Full of inspiration and story

Hari ini, cuaca sangat cerah. Aku seperti biasa sedang duduk di taman dekat sekolah. Biasanya, sebelum aku berangkat sekolah, aku akan mampir di taman untuk membaca buku. Menurutku, di sekolah sangat membosankan. Sekolahku adalah sekolah elite yang hanya ditempati oleh siswa-siswi yang sangat kaya. Aku termasuk beruntung dapat sekolah disana karena aku bukan anak dari kalangan atas.

Bahkan, bisa dibilang, keluargaku sangat melarat. Aku bisa sekolah disana hanya karena beasiswa. Semua orang disana menjauhi aku karena menurut mereka, aku tidak selevel mereka. Dan, tak dapat kupungkiri perkataan mereka benar. Aku bukan kalangan atas, tampangku jelek, aku pendek dan gemuk. Bahkan, walaupun aku kaya, mungkin mereka akan tetap menjauhiku karena rupaku.

Setelah waktu menunjukan jam 07.45, aku pun bergegas ke sekolah. Begitu sampai di kelas, semua wanita menghampiriku. Mereka menghampiriku bukan karena aku idola, tetapi karena satu-satunya temanku adalah idola. Biasanya, mereka akan bertanya tentang makanan favorit temanku, ukuran sepatunya, dan lain-lain. Ini benar-benar membuatku risih.

“Michiyo, bolehkah aku bertanya padamu?” tanya seorang wanita. “Kalau itu menyangkut Kaito lagi, jawabannya tidak.” jawabku dengan ketus. Mereka pun pergi setelah mengucapkan kata-kata kotor kepadaku. Karena kesal, aku memutuskan untuk bolos dan pergi ke taman itu lagi. Aku duduk di bawah pohon sambil berusaha untuk tidur.

“Permisi, bolehkah aku berkenalan denganmu?” tanya seseorang yang ternyata adalah perempuan. “Tidak usah berbasa-basi, kamu ingin bertanya tentang Kaito juga kan?” tanyaku dengan dingin. “Kaito? Cowok yang selalu jadi idola itu? Tidak, aku hanya ingin berteman denganmu. Namaku Haraku Teyuki. Kamu?” kata perempuan itu sambil tersenyum.

“Namaku Yamashita Michiyo. Buat apa kau berteman denganku? Aku hanya seorang siswa miskin dan jelek. Aku tidak pantas berteman denganmu.” kataku. “Aku mau berteman dengan seseorang bukan karena status, atau ketampanan. Aku hanya ingin berteman dengan seseorang yang baik. Dan menurutku, kau orangnya.” jelas wanita itu dengan lembut.

%%%%%%%%%%

2 tahun sudah berlalu sejak hari itu. Aku dan Teyuki sekarang sudah menjadi sepasang kekasih. Banyak yang bilang aku benar-benar tidak cocok untuk Teyuki, dan menurutku itu memang benar. Tapi, aku sangat mencintainya dan ia pun sangat mencintaiku. Istilah bahwa ‘cinta memang buta’ itu ternyata memang benar.

Hari ini tepat 1 tahun aku dan Teyuki pacaran. Teyuki mengajakku bertemu untuk merayakannya di sebuah taman tempat pertama kali kita bertemu. “Ini, sayangku.” kataku sambil mencium kening Teyuki dan memberikannya sebuah hadiah. “Apa ini?” tanyanya sambil melihat hadiah yang kuberikan. “Ini memang hanya hadiah biasa. Tapi, aku memberikan ini khusus untukmu.” kataku.

Iapun perlahan-lahan membukanya. “Wah, apakah ini not lagu yang kau ciptakan untukku? Terima kasih, sayangku…!!! Ini sangat berharga bagiku.” katanya riang sambil memelukku. Tiba-tiba, angin berhembus sangat kencang.

Secarik kertas yang merupakan not lagu buatanku terbang terbawa angin. Teyuki pun mengejar kertas itu sambil melewati jalan raya. Aku melihat sebuah mobil yang sedang berjalan tepat kearah Teyuki. Aku pun berlari dan mendorong Teyuki ke aspal. Dan aku tidak tau lagi apa yang terjadi.

(Teyuki POV)

Hari ini adalah tepat 1 tahun aku dan Michiyo pacaran. Aku menelepon Michiyo untuk mengajaknya bertemu di taman pertama kali kita bertemu. “Ini, sayangku.” katanya sambil mencium keningku. Ia memberikanku sebuah hadiah yang dilapisi kertas kado berwarna merah muda.

“Apa ini?” tanyaku sambil memandangi pemberiannya. “Ini memang hanya hadiah biasa. Tapi, aku memberikan ini khusus untukmu.” katanya sambil tersenyum. Aku pun perlahan-lahan membukanya. “Wah, apakah ini not lagu yang kau ciptakan untukku? Terima kasih, sayangku…!!! Ini sangat berharga bagiku.” kataku riang sambil memeluknya.

Tiba-tiba, kertas yang aku pegang terbang akibat angin yang sangat kencang. Aku pun mengejar kertas itu. Menurutku, kertas ini sangat berharga karena Michiyo rela begadang untuk membuat ini untukku. Ketika mendengar klakson mobil, aku melihat kearah mobil yang sedang berjalan tepat kearahku. Aku menutup mata karena pasrah.

Tapi, aku merasa didorong oleh seseorang yang membuatku terjatuh ke aspal. Setelah bangun, aku melihat banyak orang yang berteriak-teriak dan mengerumuni seseorang. Ternyata, orang itu adalah Michiyo! Aku perlahan-lahan menghampirinya dengan tertatih-tatih. Orang yang kucintai, sedang terkapar di jalan dengan seluruh tubuh yang berdarah-darah. Rasanya, air mataku terlalu sakit untuk menetes. Tak lama kemudian, aku pingsan.

Aku perlahan-lahan membuka mataku. Aku melihat kearah kiriku. Tampak seorang dokter sedang merawatku. “Dok, bagaimana keadaan Michiyo?” tanyaku panik. “Maksud anda, orang yang dibawa ke rumah sakit bersama anda? Ia tidak dapat ditolong lagi.” kata dokter itu sambil menunduk. “Ini tidak mungkin…! Dimana dia??” tanyaku sambil mulai terisak.

“Ia berada di kamar mayat sekarang.” jawab dokter itu. Aku pun berlari mencari kamar mayat tersebut. Otakku berkata bahwa ia sudah mati, tapi hatiku masih tidak percaya dengan kenyataan ini. Setelah beberapa lama mencari, akhirnya aku menemukan ruangan itu.

Begitu masuk, aku melihat keluarganya sedang menangis. Disitu juga ada Kaito, sahabat satu-satunya Michiyo. Aku berjalan perlahan-lahan menuju sebuah tubuh. Tubuh itu tertutup kain putih yang menutupi seluruh tubuhnya. Aku perlahan-lahan membukanya. Kulihat wajah seorang pria yang sangat kucintai. Wajahnya sangat pucat. Aku pun terduduk lemas dan tangisku meledak.

(Michiyo POV)

Aku membuka perlahan-lahan mataku. Aku melihat keluargaku sedang menangis tersedu-sedu. Kemudian, aku melihat Kaito yang walaupun diam, mukanya kelihatan sangat sedih. Aku juga melihat Teyuki. Ia sedang duduk di lantai dengan tangisan yang sangat kencang. Perlahan-lahan aku berdiri dan memegang pundak ibuku.

“Ibu, apa yang terjadi? Kenapa ibu menangis?” tanyaku sambil menggoncangkan tubuh ibuku. Tapi, ia tidak merespon. Aku pun berjalan kearah Kaito. “Kaito, apa yang terjadi pada keluargaku? Kenapa mereka menangis? Kai, jawab aku.” kataku kepada Kaito. Namun, ia tetap diam. Aku mulai kesal dan berjalan kearah Teyuki. “Yuki, tolong jangan acuhkan aku lagi. Apa yang terjadi padamu?” tanyaku. Namun, ia juga tidak bergeming.

“Michiyo, kamu ingin tau jawabannya?” tanya sebuah suara. Aku pun mencari keberadaan suara itu. “Siapa yang berbicara? Dimana kau?” tanyaku bingung. “Kamu sudah mati. Kalau tidak percaya, lihat mayat di belakangmu.” kata suara itu lagi. Aku menengok ke belakang. Kulihat diriku sendiri sedang terbaring disana. “Apa yang kau maksudkan?” tanyaku semakin bingung.

“Kau sudah mati. Kau tertabrak saat menolong pacarmu.” jelas suara itu. “Tapi, aku masih ingin melihat Teyuki, Kaito, dan keluargaku bahagia. Berilah aku kesempatan.” pintaku. “Baiklah, berapa lama waktu yang kau butuhkan?” tanya suara itu. “Apa maksudmu?” tanyaku. “Berapa lama aku akan memberikan kesempatan kepadamu untuk hidup?” tanya suara itu lagi. “1 tahun.” jawabku. “Baik, ikut aku kalau begitu.” katanya.

Tiba-tiba, muncul seseorang dengan baju putih-putih, dan memberi isyarat untuk mengikutinya. Ia berjalan memasuki sebuah ruangan. Di ruangan itu, kulihat banyak orang yang sedang menangis dan kulihat juga seseorang yang sedang terbaring.

“Kau akan masuk ke dalam tubuh orang ini. Ia sedang koma dan rohnya sudah pergi. Sekarang masuklah.” kata orang itu sambil menunjuk ke sebuah tubuh yang terbaring. “Dan ingat, jangan mengatakan apa-apa tentang identitasmu yang sebenarnya.” lanjutnya sambil menghilang.

Aku pun melihat calon tubuh yang akan aku tempati. Ia sangat tampan, tinggi, dan kelihatan masih muda. Dari cara berpakaian keluarganya, nampaknya ia anak orang kaya. ‘Apakah aku pantas masuk ke dalam tubuhnya?’ batinku.

Aku pun perlahan-lahan masuk ke tubuh orang itu. Setelah masuk, aku membuka mata. Kulihat keluarganya berteriak kegirangan. “Dokter…!!! Dokter…!!! Anak saya sudah sadar…!!!” teriak seorang perempuan. Tak lama kemudian, dokter datang dan memeriksaku. Setelah selesai, orang-orang yang nampaknya keluarga dari lelaki yang aku tempati tubuhnya masuk ke ruangan.

“Akio, kau sudah sadar! Ibu sangat khawatir padamu…” kata seorang perempuan. “Akio, kakak sangat takut kau kenapa-napa… Syukurlah kau sudah sadar.” lanjut seorang perempuan. “Akio? Siapa Akio? Dan siapa kalian?” tanyaku bingung. “Akio, jangan bercanda dong. Masih sempat-sempatnya aja kamu.” kata seorang laki-laki.

“Aku tidak bercanda. Siapa kalian?” lanjutku. Kemudian, kudengar mereka perlahan-lahan keluar kamar dan beberapa menit kemudian datang lagi ke kamar rumah sakit. “Akio, kata dokter, kamu mungkin akan hilang ingatan karena terlalu lama koma. Tapi, kita akan membuat ingatanmu kembali kok.” kata seseorang lagi.

Beberapa hari kemudian, aku diajak pulang oleh keluarga baruku. “Nah, ini rumahmu.” kata seorang perempuan yang adalah ibu baruku. “Apa?? Ini rumahku?” tanyaku kaget karena rumah itu sangat besar. “Tentu saja. Ayo masuk..” kata kakak. “Oh ya, besok kamu akan sekolah di sekolah baru lho. Ayah takut kalau kamu bingung dengan teman-teman lamamu. Jadi, ayah memindahkan sekolahmu.” jelas ayah.

Aku pun mengangguk dan kemudian pergi ke kamar yang biasa ditempati oleh Akio. Setelah masuk kamar, aku duduk di kasur dan tak lama air mataku menetes. ‘Ibu, Ayah, Kaito, dan Teyuki, aku akan bertemu kalian lagi. Meskipun sulit, aku akan membahagiakan orang yang aku sayangi.’ gumamku sedih.

Esoknya, aku diantar oleh kakak dengan mobil ke suatu sekolah. Akio masih berumur 16 tahun, sedangkan aku mestinya berumur 17 tahun, jadi pelajarannya akan sangat mudah bagiku. Apalagi ditambah dengan aku yang biasanya selalu dapat beasiswa.

Tak lama kemudian, mobil berhenti. “Akio, kamu sudah sampai. Nanti kakak jemput lagi ya pulangnya. Dada.” kata kakak sambil tersenyum. “Baik, kak.” jawabku dengan sedikit canggung. Aku merasa ada yang aneh. Mengapa sekolah ini tidak asing bagiku. ‘Bukankah ini memang sekolahku?’ batinku kaget. Berarti aku masih bisa melihat Teyuki dan Kaito!

Setelah perkenalan, aku diajak mengelilingi sekolah oleh seorang kakak kelas. Dan parahnya, kakak kelas yang menemaniku adalah Kaito! Aku sangat senang sekali. “Kakak, boleh kita berkenalan?” tanyaku dengan hati-hati. “Tentu saja boleh… Namaku Hitatsu Kaito.” kata Kai sambil tersenyum.

“Terima kasih, kakak. Namaku Mi-, maksudku Akio, Hokuto Akio.” kataku hampir salah ngomong. “Oh, Akio, jangan panggil aku kakak, panggil aja aku Kaito, biar lebih akrab.” katanya. Setelah itu, kita menjadi teman yang lumayan dekat. Dan, katanya sore nanti, aku akan diajak bertemu dengan teman-temannya.

“Akio, aku disini…!” teriak Kai yang melihatku sedang mencarinya. “Nah, teman-teman, ini Akio. Dia adik kelas kita disini.” jelas Kai kepada teman-temannya.
“Namaku Tetto.”
“Namaku Furaku.”
“Namaku Teyuki.”
Aku kaget saat melihat satu-satunya wanita yang ada disitu. “Namaku Akio.” kataku dengan pandangan yang masih terpaku pada Teyuki. ‘Teyuki, aku Michiyo. Apakah kau bisa mendengarku?’ batinku, perih.

Kemudian, kita pun bercanda ria sambil akhirnya pergi ke suatu taman. Taman yang sangat bersejarah bagiku dan Teyuki. Aku pun mengenang hari itu. Aku duduk di bawah pohon tempat aku biasanya duduk. Begitu aku duduk, Teyuki terlihat sedikit tercengang.

%%%%%%%%%%

3 bulan sejak itu, kita menjadi teman baik. Pada sore hari, aku dan teman-teman yang lain janjian ke taman dekat sekolah. “Akio, kau jaga Teyuki dulu ya… Aku ingin membeli es krim dulu. Kamu mau es krim rasa apa?” kata Kai. “Rasa coklat…” jawabku. Kemudian, aku duduk di bawah pohon. Tak lama kemudian, Teyuki duduk di sebelahku. Aku merasa jantungku berdegup sangat kencang.

“Akio.” kata Teyuki. “Iya kak?” jawabku. “Kenapa segala yang kau lakukan selalu mengingatkanku kepada Michiyo?” tanyanya sambil memandang lurus ke depan. Aku ingin sekali mengatakan, ‘Karena aku memang Michiyo. Aku sangat mencintaimu, Teyuki.’ tapi aku tidak bisa.

“Michiyo? Dia siapa, kak?” tanyaku seolah bingung. “Dia pacarku. Oh tidak, lebih tepatnya mantan pacarku.” jawab Teyuki. “Mantan pacarmu? Apakah dia memutuskanmu?” tanyaku lagi. “Tidak. Dia sudah meninggal, karena menolongku. Aku sangat merasa bersalah, Akio.” kata Teyuki sambil mulai menangis. “Tidak kak. Kau tidak bersalah.” kataku.

“Darimana kau tau, Akio? Kau kan tidak tau apa-apa mengenai kejadian itu!” kata Teyuki yang membuatku sakit. “Aku tau kak. Tapi, aku yakin kak Michiyo juga akan marah kalau kakak menyalahkan diri kakak seperti ini.” kataku sambil tersenyum. “Terima kasih Akio. Kau memang sangat baik padaku.” katanya sambil memelukku. Saat aku dan Teyuki sedang berpelukan, Kaito datang. Ia nampak kaget dan menjatuhkan es krim yang ia pegang. “Ka-kaito…” panggilku. “Kaito…!” panggil Teyuki. Namun, Kaito berlari tanpa menggubris panggilan kita.

Setelah itu, aku mengantarkan Teyuki ke rumahnya lalu pulang ke rumahku. Di kamar, aku merenung. ‘Apakah diam-diam Kaito mencintai Teyuki? Kalau benar, apa yang harus kulakukan? Aku memang sangat mencintai Teyuki, tapi aku juga tidak mau Kai terluka.’ batinku dalam hati.

Lalu, esoknya di sekolah, aku pergi ke kelas Kaito, yang dulunya adalah kelasku juga. “Kai, aku ingin berbicara denganmu.” kataku kepada Kaito. Kemudian, aku pun duduk di kantin dan diikuti olehnya. “Kai, apakah kau mencintai kak Teyuki?” tanyaku kepadanya. “Untuk apa kau menanyakannya? Bukannya kau juga mencintainya?” tanya Kaito balik kepadaku. “Aku memang mencintainya, tapi kalau kau mencintainya, aku akan melepasnya.” jawabku dengan hati yang sangat perih.

%%%%%%%%%%

Hari ini adalah hari yang paling bahagia bagi Teyuki dan Kaito. 8 bulan tepat sejak hari itu, mereka melangsungkan pernikahan. Terlalu cepat memang, tapi mereka sangat bahagia. Aku duduk di sebuah kursi di sebuah taman yang sekarang disulap menjadi tempat pernikahan.

Yah, ini adalah taman yang sama saat aku pertama kali bertemu dengan Teyuki. Tak lama kemudian, acara pernikahan dimulai. Aku melihat Kaito yang sedang berdiri menunggu pengantinnya di sebelah pastur. Lalu, tiba-tiba munculah pengantin wanita bersama ayahnya.

Pengantin wanita itu sangat cantik dengan gaun putih yang panjang. Rambut hitamnya disanggul dengan ikatan yang juga putih. Ia adalah pengantin yang aku pikir akan menjadi pengantinku suatu saat nanti. Tapi, impian itu sirna sejak aku tertabrak dan kehilangan nyawaku.

Setelah upacara selesai, mereka berbincang bersama keluarga yang lain. Saat aku memutuskan untuk pulang, Teyuki memanggilku. “Akio…!” panggil Teyuki. “Iya kak?” tanyaku. “Aku ingin berterima kasih kepadamu. Kalau tidak ada kamu, mungkin aku tidak akan melangsungkan pernikahan dengan Kaito.” kata noona sambil memelukku.

“Kak Teyuki?? Jangan memelukku seperti itu. Kau kan sudah menikah. Nanti Kaito cemburu lagi.” kataku sambil melepas pelukan Teyuki. “Selamat ya, Kai, kak Teyuki… Tapi, maaf, aku ada janji lagi sehabis ini. Aku pulang dulu ya…” kataku sambil tersenyum lalu pergi. Setelah masuk ke mobil, air mataku yang kutahan sedari tadi menetes terus-menerus. Rasanya, aku tak sanggup bernafas lagi.

%%%%%%%%%%

Tak terasa 1 bulan telah berlalu sejak saat itu. Aku berjalan perlahan-lahan ke rumah baru Teyuki dan Kaito. Hari ini adalah hari terakhir aku dapat hidup. Maka, aku memutuskan untuk menemui Teyuki dan Kaito dirumahnya. Aku memencet bel dan tak lama kemudian, Teyuki membukanya. “Kak, apa kabar?” kataku.

“Baik… Masuklah, Akio!” kata Teyuki riang. Aku pun masuk dan duduk di sofa. Lalu, Kaito datang dan duduk di sebelah Teyuki. “Untuk apa kamu kemari, Akio? Bukannya hari ini kamu sekolah?” tanya Teyuki. “Aku hanya kangen kepada kalian. Setelah kalian menikah, aku jadi sendiri deh.” jawabku sambil cemberut. “Kamu ini, oh ya, kita punya berita baik, lho.” kata Kaito.

“Apa itu Kai?” tanyaku penasaran. “Teyuki sedang mengandung.” jawab Kaito sambil mengelus perut Teyuki. “Apa?? Selamat, Kai, selamat, kak Teyuki!!” kataku sambil berusaha tersenyum. Kemudian, kita berbincang-bincang dan bercanda seharian. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 21.00.

“Kaito, kak Teyuki, aku pulang dulu ya… Oh ya, kakak ini.” kataku sambil memberikan sebuah kado kepada Teyuki. “Apa ini?” tanya Teyuki bingung. “Setelah aku pergi, buka saja ini. Nanti kau juga akan tau.” jawabku sambil pergi.

(Teyuki POV)

Setelah Akio pulang, aku dan Kaito pergi ke kamar. Aku membuka kado pemberian Akio. Kado itu dilapisi kertas kado bewarna merah muda. Ini mengingatkanku pada sesuatu. Isinya adalah secarik kertas dan sebuah surat.

Aku melihat isi kertas itu dan aku pun menangis tersedu-sedu. “Kenapa kau menangis sayang?” tanya Kai yang heran akan tingkahku. Tapi, aku tak sanggup menjawabnya. Ini adalah not lagu yang diberikan Michiyo kepadaku hari itu. Tapi, darimana Akio mendapatkannya? Aku pun mengambil sebuah surat yang juga berwarna merah muda.

Teyuki, mungkin kau tidak percaya ini,
tapi aku adalah Michiyo, Akio adalah Michiyo…
Kau tahu, Yuki? Saat aku memakai tubuh Akio,
beberapa kali aku ingin menyatakan cintaku padamu…
Tapi, ternyata Kaito sangat mencintaimu…
Aku memang sangat mencintaimu, tapi aku juga ingin Kai bahagia…
Semoga kau dan Kai dapat hidup bahagia…
Aku sangat mencintaimu, Yuki…
Aku tidak akan pernah menyesal pernah meminta kesempatan untuk hidup lebih lama…
Selamat tinggal, Yuki…
Aku akan selalu mencintaimu, selamanya…

Aku pun menangis lebih keras dan berlari. Tak tau kenapa, kakiku melangkah kearah taman. Kai yang bingung mengikutiku dari belakang. Disitu aku melihat Akio sedang berdiri memandang langit. Aku pun memeluknya dari belakang. “Aku sudah tau semuanya, Chiyo. Mian, aku terlalu bodoh untuk menyadarinya. Mestinya, aku sadar dari awal kalau kamu adalah Michiyo. Meskipun, aku tidak tau kenapa kau bisa ada di tubuh orang lain.” kataku sambil mempererat pelukanku.

“Selamat tinggal, Yuki… Aku mencintaimu selamanya… Semoga kau berbahagia dengan Kaito.” katanya sambil memberikan senyuman terakhirnya. Tak lama kemudian, cahaya terang muncul dan ia perlahan-lahan menghilang. “Michiyo, mengapa aku harus kehilanganmu 2 kali?” tanyaku sambil menangis tersedu-sedu. Kai yang melihatku menangis, memelukku dengan erat. ‘Selamat tinggal, sayangku…’

->THE END<-

Advertisements

Comments on: "Story : ~A Wonderful Chance~" (2)

  1. mengharukan skl. . . hiks. . . hiks. . . bgs bgt.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: