Full of inspiration and story

Aku pun turun dari lantai atas dan menuju kelasku. Saat pelajaran matematika berjalan, pikiranku melayang. ‘Bodohnya aku… Masa aku tak menanyakan nama pemuda tadi sih…!’ batinku seraya memukul-mukul kepalaku sendiri. “Keysia…!!!” teriak guru yang membuatku kaget. “I-iya, pak??” jawabku. “Kenapa kamu melamun, hah?!?” teriak guru itu dengan lantang. “Sana, keluar dari pelajaran saya…!!!” lanjut guru itu.

Aku pun membereskan tas dan keluar dari kelas. “Dasar guru aneh…!!!” umpatku sendiri. Aku memutuskan untuk ke balkon itu lagi. Aku menaruh tasku dan melihat pemandangan dari balkon. “Dikeluarkan dari kelas ya?” tanya seseorang yang kukenal. “Eh, kamu… Iya nih… Kamu ngapain disini?” tanyaku ramah. “Aku malas di kelas…” jawabnya seraya tersenyum.

“Oh ya, namamu siapa?” tanyaku penasaran. “Namaku Vio…” jawabnya seraya tersenyum. Ia menghampiriku dan berdiri di sebelahku. Kulitnya yang putih pucat sangat kontras dengan sinar matahari. Rasanya nyaman sekali berada di dekatnya. Tak sadar, aku telah menghabiskan waktu untuk mengobrol dengannya hingga bel pulang berbunyi.

“Pulanglah… Kakakmu pasti telah menunggu…” katanya ramah. “Terima kasih ya, Vio…! Oh ya, nomor handphonemu atau kelasmu apa? Biar aku bisa bertemu denganmu…” tanyaku kepadanya. “Kalau kau ingin bertemu denganku, datang saja kesini… Aku pasti ada.” jawabnya seraya melambaikan tangannya. Aku pun membalasnya dan turun mencari kakakku.

“Keysia…!!!” teriak kakakku. “Kak Dennis…!” balasku. “Ayo, kita pulang…” ajaknya yang dibalas anggukanku. Begitu sampai di rumah, aku langsung masuk ke kamarku. Aku menulis diary-ku.

Dear Diary,

Hari ini perasaanku sangat sedih dan sangat senang. Sangat sedih karena tak ada yang mengakui bahwa aku adiknya kak Dennis, dan sangat senang karena aku bertemu dengan seseorang. Ia adalah pemuda yang tak kalah tampan dan manis dari kakakku. Berada di sampingnya, selalu membuat hatiku nyaman. Tapi, dia sedikit aneh. Buktinya, ia selalu ada di balkon sekolahku. Tapi, tak apalah… Yang penting aku punya teman sekarang. Bye-bye, Diary…

Aku menutup diary-ku. Setelah menaruh diary-ku ke tempat yang aman, aku tidur dengan nyenyak. Saat aku bangun, aku langsung mandi dan makan. Seperti biasa, aku diantar oleh kak Dennis. Celaan dan hinaan masih kurasakan. Baik oleh kakak kelas maupun teman seumuranku. Istirahat kali ini, aku kembali ke balkon. Aku bisa melihatnya sedang membaca buku. Aku pun mengendap-endap dan menepuk bahunya pelan.

“Ya ampun, Key… Kau membuatku kaget tau…” katanya terkejut. Aku hanya tertawa kecil dan kemudian duduk di sebelahnya. “Vio…” panggilku. “Ehmm…” jawabnya seraya menatapku. “Terima kasih ya…” kataku serius. “Untuk apa?” tanyanya bingung. “Untuk menjadi temanku satu-satunya…” jawabku dibalas dengan belaian tangannya ke rambutku lembut.

Selama tiga tahun, setiap istirahat dan pulang, aku selalu menemuinya di balkon. Walaupun, aku masih bertanya-tanya, mengapa dia selalu ada di balkon setiap aku kesana, pertanyaanku hilang saat bertemu dengannya. Sekarang, perasaanku kepadanya, bukan sekedar perasaan teman belaka. Yah, aku mencintainya. Bukan, lebih tepatnya, sangat mencintainya. Hari ini pun aku pergi ke balkon itu. Aku melihatnya sedang mendengarkan lagu dari i-pod birunya.

“Vio…” panggilku dibalas senyuman darinya. “Halo, Key…!” sapanya seraya membuka headsetnya. “Ada yang ingin aku sampaikan padamu…” kataku mulai serius. “Apa itu, Key?” tanyanya penasaran. “Aku… Aku… Aku mencintaimu, Vio…! Bolehkah aku jadi pacarmu…??”

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: