Full of inspiration and story

Aku membuka mata perlahan. Darah masih menetes dari pelipisku yang terluka. Kurasakan sakit yang hebat pada bagian dada sebelah kiriku. Samar-samar kulihat seseorang berjalan kearahku. Aku pun berusaha bangun dan kabur. Tapi, kaki kananku terlalu sakit untuk berdiri. Aku pun merangkak dengan sekuat tenaga.

Tapi, aku terlambat. Orang itu telah berada tepat di belakangku dan menyeretku masuk ke dalam. Di sebuah ruangan, orang itu melemparku dengan keras. Aku memekik karena sakit yang merambat pada tubuhku. Ia duduk di kursi tepat di hadapanku. Wajahnya yang galak, seakan berhasrat untuk menelanku hidup-hidup.

Ia menatapku tajam. “Dimana benda itu…!!??!!” teriaknya kepadaku dengan sangat keras. Yang bisa kulakukan hanya menggeleng pelan. Daripada aku memberitahukan dimana benda itu berada, aku lebih baik mati. Ia pun menghela nafas panjang. “Aku tanya sekali lagi, dimana benda itu…!!!???!!!” teriaknya dengan lebih keras. Sekarang tangannya telah menggenggam kerahku yang dipenuhi oleh darah yang telah mengering.

Keringatku bercucuran. Membasahi tubuhku, dan bersatu dengan darah yang masih mengalir. Aku menggeleng pelan. Ia melepaskan kerah bajuku dengan kasar. Kemudian ia pergi sejenak. Sekarang kepalaku sangat pening. Tak lama, ia kembali. Ia kembali dengan sebuah benda yang amat kukenal. Pisau. Jantungku berdegup dengan sangat kencang. Lebih kencang dari sebelumnya.

Ia menyentuh wajahku dengan kasar. “Kau tentu tidak mau kan, wajahmu yang tampan ini kucabik-cabik…?? Jangan membuat kesabaranku habis…!! SEKARANG KATAKAN DIMANA BENDA ITU…!!!!!!!” teriaknya dengan sangat keras. Membuat kupingku pengang. Aku menutup mataku dan tetap menggeleng pelan. Aku telah pasrah sekarang.

Ia menyeringai seram. Pisau yang ia pegang di tangan kanannya telah menyentuh pipiku. Dingin, kata itulah yang bisa kugambarkan. “Kau sangat keras kepalanya rupanya… Baik, akan aku ikuti permainanmu.” katanya pelan. Aku menelan ludah perlahan. Pisau yang ia pegang mengukir pipiku perlahan. Membuat sebuah goresan muncul di pipi kananku yang bewarna putih pucat.

Darah segar mulai mengalir dengan lancarnya dari pipiku. Aku mengepalkan tanganku untuk meredam rasa perih yang terasa. “Kau masih keras kepala, anak muda?? Permintaanku mudah. Cukup katakan dimana benda itu dan kau akan kubebaskan.” katanya seraya mengelus pipiku dengan lembut.

Aku menarik nafas dengan panjang. Dengan jawaban yang sama, aku menggeleng. Ia mendengus kesal. Kursi yang berada di sebelahnya, ia banting ke tanah. Sekarang tangannya memegang pisau dengan mantap. Seakan siap mencelakaiku. “Karena kau meminta, aku akan membunuhmu sekarang juga… Selamat tinggal, anak bodoh…” bisiknya tepat ke telingaku.

Tangannya mengangkat pisau dan mengarahkannya tepat pada jantungku. Aku hanya bisa menutup mata dengan pasrah. Pasrah pada keadaan yang memaksaku. Mungkin beginilah takdirku. Kehidupanku akan berhenti disini. Berhenti dengan tragis. Selamat tinggal dunia. Kubuka mataku untuk melihat keadaan. Ia telah mengacungkan pisau tajamnya dan menggerakannya ke arahku.

TBC

Advertisements

Comments on: "Story : ~The Death Necklace~ (part 1)" (2)

  1. tin-tin, kalung kematian y? benar ap slh? tp aq mkn penasaran. wh krn! lanjutin mpe tuntas y, ngomong2, ini horor or adventure? campuran y, krn abis. . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: