Full of inspiration and story

Hari ini hari pertamaku masuk SMA. Aku memakai seragam baruku dengan hati yang riang. Aku menguncir satu rambut hitamku karena panasnya udara hari ini. Aku masuk SMA yang sama dengan kakak laki-lakiku. Sekarang kakak laki-lakiku duduk di kelas 2 SMA.  Ia adalah ‘idola’ di sekolahnya. Ia adalah seorang model, aktor, dan penyanyi terkenal. Semua orang mengaguminya, termasuk aku. Ia sangat jauh berbeda dengan denganku.

Rambutku hitam legam, sedangkan rambutnya coklat kepirangan. Mataku coklat, sedangkan matanya biru saphire. Aku anak yang tidak terlalu pintar, sedangkan kakakku adalah juara kelas. Aku selalu gagal dalam bidang seni maupun olahraga, sedangkan kakakku sangat hebat dalam bidang seni maupun olahraga. Dan masih banyak perbedaan lainnya. Ini membuatku sangat iri kepadanya. Namun, tak dapat kupungkiri, ia sangat baik padaku dan tak pernah peduli akan perbedaan kita.

“Kenapa bengong, Key? Ayo kita pergi… Nanti keburu telat lho.” kata kakakku lembut. Aku pun mengangguk dan mengikutinya. “Kak, aku berangkatnya naik bis aja ya?” kataku kepadanya. Ia pun terkejut. Mata indahnya membelalak lebar. “Tapi kenapa Key? Kita kan tinggal di rumah yang sama dan akan pergi ke tempat yang sama.” tanya kakakku bingung. “Aku… Aku… Aku takut kakak malu denganku. Aku ini gak pantas jadi adiknya kakak.” jawabku jujur.

“Siapa yang bilang? Bagi kakak, kamu adalah mutiara terindah kakak. Tanpa kamu, kakak tidak akan bisa hidup. Jadi berhentilah berbicara yang tidak-tidak ya? Ayo, kita berangkat…” kata kakak seraya tersenyum manis. Aku hanya bisa tersenyum tipis menanggapi perkataan kakakku. Aku naik ke boncengan motor kakakku yang melaju cepat ke sekolah.

Setelah sampai di sekolah, puluhan pasang mata memandangi kami. Aku benar-benar benci pandangan mata orang-orang disekitarku. “Kita sudah sampai. Mau aku antar ke kelas barumu?” tanya kakakku dengan ramah. “Tidak perlu, kak… Aku bisa sendiri kok… Sampai jumpa…!” kataku seraya berlari menjauhi kakak. “Pulang nanti aku jemput ya…!!!” teriaknya kepadaku. Sebelum sampai ke kelas, aku dihadang tiga orang wanita yang nampaknya kakak kelasku.

“Permisi, kak… Boleh saya lewat? Saya ingin ke kelas saya.” kataku sopan. “Tidak semudah itu kau bisa lewat, setelah apa yang telah kau perbuat…!” bentak seseorang diantara ketiga wanita itu. “Tapi, apa yang telah saya perbuat, kak?” tanyaku masih berusaha sopan. “Pake pura-pura gak tau lagi… Kamu ngapain ngegoda-goda Dennis, hah?” tanya salah seorang wanita lagi. “Ngegoda kak Dennis? Hahahaha….” kataku tertawa terbahak-bahak.

“Apa yang kau tertawakan, anak bodoh?” teriak seseorang lagi. “Gak mungkin lah aku godain kak Dennis… Kak Dennis kan kakak kandungku sendiri… Mana mungkin aku menggodanya…!” kataku lagi seraya memegang perutku yang sakit karena terlalu banyak tertawa. “Dennis? Kakak kandungmu? Hahahahaha….” sekarang gantian mereka yang tertawa. “Apa gak salah? Makanya, kalau punya mimpi yang masuk akal dikit dong… Sekarang aku sedang berbaik hati, sana pergi…!” kata kakak kelas itu.

Aku pun langsung menuju kelas dengan perasaan sedih. Setelah bel berbunyi, seorang guru datang. “Saya adalah wali kelas kalian mulai hari ini… Sekarang sebutkan nama kalian dan kalau ada, saudara kalian yang bersekolah disini juga.” perintah guru itu. Setelah tiba gantianku, aku pun mulai berbicara. “Namaku Keysia Grint. Aku mempunyai kakak kandung yang sekarang duduk di kelas 2 SMA.” kataku memperkenalkan diri. “Oh ya, siapa kakakmu, Keysia?” tanya guru itu ramah.

“Kakakku Dennis Grint, kelas XI.1…” jawabku jujur. “Dennis Grint? Juara kelas bertahan yang juga artis itu? Jangan bercandalah, Key…” kata guru itu seraya tertawa. Tiba-tiba, bel istirahat berbunyi. Aku langsung keluar dan mencari tempat sepi. Aku memutuskan untuk pergi ke lantai paling tinggi. Disitu terdapat sebuah balkon yang cukup besar. Aku bisa melihat seluruh sekolah dari balkon ini.

Aku duduk di pojok dan mulai menangis tersedu-sedu. Apakah aku dan kakakku bukan saudara kandung? Kenapa tidak ada orang yang mengakui ku sebagai adik kak Dennis? Aku menutup wajahku untuk meredam tangisanku yang bertambah besar. “Kenapa kamu menangis?” tanya sebuah suara. Aku dapat melihat seseorang laki-laki menghampiriku. Wajahnya yang manis dan badannya yang menjulang tinggi membuatku kagum.

Entah mengapa, saat kulihat wajahnya, aku ingin menceritakan segala masalah yang ada di kepalaku. Aku pun menceritakan semua masalah yang menggangguku. Ia hanya mendengarkan ceritaku dengan tenang. Selesai bercerita, ia tersenyum kepadaku. “Sabar ya…!!! Aku percaya kok dengan semua perkataanmu..” katanya seraya tersenyum kecil. “Terima kasih ya…!!! Perasaanku menjadi lebih tenang sekarang.” jawabku seraya tersenyum. Tiba-tiba bel berbunyi. “Masuk sana…! Udah bel tuh…” jawabnya ramah. “Ok…!” jawabku.

TBC

Advertisements

Comments on: "Story : ~My Misterious Friend~ (part 1)" (2)

  1. mm chris. . . aq jd tambah penasaran, siapa sh cowok tu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: