wajahnya.

 TBC

Advertisements

Comments on: "Story : ~The Death Necklace~ (part 2)" (4)

  1. chris, jd paman sama ayah kent itu beda ibu, satu ayah y? wh keren abizz. ngak sbr tgg crt yg selanjtnya. klo udh ad, ksh tau y. . .

  2. ceritain gw donk!
    becanda …..
    woi crish ceritain SMP kelas 8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: