Full of inspiration and story

Archive for June, 2010

Story : ~My Endless Love~

Apakah kau percaya pada dongeng yang menceritakan tentang kehidupan seorang putri dan pangeran? Seorang putri yang akan hidup bahagia selamanya bersama seorang pangeran yang dicintainya? Atau, apakah kau percaya akan ‘happy ending’ yang berada di sinetron-sinetron? Yang pada akhir cerita akan menceritakan tentang senyuman bahagia sebuah  pasangan?

Aku duduk di depan meja riasku. Sebuah gaun bewarna merah muda telah tersemat indah di tubuhku. Wajahku penuh dengan make-up yang tebal. Aku memandangi sebuah surat yang ada di genggamanku. Sebuah surat cinta yang ditulis pacarku. Hari ini adalah tahun kedua aku dan lelaki yang sangat aku cintai berpacaran. Ia menyuruhku berdandan dan memakai gaun serta higheels yang menyusahkan.

Tin… Tin… Tin…

Sebuah suara klakson mobil membuyarkan lamunanku. Dengan senyuman yang merekah pada bibir mungilku, aku pun menuju pintu rumah. Aku bisa melihat sebuah mobil sport bewarna biru tua diparkir tepat di depan rumahku. Seseorang lelaki muda tampak bersandar di mobil itu. Wajahnya yang tampan, memperlihatkan secercah senyuman yang sangat manis untukku.

Rambutnya yang bewarna coklat tua dibiarkan acak-acakan. Posturnya yang tinggi, membuat penampilannya terlihat memukau bagiku. Ia memakai kemeja hitam, jas putih, dan celana serta sepatu yang juga putih. Di kemejanya, tersemat dasi kupu-kupu bewarna biru yang senada dengan warna mobilnya. Ia perlahan-lahan menghampiriku yang masih memaku.

Tangan hangatnya menggandeng tanganku lembut dan membawaku ke mobilnya. Setelah itu, ia pun ikut masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankan kemudi setir. Aku ingin menanyakan kemana kita akan pergi, namun telunjuknya menyentuh bibirku hangat. Memberi isyarat kepadaku untuk diam.

Mobilnya berhenti di sebuah restoran yang mewah. Ia menyuruhku masuk ke dalam restoran itu dan duduk di salah satu kursi yang telah dipesan sebelumnya. Ia pun memandangku hangat dan mulai melangkah kearah panggung. Ia duduk di hadapan sebuah piano besar yang bewarna putih susu.

“Lagu ini kupersembahkan untuk seorang perempuan spesial yang telah menempati sebuah ruang di hatiku…” katanya seraya memandangku dalam. Seketika, pipiku menjadi panas dan merona. Jemari lentiknya mulai menekan tuts-tuts pada piano.

Menghasilkan suara indah yang membuatku makin terpana. Setelah memainkan intronya, ia mulai bernyanyi. Lagu yang ia nyanyikan adalah lagu kesukaanku. Lagu romantis yang kuharap akan dinyanyikan oleh orang yang kucintai. Dan, harapanku terkabul. Ia menyanyikannya untukku.

Air mata mulai berjatuhan dari pelupuk mataku. Namun, bukan tangis kesedihan yang kurasakan. Melainkan, tangis kebahagiaan dan keterharuan yang kurasakan. Setelah selesai melantunkan bait terakhir lagu itu, ia mulai berdiri. Perlahan, ia menghampiriku. Tangannya menghapus air mataku lembut. Ia mulai memegang tanganku. Setelah itu, ia berlutut tepat di hadapanku.

“A-apa yang kau lakukan?” tanyaku gugup. “Aku mencintaimu, Chris… Maukah kau menikah denganku?” tanyanya dengan pandangan penuh arti. Air mata yang turun dari mataku, mengalir semakin deras. Aku tak sanggup untuk menjawabnya. Yang bisa kulakukan hanya mengangguk. Ia pun tersenyum bahagia. Tubuhnya yang hangat memelukku dengan riang.

“Terima kasih, sayangku…” jawabnya seraya mempererat pelukannya. Aku pun ikut memeluknya erat. Semua orang yang ikut menonton, bertepuk tangan secara meriah. “Christy…” panggilnya penuh kasih sayang. “Iya, Vin?” tanyaku. “Aku akan mencintaimu selamanya…” katanya seraya tersenyum. Tapi, sesuatu terjadi. Pelukannya mengendur. Tubuhnya bersandar di tubuhku. “Vino…?? Vino…?? Vino…!!!!” teriakku seraya menangis.

##################

(Di Rumah Sakit)

“Christy…” panggilnya sangat pelan. “Iya, Vin…??” tanyaku seraya menghapus air mataku. “Aku cinta padamu…” jawabnya lirih seraya berusaha tersenyum semanis mungkin. Tapi, itu adalah senyuman terakhirnya. Bola matanya yang bewarna biru safir, mulai menghilang. Matanya telah menutup secara sempurna.

Aku terus menangis dengan kerasnya. Hatiku sangat sakit. Orang yang sangat aku cintai, diam tak bergerak di hadapanku. Ternyata, sudah sejak lama ia menderita kanker yang menggerogoti seluruh bagian tubuhnya. Rasanya, hidupku menjadi hampa sekarang.

Aku mulai memandangi surat di genggamanku. Di hadapanku, terdapat sebuah gundukan tanah dan batu nisan. Aku pun mulai membukanya.

Maaf, Christy…

Aku takkan bisa menghapus air matamu lagi…

Aku takkan bisa menyanyikan lagu kesukaanmu lagi…

Aku takkan bisa menjadi sandaranmu saat kau sedih lagi…

Aku takkan bisa menemanimu di setiap harimu lagi…

Namun, aku telah menepati janjimu…

Janji kita untuk saling mencintai selamanya…

Carilah seseorang yang lebih bisa membahagiakanmu…

Seseorang yang bisa menghapus air matamu, menyanyikan lagu kesukaanmu, menjadi sandaranmu, menemanimu selalu, dan takkan meninggalkanmu untuk selamanya…

Aku tau sekarang kau pasti sedang menangis. Jangan menangis ya…

Ketika kau merindukanku, tutuplah matamu, maka kau akan menemukanku, karena aku akan selalu berada di hatimu…

-Vino-

Aku pun menghapus air mataku. Aku mulai menutup mataku perlahan. Setelah beberapa waktu, aku membuka mataku kembali. Aku tersenyum riang. “Aku akan menepati janjiku, Vino…!!!” teriakku kepadanya.

THE END

Story : ~Ice Cream Is Our Witness Of Love~ (part 2)

Aku terduduk dengan air mata yang masih terus mengalir deras. Hatiku benar-benar sakit sekarang. Bayangkan, orang yang kau cintai dan sangat kau rindukan sedang memeluk orang lain di depan matamu sendiri. Rasanya pasti sakit kan? Aku pun berusaha berdiri. Dengan lutut yang masih lemas, aku mencoba meraih tembok di sebelahku untuk membantuku berdiri. Setelah berdiri, aku langsung keluar dari rumahnya.

Bibi yang menyadari kepergianku, memanggilku. “Claudy, kenapa kamu pulang? Gak jadi ketemu Cleo?!?” tanya bibi. “Aku baru ingat kalau aku lagi sibuk, bi… Mungkin lain kali..” jawabku seadanya tanpa memandang bibi. Alasannya sederhana. Karena mataku sembab dan masih basah. Aku berlari ke rumahku dan langsung masuk kamar.

Aku mengunci pintu kamar dan merebahkan tubuhku ke kasur. Jaket tebal dan syal yang kugunakan belum sempat aku lepaskan. Bahkan, sepatu kets yang aku gunakan tadi, aku lepaskan ke sembarang tempat. Perasaanku acak-acakan sekarang. Ternyata, benar dugaanku. Dia benar-benar tidak mengingatku dan tidak mencintaiku.

Selama ini hanya aku yang tergila-gila padanya. Tapi, dia hanya menganggapku sebagai masa lalunya yang kelam. Wanita yang sedang dipeluknya, jauh lebih cantik dan anggun dariku. Perasaan cemburu telah membludak dan meledak dalam diriku. Namun, aku tak boleh menyalahkannya, karena tidak salah jika dia melupakanku. Aku yang terlalu kekanak-kanakan menganggap masa lalu kita sebagai perasaan cinta.

Aku mencoba menutup mataku dan berusaha tidur. Setidaknya, aku dapat melupakan kejadian ini sementara. Tak lama kemudian, aku terlelap. Setelah pagi, aku kembali bangun. Dengan mata yang masih bengkak, aku mulai mandi dan membereskan kasurku. Setelah rapi, aku keluar kamar dan berjalan ke meja makan.

“Claudy, kamu belum ketemu Cleo ya?” tanya ibu memulai percakapan. “Hari ini makan apa bu?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. “Claudy… Jawab dulu pertanyaan ibu…” kata ibu semakin meninggikan suaranya. “Makanan kesukaan Claudy ya bu? Makasih ya bu…” jawabku mengalihkan pembicaraan lagi. Ibu langsung memelukku dari belakang.

“Nak, kalau kau punya masalah, ceritakan kepada ibu, sayang… Jangan disimpan dalam hati.” kata ibu lembut. Air mata yang sudah lama berusaha kutahan pun keluar dengan sendirinya. “Cleo, bu… Claudy melihat Cleo pelukan sama wanita lain di hadapanku. Ibu kan tau aku sangat mencintai Cleo…” jawabku secara tersendat-sendat karena tangisan yang tak hentinya mengalir.

“Kamu sudah tanya Cleo, siapa wanita itu?” tanya ibu. Aku menggelengkan kepala perlahan. “Jangan asal tuduh, Claudy… Lagipula kalau benar, itu juga bukan salah dia… Dia kan belum pernah bilang cinta padamu.” kata ibu menghibur. Aku pun mengangguk menanggapi nasihat ibuku. Setelah makan, aku bergegas pergi ke kampus.

Ya, aku adalah mahasiswa jurusan seni semester empat sekarang. Aku keluar dari pintu gerbang rumahku dan berjalan pelan menuju motor yang biasa kupakai ke kampus. Ketika baru saja menaiki motorku, pintu gerbang di sebelah rumahku terbuka dan seseorang keluar. Seseorang yang sangat kukenali. Dia Cleo.

Wajahnya tidak berbeda jauh dari yang dulu. Ia tetap seorang lelaki manis yang bertubuh jangkung dan kurus. Rambutnya yang bewarna abu-abu kontras dengan warna kulitnya yang putih pucat. Ia mengenakan kaos santai bewarna biru dan rompi hitam. Celananya bewarna hitam panjang yang dipadukan dengan sepatu kets putih.

Tiba-tiba, kedua bola mata coklatnya menatapku dengan pandangan yang dalam dan penuh arti. Dengan perlahan-lahan, kakinya yang panjang melangkah kearahku. Tangannya yang lembut menyentuh bahuku pelan. “Claudy…” panggilnya penuh dengan kehangatan. Tak sadar, setetes air mata keluar dari mataku. Aku pun langsung menyalakan mesin motor dan pergi menjauh darinya.

Aku memutuskan untuk bolos kuliah dan pergi ke sebuah sungai di dekat kampus. Aku memarkirkan motorku ke sembarang tempat dan duduk di pinggir sungai. Tempat ini selalu sepi dan sunyi. Itulah mengapa, sungai ini tempat pilihanku untuk datang di kala sedih. Aku mengambil batu di sekitarku dan melemparkannya kearah sungai yang tenang. Air mataku masih mengalir tak ingin berhenti.

Tiba-tiba, hujan menerpa tubuhku dengan cepat. Makin lama makin lebat. Air mataku yang masih mengalir, bersatu dengan air hujan yang turun. Sekarang, aku mulai kedinginan. Rambut coklat panjangku tergerai tak karuan. Aku pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Ketika melangkah kearah motor, pandanganku menjadi gelap dan kepalaku pening. Aku pun terjatuh.

TBC

Story : ~Ice Cream Is Our Witness Of Love~ (part 1)

Berhubung The Death necklace-nya lagi buntu, aku bikin ff ini dulu ya…!

^^^^^^^^^^^^^^

Aku berlari dengan senang menuju pintu keluar. Rambutku yang berkuncir dua melambai riang mengikuti angin. Setelah keluar rumah, aku meneruskan langkahku ke sebuah taman yang biasa aku lewati. Aku menyusuri jalan setapak hingga akhirnya berhenti di sebuah toko.

Aku menyebutkan rasa eskrim kegemaranku dan menyodorkan beberapa uang ribuan. Setelah menunggu, penjual itu memberikan eskrim yang sudah aku tunggu-tunggu. Aku pun mengambil eskrim itu dan kemudian bergegas pulang ke rumah. Dengan perlahan-lahan aku menjilati eskrim rasa stroberi yang berada di tanganku.

Di pertengahan jalan, aku dihadang sekumpulan anak yang lebih tua dariku. Mereka merebut eskrim yang ada di tanganku dan memakannya. Aku menangis tak henti-hentinya ketika mereka merebut eskrimku dan pergi. Saat sedang menangis, seseorang anak seumuranku datang dan mendatangiku.

“Kenapa kamu menangis?” tanyanya polos. “Eskrimku diambil anak-anak lain…” jawabku di sela-sela tangisanku. Ia pun tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya. “Ayo, ikut aku! Aku akan membelikanmu eskrim yang baru…” katanya dengan riang. Aku pun mengangguk dan membalas uluran tangannya.

Ia membeli eskrim untukku dan untuknya. Lalu, kita duduk di sebuah bangku dekat taman. “Nama kamu siapa?” tanyaku kepadanya. “Namaku Cleo. Nama kamu siapa?” tanyanya balik. “Namaku Claudy…” jawabku seraya tersenyum. “Cleo, ayo pergi…!!!” teriak seorang wanita yang nampaknya ibunya. “Aku pergi dulu ya, Claudy…! Sampai jumpa…” katanya seraya pergi dan melambai kearahku.

Sejak saat itu, kita menjadi akrab. Ayahnya adalah pemilik hotel bintang lima yang sangat mewah dan terkenal. Umurnya 6 tahun, setahun lebih tua dariku. Ia selalu baik dan ramah kepadaku. Ketika aku sedih, dia selalu ada dan menemaniku. Rasanya hangat saat berada di dekatnya.

Tapi, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Di sebuah taman tempat kita pertama kali bertemu, ia menyampaikan sesuatu. “Claudy…” panggilnya dengan muka yang tidak seceria biasanya. “Iya, Cleo… Ada apa?” tanyaku polos. “Besok aku akan pergi ke Jerman.” jawabnya dengan bibir mengerucut. “Apakah lama?” tanyaku lagi. “Aku tidak tau. Tapi, kata ibuku, mungkin akan sangat lama…” jelasnya seraya cemberut.

Karena umurku yang masih 5 tahun, aku mestinya tidak merasa apa-apa. Tapi, tak tau kenapa, rasanya ada jarum yang menusuk-nusuk hatiku. Perih. Sangat perih. Tak terasa, air mataku jatuh membasahi wajahku yang mungil. “Kamu kenapa, Dy?? Kamu nangis? Aku salah ya?” tanyanya masih dengan polos. “Kamu gak salah kok… Aku juga gak tau kenapa aku bisa nangis.” jawabku jujur.

Esoknya, aku dan keluargaku mengantar kepergian Cleo dan keluarganya ke Jerman. Kebetulan, ibuku dan ibu Cleo adalah sahabat baik. Saat mereka naik mobil dan ingin ke airport, Cleo membuka kaca mobil. “Sampai jumpa, Claudy…!” teriaknya padaku. “Janji ya kita akan makan eskrim dan main bersama lagi…” kataku seraya memberikan kelingkingku untuk mengikat janji.

Ia mengangguk dan ikut menempelkan kelingkingnya di kelingkingku. “Aku berjanji…” katanya seraya menutup kaca mobil. Mobil itu pun berjalan dan hilang dari pandangan. Aku menangis lagi. Aku benar-benar tak tau kenapa aku menangis, namun rasanya air mata ini keluar sendiri dari pelupuk mataku. Sakit, kata itulah yang bisa menggambarkan perasaanku.

15 tahun telah berlalu sejak hari itu. Sudah cukup lama memang. Tapi, peristiwa itu masih terekam jelas di hatiku. Semua jawaban akan pertanyaanku waktu itu terjawab sudah. Ternyata, aku mencintainya. Bahkan hingga sekarang, aku masih mencintainya. Aku mengambil sebuah foto yang telah aku pajang di kamarku dengan frame biru muda.

Yah, inilah fotoku dan fotonya. Foto saat kita masih kecil. Aku tersenyum sendiri melihat foto itu. Kita berdua saling mengalungkan bahu dan senyum kegembiraan, kepolosan, dan keindahan bersatu dalam wajah kita berdua. Aku sering bertanya-tanya, sekarang bagaimana wajahnya? Apakah ia juga masih mengingatku? Apakah ia mencintaiku juga? Ataukah ia telah melupakanku?

Pagi ini aku bangun dengan ceria. Setiap aku melihat fotonya, entah kenapa, aku selalu bersemangat. Aku memakai jaket tebal bewarna merah muda dan syal abu-abuku karena udara yang sedang sangat dingin. Aku melangkah keluar dan memakai sepatu kets putihku. “Bu, aku pergi dulu ya…!!!” teriakku kepada ibu yang sedang memasak.

“Hati-hati ya…!” teriak ibuku dari dalam. Aku pun membuka pintu dan bergegas keluar. Sudah menjadi kegiatanku untuk lari pagi seperti ini. Setelah selesai, aku mampir ke sebuah toko. Aku membeli eskrim rasa stroberi dan memakannya seraya pulang ke rumah.

“Ibu…! Aku pulang…!!!” teriakku seraya masuk ke dalam rumah. “Sudah pulang?? Oh ya, ibu punya berita bagus untukmu. Kau masih ingat teman kecilmu dulu? Si Cleo itu loh…” tanya ibuku yang membuatku terkejut. “Ten-tentu saja… Memang kenapa, bu?” tanyaku penasaran. “Ia sudah pulang dari Jerman lho… Sekarang ia tinggal di sebelah rumah kita seperti dulu. Kamu kesana aja…” jelas ibuku.

Rasanya jantungku ingin kabur sekarang. Cleo telah kembali?!? Benar-benar suatu berita baik untukku. Tanpa pamit, aku langsung keluar rumah dan mengetuk pintu pagar di sebelahku. Tak lama kemudian, seorang sosok perempuan tua yang aku kenal membuka pintu.

“Bibi…!!!” panggilku seraya memeluk orang di hadapanku. “Claudy…! Kamu Claudy…? Sudah lama sekali tak melihatmu! Sekarang kau bertambah cantik nak… Ayo masuk…! Cleo ada di dalam.” ajak bibi yang adalah ibu Cleo. Aku pun mengangguk dan masuk ke dalam rumah. Aku mencari-cari Cleo hingga ke belakang rumahnya yang adalah taman.

Saat melangkahkan kaki ke taman, mataku membelalak lebar. Air mataku kembali terjatuh dan kali ini tak mau berhenti. Pandanganku yang walaupun kabur karena air mata, masih dapat menangkap jelas sosok di hadapanku. Hatiku bagaikan diremukkan. Nyeri rasanya. Lututku lemas. Aku pun terduduk. Apa-apaan ini? Aku bahkan tak sanggup melihat pemandangan itu lagi. Hatiku benar-benar telah hancur.

TBC

Story : ~The Death Necklace~ (part 3)

“Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanyaku dengan sedikit canggung. “Apa?!?” tanyanya keras namun terlihat guratan kasih sayang di wajahnya. “Apakah paman menyayangi ayah??” tanyaku dengan pelan tetapi yakin. “A-apa maksudmu, hah?!? Untuk apa kau menanyakan itu?” tanyanya gelagapan. Aku memandanginya dengan dalam, seakan mengatakan ‘aku-mohon-paman’.

Ia pun mendengus kesal. Ia mengambil kursi dan duduk di hadapanku. Aku yang masih belum sanggup bangun hanya dapat duduk dengan lemas diatas tanah. “Tentu saja paman menyayangi ayah…” jawabnya pelan seraya menundukkan kepalanya. Hatiku mencelos saat mendengar pengakuan pamanku. “Lalu, kenapa paman menyerang ayah?” tanyaku polos.

Ia kembali menarik nafas panjang. “Paman… Paman memang sayang pada ayahmu. Tapi…” jawabnya menggantung. Kulihat sebuah pemandangan yang mengilukan hati. Paman menangis! Paman yang biasanya dingin dan tak pernah peduli pada orang, kini menangis di hadapanku. “Tapi aku hanya iri… Aku benci saat ayahmu selalu mendapat kasih sayang berlebih. Sedangkan aku… Aku hanya anak selir yang tidak pernah diperhatikan.” katanya dengan serak.

“Ayahmu adalah anak pertama kakekmu. Ia lahir dari permaisuri. Ia akan menjadi putra mahkota… Itulah sebabnya, semua orang memerhatikan ayahmu.. Tapi, aku berbeda… Aku adalah anak selir. Semua orang benci denganku. Bahkan di kehidupanku, kakekmu tak pernah sekalipun menggendongku…” lanjutnya lagi. Sekarang tangisannya lebih menjadi-jadi.

Aku mencoba bangun sekuat tenaga dan menepuk pundak pamanku perlahan. Pandangannya masih ke bawah. Dadaku sesak. Aku benar-benar sakit mendengar hal ini. Aku tidak pernah tau akan kenyataan ini. Aku tidak pernah tau sebelumnya, betapa sakitnya perasaan pamanku. “Bahkan, saat kakekmu meninggal, ia tidak memberikan sepeser pun hartanya. Ia tidak mengakuiku sebagai anaknya. Ia malah mengusirku keluar istana…” lanjutnya lagi yang membuatku lebih sakit.

“Sedangkan ayahmu… Ia mendapat segala-galanya. Kasih sayang, kehormatan, harta, kerajaan, dan semuanya. Saat aku datang, padahal aku hanya menanyakan ‘benda’ peninggalan kakekmu yang aku yakin ada di tangan ayahmu dulu… Namun, ayahmu malah mengusirku.” kata paman dengan sedih.

“Tunggu, paman bilang ‘benda’?? Maksudnya, kalung peninggalan ayahku?” tanyaku bingung. “Iya… Itu benar. Kalung itu memiliki kekuatan magis yang tidak kamu bayangkan sebelumnya… Kalung itu bisa sangat berbahaya bagi orang yang menyimpannya.” jelas pamanku. Aku pun memutar otakku. ‘Kenapa hal yang dikatakan ayah dan paman sama? Sebenarnya kekuatan magis apa yang dimiliki kalung itu?’ batinku bingung.

“Sebenarnya kekuatan magis apa yang dimiliki kalung itu, paman?” tanyaku penasaran. “Kalung itu disebut ‘The Death Necklace’. Kalung itu memang dapat membuat seseorang menjadi kuat dan memiliki segalanya. Namun, kalung itu juga bisa berakibat fatal. Orang yang memakainya bisa mati…” jelas paman dengan pandangan lurus ke depan.

“Lalu, kenapa paman ingin mengambil kalung itu, kalau memang berbahaya?” tanyaku lagi. “Justru awalnya paman ingin melarang ayahmu memakainya… Namun, ayahmu malah marah dan mengadakan perang denganku… Makanya, setelah ayahmu mati, aku yakin ia akan memberikan kalung itu padamu. Aku takut kau memakainya dan akan bernasib sama seperti ayahmu… Untuk itulah, aku berusaha mengambil kalung itu. Kalung itu akan aku musnahkan untuk selamanya…” jelas pamanku panjang lebar.

Aku pun mengangguk tanda paham. Lalu, aku membuka kancing jubahku dan mengambil sebuah kantong. Aku membuka kantong itu. Yah, isinya adalah kalung kematian. Aku mengamati kalung yang sangat indah itu dan memberikannya kepada pamanku. Setelah memberikannya, paman memegang erat kalung itu dan langsung menyeringai secara tiba-tiba.

“Cihhh… Ternyata ayahmu dan dirimu sama saja. Terlalu baik dan mudah mempercayai orang… Kau percaya dengan cerita bualanku itu?? Hahahaha…. Selamat tinggal, bocah bodoh…! Kerajaan akan dihancurkan sebentar lagi… Hahahahaha…!!!” teriaknya seraya berlari jauh. Aku hanya bisa melongo mendengarnya. Jadi, semua cerita menyentuh itu, hanya bualannya?

TBC

Story : ~The Death Necklace~ (part 2)

(Flashback)

Namaku Kent Tracker. Aku adalah putra mahkota kerajaan ‘White Castle’. Ayahku adalah raja dari White Castle. Namanya Grogery Tracker. Kehidupan di daerah kekuasaan ayahku sangat damai dan tentram. Setidaknya, sebelum kejadian naas yang menimpa kerajaan kami terjadi.

Yah, kejadian ini bermula dari kedatangan pamanku. Pamanku adalah adik tiri dari ayahku, yang tinggal di luar kerajaan. Aku pikir, ia hanya datang untuk mengunjungi ayahku. Namun, ternyata salah. Ia datang untuk merebut kerajaan ini. Perang mulai terjadi setelah peristiwa itu. Aku yang masih berusia 10 tahun, hanya bisa melihat dari dalam kerajaan. Rakyat kerajaan White Castle mulai merasa tidak tenang. Banyak rakyat dan pengawal kerajaan yang dihabisi nyawanya oleh bawahan pamanku.

Setelah keadaan kerajaan yang hancur lebur, muncul petaka baru bagiku dan kerajaan. Ayahku meninggal dalam peperangan yang kejam itu. Ia mengorbankan dirinya untuk menutup segel kerajaan untuk sementara. Sebelum meninggal, ayahku memberikan sebuah kalung.

“Kent…” panggil ayahku lirih. “Iya, ayah??” tanyaku masih menahan tangis. “Ayah sudah tak kuat lagi…” kata ayah dengan sekuat tenaga. “Apa maksud ayah? Jangan tinggalkan aku… Kumohon!” kataku memohon. Tangisan yang kubendung telah meluber keluar sekarang. “Jangan khawatir, nak.. Ayah telah berhasil menyegel mereka untuk sementara. Sekarang, tibalah tugasmu untuk menggantikan ayah mengurus kerajaan. Ini, ambilah…” kata ayah panjang lebar.

“Apa ini??” tanyaku penasaran seraya memegang benda yang telah berada di tanganku. “Jaga baik-baik kalung ini… Kalung ini adalah kalung yang dimiliki oleh semua raja terdahulu. Jangan sampai jatuh ke tangan orang jahat… Kalung ini memiliki kekuatan magis yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya. Sampai jumpa, anakku. A-ayah menyayangimu se-selamanya…” kata ayah seraya mengelus pelan rambutku. Lalu matanya menutup dan tangan halusnya berhenti mengelusku. Aku pun menangisi kepergian ayahku seraya masih memegang erat kalung pemberiannya.

Sejak itu, aku adalah penerus ayahku. Aku adalah raja dari White Castle. Meskipun aku sempat dicela karena umurku yang masih sangat belia, aku tetap tak menyerah. Aku tidak akan mengecewakan ayahku. Aku masih menyimpan kalung itu dengan sangat hati-hati. Aku juga memerintah dan mengendalikan kerajaan dengan bijaksana. Beberapa tahun kemudian, kerajaan White Castle perlahan-lahan kembali menjadi kerajaan yang damai dan tentram.

Di suatu sore yang cerah, aku memutuskan untuk pergi ke taman dekat kerajaan. Aku duduk di sebuah bangku seraya menatap lekat kalung itu. Kalung itu berwarna biru safir dengan ukiran yang sangat indah. Terngiang-ngiang perkataan ayahku saat itu. Tak terasa pipiku basah. Aku kembali merasakan kesepian yang menyesakkan dada. Sejak ayahku tiada, aku sendiri. Tidak ada yang mendukungku. Menghiburku saat aku sedih. Merawatku saat aku sakit. Menggendongku saat aku merasa lelah.

Suara dentuman keras membuatku terkejut. Aku pun berlari ke kerajaan. Dengan nafas yang masih berlomba-lomba, aku mengintip dari tirai. Sebuah ledakan telah mengenai kerajaan. Aku kaget dan ingin lari. Namun, aku mengurungkan niatku. Banyak rakyat yang membutuhkanku. Membutuhkan seorang raja yang dapat membelanya. Aku pun berjalan dengan yakin dan menghilangkan rasa takutku.

Sebuah panah yang tersemat di bahuku, kupakai untuk membunuh orang-orang yang telah merenggut kepunyaanku. Ayahku, rakyatku, kerajaanku, dan kehormatanku. Aku dan rakyat bersatu untuk mengalahkan mereka yang menghancurkan kedamaian tempat tinggal kami. Perang ini membuahkan hasil yang baik. Walaupun pamanku belum mati, semua bawahannya telah habis.

Di saat semua sedang berpesta dan merayakan hari bahagia ini, aku diseret ke sebuah bangunan tua. Ternyata yang menyeretku adalah pamanku sendiri. Aku berusaha melepaskan diri. Namun, pamanku lebih kuat. Ia terus menyiksaku dan menanyakan dimana ‘benda’ itu berada. Tapi, aku menolaknya. Aku telah berjanji kepada ayahku untuk selalu menyimpan benda ini. Hingga akhirnya ia memukul kepalaku dengan tongkat. Aku pun pingsan.

 (End Of Flashback)

Aku membuka mataku perlahan. Pamanku telah mengacungkan pisau tajamnya dan menggerakannya ke arahku. Saat jarak antara pisau dan dadaku tinggal 5 cm, aku menggerakan badanku ke samping. Pisau itu telah menancap di tanah bekas posisiku semula. Melihat rencananya untuk membunuhku gagal, ia menggeram. Wajahnya kembali menyeringai.

“Jadi kau benar-benar ingin bermain, hah??!!??” teriaknya kesal. Aku hanya bisa diam melihatnya. Aku melihatnya lekat-lekat. Di wajahnya yang kejam dan menua, bisa kulihat bayangan ayahku. Mereka memang sangat mirip. Meskipun dari ibu yang berbeda, dulunya mereka sangat kompak. Tak sadar, air mataku mengalir mengikuti alur wajahku. Kerinduan dan kelaparan akan kasih sayang telah membuncah keluar.

“Apa yang kau tangisi bocah kecil…!!!” teriaknya. Nampaknya, ia bingung pada keadaanku. Aku tak sanggup menjawabnya. Tenggorokanku terlalu sakit untuk mengatakannya. “Apakah kau takut padaku…??” tanyanya lagi. Aku yang masih menangis hanya bisa menggeleng pelan. “Lalu apa??” tanyanya mulai kelabakan. Sekarang aku dapat merasakan. Meskipun ia jahat padaku, ia tak bisa menutupi ikatan darah antara kita berdua.

“Paman…” panggilku dengan suara serak. Ia tidak menjawab, namun matanya terarah padaku. “Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanyaku dengan sedikit canggung. “Apa?!?” tanyanya keras namun terlihat guratan kasih sayang di wajahnya.

 TBC

Story : ~The Death Necklace~ (part 1)

Aku membuka mata perlahan. Darah masih menetes dari pelipisku yang terluka. Kurasakan sakit yang hebat pada bagian dada sebelah kiriku. Samar-samar kulihat seseorang berjalan kearahku. Aku pun berusaha bangun dan kabur. Tapi, kaki kananku terlalu sakit untuk berdiri. Aku pun merangkak dengan sekuat tenaga.

Tapi, aku terlambat. Orang itu telah berada tepat di belakangku dan menyeretku masuk ke dalam. Di sebuah ruangan, orang itu melemparku dengan keras. Aku memekik karena sakit yang merambat pada tubuhku. Ia duduk di kursi tepat di hadapanku. Wajahnya yang galak, seakan berhasrat untuk menelanku hidup-hidup.

Ia menatapku tajam. “Dimana benda itu…!!??!!” teriaknya kepadaku dengan sangat keras. Yang bisa kulakukan hanya menggeleng pelan. Daripada aku memberitahukan dimana benda itu berada, aku lebih baik mati. Ia pun menghela nafas panjang. “Aku tanya sekali lagi, dimana benda itu…!!!???!!!” teriaknya dengan lebih keras. Sekarang tangannya telah menggenggam kerahku yang dipenuhi oleh darah yang telah mengering.

Keringatku bercucuran. Membasahi tubuhku, dan bersatu dengan darah yang masih mengalir. Aku menggeleng pelan. Ia melepaskan kerah bajuku dengan kasar. Kemudian ia pergi sejenak. Sekarang kepalaku sangat pening. Tak lama, ia kembali. Ia kembali dengan sebuah benda yang amat kukenal. Pisau. Jantungku berdegup dengan sangat kencang. Lebih kencang dari sebelumnya.

Ia menyentuh wajahku dengan kasar. “Kau tentu tidak mau kan, wajahmu yang tampan ini kucabik-cabik…?? Jangan membuat kesabaranku habis…!! SEKARANG KATAKAN DIMANA BENDA ITU…!!!!!!!” teriaknya dengan sangat keras. Membuat kupingku pengang. Aku menutup mataku dan tetap menggeleng pelan. Aku telah pasrah sekarang.

Ia menyeringai seram. Pisau yang ia pegang di tangan kanannya telah menyentuh pipiku. Dingin, kata itulah yang bisa kugambarkan. “Kau sangat keras kepalanya rupanya… Baik, akan aku ikuti permainanmu.” katanya pelan. Aku menelan ludah perlahan. Pisau yang ia pegang mengukir pipiku perlahan. Membuat sebuah goresan muncul di pipi kananku yang bewarna putih pucat.

Darah segar mulai mengalir dengan lancarnya dari pipiku. Aku mengepalkan tanganku untuk meredam rasa perih yang terasa. “Kau masih keras kepala, anak muda?? Permintaanku mudah. Cukup katakan dimana benda itu dan kau akan kubebaskan.” katanya seraya mengelus pipiku dengan lembut.

Aku menarik nafas dengan panjang. Dengan jawaban yang sama, aku menggeleng. Ia mendengus kesal. Kursi yang berada di sebelahnya, ia banting ke tanah. Sekarang tangannya memegang pisau dengan mantap. Seakan siap mencelakaiku. “Karena kau meminta, aku akan membunuhmu sekarang juga… Selamat tinggal, anak bodoh…” bisiknya tepat ke telingaku.

Tangannya mengangkat pisau dan mengarahkannya tepat pada jantungku. Aku hanya bisa menutup mata dengan pasrah. Pasrah pada keadaan yang memaksaku. Mungkin beginilah takdirku. Kehidupanku akan berhenti disini. Berhenti dengan tragis. Selamat tinggal dunia. Kubuka mataku untuk melihat keadaan. Ia telah mengacungkan pisau tajamnya dan menggerakannya ke arahku.

TBC

Story : ~A Wonderful Chance~

Hari ini, cuaca sangat cerah. Aku seperti biasa sedang duduk di taman dekat sekolah. Biasanya, sebelum aku berangkat sekolah, aku akan mampir di taman untuk membaca buku. Menurutku, di sekolah sangat membosankan. Sekolahku adalah sekolah elite yang hanya ditempati oleh siswa-siswi yang sangat kaya. Aku termasuk beruntung dapat sekolah disana karena aku bukan anak dari kalangan atas.

Bahkan, bisa dibilang, keluargaku sangat melarat. Aku bisa sekolah disana hanya karena beasiswa. Semua orang disana menjauhi aku karena menurut mereka, aku tidak selevel mereka. Dan, tak dapat kupungkiri perkataan mereka benar. Aku bukan kalangan atas, tampangku jelek, aku pendek dan gemuk. Bahkan, walaupun aku kaya, mungkin mereka akan tetap menjauhiku karena rupaku.

Setelah waktu menunjukan jam 07.45, aku pun bergegas ke sekolah. Begitu sampai di kelas, semua wanita menghampiriku. Mereka menghampiriku bukan karena aku idola, tetapi karena satu-satunya temanku adalah idola. Biasanya, mereka akan bertanya tentang makanan favorit temanku, ukuran sepatunya, dan lain-lain. Ini benar-benar membuatku risih.

“Michiyo, bolehkah aku bertanya padamu?” tanya seorang wanita. “Kalau itu menyangkut Kaito lagi, jawabannya tidak.” jawabku dengan ketus. Mereka pun pergi setelah mengucapkan kata-kata kotor kepadaku. Karena kesal, aku memutuskan untuk bolos dan pergi ke taman itu lagi. Aku duduk di bawah pohon sambil berusaha untuk tidur.

“Permisi, bolehkah aku berkenalan denganmu?” tanya seseorang yang ternyata adalah perempuan. “Tidak usah berbasa-basi, kamu ingin bertanya tentang Kaito juga kan?” tanyaku dengan dingin. “Kaito? Cowok yang selalu jadi idola itu? Tidak, aku hanya ingin berteman denganmu. Namaku Haraku Teyuki. Kamu?” kata perempuan itu sambil tersenyum.

“Namaku Yamashita Michiyo. Buat apa kau berteman denganku? Aku hanya seorang siswa miskin dan jelek. Aku tidak pantas berteman denganmu.” kataku. “Aku mau berteman dengan seseorang bukan karena status, atau ketampanan. Aku hanya ingin berteman dengan seseorang yang baik. Dan menurutku, kau orangnya.” jelas wanita itu dengan lembut.

%%%%%%%%%%

2 tahun sudah berlalu sejak hari itu. Aku dan Teyuki sekarang sudah menjadi sepasang kekasih. Banyak yang bilang aku benar-benar tidak cocok untuk Teyuki, dan menurutku itu memang benar. Tapi, aku sangat mencintainya dan ia pun sangat mencintaiku. Istilah bahwa ‘cinta memang buta’ itu ternyata memang benar.

Hari ini tepat 1 tahun aku dan Teyuki pacaran. Teyuki mengajakku bertemu untuk merayakannya di sebuah taman tempat pertama kali kita bertemu. “Ini, sayangku.” kataku sambil mencium kening Teyuki dan memberikannya sebuah hadiah. “Apa ini?” tanyanya sambil melihat hadiah yang kuberikan. “Ini memang hanya hadiah biasa. Tapi, aku memberikan ini khusus untukmu.” kataku.

Iapun perlahan-lahan membukanya. “Wah, apakah ini not lagu yang kau ciptakan untukku? Terima kasih, sayangku…!!! Ini sangat berharga bagiku.” katanya riang sambil memelukku. Tiba-tiba, angin berhembus sangat kencang.

Secarik kertas yang merupakan not lagu buatanku terbang terbawa angin. Teyuki pun mengejar kertas itu sambil melewati jalan raya. Aku melihat sebuah mobil yang sedang berjalan tepat kearah Teyuki. Aku pun berlari dan mendorong Teyuki ke aspal. Dan aku tidak tau lagi apa yang terjadi.

(Teyuki POV)

Hari ini adalah tepat 1 tahun aku dan Michiyo pacaran. Aku menelepon Michiyo untuk mengajaknya bertemu di taman pertama kali kita bertemu. “Ini, sayangku.” katanya sambil mencium keningku. Ia memberikanku sebuah hadiah yang dilapisi kertas kado berwarna merah muda.

“Apa ini?” tanyaku sambil memandangi pemberiannya. “Ini memang hanya hadiah biasa. Tapi, aku memberikan ini khusus untukmu.” katanya sambil tersenyum. Aku pun perlahan-lahan membukanya. “Wah, apakah ini not lagu yang kau ciptakan untukku? Terima kasih, sayangku…!!! Ini sangat berharga bagiku.” kataku riang sambil memeluknya.

Tiba-tiba, kertas yang aku pegang terbang akibat angin yang sangat kencang. Aku pun mengejar kertas itu. Menurutku, kertas ini sangat berharga karena Michiyo rela begadang untuk membuat ini untukku. Ketika mendengar klakson mobil, aku melihat kearah mobil yang sedang berjalan tepat kearahku. Aku menutup mata karena pasrah.

Tapi, aku merasa didorong oleh seseorang yang membuatku terjatuh ke aspal. Setelah bangun, aku melihat banyak orang yang berteriak-teriak dan mengerumuni seseorang. Ternyata, orang itu adalah Michiyo! Aku perlahan-lahan menghampirinya dengan tertatih-tatih. Orang yang kucintai, sedang terkapar di jalan dengan seluruh tubuh yang berdarah-darah. Rasanya, air mataku terlalu sakit untuk menetes. Tak lama kemudian, aku pingsan.

Aku perlahan-lahan membuka mataku. Aku melihat kearah kiriku. Tampak seorang dokter sedang merawatku. “Dok, bagaimana keadaan Michiyo?” tanyaku panik. “Maksud anda, orang yang dibawa ke rumah sakit bersama anda? Ia tidak dapat ditolong lagi.” kata dokter itu sambil menunduk. “Ini tidak mungkin…! Dimana dia??” tanyaku sambil mulai terisak.

“Ia berada di kamar mayat sekarang.” jawab dokter itu. Aku pun berlari mencari kamar mayat tersebut. Otakku berkata bahwa ia sudah mati, tapi hatiku masih tidak percaya dengan kenyataan ini. Setelah beberapa lama mencari, akhirnya aku menemukan ruangan itu.

Begitu masuk, aku melihat keluarganya sedang menangis. Disitu juga ada Kaito, sahabat satu-satunya Michiyo. Aku berjalan perlahan-lahan menuju sebuah tubuh. Tubuh itu tertutup kain putih yang menutupi seluruh tubuhnya. Aku perlahan-lahan membukanya. Kulihat wajah seorang pria yang sangat kucintai. Wajahnya sangat pucat. Aku pun terduduk lemas dan tangisku meledak.

(Michiyo POV)

Aku membuka perlahan-lahan mataku. Aku melihat keluargaku sedang menangis tersedu-sedu. Kemudian, aku melihat Kaito yang walaupun diam, mukanya kelihatan sangat sedih. Aku juga melihat Teyuki. Ia sedang duduk di lantai dengan tangisan yang sangat kencang. Perlahan-lahan aku berdiri dan memegang pundak ibuku.

“Ibu, apa yang terjadi? Kenapa ibu menangis?” tanyaku sambil menggoncangkan tubuh ibuku. Tapi, ia tidak merespon. Aku pun berjalan kearah Kaito. “Kaito, apa yang terjadi pada keluargaku? Kenapa mereka menangis? Kai, jawab aku.” kataku kepada Kaito. Namun, ia tetap diam. Aku mulai kesal dan berjalan kearah Teyuki. “Yuki, tolong jangan acuhkan aku lagi. Apa yang terjadi padamu?” tanyaku. Namun, ia juga tidak bergeming.

“Michiyo, kamu ingin tau jawabannya?” tanya sebuah suara. Aku pun mencari keberadaan suara itu. “Siapa yang berbicara? Dimana kau?” tanyaku bingung. “Kamu sudah mati. Kalau tidak percaya, lihat mayat di belakangmu.” kata suara itu lagi. Aku menengok ke belakang. Kulihat diriku sendiri sedang terbaring disana. “Apa yang kau maksudkan?” tanyaku semakin bingung.

“Kau sudah mati. Kau tertabrak saat menolong pacarmu.” jelas suara itu. “Tapi, aku masih ingin melihat Teyuki, Kaito, dan keluargaku bahagia. Berilah aku kesempatan.” pintaku. “Baiklah, berapa lama waktu yang kau butuhkan?” tanya suara itu. “Apa maksudmu?” tanyaku. “Berapa lama aku akan memberikan kesempatan kepadamu untuk hidup?” tanya suara itu lagi. “1 tahun.” jawabku. “Baik, ikut aku kalau begitu.” katanya.

Tiba-tiba, muncul seseorang dengan baju putih-putih, dan memberi isyarat untuk mengikutinya. Ia berjalan memasuki sebuah ruangan. Di ruangan itu, kulihat banyak orang yang sedang menangis dan kulihat juga seseorang yang sedang terbaring.

“Kau akan masuk ke dalam tubuh orang ini. Ia sedang koma dan rohnya sudah pergi. Sekarang masuklah.” kata orang itu sambil menunjuk ke sebuah tubuh yang terbaring. “Dan ingat, jangan mengatakan apa-apa tentang identitasmu yang sebenarnya.” lanjutnya sambil menghilang.

Aku pun melihat calon tubuh yang akan aku tempati. Ia sangat tampan, tinggi, dan kelihatan masih muda. Dari cara berpakaian keluarganya, nampaknya ia anak orang kaya. ‘Apakah aku pantas masuk ke dalam tubuhnya?’ batinku.

Aku pun perlahan-lahan masuk ke tubuh orang itu. Setelah masuk, aku membuka mata. Kulihat keluarganya berteriak kegirangan. “Dokter…!!! Dokter…!!! Anak saya sudah sadar…!!!” teriak seorang perempuan. Tak lama kemudian, dokter datang dan memeriksaku. Setelah selesai, orang-orang yang nampaknya keluarga dari lelaki yang aku tempati tubuhnya masuk ke ruangan.

“Akio, kau sudah sadar! Ibu sangat khawatir padamu…” kata seorang perempuan. “Akio, kakak sangat takut kau kenapa-napa… Syukurlah kau sudah sadar.” lanjut seorang perempuan. “Akio? Siapa Akio? Dan siapa kalian?” tanyaku bingung. “Akio, jangan bercanda dong. Masih sempat-sempatnya aja kamu.” kata seorang laki-laki.

“Aku tidak bercanda. Siapa kalian?” lanjutku. Kemudian, kudengar mereka perlahan-lahan keluar kamar dan beberapa menit kemudian datang lagi ke kamar rumah sakit. “Akio, kata dokter, kamu mungkin akan hilang ingatan karena terlalu lama koma. Tapi, kita akan membuat ingatanmu kembali kok.” kata seseorang lagi.

Beberapa hari kemudian, aku diajak pulang oleh keluarga baruku. “Nah, ini rumahmu.” kata seorang perempuan yang adalah ibu baruku. “Apa?? Ini rumahku?” tanyaku kaget karena rumah itu sangat besar. “Tentu saja. Ayo masuk..” kata kakak. “Oh ya, besok kamu akan sekolah di sekolah baru lho. Ayah takut kalau kamu bingung dengan teman-teman lamamu. Jadi, ayah memindahkan sekolahmu.” jelas ayah.

Aku pun mengangguk dan kemudian pergi ke kamar yang biasa ditempati oleh Akio. Setelah masuk kamar, aku duduk di kasur dan tak lama air mataku menetes. ‘Ibu, Ayah, Kaito, dan Teyuki, aku akan bertemu kalian lagi. Meskipun sulit, aku akan membahagiakan orang yang aku sayangi.’ gumamku sedih.

Esoknya, aku diantar oleh kakak dengan mobil ke suatu sekolah. Akio masih berumur 16 tahun, sedangkan aku mestinya berumur 17 tahun, jadi pelajarannya akan sangat mudah bagiku. Apalagi ditambah dengan aku yang biasanya selalu dapat beasiswa.

Tak lama kemudian, mobil berhenti. “Akio, kamu sudah sampai. Nanti kakak jemput lagi ya pulangnya. Dada.” kata kakak sambil tersenyum. “Baik, kak.” jawabku dengan sedikit canggung. Aku merasa ada yang aneh. Mengapa sekolah ini tidak asing bagiku. ‘Bukankah ini memang sekolahku?’ batinku kaget. Berarti aku masih bisa melihat Teyuki dan Kaito!

Setelah perkenalan, aku diajak mengelilingi sekolah oleh seorang kakak kelas. Dan parahnya, kakak kelas yang menemaniku adalah Kaito! Aku sangat senang sekali. “Kakak, boleh kita berkenalan?” tanyaku dengan hati-hati. “Tentu saja boleh… Namaku Hitatsu Kaito.” kata Kai sambil tersenyum.

“Terima kasih, kakak. Namaku Mi-, maksudku Akio, Hokuto Akio.” kataku hampir salah ngomong. “Oh, Akio, jangan panggil aku kakak, panggil aja aku Kaito, biar lebih akrab.” katanya. Setelah itu, kita menjadi teman yang lumayan dekat. Dan, katanya sore nanti, aku akan diajak bertemu dengan teman-temannya.

“Akio, aku disini…!” teriak Kai yang melihatku sedang mencarinya. “Nah, teman-teman, ini Akio. Dia adik kelas kita disini.” jelas Kai kepada teman-temannya.
“Namaku Tetto.”
“Namaku Furaku.”
“Namaku Teyuki.”
Aku kaget saat melihat satu-satunya wanita yang ada disitu. “Namaku Akio.” kataku dengan pandangan yang masih terpaku pada Teyuki. ‘Teyuki, aku Michiyo. Apakah kau bisa mendengarku?’ batinku, perih.

Kemudian, kita pun bercanda ria sambil akhirnya pergi ke suatu taman. Taman yang sangat bersejarah bagiku dan Teyuki. Aku pun mengenang hari itu. Aku duduk di bawah pohon tempat aku biasanya duduk. Begitu aku duduk, Teyuki terlihat sedikit tercengang.

%%%%%%%%%%

3 bulan sejak itu, kita menjadi teman baik. Pada sore hari, aku dan teman-teman yang lain janjian ke taman dekat sekolah. “Akio, kau jaga Teyuki dulu ya… Aku ingin membeli es krim dulu. Kamu mau es krim rasa apa?” kata Kai. “Rasa coklat…” jawabku. Kemudian, aku duduk di bawah pohon. Tak lama kemudian, Teyuki duduk di sebelahku. Aku merasa jantungku berdegup sangat kencang.

“Akio.” kata Teyuki. “Iya kak?” jawabku. “Kenapa segala yang kau lakukan selalu mengingatkanku kepada Michiyo?” tanyanya sambil memandang lurus ke depan. Aku ingin sekali mengatakan, ‘Karena aku memang Michiyo. Aku sangat mencintaimu, Teyuki.’ tapi aku tidak bisa.

“Michiyo? Dia siapa, kak?” tanyaku seolah bingung. “Dia pacarku. Oh tidak, lebih tepatnya mantan pacarku.” jawab Teyuki. “Mantan pacarmu? Apakah dia memutuskanmu?” tanyaku lagi. “Tidak. Dia sudah meninggal, karena menolongku. Aku sangat merasa bersalah, Akio.” kata Teyuki sambil mulai menangis. “Tidak kak. Kau tidak bersalah.” kataku.

“Darimana kau tau, Akio? Kau kan tidak tau apa-apa mengenai kejadian itu!” kata Teyuki yang membuatku sakit. “Aku tau kak. Tapi, aku yakin kak Michiyo juga akan marah kalau kakak menyalahkan diri kakak seperti ini.” kataku sambil tersenyum. “Terima kasih Akio. Kau memang sangat baik padaku.” katanya sambil memelukku. Saat aku dan Teyuki sedang berpelukan, Kaito datang. Ia nampak kaget dan menjatuhkan es krim yang ia pegang. “Ka-kaito…” panggilku. “Kaito…!” panggil Teyuki. Namun, Kaito berlari tanpa menggubris panggilan kita.

Setelah itu, aku mengantarkan Teyuki ke rumahnya lalu pulang ke rumahku. Di kamar, aku merenung. ‘Apakah diam-diam Kaito mencintai Teyuki? Kalau benar, apa yang harus kulakukan? Aku memang sangat mencintai Teyuki, tapi aku juga tidak mau Kai terluka.’ batinku dalam hati.

Lalu, esoknya di sekolah, aku pergi ke kelas Kaito, yang dulunya adalah kelasku juga. “Kai, aku ingin berbicara denganmu.” kataku kepada Kaito. Kemudian, aku pun duduk di kantin dan diikuti olehnya. “Kai, apakah kau mencintai kak Teyuki?” tanyaku kepadanya. “Untuk apa kau menanyakannya? Bukannya kau juga mencintainya?” tanya Kaito balik kepadaku. “Aku memang mencintainya, tapi kalau kau mencintainya, aku akan melepasnya.” jawabku dengan hati yang sangat perih.

%%%%%%%%%%

Hari ini adalah hari yang paling bahagia bagi Teyuki dan Kaito. 8 bulan tepat sejak hari itu, mereka melangsungkan pernikahan. Terlalu cepat memang, tapi mereka sangat bahagia. Aku duduk di sebuah kursi di sebuah taman yang sekarang disulap menjadi tempat pernikahan.

Yah, ini adalah taman yang sama saat aku pertama kali bertemu dengan Teyuki. Tak lama kemudian, acara pernikahan dimulai. Aku melihat Kaito yang sedang berdiri menunggu pengantinnya di sebelah pastur. Lalu, tiba-tiba munculah pengantin wanita bersama ayahnya.

Pengantin wanita itu sangat cantik dengan gaun putih yang panjang. Rambut hitamnya disanggul dengan ikatan yang juga putih. Ia adalah pengantin yang aku pikir akan menjadi pengantinku suatu saat nanti. Tapi, impian itu sirna sejak aku tertabrak dan kehilangan nyawaku.

Setelah upacara selesai, mereka berbincang bersama keluarga yang lain. Saat aku memutuskan untuk pulang, Teyuki memanggilku. “Akio…!” panggil Teyuki. “Iya kak?” tanyaku. “Aku ingin berterima kasih kepadamu. Kalau tidak ada kamu, mungkin aku tidak akan melangsungkan pernikahan dengan Kaito.” kata noona sambil memelukku.

“Kak Teyuki?? Jangan memelukku seperti itu. Kau kan sudah menikah. Nanti Kaito cemburu lagi.” kataku sambil melepas pelukan Teyuki. “Selamat ya, Kai, kak Teyuki… Tapi, maaf, aku ada janji lagi sehabis ini. Aku pulang dulu ya…” kataku sambil tersenyum lalu pergi. Setelah masuk ke mobil, air mataku yang kutahan sedari tadi menetes terus-menerus. Rasanya, aku tak sanggup bernafas lagi.

%%%%%%%%%%

Tak terasa 1 bulan telah berlalu sejak saat itu. Aku berjalan perlahan-lahan ke rumah baru Teyuki dan Kaito. Hari ini adalah hari terakhir aku dapat hidup. Maka, aku memutuskan untuk menemui Teyuki dan Kaito dirumahnya. Aku memencet bel dan tak lama kemudian, Teyuki membukanya. “Kak, apa kabar?” kataku.

“Baik… Masuklah, Akio!” kata Teyuki riang. Aku pun masuk dan duduk di sofa. Lalu, Kaito datang dan duduk di sebelah Teyuki. “Untuk apa kamu kemari, Akio? Bukannya hari ini kamu sekolah?” tanya Teyuki. “Aku hanya kangen kepada kalian. Setelah kalian menikah, aku jadi sendiri deh.” jawabku sambil cemberut. “Kamu ini, oh ya, kita punya berita baik, lho.” kata Kaito.

“Apa itu Kai?” tanyaku penasaran. “Teyuki sedang mengandung.” jawab Kaito sambil mengelus perut Teyuki. “Apa?? Selamat, Kai, selamat, kak Teyuki!!” kataku sambil berusaha tersenyum. Kemudian, kita berbincang-bincang dan bercanda seharian. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 21.00.

“Kaito, kak Teyuki, aku pulang dulu ya… Oh ya, kakak ini.” kataku sambil memberikan sebuah kado kepada Teyuki. “Apa ini?” tanya Teyuki bingung. “Setelah aku pergi, buka saja ini. Nanti kau juga akan tau.” jawabku sambil pergi.

(Teyuki POV)

Setelah Akio pulang, aku dan Kaito pergi ke kamar. Aku membuka kado pemberian Akio. Kado itu dilapisi kertas kado bewarna merah muda. Ini mengingatkanku pada sesuatu. Isinya adalah secarik kertas dan sebuah surat.

Aku melihat isi kertas itu dan aku pun menangis tersedu-sedu. “Kenapa kau menangis sayang?” tanya Kai yang heran akan tingkahku. Tapi, aku tak sanggup menjawabnya. Ini adalah not lagu yang diberikan Michiyo kepadaku hari itu. Tapi, darimana Akio mendapatkannya? Aku pun mengambil sebuah surat yang juga berwarna merah muda.

Teyuki, mungkin kau tidak percaya ini,
tapi aku adalah Michiyo, Akio adalah Michiyo…
Kau tahu, Yuki? Saat aku memakai tubuh Akio,
beberapa kali aku ingin menyatakan cintaku padamu…
Tapi, ternyata Kaito sangat mencintaimu…
Aku memang sangat mencintaimu, tapi aku juga ingin Kai bahagia…
Semoga kau dan Kai dapat hidup bahagia…
Aku sangat mencintaimu, Yuki…
Aku tidak akan pernah menyesal pernah meminta kesempatan untuk hidup lebih lama…
Selamat tinggal, Yuki…
Aku akan selalu mencintaimu, selamanya…

Aku pun menangis lebih keras dan berlari. Tak tau kenapa, kakiku melangkah kearah taman. Kai yang bingung mengikutiku dari belakang. Disitu aku melihat Akio sedang berdiri memandang langit. Aku pun memeluknya dari belakang. “Aku sudah tau semuanya, Chiyo. Mian, aku terlalu bodoh untuk menyadarinya. Mestinya, aku sadar dari awal kalau kamu adalah Michiyo. Meskipun, aku tidak tau kenapa kau bisa ada di tubuh orang lain.” kataku sambil mempererat pelukanku.

“Selamat tinggal, Yuki… Aku mencintaimu selamanya… Semoga kau berbahagia dengan Kaito.” katanya sambil memberikan senyuman terakhirnya. Tak lama kemudian, cahaya terang muncul dan ia perlahan-lahan menghilang. “Michiyo, mengapa aku harus kehilanganmu 2 kali?” tanyaku sambil menangis tersedu-sedu. Kai yang melihatku menangis, memelukku dengan erat. ‘Selamat tinggal, sayangku…’

->THE END<-